
#####
Bang Riki meringis, sambil melambaikan sebelah tangannya, menyapa Vinzi. Sementara Vinzi sendiri masih mematung di tempatnya, wajahnya terlihat shock dengan pernyataan Bang Riki barusan. Gue pun sebenarnya sama terkejutnya dengan Vinzi, hanya saja gue terkejutnya bukan karena fakta itu, tapi karena Vinzi mendengar pernyataan Bang Riki. Sekarang, gue jadi bingung sendiri mau bersikap bagaimana, rasanya jadi super canggung dan akward banget.
Gue kemudian berdehem. Mencoba menghilangkan kecanggungan yang tercipta saat ini.
"Duduk, Zi! Sini sebelah gue," kata gue memanggil Vinzi. Lalu menyuruh Bang Riki pindah ke sofa single.
Meski sambil menggerutu tak jelas, Bang Riki tetap menurut, bangkit berdiri dan duduk di sofa single. Tak lama setelahnya Vinzi duduk di sebelah gue, meski dengan sedikit paksaan dari gue tentunya. Di samping gue, Vinzi duduk dengan gelisah. Membuat gue tanpa sadar harus menahan diri untuk tidak tertawa.
"Calm down, Zi! Kita cuma mau ngobrol, enggak mau introgasi kok," kata gue sambil terkikik geli.
Vinzi meringis lalu melirik Bang Riki. Entah mengapa gue merasa ada yang tidak beres di sini, keduanya terlihat sedang berinteraksi menggunakan bahasa isyarat. Sialan. Ini gue ketinggalan berita penting kayaknya.
"Kalian kenapa pada malah ngobrol sendiri? Pake bahasa isyarat lagi. Kalian sembunyiin apa dari gue?"
Gue lirik Vinzi yang saat ini makin bergerak gelisah di tempat duduknya. Pandangan gue kemudian beralih pada Bang Riki, wajahnya terlihat frustasi, seperti kebingungan.
"Kalian enggak pacaran di belakang gue kan?" tanya gue emosi. Entah apa yang merasuki pikiran gue, hingga bertanya begitu.
"Belum."
"Belum?" beo gue sambil mendengkus tak habis pikir. "jadi kalian ada rencana buat pacaran? Zi, lo tahu gimana kebiasaan Abang gue, dan lo berencana untuk jalin hubungan bareng Abang gue? Lo tahu Abang gue itu brengsek, Zi," seru gue frustasi.
Sumpah. Gue nggak ngerti dengan jalan pikirannya.
"Gi, brengsek tidaknya seseorang itu tidak dilihat dari orangnya, tapi dilihat dari sudut pandang masing-masing orang itu. Dan sudut pandang gue menilai Bang Riki itu tidak brengsek."
Gue memijit pelipis gue yang mendadak berdenyut. Sialan. Kenapa jadi begini sih?
"Kalau lo emang nggak mau kasih restu buat kita, ya udah, enggak papa. Tapi jangan harap lo bisa bareng Aro. Semua kepu--"
"Bang!!" teriak gue emosi. Bisa-bisanya dia ngomong begitu di saat situasi begini.
Bang Riki diam sambil menundukkan kepala.
"Sejak kapan?" tanya gue.
"Apanya?"
"Kalian."
"Kita belum mulai, Gi. Dan nggak akan memulai tanpa restu dari lo," jawab Vinzi yakin.
Gue memejamkan kedua mata gue karena frustasi. Gue beneran bingung harus bersikap bagaimana saat ini.
"Kalian tuh bikin gue di posisi serba salah tahu nggak sih?"
"Sorry," sesal Vinzi dengan kepala menunduk.
Suasana hening setelahnya. Benar-benar terasa canggung sekaligus akward.
"Kayaknya lebih baik gue pulang. Kita semua sama-sama butuh waktu buat mikirin ini," ucap Vinzi lalu bangkit berdiri.
Gue melirik Vinzi sekilas sebelum akhirnya mengangguk. Bang Riki sendiri pun melakukan hal sama, bedanya dia juga memperingatkan agar Vinzi berhati-hati karena sekarang sudah malam.
Baru setelah Vinzi pergi, Bang Riki melirik gue dan berkata. "Mau dilanjutin nggak nih obrolan kita?"
