Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (28) Harus Pisah?


__ADS_3

"Aku mau ngomong," celetuk Aro dengan nada suara yang tiba-tiba berubah.


Gue yang tadinya sedang asik sandaran di dada Aro sambil nonton drama Korea, harus mengangkat wajah. Guna memastikan ekspresi apa yang sedang Aro tunjukkan.


Aro menundukkan kepalanya saat menatap gue, elusan ringan gue rasakan beberapa detik setelahnya. Hubungan kita memang baru berjalan kurang dari satu minggu, tapi menurut gue peningkatannya cukup bagus, mengingat Aro yang memiliki sifat agak-agak kaku begitu. Aro memang tidak terlalu suka mengobrol, bahkan meski hampir seharian kami bersama, ia lebih banyak diam, kecuali gue tanya atau dia benar-benar ingin bertanya. Tidak ada kalimat basa-basi yang keluar dari mulut Aro, tidak akan pernah. Aro benar-benar tipekal pria yang hemat, menjurus ke pelit bicara. Tapi sangat royal dengan perhatian dan skinship. Lalu tiba-tiba tadi Aro bilang ingin bicara? Sesuatu sepenting apakah yang ingin Aro ungkapkan.


"Ngomong aja!" balas gue cuek, sebisa mungkin gue mencoba memfokuskan pandangan gue ke layar televisi. Agar tidak terlalu berpikir yang tidak-tidak tentang hal apa yang ingin Aro bicarakan. Karena kalau boleh jujur, gue deg-degan, sedikit was-was juga.


Tanpa gue duga, Aro langsung mengungkapkan apa yang ingin dia bicarakan. Tanpa sedikit keraguan.


"Aku besok balik ke Bandung."


Deg.


Balik ke Bandung? Maksudnya?


"Ngapain?"


"Kok ngapain? Ya, kerja, sayang. Kan tempat kerjaku di sana."


Gue kesal, bahkan panggilan sayang yang Aro keluarkan untuk pertama kalinya, tak mampu membuat gue baper atau sejenisnya.


"Terus aku?"


"Ya, kamu di sini dong. Kan tempat kerja kamu di sini. Memangnya kamu inginnya ikut, begitu?"


"Lalu hubungan kita?"


"Ya, tetep jalan dong," balas Aro santai.


Ini orang kenapa enggak bisa peka sedikit sih. Enggak lihat wajah frustrasi gue saat ini apa?


Gue langsung melepaskan diri dari rangkulan Aro. "Kita LDR-an gitu?"


"Ya. Kamu keberatan?"


Gue langsung menatapnya sengit. "Menurut kamu?!"


Aro meringis sambil mengusap bagian belakang kepalanya. Wajahnya terlihat bersalah namun juga terlihat bingung.


"Aku harus bagaimana, Anggita? Aku punya tanggung jawab di sana, masa aku lepas tanggungjawab cuma kare--"


"Cuma kamu bilang?" seru gue memotong kalimatnya dengan raut wajag emosi. "seenggak penting itu hubungan kita? Iya? Ya, udah kalau emang nggak penting. Putus aja sekalian, seenggaknya Prasta juga nggak kalah ganteng."


"Kok kamu gitu sih? Kenapa bawa-bawa nama pria asing ke dalam pembicaraan kita? Kamu nggak bisa begitu dong, Anggita. Aku nggak suka."


"Kamu pikir aku suka? Enggak!" balas Aro tak mau kalah, kilatan matanya terlihat menyimpan amarah, membuat gue makin naik darah.

__ADS_1


"Kok kamu marah?" protes gue kemudian.


Aro bergeming. Tidak menjawab atau merespon sama sekali. Ia bahkan kini sedikit memalingkan wajahnya, membuat gue bertambah kesal.


"Aku tanya, Ar, kenapa diam aja?"


Aro melirik gue. "Aku harus jawab apa emangnya?"


"Ya, apa gitu kek, terserah kamu. Yang penting kamu jawab, nggak diam aja kayak tadi."


"Wowowo, ada apa nih? Kok suasananya tegang begini? Apa rapat pleno yang bahas tentang RUU baru pindah ke sini? Gue tiba-tiba merasakan aura panas, beneran pindah, ya?"


Gue langsung menimpuk Bang Riki dengan bantal sofa, setelah mendengar celetukan garingnya yang tidak tahu tempat itu. Dateng-dateng bukannya ucap salam kok malah cari ribut.


"Gue baru dateng, kenapa udah ditimpuk aja?" protes Bang Riki sambil melotot ke arah gue.


"Kalau sadar baru dateng itu nggak usah cari masalah. Udah tahu situasinya nggak bagus, masih aja lo becandain. Wajar kalau lo kena timpuk," balas gue kemudian.


Bang Riki berjalan ke arah kami sembari mengendurkan dasinya, lalu duduk di sofa single.


"Oke, oke, sorry, maksud gue tadi tuh biar agak anget gitu suasana, Ta. Lagian, baru pacaran seminggu tuh, harusnya lagi anget-anget *** kucing. Bukan malah panas kayak kebakaran hutan begini."


"Temen lo tuh, yang cari perkara."


"Lo apain adek gue, Ar?" Bang Riki menoleh ke arah Aro dengan wajah bingungnya.


"Oh, kapan?"


