
Pagi itu Relina sudah bersiap memenuhi panggilan kerja, dari PT. Gunara, dengan menumpang kendaraan umum, khas terminal Baranangsiang Kota Bogor Timur.
Gadis itu tampak bersemangat, menuju perusahaan yang akan memberikannya pekerjaan baru. Gedung yang akan ia tuju, tidak jauh dari tempat kosnya, hanya saja berlawanan arah dengan kantor perusahaan Juanda, di mana dulu dia pernah bekerja.
Ia berharap besar tidak bertemu dengan laki-laki itu lagi. Rasa malu karena kejadian kemarin, masih membekas, sulit rasanya melupakan hal seperti itu. Walau kemungkinan sangat kecil untuk mereka bisa bertemu, tapi ia tetap waspada, sebab namanya kebetulan akan selalu ada.
Ia sengaja berangkat lebih pagi dengan maksud menghindari kemacetan, yang selalu saja terjadi, agar tidak terlambat.
Relina memakai pakaian yang biasa ia gunakan, ketika dulu masih bekerja di kantor Junda, kemeja putih lengan panjang dan rok warna hitam yang menutupi lututnya kali ini ia melengkapi penampilan dengan syal bercorak bunga, di lehernya.
Sesampainya di kantor ia menuju meja informasi dan mengatakan keperluannya. Relina disambut dengan ramah oleh wanita yang bertugas di sana, lalu memberiyahukan, bahwa ia diminta untuk pergi ke ruang HRD terlebih dahulu, baru kemudian ia bisa pergi ke ruangan manager.
'Kenapa aku langsung di suruh langsung ke ruang manager, setelah menghadap kepala bagian HRD, ya?'
Menghadap kepala bagian HRD, atau yang sering disebut bagian personalia, adalah sebuah prosedur yang biasa dilaksanakan oleh setiap karyawan baru.
Sesampai di ruang HRD, Relina di persilahkan duduk di hadapan seorang pria bertubuh tambun, dengan rambut yang hampir memutih, tapi wajah laki-laki itu terlihat masih segar dan muda. Iatersenyum dan menanyakan kabar pada Relina.
Relina mengangguk sopan.
"Apa kamu orang yang sudah ditelepon kemarin?" tanya pria itu dan Relina pun mengangguk, walau heran dengan pertanyaannya.
Relina menjelaskan bahwa Ia memang menerima telepon yang memintanya untuk langsung menghadap ke manager.
Kepala HRD yang terlihat sangat berwibawa dan tegas itu pun mengangguk, lalu ia berkata, "Kalau begitu, kamu bisa langsung menghadap ke manager, sekarang."
Relina masih diam karena ia semakin heran, tidak ada pertanyaan yang lain dan berhubungan dengan pekerjaan atau pribadinya.
"Mungkin kamu yang terpilih jadi asistennya." Kata pria itu.
"Terima kasih," sahut Relina kemudian.
"Kamu pernah jadi asisten sebelumnya?" Tanya kepala HRD itu pada Relina sambil memeriksa CV-nya.
"Belum, pak."
"Jadi kamu hanya pengalaman mengurus administrasi biasa?"
"Benar, Pak."
"Di mana?"
__ADS_1
"Di Perusahaan Junda Aswara.'
"Oh, pernah jadi pegawai Pak junda?"
'Apa, jadi orang ini, kenal dengan Pak Juanda?'
Relina mengedarkan pandangannya saat tanpa sengaja ia menangkap sebuah foto Junda bersama beberapa petinggi perusahaan yang tergantung, bersama dengan beberapa foto lain di dinding pembatas di ruangan itu. Ia menyimpulkan, kemungkinan perusahaan itu mempunyai kerjasama yang baik dengan perusahaan Junda, menyadari hal itu ia pun menghela nafas berat.
'Mududah-mudahan walaupun Pak Juanda mitra dari perusahaan ini aku tidak akan bertemu dengannya, tidak mungkin'
"Kenapa kamu berhenti? Itu perusahaan yang bagus."
Tiba-tiba jantungnya berdebar, ia berada dalam kebimbangan, apakah ia akan jujur atau tidak.
'Ah, haruskah aku mengatakan dengan jujur bahwa aku diberhentikan secara paksa, apakah itu akan merubah semuanya? Aku tidak mungkin bohong, sebab bila suatu saat nanti kebohonganku terbongkar, aku akan dipecat lagi, ahk ... memalukan sekali'
"Saya dipecat, Pak..." akhirnya Relina pun mengakui. Ia menahan segala perasaan gundah gulana, malu sebenarnya mengakui pemecatan dirinya, suaranya pun terdengar sedikit bergetar.
"Di pecat kenapa?"
"Menurut Pak Junda, waktu itu perusahaan sedang mengalami efisiensi keuangan."
Laki-laki tua itu tersenyum miring dan menggelengkan kepala, seolah-olah mengatakan, tidak mungkin perusahaan itu sedang mengalami defisit keuangan, seperti yang dikatakan oleh Relina.
'Ya Tuhan ... karena ini, aku dipanggil? Jadi pengganti orang mati'
Setelah membungkuk hormat dan mengucapkan terima kasih, Relina keluar ruangan untuk pergi ke ruang manager, yang dimaksud, dengan menanyakannya ke beberapa orang.
