Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {5} Jadi, Kapan Nyusul?


__ADS_3

#####


Akhirnya acara aqiqah anak Bang Riki dan Vinzi kelar juga. Tubuh gue rasanya capek luar biasa karena hampir seharian ini bantu-bantu. Oh, ya, kalian pasti penasaran dengan nama anaknya mereka? Jadi, nama anak Bang Riki dan juga Vinzi iyalah,


Aleta Quenby Elvina. Yang memiliki arti perempuan berjiwa pemimpin yang bijaksana dan melindungi banyak orang bagaikan malaikat bersayap. Bagus sih, menurut gue tapi agak ribet. Untung panggilannya cuma Baby El, jadi tidak terlalu ribet lah.


"Udah sana kamu istirahat sana! Nyuci piring-piring kotornya besok saja," ucap Ibu yang kebetulan baru masuk dapur.


Jujur, gue ingin mengangguk setuju dan langsung naik ke lantai atas. Tapi enggak enak sama Bunda Vinzi yang sibuk membereskan ini itu. Kebetulan Baby El lebih suka ikut ibu selainnya Emaknya, jadi yang bertugas nemenin Vinzi ya, ibu, bukan Bundanya Vinzi.


"Nggak enak sama Bunda," balas gue sedikit berbisik.


"Jeng, sudah to istirahat dulu. Itu dilanjut besok aja!" ujar ibu.


"Tanggung ini loh, sebentar lagi kelar. Kamu duluan saja, Jeng, pasti capek ngurusin Vina," balas Bunda.


Nah, kalau Bang Riki nyuruh yang lain kita manggil Baby El, Bunda lebih senang manggil cucunya dengan sebutan Vina.


Gue mengangguk setuju dengan ucapan Bunda, karena pekerjaan kami tinggal sedikit, tanggung juga kalau harus ditinggal dan besok dilanjut lagi.


"Udah, ibu tidur sana! Itu lihat kantung matanya udah begitu banget. Malem ini biar Bang Riki aja yang nemenin Vinzi begadang."


"Halah, Abangmu itu mana bisa diandelin kalau urusan begitu?"


Gue berdecak. "Makanya dibiasain. Biar nanti nggak keblabasan Bang Rikinya. Enak aja, siapa Bapaknya siapa yang repot. Udah, lah, Bu, sesekali."


Mendengar penuturanku, Bunda tersenyum dan mengangguk. "Nah, kalau itu aku setuju sama Anggi, Jeng. Jangan keseringan kamu bantuin, nanti mereka keenakan."


"Tuh! Dengerin apa kata Besan!"


"Aku nggak tega liat anakmu, Jeng. Anakku kan masih payah banget, kalau aku biarin gitu aja, makin capek nanti anakmu." Ada nada sedikit bersalah dari ucapan ibu. Mungkin ibu mengingat kesalahan yang dilakukan Bang Riki dulu.


"Ya, enggak papa to. Kan ini baru pengalaman pertama mereka, jadi masih payah. Kita dulu juga begitu kan?"


"Iya."


"Ya, udah, para nenek-nenek sekarang mending pada tidur deh. Ini tinggal dikit biar Anggi sebagai yang termuda yang nyelesein semuanya," kata gue mengintruksi.


"Yakin nggak papa?" tanya Ibu ragu.


Dengan raut wajah penuh keyakinan, gue mengangguk. Lagian nggak tega juga lihat Ibu dan Bunda, yang keduanya terlihat kelelahan begitu.


Ibu mengangguk setuju. "Ya udah kalau gitu, kita duluan istirahatnya. Kalau dirasa udah capek banget ditinggal saja. Biar besok ibu yang terusin."


"Beres." Gue mengacungkan kedua jempol, dan menyuruh mereka untuk segera meninggalkan dapur. Tanpa memprotes keduanya pun akhirnya meninggalkan dapur. Gue akhirnya di dapur sendirian dan menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.


Tak lama setelahnya, Aro muncul. Ia masih mengenakan baju kokonya tadi dan belum berganti pakaian.


"Loh, aku kira kamu udah di kamar," ujar Aro sambil berlalu menghampiri kulkas dan mengambil air dingin, "perlu dibantu nggak nih?" Ia menutup pintu kulkas dan mulai menghampiriku.


Gue mendengkus samar sambil mengeringkan tanganku. "Telat. Udah kelar juga."


Aro tertawa. "Ya, maaf, beberes di tengahnya juga baru selesai."


"Hmm," balas gue seadanya.


"Capek?" Aro meneliti wajah gue sambil sedikit meringis.


"Nggak usah ditanya kayak apa capeknya. Ayo, naik, terus tidur."