"Besok."


"Terus masalahnya di mana?" tanya Bang Riki bingung.


"Ya, masalahnya itu, Bang. Masa lo nggak paham?"


"Lah, cuma gara-gara Aro mau balik ke Bandung sampai ngambek begini? Lebay banget deh! Lo juga, Ar, kenapa ikut ngambek?"


"Anggita sebut-sebut nama pria lain, Ar, ya gue kesel lah."


"Astaga! Kan apa juga gue bilang, saling cinta doang itu nggak cukup, gue bilang sifat kalian itu terlalu susah disatuin, nggak usah dipaksain. Put--"


"FACHRIKI PRANAJA!!" teriak gue dan Aro kompak.


Baik gue dan Aro langsung memberikan tatapan tajam kami untuk Bang Riki.


"Iya, iya, bercanda doang, elah. Biasa aja, nggak usah ngegas!" gerutu Bang Riki sambil mendengkus.


"Bercandaan lo nggak lucu, Bang!"

__ADS_1


"Ya, wajar kalau nggak lucu, gue kan bukan pelawak. Kalau gue yang seganteng ini lucu juga, entar kasian Kang Sule," balad Bang Riki ngawur.


Gue hanya meresponnya dengan decakan malas. Sedang Aro, pria itu membalasnya dengan tatapan bingung.


"Apa hubungannya sama Kang Sule, Rik? Makin nggak nyambung aja sih lo!"


"Ya, kalau gue juga lucu, nanti Net tv lebih milih gue ketimbang Kang Sule gimana? Kan kasian Kang Sule-nya, udah ditinggal bininya, masa lahan pekerjaannya masih mau gue em--"


"Sumpah, Bang! Candaan lo sekarang ini beneran nggak lucu dan nggak akan bikin kita akur. Mending sekarang lo naik ke atas, gue sama Aro perlu ngomong," potong gue mulai kehilangan kesabaran.


"Gue mau bantu ini lho."


"Bantu apaan kalau begini keadaannya? Yang ada lo makin memperkeruh suasana, Bang. Gue itu lagi kesel."


"Oke. Gini, gue kasih tahu, ya, adek gue yang paling cantik. Aro ke Bandung itu buat kerja, bukan buat cari cewek. Lo jangan egois begini dong."


"Gue nggak suka hubungan jarak jauh."


"Kalau nggak suka, ya udah lo ngikut ke sono. Gampangkan! Lagian lo norak banget sih, temen gue yang baru nikah tiga hari ditinggal lakinya dinas keluar Jawa sebulan masih idup kok sampai sekarang. Lo yang cuma ditinggal Aro kerja ke Bandung aja sampai ributnya ngalahin demostran yang menolak pembaruan RUU."


"Iya lah, gue juga nggak suka sama pembaruan RUU yang nggak masuk akal itu. Kalau gue masih jadi mahasiswa, udah pasti ikut demo gue. Apaan, nggak jelas gitu. Heran gue, dapat inspirasi dari mana coba."


"Ya, kayak obat cacing yang nggak benar-benar untuk mengobati cacing. Wakil Rakyat pun demikian, mereka tidak benar-benar mewakili rakyatnya," balas Aro yang kurasa mengutip dari kicauan seorang penulis dan juga penyanyi, yang lagunya lagi seneng banget gue puter.


"Wakil rakyat yang nggak benar-benar bisa mewakili rakyat kok dipilih," gerutu gue sambil menggeleng miris. Gue tuh suka bingung sama hukum dan pemerintahan Indonesia.


Di luar dugaan gue, Aro tiba-tiba tersenyum. "Ya, namanya orang kan kadang bisa salah pilih. Makanya kalau sebelum ada pemilihan untuk wakil rakyat, cari tahu dulu orangnya yang mau dipilih. Bukan mana duluan yang kasih uang paling banyak, terus itu yang dipilih. Giliran tahu jelek kinerja nyalahin, kok yang begituan bisa kepilih, padahal kita juga yang milih."


Mendengar jawaban Aro, gue hanya meringis sebagai respon. Agak heran, kenapa jadi bahasanya berat gini sih, bahas politik, cuy. Otak gue yang enggak seberapa ini kan jadi bingung mau nanggepinnya.


"Hehe, pusing ya, dengerin celotehanku yang tadi?" kekeh Aro sambil mengelus rambut gue.


Dengan gerakan spontan, gue mengangguk membenarkan. "Iya, bahasannya keberatan buat aku," balas gue lalu menyandarkan kepala gue di dadanya.


"Maaf, nggak lagi-lagi."


Gue hanya mengangguk sebagai tanda jawaban, sambil menikmati elusan ringan yang Aro berikan.


"****, langsung baikan cuma gara-gara bahas RUU yang baru? Ada faedahnya juga, ya ternyata itu pembaruan. Selain bikin polisi jadi ada kerjaan dan nggak cuma joget-joget ala India atau joget ala lagu yang lagi viral itu," celetuk Bang Riki sambil geleng-geleng kepala.


Oh, iya, kan tadi gue lagi ngambek sama Aro, kok sekarang malah senderan di bahunya?


Astaga, Anggita! Di mana wibawa-mu????


**Tbc,


ini bukan kritikan, ya, pure jokes receh kok. hehe, plis, jangan bully saya ✌🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2