Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (64) Persiapan Menuju Hari H


__ADS_3

#######


Gue pikir menyiapkan rencana pernikahan itu sangatlah menyenangkan, tapi ternyata tidak. Semua benar-benar merepotkan dan hampir membuat gue teriak saking pusingnya. Apa lagi Ibu dan Mamanya Aro ingin konsep yang berbeda. Satu ingin begini, satunya ingin begitu, padahal kalau dipikir-pikir kan gue sama Aro yang mau menikah, kenapa yang heboh mereka? Yah, gue tahu sih, gue satu-satunya anak gadis Ibu dan Aro sendiri anak tunggal, tapi tetap saja dong, yang paling berhak memutuskan itu gue, karena gue yang akan jadi pengantin perempuannya, bukan malah Ibu dan calon Mertua gue, yang justru malah heboh sendiri.


Yah, seperti saat ini. Kami bertiga sedang mengunjungi butik langganan Mamanya Aro. Yang mau memakai gaunnya kan gue, tapi yang heboh memilih lagi-lagi malah mereka. Jujur, gue antara seneng diperhatiin dan juga sedikit malas dengan keduanya, yang kadang-kadang ingin semau mereka sendiri.


"Bagusan ini lho, Jeng. Simple tapi tetep elegan, yang tadi itu terlalu ramai, kurang suka aku," ucap Mamanya Aro sambil menunjuk-nunjuk gaun pengantin pilihan beliau.


Ibu pun tak mau kalah. "Loh, lebih bagusan ini, Jeng, nggak ramai ini, bagus. Yang tadi terlalu polos, jadi kan kesannya biasa aja."


"Ini itu simple tapi elegan lho, Jeng, biasa gimana? Cantik lho, iya kan, sayang?"


Mamanya Aro kemudian menoleh ke arah gue, untuk meminta pendapatku.


Gue kemudian mengangguk pasrah sebagai tanda jawaban. "Iya, bagus, Ma."


"Tuh, kan, Jeng, Anggi saja suka dengan pilihan saya. Udah mending pilih ini."


Gue mulai merasakan aura yang tidak mengenakkan di sini. Dan benar saja, saat gue menoleh ke arah Ibu, gue langsung mendapati tatapan merajuk dari Ibu.


"Jadi, yang Ibu pilih jelek?"


Nah, kan!


"Enggak, Bu, bagus juga kok. Dua-duanya bagus, kalau nggak bagus masa iya dijual. Nggak mungkin lah."


"Tapi kamu tetap harus memilih salah satu, sayang. Kan acara resepsinya satu kali aja, nggak ada resepsi lainnya."


"Ngapain juga pake acara resepsi banyak-banyak, ngehabis-habisin uang aja," sahut Ibu tiba-tiba.


Gue kembali menghela napas frustrasi. Keduanya mulai lagi. Mamanya Aro memang sempat ingin mengadakan dua resepsi, satu di Jakarta, lalu satunya lagi di Solo. Tapi Ibu tidak setuju, baginya percuma mengadakan resepsi di Solo, karena kebanyakan keluarga besar kami tinggal di Ibu kota, jadi menurut Ibu lebih efisien dan hemat dana kalau resepsi diadakan sekali saja, tapi terpisah dengan acara ijab qobul. Awalnya Mama menolak tegas dengan ide Ibu, tapi berkat bujukan Aro, Mama akhirnya mengalah dan setuju.


"Jadi, mau pilih yang mana, sayang?"


Mama kembali bertanya, membuat gue kembali pusing.


"Anggi lihat-lihat dulu deh, Ma," ucap gue kemudian.


"Loh, kamu nggak suka dengan pilihan Mama?"


"Duh, Jeng, Anggi itu lebih suka sama gaun yang saya pilihin," sahut Ibu cepat.


Seketika gue melongo.


Mamanya Aro memasang wajah sedih dan berkata, "Jadi, kamu beneran nggak suka sama gaun yang Mama pilihin?"


"Eh, enggak gitu, Ma, Anggi suka kok, bagus. Dua-duanya bagus, kan Anggi tadi bilang gitu. Tapi... kayaknya Anggi pilih sendiri deh."


"Loh, kok kamu begitu sih, Gi, Ibu sama calon Mama Mertua kamu capek-capek pilihin gaun buat kamu lho, masa nggak ada yang kamu pilih salah satu gitu? Nggak menghargai orang tua banget sih, kamu ini," protes Ibu, membuat gue terdiam.