"Oke. Mau dipijitin dulu enggak?" tawar Aro sambil merangkul pinggangku. Dari nada bicaranya mendadak membuat gue curiga. Kebetulan siklus haid gue sudah selesai.


"Ada maunya pasti."


"Hehe," cengir Aro sambil memasang wajah sok polosnya.


Gue menggeleng tegas. "Enggak. Capek. Lagian emang kamu bawa pengaman?"


Secara tiba-tiba dan sedikit mengejutkan gue, Aro menghentikan langkah kakinya. Kedua matanya menatapku serius.


"Segitu takutnya kamu hamil anakku, Anggi?" tanya Aro sarat akan kekecewaan yang tergambar jelas di wajah lelahnya.


Heh? Itu maksudnya gimana?


Gue menggeleng panik. Maksud gue enggak begitu.


"Terus?"


"Ya, aku emang belum siap aja, Ar. Bukan karena aku takut hamil anak kamu. Aku--"


"Udah. Nggak usah dibahas. Ayo, tidur!" ajak Aro sambil berjalan mendahului gue.


Waduh, gawat. Aro ngambek?


#####


Pagi ini gue akhirnya sedikit bisa bernapas lega, saat Aro akhirnya mengajak gue mengobrol. Gue pikir dia akan mendiamkan gue seharian ini, tapi untungnya tidak begitu. Meski gue akui memang sedikit berbeda, tapi itu tidak masalah selagi ia masih mau mengajak gue mengobrol. Aro kalau ngambek dan sudah mendiamkan gue tuh, serem. Susah-susah gampang jinakinnya.


"Yang, aku nggak mau makan gulai sisa semalem, ya. Aku maunya nasi goreng aja."


"Oke, tanyain ke Ayah dan Papa Vinzi, ya. Mereka mau nasi goreng juga apa enggak."

__ADS_1


"Enggak. Ayah nggak mau nasi goreng buatan kamu. Ayah milih dendeng sapi yang kemarin aja. Enak tuh, Dek. Ayah suka, pas di lidah Ayah. Masih enggak?" Tiba-tiba Ayah muncul di dapur dengan stelan kaos dan celana trainingnya. Kalau dilihat dari penamilan Ayah yang begini, sepertinya beliau mau jogging.


"Masih banyak, Yah. Mau Anggi angetin dulu?"


"Boleh. Nanti kalau udah selesai panggil Ayah, ya. Ayah mau jalan-jalan di komplek dulu biar sehat."


"Beres, Yah." Gue mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng, "Ar, tolong tanyain ke Papa Vinzi dulu ya, mau sarapan apa."


Tanpa menjawab ucapan gue, Aro langsung keluar dari dapur. Mencari keberadaan Papa Vinzi dan menanyakan pada beliau. Tak lama setelahnya Aro kembali ke dapur.


"Katanya apa aja, makan sisa kemarin juga boleh. Mending kamu bikin nasi gorengnya agak banyak, nanti kalau ada yang mau biar makan, kalau enggak ada yang mau biar aku yang abisin."


"Oke." Gue mengacungkan jari membentuk huruf O. Aro mengangguk tanpa menjawab, lalu keluar dapur begitu saja.


Gue berdecak dengan bibir manyun. Ck, nggak dibantuin ternyata. Gue pikir bakalan dibantu.


"Suami lo mana, Gi?"


Gue sedikit terlonjak kaget dengan kemunculan Bang Riki yang tiba-tiba. Sumpah, gue nggak sadar kapan Bang Riki masuk ke dapur. Tahu-tahu sudah menutup pintu dengan sebelah tangan yang memegang botol air mineral.


"Bikin kaget lo, Bang," omel gue kesal.


Respon Bang Riki hanya tertawa sambil menegak air mineralnya, lalu mengulangi pertanyaannya. "Jadi, ke mana suami lo?"


"Enggak tahu. Di depan mungkin. Lo nggak ketemu emang?"


"Lah, kalau ketemu kenapa gue repot-repot tanya lo, Markonah!"


"Yee, biasa aja kali nggak usah ngegas!" kata gue sambil menumis bumbu.


Bang Riki meneguk air mineralnya lagi. "Mau bikin apa lo?"


"Nasi goreng. Aro nggak mau makan sisa kemarin."


"Dih! Sombong bener laki lo."


Gue berdecak. "Bukan begitu maksud gue, Bang. Maksudnya dia nggak mau makan berat begitu pagi-pagi. Ah, elah."


"Iya, iya, gue juga cuma bercanda. Nanti kalau udah selesai, masakin sayur bayam, ya."


Gue menuangkan kecap. "Buat siapa?"


"Vinzi. Air susunya biar seger aja gitu makan sayur bayam. Biar kuat kayak Poppay."


"Dih, lo kata gue pembantu lo, bisa lo suruh-suruh begitu?"


