Jatuh Cinta Dadakan

Jatuh Cinta Dadakan
Jatuh Cinta Dadakan : (31) Bang Riki Lagi Galau


__ADS_3

*****


"Baru pulang, Bang?" sapa gue saat mendapati Bang Riki berjalan ke arah gue sambil melonggarkan dasinya.


"Menurut lo? Orang jelas-jelas gue baru masuk ke rumah ya, jelas gue baru pulanglah. Pake segala tanya," gerutu Bang Riki lalu menghempaskan bokongnya tepat di samping gue.


"Basa-basi elah. Orang Indonesia kan emang sewajarnya basa-basi, nggak usah belagak bule deh."


"Alah, basa-basi busuk lo!"


Gue hanya geleng-geleng kepala sambil meliriknya sinis. Agak malas juga gue menghadapi emosinya, yang agak-agak menyeramkan ini. Apalagi kalau dilihat ekspresinya sekarang, sepertinya ia sedang mengalami masa sulit di kantornya.


"Tumben lo nonton berita," celetuk Bang Riki sambil melirik ke arah layar televisi sekilas, sebelum kembali memejamkan kedua matanya.


"Iya, lagi kepo sama kasus penyerangan Pak Wiranto," balasku sambil menopang dagu, "kira-kira kenapa ya, Bang?"


"Apanya yang kenapa?" tanya Bang Riki sambil menoleh gue dengan tatapan bingungnya.


Gue langsung berdecak sebal. "Ya, itu Pak Wiranto," kata gue gemas.


Masih dengan ekspresi kebingungannya Bang Riki bertanya, "Emang siapa Pak Wiranto? Dia pencetus ide untuk memperbaruhi RUU nyeleneh kemarin?"


"Bukan," jawab gue cepat.


"Tahu dari mana?"


"Ya, gue nggak tahu juga. Maksudnya yang lagi heboh itu nggak ada sangkut pautnya sama RUU yang baru, tapi karena Pak Wiranto diserang. Ditusuk gitu katanya, udah kayak di film-film ya, Bang. Serem! Iih, untung lo nggak jadi pejabat, Bang. Eh, belum tentu bisa juga sih lo jadi pejabat. Kan biaya untuk jadi pejabat nggak sedikit, denger-denger butuh dana sampai satu M. Lo kan cuma General Manager, bukan CEO kaya raya macem di novel platform nulis online. Nggak bakal mam--"


"Eh, bukannya tadi bahas kasus penyerangan, ya. Kenapa jadi menghina gue?"


"Ah, elah, sensi banget sih kek merk pempers."


Bang Riki mendengkus sambil menoyor kepala gue. "Jelaslah, lo menghina gue barusan, kampret!"


"Bercanda doang, Bang! Lagi ada masalah di kantor?"


Bang Riki menggeleng. "Berantem sama Vinzi."


"Kenapa?"


"Nggak tahu juga gue. Dia mendadak aneh dari tadi pagi."


"Ini tanggal berapa?" tanya gue sambil menoleh ke arahnya.


"Kenapa tiba-tiba tanya tanggal?"

__ADS_1


"Ya, kali aja Vinzi mau kasih lo kejutan ulang tahun," celetuk gue asal.


Secara tidak terduga, Bang Riki menonyor kepala gue sekali lagi. Ekspresinya terlihat kesal, sedangkan ekspresi gue kebingungan. Kok dia sensinya ngalahin gue waktu PMS sih?


"Astagfirullah, Bang! Jangan sembarangan tonyor-tonyor kepala orang dong! Difitrahin tiap tahun nih!" sungut gue sambil menatapnya sebal.


"Salah lo sendiri nyari ribut sama gue," gerutu Bang Riki snewen.


"Ya, kan cuma nebak, Bang. Tebakan kan nggak selalu harus benar."


"Emang tebakan nggak harus selalu benar, tapi tebakan lo tadi kelewat ngasalnya."


"Ngasal dari mana? Orang masuk akal gitu juga kok," balas gue tak mau kalah.


"Masuk akal dari mana? Dari Dubai?! Kalau kenyataannya ulang tahun gue udah kelewat jauh."


Gue meringis sambil garuk-garuk kepala salah tingkah. Iya, juga ya. Ulang tahun Bang Riki itu bulan April sedangkan sekarang bulan Oktober.


"Masuk akal banget?" sindir Bang Riki sambil mendengkus.