Dalam hati gue langsung menjerit, "Astagfirullah! Beri hamba-Mu ini kekuatan ya, Tuhan, untuk menghadapi kedua wanita yang akan menjadi Nenek dari anak-anakku kelak. Aamiin."


"Ya udah, oke, kita tunggu Aro untuk milih," ucap gue pasrah, pada akhirnya.


Ibu langsung melotot. "Kamu pikir, kami di sini karena siapa? Karena Aro nyuruh Ibu sama calon Mertua kamu untuk milihin gaun yang kamu pake nanti, kenapa malah nunggu calon menantu Ibu," protes Ibu sekali lagi.


Lalu Mama menyahut, "Iya, sayang, Mama sama Ibu kamu ke sini karena disuruh Aro, bukan karena kemauan kita sendiri."


"Udah lah, Jeng, nggak usah kita bantuin. Biar pusing milih sendiri, dikasih bantuan juga malah nolak, sok-sokan mau milih sendiri."


Lah, kok malah ngambek si Ibu.


"Ya, Ibu sama Mama nggak bantuin aku, tapi malah bikin pusing."


Ups! Gue keceplosan kan, emang dasar ya, ini mulut enggak pernah bisa mau dikondisiin.


"Maksud Anggi, tuh, gini, kan Ibu sama mama mau bantuin milih, tapi kenapa Ibu sama Mama malah nyuruh pilih salah satu, kan Anggi jadinya bingung."


"Loh, kenapa bingung, kan kamu tinggal milih yang mana yang kamu suka, kenapa malah bingung?" sahut Ibu.


"Ya, aku... aku--"


"Udah dapet?"


Gue langsung menghentikan ucapan gue saat Aro tiba-tiba muncul, mencium punggung tangan Ibu dan Mamanya secara bergantian.


Ia kemudian menghampiri gue dan mencium puncuk rambutku dan kembali bertanya. "Udah dapet gaunnya?"


Gue menggeleng pasrah dengan bibir cemberut.


"Calon istrimu aneh, Nak, Ibu sama Mamamu mau bantuin, eh, katanya nunggu kamu saja."


Aro menaikkan sebelah alisnya dan menoleh ke arahku. "Kenapa harus nunggu aku?" tanyanya bingung.


"Ya, enggak papa kan. Kan aku juga perlu pendapat kamu," jawabku asal.


"Kan aku bilang enakan bikin langsung ke desainernya ketimbang beli begini."


"Kita tinggal, aja, ya, nanti kalau udah dapet telfon. Ibu sama Mama kamu mau cari tempat buat ngadem," kata Ibu lalu merangkul Mamanya Aro, "Yuk, Jeng!"


"Ya udah, ayo buruan pilih. Abis ini kita mau ke tempat catering juga loh."

__ADS_1


"Bantuin!" rengek gue dengan bibir manyun.


"Sayang, aku nyuruh kamu pergi sama Mama dan Ibu kamu, itu karena aku nggak ngerti masalah gaun. Kenapa malah minta bantuan aku?"


"Ya, aku bingung mau milih yang mana. Mama kamu sama Ibu tuh, sama-sama pilihin, terus aku harus pilih salah satunya. Kan aku jadinya nggak enak karena harus pilih salah satu, Ar, takutnya nanti salah satunya tersinggung."


"Ya, udah itu salah kamu sendiri."


"Iih, kok kamu gitu sih, Ar. Nggak seru, nggak asik, nyebelin!"


"Oke, gini aja. Kamu pilih tiga atau lima gaun yang menurut kamu paling cantik, terus kamu cobain semua, nanti aku bantu pilihin. Gimana?"


Gue langsung tersenyum cerah lalu mengangguk setuju. "Oke, kita pake ide kamu."


Gue kemudian memilih beberapa gaun yang menurut gue paling cantik. Gue beberapa kali berganti gaun, lalu Aro memotret setelah aku selesai berganti gaun. Total gaun yang gue coba ada tujuh. Karena menurut gue cantik-cantik.


"Jadi, aku harus pakai yang mana nanti?" tanya gue pada Aro yang kini sedang sibuk menggeser layar ponselnya.


Gue sudah selesai berganti pakaian, kemudian duduk di samping Aro, mengintip hasil cepretannya.