"Ah, elah. Minta tolong nih, gue, nggak enak juga kalau nyuruh ibu atau mertua gue. Mending nyuruh lo, kan?"


Gue menghela npas kasar. Benar juga sih, masa nyuruh ibu atau bunda, kan lebih nggak mungkin. Kasian, mereka pasti capek. Meski gue akui gue juga capek sih.


"Sarapannya nanti, yang penting lo bikinin sayur dulu buat Vinzi. Kasian, semaleman Baby El nyusu terus. Sekarang pasti Vinzi kelaperan gegara abis disedot Baby El terus," potong Bang Riki cepat.


Gue memutar kedua bola mata kesal. Kok mulai ngelunjak sih? Udah minta tolong, pake minta dicepet-cepetin lagi. Kurang ajar.


"Gue kalau bisa juga bikinin seniri, Wat, nggak usah nyuruh-nyuruh lo. Gue tahu lo juga capek bantu-bantu dari kemarin, tapi mau gimana--"


"Udah, nggak usah sok manis! Sana, panasin dulu makanannya."


"Sip, adekku tersayang." Bang Riki tersenyum puas lalu mencium pipiku, membuat gue langsung berteriak memakinya. Sedang Bang Riki hanya terbahak puas.


#####


Akhirnya semua pekerjaan gue selesai. Jatah cuci piring dikerjain Aro jadi gue bisa sedikit bersantai. Kebetulan Bunda dan juga Papa Vinzi sudah kembali ke Bandung, baru saja berangkat lima menit yang lalu. Nanti siang jatahnya Ayah yang pulang ke Solo, karena beliau besok harus kembali bekerja. Gue dan Aro mungkin besok yang balik ke Bandung. Mungkin, ya, cuma nggak tahu juga. Siapa tahu Aro berubah pikiran.


"Mandi dulu sana! Biar segeran dikit," kata Aro begitu keluar dari dapur. Tangan kanannya membawa piring berisi semangka yang dipotong kecil-kecil.


"Mau," seru gue kegirangan, melihat apa yang dibawa.


Aro sedikit menjauhkan piringnya dari gue sebelum akhirnya duduk di sini kiriku. "Pilih es atau semangka?"


Seketika bibir gue manyun tanpa bisa dicegah. Gue memang tidak bisa makan semangka dan juga es, nggak tahu kenapa yang jelas kalau gue makan keduanya biasanya kepala gue jadi pusing. Atau malah kadang gue makan semangka saja jadi pusing, gue nggak tahu sih kenapa. Yang penting coba dihindari saja begitu kata Ibu dan juga Aro.


"Sepotong aja, Ar."


"Tapi nanti nggak boleh minum es, ya? Air dingin juga nggak boleh," ujar Aro memperingatkan.


Gue mengangguk patuh, seolah sedang dinasehati Ibunya. Emang, cerewetnya Aro soal beginian nyaris menandingi Ibu.


"Iya, iya, bawel kamu."


"Bukan masalah bawel atau gimana, ini itu masalah kesehatan. Kalau kamu sakit siapa juga yang ngerasain? Kamu sendiri kan? Bukan aku loh."


Bibir gue komat-kamit tanpa suara karena Aro malah ceramah dadakan, dan bukannya segera memberiku semangkanya, hal itu tentu saja membuat gue kesal. Tanpa aba-aba Aro tiba-tiba memasukkan sepotong semangka ukuran agak besar ke dalam mulut gue.


"Nggak sopan," decaknya kesal.


Gue tertawa lalu mengunyah potongan semangka yang Aro sodorkan dengan pelan. "Iya, iya, maaf. Nggak lagi-lagi kok."


"Kamu mah, iya-iya aja. Pokoknya besok aku nggak mau tahu ya, kalau sampai ketahuan besok ngeluh pusing. Aku sentil jidat kamu," ancam Aro dengan wajah galaknya. Meski begitu, ia tetap kembali menyuapkan potongan semangka ke dalam mulut gue.


Gue tersenyum puas dan mengunyah. "Makasih, sayang."

__ADS_1


"Udah. Sana mandi! Bau."


"Sekali lagi?" bujuk gue.


Kali ini Aro menjauhkan dirinya dari gue sambil menggeleng tegas. "Enggak," tolaknya mentah-mentah.


"Hih, dasar pelit," rajuk gue kesal, lalu berdiri dan naik ke lantai atas.


Tiba-tiba Aro berteriak, "Langsung mandi, yang! Nggak usah mampir-mampir, apalagi godain Baby El dulu."


"Liat nanti," balas gue ikut berteriak, karena gue sudah berada di anak tangga bagian tengah.