Gue diam dan bergeming.
"Ditunda?" ucap Bang Riki menyimpulkan sendiri. Ekor matanya melirik gue sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan gue.
Sepeninggalnya Bang Riki, gue meraup wajah gue frustasi. Otak gue rasanya tidak mampu berpikir setelahnya, sefrustasi itu lah gue sekarang ini. Bagi gue, keadaan saat ini terlalu rumit untuk dihadapi. Gue bingung.
"Kalau kata gue, harusnya lo nggak usah bingung, Ta."
Suara Bang Riki tiba-tiba menyapa gendang telinga gue. Gue menoleh ke arahnya, ia kemudian menyodorkan kaleng minuman soda untuk gue. Gue menerima dengan perasaan sedikit tidak rela, lalu meletakkannya di atas meja.
"Diminum! Soda itu enaknya pas lagi dingin, lebih seger."
Gue mengabaikan ucapan tidak pentingnya barusan. Lalu gue mencondong tubuh gue ke arahnya.
"Bang, Vinzi itu sahabat gue. Gue sayang sama dia."
"Iya, gue tahu."
Gue berdecak gemas. Kenapa jadi begini sih?
"Gi, segitu brengseknya ya, gue di mata lo?"
Gue secara otomatis menoleh ke arahnya dengan dahi mengkerut heran. Kenapa mendadak tanya begitu?
"Apa pria brengsek kayak gue nggak pantes berjuang demi kebahagiaannya?"
Gue masih diam dan tak menjawab apa pun.
"Oke, gue akui gue bukan Abang yang baik buat lo. Tapi seenggaknya gue selalu berusaha yang terbaik buat lo. Lo nggak ngerasa?"
Enggak, jelas aja enggak gitu. Gue tahu betul seberapa besar usaha Bang Riki untuk menjadi Abang yang baik, meski hasilnya terkadang sedikit tidak memuaskan, tapi seenggaknya gue tahu, gue tahu betul dia selalu berusaha menjadi Abang yang baik buat gue.
"Enggak gitu, Bang. Lo tetep Abang terbaik gue."
"Iya lah, Abang lo kan cuma gue," balas Bang Riki, mencoba mencairkan suasana.
"Bukan gitu. Lo emang Abang yang keren, terlepas dengan gaya hidup lo yang itu, gue yakin banyak orang iri dengan posisi gue karena punya Abang kayak lo."
"Yah, gue emang keren sih, ganteng pula."
__ADS_1
Gue mendengkus setengah tertawa geli.
"Gi, gue ini cuma pria normal yang mencoba memenuhi kebutuhan biologis gue, gue tahu ini emang nggak bener dan salah. Tapi seenggaknya lo harus tahu, kalau gue ini bukan penjahat kelamin. Gue nggak pernah memaksa mereka saat melakukan itu, atas dasar mau sama-sama mau, sadar sama-sama sadar, butuh sama sama-sama butuh, tanpa paksaan."
"Kenapa lo tiba-tiba ngejelasin ini, Bang?" tanya gue.
"Ya, biar lo tahu aja."
"Terus kalau gue udah tahu, kenapa?"
"Ya, nggak kenapa-kenapa juga sih," ringis Bang Riki sambil garuk-garuk kepalanya.
Gue menghela napas pendek, sambil melirik Bang Riki. "Ya, udah. Kita coba yuk, Bang," guman gue setengah tak yakin. Mungkin saja setelah menjalin hubungan dengan Vinzi, kebiasaan Bang Riki bisa perlahan sembuh dan hilang. Kayaknya nggak ada salahnya untuk mencoba.
"Coba apa?" tanya Bang Riki pura-pura tak paham. Gue yakin sih dia ini lagi pura-pura, karena kalau dia beneran nggak paham, mukanya pasti kebingungan, bukan macem orang nahan ketawa begini.
"Yah, gue sama Aro, lo sama Vinzi."
"Lo yakin? Enggak lo sama Prasta dan gue cari cewek lain?"
"Enggak," tolak gue tegas.
"Terus nasib Prasta gimana?"
"Ya, mana gue tahu. Nasib dia ya, tergantung pada usaha dan juga takdirnya sendirilah."