"Mana yang paling cantik menurut kamu?"


Aro menggaruk pelipisnya. "Cantik semua, yang, aku jadi bingung juga deh."


"Terus?" Gue melotot tajam ke arahnya.


"Apa kita beli semua? Kamu cantik banget lho pakai ini semua."


Plak!


Dengan gerakan gemas, gue langsung memukul pundaknya. "Buat apaan beli gaun pengantin sebanyak itu? Kamu pengen aku nikah tujuh kali? Huh?"


"Ya, enggak papa, asal mempelainya tetap aku dong."


"Nggak usah kebanyakan ngegombal, buruan pilihin! Katanya abis ini kita ke tempat catering, terus cek gedungnya kapan?"


"Aku udah ngecek tadi."


"Jadi, cuma ke tempat catering terus pulang?"


"Hmmm"


Gue melirik Aro dengan tatapan curiga. Kalau dilihat dari gelagatnya, ada yang sedang Aro sembunyikan, entah apa itu, tapi gue yakin ada yang sesuatu yang sedang ia rencanakan. Hmm, apa gue bakalan dikasih surprise? Gue pikir iya. Kira-kira gue mau dikasih apaan ya nanti.


"Aku suka yang ini, menurut kamu gimana?" tanya Aro sambil menunjukkan ponselnya kepadaku.


Gue mengamati layar ponsel Aro yang menampilkan foto gue, lalu mengangguk setuju. Gaun yang Aro pilih cantik, tidak sesimple pilihan Mamanya atau pun seramai pilihan Ibu. Gue mendadak langsung jatuh cinta.


"Oke, kita pilih yang ini."


"Halo, assalamualaikum! Kenapa, Nduk?"


"Kita udah selesai pilih gaunnya, Bu. Rencana mau langsung ke tempat catering, Ibu sama Mama di mana?"


"Salon."


"Masih lama nggak, Bu?"


"Masih. Ya udah, kalian ke tempat catering berdua aja. Kita ngikut aja deh, yang penting selera disesuaikan dengan segala usia."


"Oh, ya udah kalau begitu. Have fun ya, Bu!"


"Iya. Langsung Ibu tutup."


"Iy--"


Tut Tut Tut


"Ibu sama Mama di mana? Kita jemput atau biar mereka nyusul?"


"Mereka lagi nyalon, biarin aja. Kita ke tempat catering-nya berdua aja."


"Ya udah, ayo, langsung berangkat!"


Gue mengangguk setuju lalu berdiri dan merangkul lengan Aro.


#####


"Huh, aku kenyang banget rasanya," keluh gue sambil mengelus perutku yang terasa sedikit begah. Kami baru saja pulang dari tempat catering, untuk melakukan testimoni.


"Alhamdulillah dong, sayang. Kok malah ngeluh sih," balas Aro.


"Iya, iya, alhamdulillah. Tapi tetap aja, kan perut aku kekenyangan, Ar. Duh, buncit deh perutku rasanya, nanti kalau gaunnya nggak muat gimana, ya, Ar?"


"Nggak usah berlebihan deh. Perut kamu masih sama aja, nggak bucit. Nggak usah lebay!"


Bibirku seketika langsung maju beberapa senti. "Tapi kayaknya buncitan deh, Ar."


"Enggak!" seru Aro tiba-tiba menaikkan nada bicaranya, "aku bilang enggak sayang," imbuhnya kemudian. Tapi kali ini nada suaranya kembali rendah.


Gue mendengkus. "Biasa aja dong, nggak usah ngegas juga."

__ADS_1


"Ya, kamu dibilangin enggak, masih aja ngeyel. Serius tanya nggak sih? Kan akunya jadi gemas sendiri."


"Tahu ah, aku mau bobo," rajuk gue ngambek.


"Iya, nanti kalau sudah sampai aku kasih bangunin," balas Aro.


Gue hanya diam tak menanggapinya, sampai tahu-tahu gue mengantuk dan bahu gue diguncang pelan.


"Yang, sampai. Turun, yuk!" ajak Aro sambil melepas seatbelt-nya.


Gue mengeliat sambil meregangkan kedua lengan, lalu membekap mulut gue karena menguap. "Cepet banget nyampenya."


"Ya, kan kamu tadi tidur."


