Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (37) Nasehat Dari Abang


__ADS_3

#####


Alhamdulillah. Acara lamaran Bang Riki dan Vinzi berjalan lancar, meski gue sendiri enggak terlalu tahu sih, drama apa saja yang sudah mereka lalui sebelum akhirnya keluarga Vinzi akmemberi lampu hijau untuk keduanya. Gue enggak tahu juga sih, apa pipi mulus Bang Riki pernah ditampar Papa Vinzi atau belum. Kalau menurut gue sih, seenggaknya Bang Riki harus ngerasain ditampar calon mertua sih. Yah, bagaimana pun Bang Riki udah ngehamilin anaknya gitu loh, jelas saja Bang Riki harus ngerasain itu. Harusnya sih, ya, cuma gue sendiri enggak tahu. Enggak mau tahu juga sih, takutnya nanti Bang Riki atau malah Vinzi trauma kalau gue kepoin.


Nah, kalau untuk masalah gue sama Aro sendiri. Jujur, gue masih bingung. Serius, hubungan kita jadi enggak jelas gitu. Aro belum menghubungi gue lagi sejak saat itu, sedangkan gue, jelas males kalau disuruh menghubungi dia dulu. Enak aja. Meski sekarang sudah musimnya emansipasi wanita, tapi gue enggak tertarik untuk memulai duluan. Enak aja, dia pikir gue cewek apaan.


"Mumpung kita masih di Bandung, mau ke tempat Aro?"


Gue secara otomatis menolehkan kepala gue ke arah Bang Riki, yang saat ini sedang rebahan di kasurnya sambil memainkan ponsel. Sekedar informasi, ya, gue dan keluarga memang sedang berada di salah satu hotel yang ada di Bandung. Tapi Ayah dan Ibu sudah pulang ke Solo kemarin, setelah pulang dari acara lamaran, sedangkan kami memilih untuk menginap di hotel karena ingin liburan sejenak. Kami memang hanya menyewa satu kamar dengan dua ranjang, biar lebih irit begitu. Maklum, Bang Riki kan sebentar lagi punya anak dan istri, jadi harus lebih berhemat.


"Enggak. Mau ngapain?"


"Kok ngapain, ya, ketemu lah, melepas rindu gitu loh. LDR-an kan berat, lo juga nggak kuat. Biar Dilan saja."


"Apaan sih, kenapa bawa-bawa Dilan. Udah lewat juga, udah nggak trend lagi," sahutku jutek.


Bang Riki mendesah lalu meletakkan ponselnya di atas nakas dan menghampiri gue.


"Belum baikan, ya?"


"Gimana mau baikan kalau, Aro-nya saja nggak niat buat baikan."


"Ya, elo yang ngalah dong. Kan lo yang mulai."


Gue langsung melotot tajam ke arah Bang Riki. "Lo kok belain Aro sih, Bang, jangan mentang-mentang dia sohib lo, ya, jadi lo bisa belain dia."


"Apaan sih, gue nggak belain siapa-siapa. Gue--"


"Halah, nggak belain apa? Orang jelas-jelas lo belain aro," sahutku memotong ucapannya.


"Gue nggak belain Aro, Wat, gue cuma berusaha menengahi. Lo jangan egois gitu dong, Aro tuh, di sini kerja, cari duit. Bukan main-main."


Gue diam bergeming. Tidak ada niatan untuk membalas kata-katanya.


"Wat," panggil Bang Riki sambil memutar tubuh gue agar berhadapan dengannya.


"Apa sih, Bang?" sewot gue.


"Dengerin gue!"


"Apa?!"


"Sekarang gue mau tanya, lo beneran sayang nggak sama Aro?"


Mendengar pertanyaan Bang Riki, sontak gue langsung tertawa sinis. Maksudnya apa barusan, pake segala tanya begituan.

__ADS_1


"Menurut lo, kalau gue nggak beneran sayang. Gue bakal segininya, Bang? Enggaklah!"


"Ikut gue!"


Bang Riki tiba-tiba bangkit berdiri dan menyeret gue ke kamar mandi. Gue agak kaget sih, karena tiba-tiba diseret ke kamar mandi. Ini gue mau diapain? Disiram pake air gitu biar gue sadar, terus nanti Bang Riki baru berhenti kalau gue menjerit sambil menangis minta ampun gitu? Astaga, otak gue kenapa mendadak sinetron banget begini, ya? Apa karena gue sedang rindu?


Belum selesai gue berasumsi, tiba-tiba Bang Riki meninggalkan gue. Tenang, tenang, gue enggak dikunciin dari luar kok, dan pintu masih terbuka lebar. Kalau seandainya gue pengen kabur, bisa. Tapi gue enggak kabur dan menunggu Bang Riki datang menghampiri gue. Tak lama setelahnya, Bang Riki kembali sambil membawa serenteng kopi instan.


Seketika gue melongo, buat apaan kopi segitu banyak? Dan dari mana coba dia dapet serenteng kopi itu.


"Dapet dari mana?"


