Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
(not) Perfect Couple : {4} Udah Resmi Jadi Om-Tante Dong


__ADS_3

#####


Jantungku berdebar-debar saat dibangunkan Aro dan diberitahu kalau ponakan kami akan segera lahir. Membayangkan Bang Riki dipanggil Papa benar-benar membuatku geli mendadak. Bang Riki yang masih slengekan benar-benar akan dipanggil Papa, dan gue akan dipanggil Tante. Wow, mendadak gue antusias.


"Kira-kira nanti anaknya cewek apa cowok, ya?" tanyaku pada Aro.


Aro yang fokus menyetir hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban.


"Kok aku yang deg-degan, ya, Ar."


"Kenapa? Mendadak pengen juga?" goda Aro. Kali ini ia menoleh ke arahku meski hanya sekilas dan kembali fokus ke arah jalan.


"Ngekodenya nggak usah terang-terangan gitu, nggak bisa, Ar?" Bibir gue manyun, karena jadi serba salah kalau Aro sudah bahas soal anak.


"Haha." Aro malah terbahak mendengar gerutuanku lalu meminta maaf. Kalau sudah begini gue yang jadi serba salah.


Gue sebenarnya, bukannya enggak pengen punya anak. Ya, gue akui terkadang gue pengen cepet hamil dan punya anak, meski cuma terkadang, ya. Baru sekali dua kali lah, gue pengennya. Sisanya, gue lebih memilih nanti dulu lah. Bukan tanpa alasan kenapa gue begitu. Bagaimana pun gue sadar diri, kalau jadi ibu itu nggak gampang. Seenggaknya perlu kesiapan mental lah. Gue sendiri aja kelakuannya masih begini-begini aja, nanti kalau gue punya anak, kan kasian anak gue. Ya, kan? Kasian Aro juga ngadepinnya. Begini-begini gue mah istri yang penuh pertimbangan, meski tidak dipungkiri kadang suka labil. Haha.


"Telfon Abang kamu dulu deh," ucap Aro begitu kami sampai di halaman rumah sakit.


Gue mengangguk patuh, lalu merogoh jaket dan mengeluarkan ponselku dari sana. Mengutak-atiknya sebentar lalu menelfon Bang Riki.


"Halo, Bang. Gimana? Udah lahir?"


"Belum. Masih bukan dua. Lo sama Aro di mana?"


"Di parkiran."


"Langsung masuk aja, kita masih di IGD. Masih dicariin kamar nih."


"Oke."


Tut Tut Tut


"Gimana? Udah masuk kamar?"


Gue menggeleng lalu memasukkan ponselku ke dalam kantong jaket. "Masih di IGD."


Aro melepas seatbelt-nya. "Udah bukaan berapa, katanya?"


"Dua." Gue kemudian membuka pintu mobil dan keluar, Aro melakukan hal serupa.


"Oh, masih lama. Aku pikir udah bukaan banyak." Secara tidak gue duga, Aro tiba-tiba merangkul pundakku, "Dingin."


Gue hanya tersenyum, lalu kami masuk ke IGD setelahnya. Suasana IGD malam ini tidak terlalu sepi seperti dugaanku, karena sekarang sudah tengah malam. Vinzi berada di bed tiga, dua lainnya seperti korban kecelakaan, yang untungnya tidak terdapat luka luar yang serius, jadi gue tidak terlalu ketakutan melihatnya. Meski tetep agak ngeri juga.


"Nggak usah dilihatin," bisik Aro mengintruksi.


Gue meringis. Meski suka ngeri kalau lihat begituan, rasa penasaran gue tuh tinggi.


"Gimana?" tanyaku berbasa-basi kepada Bang Riki.


"Suruh nunggu," balas Bang Riki seadanya. Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajahnya.


Gue mengangguk, lalu melirik Vinzi yang berbaring miring ditemani Ibu. Gue perhatikan tangan Ibu dari tadi tidak berhenti mengelus punggung anak menantunya itu. Tanpa sadar, gue ikut meringis saat melihat Vinzi meringis kesakitan. Seketika gue takut, apa melahirkan sesakit itu?