Gue kembali menguap dan hanya mangguk-mangguk. Baru setelahnya, gue menyadari ada yang aneh. Eh, tunggu sebentar! Ini bukan rumahnya Bang Riki.


"Kita di mana ini, Ar?" tanya gue panik.


"Rumah kita," jawab Aro sambil menyerahkan kunci kepada gue.


"Hah? Maksudnya?"


"Ya, rumah untuk kita tinggali setelah kita nikah nanti, sayang. Kan nggak mungkin selamanya kamu tinggal bareng Abang kamu dong."


Tunggu, tunggu! Gue masih speechless. Gue emang sudah menduga akan dapat surprise, tapi, surprise yang gue bayangin bukan rumah gedong begini dong.


"Ar, ini... ini kamu serius?"


Aro mendesah lalu membantu gue melepas seatbelt-ku, baru setelahnya ia menyentil dahi gue dengan tiba-tiba, membuat gue langsung mengaduh kesakitan.


"Aduh, sakit, Ar!" protes gue kesal.


"Sakit kan? Berarti bukan mimpi dong?"


"Astagfirullah!"


"Kok astagfirullah? Harusnya alhamdulillah dong, sayang."


Hah?


"Kamu sentil dahi aku, Ar, dan kamu minta aku bersyukur?"


Dengan wajah sok polosnya, Aro mengangguk. "Masih mending aku sentil kan, daripada aku..."


"Apa?! Kamu mau apain aku? Huh?"


Kali ini Aro meringis. "Enggak, enggak papa. Ya udah, ayo, turun! Kita lihat rumah baru kita," ajak Aro sambil membuka pintu mobil dan turun.


Gue mengikutinya. Turun dari mobil dan mengekor di belakang Aro.


"Buruan buka!" kata Aro.


Gue menatapnya bingung. Dia yang ngajak, masa iya, aku yang buka. Mulai lucu calon suami gue kayaknya.


"Kuncinya kamu yang bawa, sayang," kata Aro, dan membuat gue meringis dan mengangguk paham.


"Hehe, lupa," ringis gue malu-malu, lalu membuka pintu.


Gue langsung terpana saat memasuki rumah, yang katanya akan menjadi rumah gue dan Aro setelah menika nanti. Perabot rumah sudah lengkap, tidak seperti yang gue bayangkan sebelumnya, kalau rumah ini pasti akan kosong dan gue bertugas untuk memilih perabotnya. Tapi ternyata gue salah, semua perabotan lengkap, rapi dan juga colorfull. Gue suka.


Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipi gue. Sumpah gue terharu banget, tanpa berkata-kata, gue langsung memeluknya.


"Makasih, aku suka banget sama rumahnya. Thanks, ya."


Aro mengangguk sambil membalas pelukanku, lalu membelai rambut gue dan mengecupnya beberapa kali.


"Aku seneng kalau kamu suka, aku sengaja desain dan pilih warna colorfull buat kamu."


Gue mengangguk. "Hmm, aku suka banget, Ar. Sukaaa banget, i love you full deh buat kamu."


"I love you more. Yuk, aku punya satu kejutan lagi."


"Apa?"


"Ada dong, kalau dispoiler, nggak seru."


"Jangan bilang, kamu bikinin perpustakaan baca buat aku?"


Aro meringis sambil mengusap tengkuknya. "Hehe, ketebak deh."


Gue mendadak langsung heboh. "Serius?!"


Tanpa menjawab, Aro langsung mengangguk, dan mengajak gue ke lantai atas. Gue kembali dibuat tercengang dengan surprise, yang telah Aro siapkan. Ruang baca yang Aro siapkan terlihat persis seperti salah satu gambar yang ada di Pinterest. Rak-raknya penuh dengan buku, tapi ada yang masih kosong. Lalu juga ada bedsofa yang terlihat nyaman untuk bersantai.


"Astaga, Ar, aku beneran nggak tahu ini aku harus ngomong apa sama kamu. Selain kata makasih."


"Nggak perlu ngomong apa-apa, sayang. Cukup cintai dan sayangi aku sampai maut memisahkan kita, sanggup?"


"Bentar, jadi rumah ini semacam jaminan gitu ya?"


Aro berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk ragu.

__ADS_1


"Oke, disetujui," seru gue senang lalu berlari menghampiri buku-buku yang ada di dalam rak.


**Tbc,


__ADS_2