
######
"Anggi semalam dianter jam berapa?" tanya Riki sambi memakai jam tangannya, kedua bola matanya melirik ke arah sang istri yang sedang sibuk memilihkan dasi untuknya.
"Enggak tahu," jawab Vinzi sambil menyerahkan dasi berwarna merah marun untuk Riki, "nih! Aku mau turun ke bawah dulu, bantu-bantu Ibu," sambungnya kemudian.
Riki berdecak sambil menahan lengan sang istri. "Pakein dulu dong, sayang!" rengeknya manja, "kalau mau ngelayanin suami itu nggak boleh setengah-setengah. Nanti kasian malaikatnya, bingung mau nyatetnya gimana. Masa mau dikasih setengah gitu?"
Vinzi memandang suaminya dengan ekspresi datar, lalu merebut kembali dasi yang tadi sempat ia serahkan ke Riki. Sambil mendengkus samar, ia kemudian mulai memasangkan dasi itu ke leher Riki.
"Yang ikhlas! Biar malaikatnya juga ikhlas nya--AKHH! Astagfirullah! Jangan kenceng-kenceng dong, yang, kasian dedek bayinya," protes Riki sambil mengelus perut sang istri yang kian membesar.
Vinzi mengernyit jijik, saat mendapati tatapan mesum milik sang suami. "Nggak ada hubungannya, Bang!"
"Ada, Neng," balas Riki.
"Nggak usah panggil-panggil begitu! Norak!" decak Vinzi sambil memukul pundak Riki, setelah ia selesai merapikan dasi sang suami.
"Ya, abis kamu panggil aku Abang terus, kayak Anggi. Jadi, memang sudah menjadi suatu keharusan kalau kamu kupanggil Neng, sebenarnya," balasnya tak mau kalah.
"Iya in deh. Udah ah, aku mau turun."
Riki kembali menahan lengan sang istri. "Bentar! Belum dicium akunya, kamu juga belum aku cium, dedeknya apa lagi. Buru-buru banget sih, mau pencitraan di depan Mer--"
"Sembarangan!"
Dengah gerakan gemas, Vinzi langsung memukul lengan Riki. Membuat calon Ayah itu mengaduh sesaat sebelum akhirnya tertawa setelahnya.
"Nggak usah ketawa!" ketus Vinzi judes.
Secara otomatis, Riki langsung membungkam mulutnya sambil mengangguk paham. Pada detik berikutnya, ia kemudian maju selangkah dan memeluk Vinzi.
"Jangan galak-galak, nanti anak kita takut," bisik Riki lalu mencium kening Vinzi. Ia kemudian sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan telinganya pada perut Vinzi. "Halo, jagoan Papa!" sapanya sambil mengelus perut sang istri, "jagoan Papa nggak nakal kan di dalam sana? Yang pinter, ya? Jangan nakal, oke? Nanti kalau jagoan Papa nggak nakal, kita cepet ketemu."
"Yang nyusahin itu kamu, Bang, bukan anak kita."
Mendengar jawaban Vinzi, sontak Riki langsung mengangkat wajahnya dan menatap sang istri dengan tatapan tak percaya. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mendengkus samar.
"Kita nggak harus ribut pagi-pagi kan? Aku mau turun."
"Ah, kamu nggak asik."
"Bodo amat," balas Vinzi cuek. Lalu ia keluar kamar, meninggalkan Riki dengan gerutuan tak jelasnya. Vinzi tidak terlalu ambil pusing, karena memang begitulah sifat suaminya, dan ia tidak ingin repot-repot membujuk suami itu.
#######
Riki menuruni anak tangga dengan kedua mata celingukan mencari batang hidung sang adik semata wayang, yang katanya kemarin pergi ke Bandung bersama sang kekasih dan sampai harus menunda acara lamaran.
Ck. Riki berdecak dalam hati. Apa teman baik dan adiknya ini sudah tidak waras sampai harus menunda acara lamaran mereka dan malah pergi ke Bandung, yang katanya demi kepentingan untuk melayat. Memangnya siapa sih yang meninggal, sampai mereka sebegitunya. Apa ini hanya alasan mereka saja, karena sebenarnya mereka belum terlalu yakin untuk menikah. Astaga, kalau memang itu alasan mereka, Riki bersumpah akan mencincang mereka satu persatu.
"Cari siapa to, Bang? Istrimu? Itu ada di dapur, bukannya tadi baru dari kamar to? " tanya Ayah Riki.