"Beli," jawab Bang Riki singkat.


"Kapan?" tanyaku kepo.


"Kemarin."


"Buat apaan?"


Gue tidak bisa menahan diri, untuk tidak bertanya. Eh, buset, kopi segitu banyak buat apaan gitu loh.


"Tangan lo!"


"Hah?" respon gue seadanya.


"Tangan lo, Wat," ulang Bang Riki dengan nada tak sabaran. Dengan gerakan kasar ia tiba-tiba mengadahkan tangan kanan gue dan ia tuangi kopi instan.


"Lah, lo kalau mau ngopi nggak gini-gini banget kali, Bang. Ya, gue tahu lo lagi ngirit. Cuma, ya, enggak segininya juga kali," gerutu gue kesal.


Gimana gue enggak kesal, Bang Riki terus menuang bubuk kopi instan itu ke telapak tangan gue.


"Cerewet lo! Sekarang lo genggam tangan lo!"


Ini apaan sih? Gue enggak paham. Siapa pun, tolong jelaskan, apa yang sedang Abang gue lakukan saat ini.


"Biar apa?" tanya gue tak sabaran.


"Udah, nggak usah banyak tanya. Sekarang kepalin tangan lo!"


Lah?


Sambil mendesah pasrah, gue akhirnya menuruti perintahnya. Mengepalkan tangan gue yang berisi bubuk kopi instan, yang diiklanin Via Vallen. Ia, kopi yang itu, yang katanya nyaman di perut, nggak perih di lambung.


"Lo perhatikan!"

__ADS_1


Apaan deh, sumpah ini itu unfaedah banget.


"Kepalin dengan kencang, dan perhatikan!" intruksi Bang Riki, dan dengan bodohnya gue turuti. Sebenarnya gue bisa aja sih, nolak, cuma berhubung sekarang gue lagi di kota orang, dan duit gue enggak memungkinkan buat gue balik sendiri, ya udah. Gue turuti aja deh, apa mau dia. Yah, itung-itung buat nyenengin Bang Riki. Kan doi abis kena masalah.


"Apa yang lo lihat?"


"Lo buta, Bang?" sewot gue judes.


"Jawab aja kenapa sih?" balas Bang Riki tak kalah judes.


Gue mendengkus. "Tangan gue."


"Kopinya, Wat!"


"Masih utuh, Bang. Belum berubah jadi--"


Secara gerakn tiba-tiba, Bang Riki menonyor kepala gue. "Utuh gundul-mu kuwi! Lo nggak liat, kopinya pada jatuh."


"Kalau udah tahu kenapa nanya?!" Gue kembali sewot.


Bang Riki mendesah putus asa. "Ini tuh perumpamaan hubungan kalian."


"Maksud lo, gue--"


"Bukan. Dengerin gue dulu!"


Apaan deh, gue belum selesai ngomong juga udah main dipotong.


"Gini," Bang Riki tiba-tiba menuang sebungkus kopi bubuk instan ke telapak tangannya dan mengepalkan kuat. "Kopi ini berjatuhankan kalau kita menggenggamnya terlalu kuat, tapi kalau kita genggamnya biasa aja, nggak jatuhkan? Nah, sama kayak hubungan--"


Tanpa membiarkan Bang Riki melanjutkan kalimatnya, gue sudah terbahak duluan.


"Kok lo malah ketawa sih?" protes Bang Riki.


"Lo lucu, Bang. Oke, oke, gue cukup terharu sih dengan perumpamaan yang lo pake. Sekarang gue tahu sih, maksud dari nasehat yang lo kasih. Cuma gue nggak habis pikir aja gitu loh, sama barang yang lo pake. Kenapa pake kopi instan gini deh? Kenapa nggak ajak gue ke pantai aja, perumpamaan yang beginian tuh, cocoknya pakai pasir pantai Abang, bukan pake kopi bubuk instan."


"Biar anti mainstrem, Wat. Lagian, lo kan suka Korea. Ini kopi kan pernah diiklanin Siwon."


"Kok Siwon? Siwon ngiklanin mie sedap. Bukan Siwon, Bang, tapi Lee Min Ho. Dari Lee Minho ke Siwon itu jauh, Bang, nggak ada mirip-miripnya."


"Ya, emang enggak ada. Tapi, yang gue tahu cuma Siwon. Gue nggak kenal siapa tadi, Lek Min?" Bang Riki tiba-tiba terkiki geli. "Namanya kek Jawa, ya, Lek lho."


"Bukan Lek, Bang. Tapi Lee," koreksi gue sewot.


"Lee?" beo Bang Riki, gue mengangguk membenarkan. "Min..." sekali lagi gue mengangguk. "neral? Yang ada man--"

__ADS_1


"Serah lo, Bang!" gue kemudian membersihkan tangan gue dan berjalan keluar dari kamar mandi. Mengabaikan teriakan Bang Riki yang memintaku agar tidak ngambek. Tapi gue tidak perduli.


Tbc,


__ADS_2