
####
"Dokternya bilang apa?" sambut Anggita, langsung berdiri dan menghadang Bang Riki.
Bang Riki tidak langsung menjawab, ia lebih dulu melirikku daripada langsung menjawab pertanyaan Adiknya.
"Bang!!" jerit Anggita mulai emosi.
"Baik, kondisi bayinya pun sehat. Cuma kondisi Vinzi masih agak lemah, dan perlu perhatian khusus." Bang Riki melirikku, tapi aku memilih untuk memalingkan wajahku ke arah samping, menghindarinya.
"Lo harus tanggung jawab, Bang," tegas Anggita, lalu kembali memelukku. "Pokoknya lo tenang aja, semua bakalan baik-baik aja. Gue yang bakal jamin itu," sambung Anggita yang hanya kubalas dengan anggukan kepala pelan dan senyuman tipis.
Entah hanya perasaanku saja, atau memang benar. Aku merasa Bang Riki kini tengah menatapku tajam. Aku mencoba untuk memakluminya kalau seandainya dia marah, karena aku merasa bersalah telah menyembunyikan fakta ini. Sebenarnya, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, aku sudah bertekad untuk memberitahunya, hanya saja aku merasa masih perlu waktu.
"Ar, bisa bantu urus administrasi Vinzi dulu? Gue perlu ngomong sama Vinzi. Berdua." Nada suara Bang Riki terdengar dingin.
"Gue sama Aro urus administrasi lo dulu, ya. Bang Riki benar, kalian perlu bicara," ucap Anggita lalu mengajak Aro ke bagian Nurse station.
Jantungku rasanya berdegup kencang, setelah Aro dan Anggita meninggalkan kami berdua saja. Apalagi aku bisa merasakan aura tidak mengenakkan saat ini. Bang Riki pasti marah besar.
"Gimana kondisi kamu?" Bang Riki memulai basa-basinya, aku tahu betul nada bicaranya tersirat akan kekecewaan. Meski tidak dapat dipungkiri nada khawatir terselip di antara ucapannya.
Aku kemudian mengangguk sebagai tanda jawaban. Masih belum berani menatap wajahnya.
"Zi, boleh tanya sesuatu?"
Lagi-lagi aku hanya mampu mengangguk", tanpa berani mengangkat wajahku.
"Sejak kapan kamu tahu, kalau kamu sedang hamil?"
"Baru satu minggu, Bang."
Kulirik kedua tangan Bang Riki terkepal kuat. Pertanda kalau pria ini tengah meredam emosinya mati-matian.
__ADS_1
"Jadi, kamu menjauhiku karena tahu hamil."
Meski ragu, aku akhirnya mengangguk.
"Bagimna bisa? Kamu anggap aku ini apa, Zi? Pria brengsek yang nggak akan mau tanggung jawab setelah tahu pacarnya hamil? Iya? Atau kamu berpikir kalau aku ini hanya penjahat kelamin yang hanya mau enaknya saja?"
Aku menggeleng kuat. Aku tahu betul Bang Riki bukan orang seperti itu. Dia pria yang sangat bertanggung jawab, dia mungkin senang bergonta-ganti pasangan. Tapi, aku tahu itu semua hanya kedok. Di balik kebiasaannya yang suka hidup bebas, sebenarnya Bang Riki hanya kesepian. Dia hanya berusaha mencari kesenangan semata, meski aku akui cara yang ia gunakan salah. Tapi, tetap saja aku tidak punya hak untuk menghakiminya.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu diam saja?"
"Maaf," sesalku masih dengan kepala tertunduk. Aku tidak bermaksud melukai egonya. Sungguh.
"Kamu minta maaf untuk apa? Supaya aku terlihat semakin brengsek?"
"Astagfirullah! Enggak gitu, Bang. Maksud aku--" Aku kehabisan kata-kata. "Aku bingung kemarin, Bang. Di satu sisi aku sangat ingin memberitahu kamu, Bang, tapi di sisi lain, aku juga takut. Aku--"
"Apa yang kamu takuti? Kamu takut aku akan menyuruhmu menggugurkan kandunganmu? Kamu berpikir aku sekejam itu?"
"Aku benar?" tebak Bang Riki sambil tersenyum miris.
Aku semakin menundukkan kepalaku, karena perasaan bersalah.
"Lo apain Vinzi, Bang?"
Aku langsung mengangkat wajahku, saat mendengar suara Anggita. Sepertinya, mereka sudah selesai mengurus administrasiku.
"Bang, kenapa wajah Vinzi jadi makin pucet gitu? Lo apain dia, ngaku sama gue!" desak Anggita penuh emosi. Ia kemudian menoleh ke arahku. "Zi, sekarang lo kasih tau gue, apa yang udah dilakuin Bang Riki?"
"Bang Riki nggak ngapa-ngapain gue, Gi. Kita cuma ngobrol."
"Gue belum buta, Zi. Gue masih bisa bedain mana obrolan biasa dan mana obrolan luar biasa," balas Anggita tak percaya.
"Bang!"
__ADS_1
Anggita mendorong lengan Bang Riki penuh emosi, karena Bang Riki tak kunjung meresponnya.
"Gue perlu nenangin diri," ucap Bang Riki sebelum meninggalkan kami.
Anggita semakin tersulut emosinya. Mungkin, kalau Aro tidak menahannya, Anggita benar-benar akan menghajar Bang Riki di ruang UGD saat itu juga. Meski kadang manja, Anggita dulu pernah ikut taekwondo. Bisa kalian bayangkan, punya keahlian taekwondo dicampur emosi yang memberontak ingin dikeluarkan. Perpaduan sempurna bukan?
"Sayang, mending kamu di sini. Jagain Vinzi, biar aku yang nyusul Riki."
"Enggak bisa! Aku mau nonjok mukanya dulu, seenggaknya kalau tonjokanku parah, dia bisa langsung diobati di sini." Anggita menggeleng tegas, sembari berusaha melepaskan cekalan tangan Aro.
"Sayang, Riki sedang shock--"
"Kamu pikir aku nggak kalah shock? Kamu tahu, Ar? Harusnya aku yang paling shock di sini, bukan Bang Riki."
"Tapi, segala sesuatu itu nggak harus diselesaikan dengan emosikan?"
Anggita diam, dan tetap bergeming.
"Kamu di sini aja, ya. Biar aku yang nyusul Riki dan ngomong sama dia. Kamu jagain Vinzi, kasian dia kalau nggak ada yang nemenin."
Aku tersenyum iri melihat interaksi keduanya. Aku suka cara mereka menunjukkan kasih sayang dan cinta mereka. Meski terlihat sederhana, tapi aku yakin itu cukup membuat Anggita merasa begitu dicintai.
"Aro bener, Gi. Mending lo di sini temenin gue, Bang Riki lagi butuh waktu buat mencerna semua ini," kataku yang akhirnya membuat Anggita akhirnya mengangguk pasrah.
"Nah, itu baru calon makmum yang pinter. Aku cari Riki dulu, ya. Kamu jangan lupa perhatiin infus Vinzi, kayaknya sebentar lagi habis. Kalau udah hampir habis, langsung panggil suster, ya," pesan Aro sambil memegang kedua pipi Anggita.
Sialan. Kok aku baper ya, lihat mereka begitu. Apa ini karena hormon kehamilanku?
"Gue tinggal dulu, ya, Zi. Tenang aja, Riki cuma lagi emosinal aja. Habis ini dia pasti dia ngerti sama keputusan lo kemarin."
Aku hanya mengangguk, mengiyakan setelahnya. Dan Aro pergi begitu saja.
Tbc,
__ADS_1