"Kenapa sih, lo itu nggak suka Prasta?" tanya Bang Riki kepo, "menurut gue dibanding Aro, sifat Prasta lebih bagus dibanding Aro lho."
"Bang, lo tahu nggak kenapa cewek suka bilang 'karena kamu terlalu baik buat aku' sebelum mutusin pacarnya?"
"Ya, mana gue tahu," sahut Bang Riki snewen. "lo pikir gue Mbah Mijan."
Apaan deh, kenapa jadi bawa-bawa Mbah mijan.
"Itu karena cewek tuh, sukanya sama yang badboy. Cowok terlalu baik tuh membosankan, Bang, nggak seru. Nggak ada tantangannya, karena mereka yang baik biasanya agak-agak bucin."
Dengan wajah polosnya, Bang Riki manggut-manggut. "Berarti gue nggak salah dong jadi brengsek?"
"Ya, salah lah," balas gue cepat.
"Kok gitu?" protes Bang Riki tidak terima.
"Iya lah, karena kebrengsekan lo bisa mencemari nama baik keluarga kita."
"Sialan lo!" seru Bang Riki tersinggung, tanpa ragu ia pun akhirnya melemparkan bantal sofa ke arah gue, yang untungnya bisa gue tangkap dengan cantik. Lalu gue tertawa setelahnya. Akur itu memang indah, ya. Hehe.
#####
"Wat, Wat, Wat!" teriak Bang Riki sambil berlari-lari ke arah dapur.
Ohya, kalian sempet bingung nggak sih dengan panggilan Bang Riki buat gue? Ya, emang gitu Abang gue, doi emang suka manggil gue pake pake nama beda-beda. Nggak tahu juga sih apa faedahnya, tapi yang jelas katanya sih biar dia nggak bosen. Aneh bangetkan Abang gue, untung ganteng, untung banyak duit, dan untung gue sayang.
"Apa sih, Bang?" tanya gue ogah-ogahan. Maklum gue sedang berusaha untuk fokus membuat sarapan untuk kami, jadi takut aja gitu kalau tidak fokus nanti ada bumbu yang lupa tidak gue masukin lagi.
"Di luar ada Prasta."
Prasta? Ngapain dia ke sini pagi-pagi? Mau minta sarapan?
"Yee, malah ngalamun, itu nanti masakannya gosong!" seru Bang Riki sambil merebut spatula gue. "Lo tuh, ya, emang nggak cocok kalau ada di dapur. Untung pacar lo Chef."
Sial. Pipi gue mendadak panas. Gue sama Aro belum pacaran, ****. Kenapa begitu banget deh, candaannya.
"Kenapa pipi lo, Ta? Baper ya, lo?" goda Bang Riki sambil tertawa nista.
"Apaan sih? Enggak!" elak gue salah tingkah.
"Kalau enggak, artinya iya kan? Cewek kan gitu, lain di mulut lain di hati."
"Apaan sih, gaje," gerutu gue kesal.
"Udah, sekarang lo temuin dulu Prasta," saran Bang Riki.
Gue meliriknya ragu. "Kenapa nggak lo aja sih, Bang?"
"Gue udah tadi, dan dia butuh ketemu lo. Udah sana, keluar! Selesaiin urusan lo sama Prasta, baru abis itu kan lo bisa fokus ke Aro. Bukan apa-apa, nanti takutnya malah ribet kalau urusan lo sama Prasta belum kelar."
Bener juga, ya. Gue emang harus segera menyelesaikan urusan gue sama Prasta.
Gue mengangguk yakin lalu berniat meninggalkan dapur, namun ditahan Bang Riki.
"Kenapa? Katanya suruh cepet nyelesein urusan sama Prasta."
"Iya. Cuma ambilin piring dulu sebelum keluar," perintah Bang Riki.
Gue mendengkus samar lalu mengambil dua piring dan menyerahkannya pada Bang Riki.
"Udah ya, gue keluar dulu."
Bang Riki manggut-manggut sambil menuang nasi goreng ke dalam piring, sementara gue langsung berjalan keluar dapur. Saat gue tiba di bibir pintu Bang Riki tiba-tiba berteriak, "Nggak sarapan dulu?"
Gue menoleh sambil melotot tajam ke arahnya. Sialan. Dikerjain gue ternyata. Sementara Bang Riki terbahak setelahnya.