"Bukan, Yah, cari Anggi. Ke mana dia, kok nggak keliatan? Aku tadi cari di kamarnya juga nggak ada."
"Loh, kamu ini gimana to. Kan Adikmu ndak pulang."
"APA?! NGGAK PULANG?!" seru Riki dengan wajah snewennya, "Ayah jangan bercanda deh."
"Lho, kalu pun Ayah ingin bercanda, jelas milih candaan yang lucu lah. Yang barusan nggak lucu, Bang!"
Riki tidak terlalu mempedulikan jawaban sang Ayah. Fokusnya saat ini adalah Anggita, sang adik semata wayang yang sedang berada di kota orang, bersama pria dewasa lagi. Dan parahnya lagi, pria dewasa itu adalah sahabatnya sendiri.
"Nggak bisa dibiarin ini. Sialan! Kok mereka malah nginep sih, berdua doang lagi. Pasti Aro mau modusin adek gue nih. Awas aja lo, Ar," guman Riki menggerutu, sambil mengepalkan telapak tangannya dan bergegas menaiki anak tangga.
Setelah sampai di kamarnya, ia kemudian mencari keberadaan ponselnya. Setelah ketemu, ia langsung menghubungi Aro. Namun, tidak dijawab oleh Aro.
__ADS_1
"Sialan! Ini ke mana sih mereka ini," umpat Riki, lalu mencoba menghubungi Anggita. Namun lagi-lagi yang menjawab hanya suara Mbak-mbak operator, dan itu jelas semakin membuat Riki kebakaran jenggot.
"Awas aja lo, Ar! Lo nggak akan gue kasih ampun sampai lo apa-apain adek gue. Lihat aja, ntar!" gerutu Riki dengan wajah snewennya.
Jari-jemarinya kini kembali sibuk mengutak-atik ponselnya. Kali ini bukan Aro atau Anggi yang ia hubungi, melainkan Gani.
Sementara di tempat lain, seorang pria berumur tiga puluhan tengah terlelap pulas di atas ranjangnya. Suara dering ponsel yang terdengar begitu keras tak mengusik tidurnya sama sekali.
"Astaga, Gan! Itu hape kamu bunyi! Angkat dulu!" omel saat memasuki kamar mereka.
Pakaiannya sudah rapi, berbanding balik dengan Gani yang masih terlihat ogah-ogahan untuk segera bangun.
"Itu hape kamu bunyi, Gan," seru Anya sambil memukul sang suami kesal.
Gani berdecak sambil mengaduh kesakitan. "An, aku masih ngantuk."
"Itu hape kamu bunyi, takutnya nanti ada yang penting," balas Anya setengah jengkel.
"Kan bisa kamu jawab dulu. Aku ngantuk," balas Gani masih enggan untuk membuka kedua matanya, apa lagi hendak bangun.
"Aku mau berangkat ke RS sekarang, aku ada visit pagi. Harus berangkat pagi, takutnya nanti di jalan malah macet."
"Hmm," respon Gani seadanya, dengkuran halus mulai kembali terdengar setelahnya.
Membuat Anya berdecak jengkel dan langsung memukul pantat suaminya itu menggunakan bantal.
"Astagfirullah! Bangun, Gan!"
"Iya, nanti, An," balas Gani sedikit berteriak, karena jengkel.
"Nggak ada nanti-nantian. Sekarang! Itu hape kamu bunyi lagi. Aku mau langsung berangkat."
Mendengar omelan dari sang istri, Gani dengan sangat terpaksa akhirnya bangun dan duduk bersila, meski kedua matanya masih enggan terbuka.
"Ya udah, aku berangkat. Assalamualaikum!"
"Hmm, Wa'alaikumus--"
"Nggak boleh tidur lagi, Gan," ucap Anya memperingatkan sang suami.
Gani mendengkus kesal, karena ketahuan hendak merebahkan tubuhnya kembali. Dengan sedikit ogah-ogahan, ia kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Mengecek siapa si biang kerok, hingga membuat tidur gantengnya terusik.
Gani langsung mendengkus keras saat mendapati nama Riki yang tertera di layar. Namun beberapa detik kemudian, ia langsung menghubungi Riki.
"Lo ke mana aja sih, Gan? Ditelfon susah banget."
Sial. Gani langsung mengumpat dalam hati. Tidurnya sudah diganggu Riki dengan seenaknya, dan sekarang ia masih disemprot omelan tak jelas dari pria itu Benar-benar tidak bisa dibiarkan.