"Lupa, Bang. Kan orang lupa itu tandanya nggak inget."


"Belum juga tua, udah pikun. Gimana kalau udah tua nanti."


"Sewot banget sih," gerutu gue dengan suara pelan, berharap biar nggak kedengeran sama Bang Riki. Tapi sayangnya, doi lagi peka tingkat kabupaten, jadi, ya kedengeran.


Astagfirullah! Ngegas banget sih. Nggak selow banget.


"Mau gue masakin mie rebus? Lo kayaknya laper," tawar gue sedang ingin berbaik hati.


"Ogah! Gue bukan mahasiswa perantauan lagi nunggu kiriman duit dari orangtuanya yang cuma mampu makan mie rebus doang."


Ebuset! Abis kepentok kali, ya, kepalanya. Biasanya juga demennya mie rebus kalau di rumah, nggak perduli mau tanggal muda atau tanggal tua.


Gue hanya mampu geleng-geleng kepala setelah. Lalu bangkit berdiri dan bernyanyi, "Entah apa yang merasukimu... hingga kau--" gue berhenti bernyanyi dan menoleh ke arah Bang Riki. "Kerasukan hantu kayaknya," batin gue sambil bergidik ngeri.


"Abis ngebatin apaan lo?" sembur Bang Riki sambil menatap gue tajam.


Gue meringis lalu menggeleng kuat.


####


Pagi ini gue berencana untuk membuatkan sarapan spesial untuk Bang Riki. Nasi goreng pake telur ceplok. Nggak usah pada menghina, dimana-mana, yang pake telur itu tetap spesial, jadi jangan pada sok ngatain, karena gue cuma bikinin nasi goreng buat Bang Riki. Paham?!


"Ronaldowati!!" teriak Bang Riki tiba-tiba.

__ADS_1


Secara gesit gue langsung mematikan kompor gue dan meletakkan telur ceplok kesukaan Bang Riki di atas nasi goreng, baru setelah itu gue langsung berlari terbirit-birit menuju kamar Bang Riki.


"Kenapa, Bang?" tanya gue dengan napas ngos-ngosan.


"Kemeja gue yang warna merah ada garis-garisnya lo kemanain?"


"Ya, di lemari."


"Enggak ada, udah gue cari."


"Oh, berarti belum gue setrika, atau belum gue cuci juga bisa jadi."


"Loh, lo ini gimana sih? Itu kemeja udah gue pake minggu lalu, harusnya udah lo cuci dong? Kenapa bisa belum dicuci?"


Gue garuk-garuk kepala bingung. "Oh, udah minggu lalu? Ya, berarti udah gue cuci. Mungkin kelupaan belum gue setrika, coba gue cek dulu. Mau gue setrikain sekalian, tapi tunggu seben--"


"Enggak usah, gue pake yang lain," ketus Bang Riki judes.


Lah, kalau mau pake yang lain kenapa pake segala teriak-teriak kaya di hutan. Kalau nggak ada yang lain mah, wajar.


"Ngapain masih di situ? Sana keluar!" usir Bang Riki makin judes.


Buset. Udah kayak pembantunya aja gue. Masakin sarapan buat dia, terus diteriaki, eh, sekarang langsung diusir. Njiir, ini si Vinzi ngapain Abang gue sih, kok sampai sebegininya.


Karena tidak ingin makin disembur, akhirnya gue langsung memutuskan untuk kembali ke dapur dan sarapan. Tak berapa lama Bang Riki menyusul gue setelahnya.


"Nggak bosen sarapan nasi goreng mulu? Ganti menu lain kenapa sih, Wat?"


Astaga, mendengar gerutuan Bang Riki yang terdengar makin tidak bersahabat membuat gue menjadi kesulitan untuk menelan nasi gue. Sambil berusaha dengan sedikit susah payah, akhirnya gue mampu menelan nasi gue tanpa adegan tersedak.


"Emang lo besok mau gue bikinin sarapan apa?"


"Terserah. Yang penting jangan nasi goreng terus. Bosen lama-lama."


"Mie goreng?"


Bang Riki melirik gue datar. "Bubur ayam."


Lah, katanya terserah.


"Beli aja tapi. Gue nggak mau masuk RS cuma gara-gara keracunan bubur ayam bikinan lo."


Pedesss, cuy!


Tahu lah, mending abaikan aja. Daripada bikin emosi sendiri. Mending gue habisin sarapan terus siap-siap berangkat kerja.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2