Saat gue keluar rumah, Prasta udah nunggu gue di depan gerbang, sedang bersandar di mobilnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Hai," sapa gue canggung.
Prasta tersenyum sambil menegakkan tubuhnya, lalu membalas sapaan gue.
__ADS_1
"Nggak masuk shift pagi?"
"Enggak kok, hari ini gue masuk shift pagi, cuma pagi ini bareng Bang Riki."
"Terus gue?"
"Ya, berangkat sendiri."
"Beneran ditolak ya, gue?"
Gue diam. Mampus mau jawab apaan nih gue, masa iya gue mau jawab 'iya, lo gue tolak' sok cantik banget deh gue.
"Nggak ada kesempatan gitu?"
"Sorry, Pras, gue..."
Prasta menghela nafas sambil mangguk-mangguk, mencoba memahami posisi gue, kayaknya.
"Gue mau pamit," ucap Prasta tiba-tiba.
Gue melongo. "Hah?"
"Ya, dalam waktu dua sampai tiga bulan ke depan, gue nggak akan ganggu hidup lo. Karena gue dipindah tugaskan ke Surabaya, setelah gue balik nanti kalau lo belum punya pacar, lo harus mau sama gue, tapi kalau lo udah punya cowok lain. Gue akan nyerah dan nggak akan pernah ganggu hidup lo, selamanya."
Apa?
Kok gitu?
Terus kalau selama itu, Aro belum ngasih kepastiannya gimana?
"Gue nggak setuju," tolak gue tegas.
"Kenapa?"
"Ya, itu nggak adil buat gue lah."
"Tiga bulan itu lama, Gi."
"Terus kalau lama kenapa? Perasaan gue bukan permainan, Pras, lo nggak bisa seenaknya nentuin begitu. Gue nggak mau sama lo, sekarang atau tiga bulan ke depan. Semua nggak akan ada yang berubah."
"Semua hal bisa berubah, Gi."
"Tapi enggak perasaan gue ke lo."
"Jadi, gue ditolak secara tidak adil nih?"
Gue melotot tersinggung ke arahnya, sementara Prasta malah tertawa. Sialan.
"Ya, udah kalau segitu nggak ada ruang buat gue. Gue nyerah. Cuma setelah tiga bulan ke depan kalau lo masih belum punya pacar, itu tandanya kesempatan gue. Lo nggak harus nerima gue langsung, tapi seenggaknya lo kasih kesempatan. Deal?"
Sial. Bisa banget deh ini lagi modusnya. Nggak mau rugi banget.
"Oke."
Akhirnya gue cuma bisa mengangguk pasrah, dan disambut senyum cerah dari Prasta.
"Boleh minta satu lagi?"
Gue berdecak sambil melotot tajam ke arahnya.
"Lo itu, ya!"
"Satu doang."
"Ya udah, apa?!"
"Gue boleh peluk lo?"
Gue menggeleng tegas. "Enggak boleh. Kita ini bukan muhrim."
"Ya udah, gue halalin dulu biar jadi muhrim."
Gue berdecak jengkel, lalu celingukan ke arah sekitar. "Harus banget di sini?"
"Terserah. Di kamar juga boleh."
"Dih, ngarep."
"Ya udah, di sini aja. Cuma pelukan ini. Mumpung sepi."
Gue mengigit bibir gue ragu. Entah kenapa perasaan gue mendadak nggak enak. Namun, anehnya gue tetap mengangguk ragu setelahnya.
Prasta tersenyum cerah lalu maju selangkah dan memeluk gue. "Thanks, ya penolakannya. Gue terharu parah sampai pengen nangis rasanya."
"Dih, sok kuat," cibir gue sambil menepuk pundaknya.
"Pertahanan diri, Gi, jangan ngacau dulu."
Gue tertawa kecil. Pandangan mata gue tiba-tiba terfokus pada fortuner putih yang terparkir tak jauh dari kami.
Tunggu! Kayaknya gue kenal.
Kayak mobil.... Aro?
Mampus!
Dengan gerakan buru-buru, gue melepas pelukan gue dan berniat mendekati mobil itu. Namun sayangnya, mobil itu kini sudah berjalan menjauh.
__ADS_1
Sial. Itu benern Aro.
Tbc,