#####


Tepat adzan subuh berkumandang, bayi Vinzi dan Bang Riki lahir. Kami semuanya menunggunya akhirnya bisa bernapas lega. Bayi mereka berjenis kelamin perempuan. Kami belum bisa melihatnya secara langsung, tapi kata Bang Riki cantik mirip dia. Gue dapat menangkap raut wajah kelegaan di wajah lelah Bang Riki. Bibirnya seakan tidak berhenti tersenyum begitu mengetahui putrinya sudah lahir, meski kedua matanya terlihat kuyu. Sejak semalam memang Bang Riki belum tidur sama sekali, karena sebelum Vinzi mengalami kontraksi Bang Riki sedang begadang mengerjakan tugas kantornya. Kalau dipikir-pikir kasian juga gue lihatnya.


"Berhubung sekarang bayi gue udah lahir, kalian pulang, gih! Kasian Anggi kayaknya ngantuk juga itu," ucap Bang Riki pada Aro, tapi tatapannya ke arahku.


Aro ikut menoleh ke arahku, lalu mengangguk. "Congrats, ya! Kita balik dulu. Nanti kalau kita ke sini mau nitip dibawain apa?"


"Thanks, Bro, buruan nyusulnya."


"Yee, kita juga langsung nyusul keleus," sahut gue kesal, "buruan bilang, lo mau dibawain apaan, Bang. Kelamaan!" imbuhku menggerutu kesal.


"Yee, sewot aja lo. Ya, udah, bawain gue baju ganti dan segala macem kebutuhan gue deh. Sama makanan, dan kalau bisa lo aja yang masak, ya, Ar."


Aro sih menurut saja sambil mangguk-mangguk, tapi kalau gue jelas menolaknya mentah-mentah.


"Enggak. Nanti kita beliin jadi."


Enak saja! Udah nyuruh kita begadang dan sekarang nyuruh suami gue yang masakin dia. Enak banget hidupnya.


"Enggak papa, sayang," kata Aro membujuk gue, "terus lo mau dimasakin apa?"


"Ayam teriyaki enak kayaknya."


"Oke, kita balik dulu deh." Aro merangkul pundakku, "yuk, pulang!"


"Ibu mau ikut pulang kita atau--"

__ADS_1


"Ibu di sini nemenin gue dong, Ar," potong Bang Riki dengan wajah kesalnya, "kalau Ibu lo ajak pulang siapa yang bantu gue ngurusin bayi gue. Gue kan belum ngerti ngurus yang begituan. Kalau Emaknya mah, gue bisa."


"Riki benar, Nak, kamu sama Anggi pulang berdua aja. Ibu di sini jaga Kakak ipar sama ponakan kalian. Abang kalian soal beginian masih payah pasti."


Baik gue dan Aro sama-sama mengangguk. "Ya udah, kami pulang duluan, Bu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati nyetirnya."


"Baik, Bu."


Lalu kami meninggalkan rumah sakit. Begitu masuk ke dalam mobil, gue langsung menurunkan sandaran kursi untuk meluruskan punggungku yang terasa sedikit pegal. Aro hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku sambil memasang seatbeltnya, sebelum menyalakan mesin dan mulai mengemudikannya.


"Kalau ngantuk tidur aja, nanti kalau udah sampai aku bangunin."


Gue berdecak sambil menoleh ke arah Aro. "Kalau aku ketiduran ya kamu gendong dong, Ar, masa dibangunin. Nggak romantis banget."


Aro menggeleng. "Enggak bisa, berat. Aku nggak akan kuat, kamu jalan aja."


Gue langsung melotot tajam. "Oh, jadi aku berat?" tanya gue sinis.


Aro meringis sambil menghindar, kalau-kalau gue akan menyerangnya. "Hehe, kan aku belum sarapan, sayang. Jadi nggak kuat."


Gue merajuk. "Tahu lah, dasar nggak peka!"


"Dih! Kayak zaman pacaran aja, kita udah nikah kalau kamu lupa," balas Aro tak mau kalah.


Nggak asiknya debat sama Aro tuh, sekarang dia pinter jawab. Kenaikan progress pada Aro tuh cepet banget, dia bukan Aro si cuek bebek kayak dulu lagi. Tapi udah jadi suami idaman para wanita di luar sana, meski kadang-kadang ngeselinnya suka nggak bisa dikira-kira. Tapi dia lumayan pinter lah ngertiin gue setelah nikah. Ya, seenggaknya nggak seperti bayangan gue dulu sebelum menikah.


"Tahu lah, Ar, aku mau tidur."


"Kan emang aku suruh kamu tidur," balasnya santai.