Sebelum masuk kamar, gue mengintip kamar Vinzi dulu. Mengecek apakah Baby El sedang tidur atau tidak. Ternyata Baby El sedang menyusu pada ibunya, melihat pelototan tajam dan usiran dari Vinzi, gue akhirnya menutup pintu dan pergi ke kamar untuk mandi.


Begitu selesai mandi, samar-samar gue mendengar suara ramai-ramai di lantai bawah. Gue langsung bergegas turun untuk mengecek tamu siapa, yang ternyata Mas Gani beserta keluarganya. Gue langsung berseru heboh dan berlari kecil menuruni anak tangga.


"Gavin!" panggil gue, "halo, sayang. Lama nggak ketemu. Ikut Tante, yuk!" Gue menyodorkan kedua tangan gue dan langsung dibalas Gavin. Gue berseru senang karena bocah gembil ini tidak menolak saat hendak gue gendong.


Mbak Anya kemudian menyerahkan Gavin pada gue. "Ikut Tante, ya."


"Kok mau sama lo, Wat. Tadi gue tawarin ogah," protes Bang Riki.


Gue terbahak lalu menjulurkan lidah gue. "Karena dia tahu mana cewek cakep, Bang."


"Sialan," umpat Bang Riki terlihat kesal. Dan tentu saja membuatnya mendapat omelan semua orang.


"Udah cocok kamu, Gi. Jadi, kapan nyusulnya?" goda Mas Gani, "biar nanti Gavin ada temennya main. Jangan lama-lama!"


"Nyusul ke mana nih?" tanya gue pura-pura tak paham.


"Mantan lo nggak asik, ya, Gan," sahut Bang Riki sambil mencomot kue lapis yang ada di atas meja.


Mas Gani hanya terkekeh. "Kayaknya gitu, untung dulu gue diputusin," balasnya ikut-ikutan.


Membuat Aro tiba-tiba berdehem. "Tolong ya, topiknya dikondisikan!" ujarnya jengkel.


"Yaelah, cembokur lo, Ar?"


"Enggak lah."


"Terus?"


"Gue nggak suka aja."


"Beda tipis elah," balas Bang Riki, "ayo buruan dimakan dong! Udah gue ajarin nih!"


"Kita masih kenyang. Tadi sebelum ke sini mampir dulu ke rumah Mama soalnya," balas Mbak Anya dengan anggunnya.


Gila, ya, Mas Gani dulu sempet apes banget waktu ngebet pengen nikah. Eh, giliran menikah dapet yang super bening dan paket komplit begini.


"Gavin tidur, yang," celetuk Aro tiba-tiba.


Gue kemudian mengintipnya, dan benar saja. Ia sudah tertidur pulas. Lah, belum juga diajak main. Udah tidur aja ini bocah.


Mbak Anya langsung berdiri dan mengambil Gavin dari gendongan gue. Bibir gue manyun karena kecewa.


"Yah, padahal aku belum ngajak Gavin main."


"Hehe, udah jam tidurnya, Gi," kata Mbak Anya, ia kembali duduk dan menidurkan di pangkuannya.


"Eh, Mbak, tidurin aja di atas," kata gue menyarankan.


"Enggak usah, kita bentar lagi balik. Mau ke rumah Uti-nya."


"Buru-buru amat?"


"Ya, atur waktu, Rik. Tadi udah main ke rumah Mama Anya, masa Mami gue nggak gue samperin. Bisa-bisa ngamuk ntar, ngiri." Gani kemudian menepuk paha Aro, "besok balik ke Bandung, Ar. Syukur-syukur nanti sore udah balik juga lebih bagus."


"Gue nurut Nyonya gue aja lah. Kalau mau besok, ya, gue balik besok."


"Terus kalau Anggi nolak, gimana?"


"Enggak lah, Mas. Iya, besok kita balik ke Bandung," balas gue kemudian.


Mas Gani tersenyum puas. "Sip," sambil mengacungkan jempolnya. "Mau pulang sekarang?" tanyanya pada Mbak Anya.


"Ya, enggak papa. Aku sih ikut kamu."


"Ya udah, kita pamit dulu deh."


"Langsung banget?"


"Iya, udah tidur gitu si Gavinnya."


"Kan Anggi sudah bilang tidurin di kamar aja dulu," balas Bang Riki.


"Tadi keburu sore kita mau ke rumah Mami gue. Udah, kita pamit. Buat Anggi sama Aro buruan nyusul, ya. Bukan cuma nyusul ke Bandung, tapi nyusul punya momongannya."


Meski sambil memutar kedua bola mata, gue akhirnya tetap mengiyakan seadanya. "Iya, doain aja deh."


"Aamiin," koor mereka dengan kompak, termasuk Aro.

__ADS_1


Tbc,


cie cie, rajinnya aku jam segini udah up🤣🤣🤣


__ADS_2