"Eh, kampret! Harusnya yang marah di sini, tuh, gue, bukan lo. Lo udah ganggu tidur ganteng gue, dan sekarang lo malah nyembur gue? Mau lo apa sih, Rik?"
"Gue mau lo ke apartement Aro sekarang."
"Ha?!" seru Gani spontan, dalam hati ia langsung memaki pria itu.
Sejujurnya, ia ingin memaki Riki langsung namun berhubung anak semata wayangnya masih ada di kamar ini, jadi ia tak jadi memaki pria itu. Menidurkan putra kebanggaannya benar-benar susah baginya, apa lagi semalam mereka habis begadang.
"Lo budek?"
Gani kembali mengumpat kesal. Ia benar-benar kesal saat ini.
"Lo nelfon cuma mau ngatain?"
"Minta tolong, Gan! Buruan lo ke apartement Aro!"
"Ngapain? Aro nya nggak ada di Bandung, dia kan mau lamaran. Lo jangan pura-pura pikun deh, meski udah tua."
__ADS_1
"Mereka batal lamaran."
"Hah?! Putus?"
"Sialannya enggak."
"Maksudnya gimana sih?" tanya Gani tidak paham.
"Kemarin Aro sama Anggita malah ke Bandung, nggak tahu gue ngapain mereka. Katanya melayat. Terus semalam mereka nggak pulang. Khawatir gue."
"Apa yang lo khawatirin? Lo lupa seberapa bagusnya kemampuan Aro dalam menahan diri. Adek lo bareng Aro, Rik. Nggak usah lebay deh!"
"Ya, nggak bisa dong. Anggi itu adek gue satu-satunya."
Gani menghela napas pendek. "Rik, gue tahu lo sayang banget sama Adek lo. Tapi lo juga harus tahu kondisi dong! Adek lo lagi bareng pria seperti Aro, bukan lagi bareng cowok penebar benih kayak lo. Dia Aro, Rik, bukan lo."
"Lo sebenernya mau bantuin enggak sih?" tanya Riki terdengar sebal.
"Ya, udah, iya. Nanti gue ke sana," ucap Gani pada akhirnya.
"Sekarang, Gan! Jangan nanti-nanti!"
"Eh, kampret! Gue harus mandiin anak gue dulu, masa iya, gue ajak bayi keluar nggak gue mandiin dulu. Sakit lo?"
"Hah? Mandiin Gavin?"
"Iya, anak gue baru satu, Rik."
Riki tercengang sekaligus shock. "Lo mandiin sendiri? Bini lo? Maksud gue, bukan bini lo gitu?"
"Ya, siapa yang sempet lah, Rik. Bini gue tadi harus ke RS pagi-pagi, ada visit atau apa gitu, nggak paham gue. Jadi, gue pagi ini gue yang mandiin."
"Lo bisa?"
"Bisa lah. Gue ini The New Hot Daddy idaman mamah-mamah muda, jelas bisa lah."
"Gila! Sumpah demi apa lo? Lo berani, Gan? Nggak takut?"
"Ya, pas awal-awal takut. Tapi lama-lama gue beraniin, kasian bini gue, Rik. Udah capek di RS, ngurusin pasien-pasiennya, masa harus ngurusin anak gue sama gue nya. Ya, udah gue beraniin. Kan gue jantan, Rik. Nggak boleh cemen!"
"Sumpah demi apa lo? Gue masih nggak percaya," balas Riki masih terheran-heran.
"Iya, kapan-kapan gue kirimin videonya. Lo bisa belajar banyak dari entar. Gue udah ikut kelas juga kok."
"Enggak! Jatah anak biar jadi urusan bini gue, Gan. Gue tinggal cari duit aja."
"Gue juga cari duit, elah."
"Lah, lo mah, tinggal duduk manis sambil ongkang-ongkang kaki, duit ngalir deres, udah kayak air sungai pas banjir. Lah, gue?"
"Bodo amat, gue nggak peduli. Udah gue matiin, itu anak gue udah bangun kayaknya."
"Jangan lupa ke apartement Aro!"
"Ya, kalau nanti mereka belum balik ke Jakarta, gue ke sana. Tapi kalau udah balik, ya gue di rumah aja, main sama anak gue."
"Ah, bangke lo!"
"Assalamualaikum, Rik!"
Riki mendengkus keras. "Wa'allaikumussalam."
Tut Tut Tut
**Tbc,
__ADS_1