######


Begitu sampai di rumah kami langsung salat shubuh lalu tidur sebentar. Kali ini gue bangun lebih dahulu, lalu membuat nasi goreng untuk kami sarapan supaya nanti saat memasak perut Aro sudah keisi. Begitu nasi goreng gue selesai, gue langsung membangunkan Aro.


"Mau dimasakin apa?" tanya Aro sambil merenggangkan ototnya. Ia menyibak selimut dan turun dari ranjang.


"Aku udah bikin nasi goreng, ayo sarapan. Abis itu kamu masak buat dibawa ke rumah sakit, biar aku nyuci sama nyiapin keperluan Bang Riki," jawab gue sambil merapihkan ranjang kami.


Aro mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu melipir ke kamar mandi untuk mencuci muka.


"Di kulkas ada ayam enggak?" tanya Aro begitu keluar dari kamar mandi, ia masih membawa handuknya keluar.


"Ada. Ada udang juga kok. Terserah kamu mau diapain itu udangnya."


"Tepung goreng aja kayaknya."


"Oke."


Aro mengangguk sekali lagi, lalu mengajak gue turun. Suasana rumah sepi karena Mbok Ru, pembantu yang dipekerjakan Bang Riki sedang pulang kampung dan belum bisa kembali karena ibunya sedang sakit.


"Ayah udah kamu kabarin?" tanya Aro sambil menyuap nasi gorengnya.


Gue menggeleng dan sibuk mengunyah, baru setelah nasi yang kukunyah tertelan, gue menjawab, "Udah dikabarin Bang Riki. Paling nanti sore nyampe."


"Siapa yang jemput?"


"Kamu lah."


"Oke."


Setelahnya, kami makan dalam diam. Hanya ada suara dentingan sendok menabrak piring mengisi kesunyian. Aro selesai lebih dahulu, tanpa menunggu gue, ia langsung berdiri dan membawa piring kotornya menuju tempat pencuci piring.


"Nanti aku aja yang nyuci," kataku mencegah Aro agar tidak perlu mencuci piringnya, biar nanti gue saja sekalian punyaku.


Aku mengangguk tanpa membantah, karena memang sepertinya ia belum ada niatan untuk mencuci piring. Ia berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan jeruk segar. Ia langsung mengupasnya dan berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Mau?" tawarnya sebelum memasukkan sepotong jeruk ke dalam mulutnya.


Gue menggeleng dan meneguk air mineralku. "Nanti laper lagi."


"Ya, tinggal makan lagi lah," balas Aro santai, "kalau ada yang bisa dimakan."


Gue tidak menjawabnya, langsung berdiri dan menuju tempat pencuci piring sambil membawa piring dan gelas kotor.


Saat hendak menyalakan kran air, Aro tiba-tiba berkata, "Nyuci piringnya nanti aja sekalian aku abis masak."


"Terus siapa nanti yang nyuci?"


"Tergantung. Kalau duluan kamu yang selesai nyuci bajunya, ya, kamu yang nyuci piring sama perabot yang lainnya. Tapi kalau duluan aku yang selesai, aku yang nyuci piring dan perabot lainnya."


Gue menimang, mempertimbangkan ide Aro kemudian mengangguk setuju. "Oke, kalau gitu aku langsung nyuci deh."

__ADS_1


"Iya. Tapi jangan dilama-lamain biar nggak usah nyuci piring loh. Awas aja kalau ketahuan!"


Gue tertawa. "Su'udzon. Enggak lah. Emang aku sejahat itu apa?"


"Seringnya emang begitu kan?"


Masa sih gue begitu?


"Udah sana, buruan nyuci. Jangan punya kita aja yang kamu cuci, tapi punya Ibu sama Riki dan Vinzi sekalian."


"Inggih, Ndoro Agung!"


"Dikasih tahu juga, malah ngeledek."


"Hehe, bercanda, sayang. Udah, ah, ayo kita cepet kerja. Biar bisa langsung ke rumah sakit dan ketemu Debay-nya. Ugh! Aku nggak sabar."


"Aku juga," sahut Aro.


"Nggak sabar pengen ketemu anak Bang Riki?"


Aro menggeleng. "Enggak sabar punya Debay-nya."


Gue mematung. Aro tertawa lalu memasukkan potongan jeruk terakhirnya ke dalam mulutku.


"Buruan nyuci! Bukannya malah melamun," ucapnya lalu berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang hendak ia masak.


Gue menghela napas, lalu meninggalkan dapur. "Maaf," bisikku sebelum benar-benar meninggalkan dapur.


######


Sekitar pukul sebelas siang, kami akhirnya sudah kembali ke rumah sakit. Keadaan Vinzi terlihat jauh lebih segar meski tidak dapat gue pungkiri agak pucat sedikit. Ia baru saja terlelap setelah menyusui bayinya. Ponakan gue benar-benar terlihat mirip dengan Bang Riki, seperti yang diomongin Bang Riki tadi pagi. Bayinya terlihat seperti duplikatnya Bang Riki, bedanya ini versi ceweknya Bang Riki. Ya Allah, semoga nanti kalau sudah dewasa kelakuannya tidak seperti Bapaknya.


"Beneran mirip banget sama Riki, ya," celetuk Aro.


Saat ini kami sedang mengelilingi bayi Bang Riki yang sedang dipangku ibu. Baik gue dan ibu langsung mengangguk setuju dengan penuturan Aro.


"Katanya mau dinamain siapa, Bu?" tanyaku sambil menjawil-jawil pipi ponakan gue. Dan tentu saja, hal itu membuat gue mendapat pukulan dari ibu.


"Jangan digituin, nanti kalau nangis mau kamu susuin? Kasian Vinzinya biar tidur dulu," omel ibu kesal.


"Gemes, Bu."


"Bikin sendiri makanya."


"Iiih, ibu mah."


"Sini, duduk, belajar pangku biar cepet ketularan."


"Apaan sih ibu ini, emangnya hamil itu bisa menular?"


"Yee, dikasih orangtua juga. Nggak usah ngebantah."


Gue menggeleng. "Nggak mau, takut. Nanti aja kalau udah gedean dikit."


"Kalau kayak gitu gimana bisa cepet punya momongan," gerutu Ibu.


Di luar dugaan, Aro tiba-tiba antusias ingin belajar memangku bayi. "Kalau gitu biar Aro aja, Bu. Kira-kira bisa cepet juga nggak kalau Aro yang mangku?"


Ibu tertawa, lalu menyenggol kakiku. "Tuh, dengerin! Suami kamu sudah pengen, jangan kelamaan nunda. Nanti keburu tua. Sana, buruan ambilin bantal buat suami kamu dulu."


Keningku mengkerut tanpa bisa dicegah. "Loh, kok malah disuruh tidur?"


"Bukan, buat nidurin ponakan kamu."


Gue ber'oh'ria. "Oh, buat debay-nya? Berarti yang kecil aja?"


"Bukan, tapi yang besar. Buat alasnya itu loh, biar aman. Sana, buruan ambil!"


"Ambilin ya, sayang," ujar Aro ikut-ikutan. Ekspresinya terlihat antusias dan tidak sabar untuk memangku ponakannya.


Gue akhirnya mengambilkan bantal dengan sedikit ogah-ogahan. "Nih!"


"Taruh di paha suami kamu!" Gue menurut, "jangan tegang, ya! Santai aja!" ucapnya kali ini pada Aro.


Aro mengangguk patuh. Ekspresinya sedikit tegang saat ibu hendak merebahkan bayi Bang Riki di atas bantal yang dipangku Aro. Namun, tak lama setelahnya ia mulai sedikit santai dan mulai menggoyang- goyangkan kakinya pelan.


"Tuh, lihat suamimu, Nduk! Sudah cocok kok. Abis ini bikinin buat ibu satu, ya," goda Ibu sambil terkikik geli. Gue hanya cemberut meresponnya.


Tak lama setelahnya, Bang Riki keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya.


"Wadiaw, pemandangan macam apa ini?" seloroh Bang Riki sambil menggosok rambut basahnya, "udah cocok juga lo jadi Bapak, Ar. Udah ada rencana ke arah sana nih, ceritanya." godanya sambil memainkan alisnya naik turun.


"Doain aja deh, Rik," balas Aro tanpa menatap Bang Riki, pandangannya terlalu fokus pada bayi Bang Riki yang ada di pangkuannya. Kalau sudah begini, alamat cepet-cepet jadi Emak nih, gue.

__ADS_1


Tbc,


mohon dibantu koreksi typo dan lain-lainnya. diketik di sela-sela kemageran yang membabibuta🤣🤣🤣🤣🤣


__ADS_2