Ia sangat bersyukur karena berhasil lolos dengan mudah. Ia menjalani review singkat dan tidak bertele-tele. Ia tidak harus menjalani semua yang biasa dilakukan, pihak kantor, untuk menyaring pegawai yang hendak masuk ke sebuah perusahaan.
Ada untungnya ia datang lebih pagi karena ia bisa mempersiapkan dirinya lebih baik, siap dengan segala pertanyaan yang akan diajukan kepadanya dan berharap semuanya berjalan baik-baik saja.
Setelah berada di ruang manajer.
Relina melihat ruangan itu cukup besar, ada dua buah meja disana, serta satu set sofa. Kemungkinan dua meja itu, untuk manajer dan sekretaris, ataupun asistennya. Ia sempat berpikir kalau ia akan berada dalam satu ruangan dengan manajernya.
'Ah, rasanya tidak mungkin, kan?'
Relina dipersilahkan untuk menunggu dan duduk di dalam, ada beberapa sofa kecil yang disusun rapi di depan meja kerja. Rasanya ini ruang yang terlalu mewah apabila diukur dengan kacamata perusahaan, untuk sebuah ruangan manajer, terlalu mewah dan bagus lebih pantas menjadi ruang direktur.
Tidak seperti yang ia lihat di ruangan HRD di dalamnya ada beberapa meja, sedikit ornamen dan rak penyimpanan dokumen serta tidak banyak hiasan, tapi di ruangan ini, banyak sekali hiasan dan pernak-pernik yang sepertinya tidak cocok untuk sebuah kantor.
__ADS_1
Ada beberapa foto yang dipajang di sana, menunjukkan aktivitas serta kepribadian sang manajer.
Seorang yang berkedudukan seperti manajer, tidak akan mempunyai ruangan sebagus ini. Kecuali Ia melakukan sesuatu hal yang istimewa sehingga bisa mendapatkan kepercayaan yang bagus dan diberi ruangan yang layak. Kemungkinan itulah yang dimiliki oleh seorang manajer yang akan menjadi atasan Relina kali ini.
Setelah beberapa saat dia menunggu, akhirnya muncul orang yang bertubuh tinggi serta kurus, memakai kacamata minus dan berambut lurus
Ia menatap rendah dari ujung rambut sampai ujung kaki Relina, kemudian tersenyum tipis di ujung bibirnya.
Ia pun berkata, "siapa namamu?"
Eelina berdiri menyambut kedatangan manager Fuad, seraya menjawab, "saya Relina."
Setelah Fuad masuk, ia tetap membiarkan pintu ruangan terbuka, menunjukkan bahwa manajer ini, pria yang baik dan beradab karena ia tidak menginginkan sesuatu, seperti prasangka buruk atau hal lainnya terjadi.
"Hmm ... Selamat pagi, saya Fuad." Laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Relina menyambut dengan sopan dan menjawab, "Selamat pagi, Pak."
"Kamu sudah siap bekerja, hari ini?"
"Siap, Pak. Mohon bimbingannya."
Relina ingat nama laki-laki itu diucapkan oleh kepala personalia, dia pria berkulit coklat, bermata sipit, hidungnya mancung dan sepertinya dia orang yang ramah.
Setelah beberapa pertanyaan yang diajukan Fuad bisa dijawab dengan baik, Relina dinyatakan bisa bekerja saat itu juga menjadi asisten Fuad. Satu hal yang tidak pernah ia sangka, sebelumnya, dirinya yang hanya berpengalaman menjadi administrasi rendahan sekarang menjadi asisten manajer, itu suatu hal yang kebetulan.
Ketika awal masuk bekerja, ia selalu saja takut gagal, minder dan malu, itulah yang dirasakannya. Tidak percaya dengan dirinya sendiri, tapi lambat laun setelah beberapa bulan bekerja di perusahaan Juanda, ia akhirnya menyadari bahwa, tidak ada alasan seseorang untuk merasa gagal, padahal Ia belum pernah sekalipun melakukan sesuatu.
Kegagalan, ketidakberhasilan adalah sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang seperti Relina. Ketika ia berangkat dari kampung jauh-jauh hari, Ibunya sudah berpesan agar ia menjadi orang yang sukses, agar ia menjaga dan mengharumkan nama baik keluarga dan pesan-pesan baik lainnnya. Sungguh sesuatu pesan yang membawa beban baginya, tetapi sekaligus memicu dirinya agar bisa berbuat lebih baik lagi.
Bukankah setiap orang pernah mengalami kegagalan, bukankah tidak aneh dengan istilah gagal dalam hidup? Akan tetapi bukan berarti ketakutan akan gagal itu menjadi penghambat untuk terus melangkah.
"Kalau kamu sudah siap, ini .. baca jadwal kita hari ini sampai sepekan kedepan," kata Fuad sambil menyerahkan dokumen pada Relina.
"Baik." Relina menerimanya.
"Pelajari materi ini, besok kita rapat, mendampingi Pak Direktur, di Perusahaan Junda." Kata Fuad lagi sambil menyerahkan beberapa map.
'Apa? Aku gak salah dengar, kan mau rapat di perusahaan Junda?'
"Apa, Pak? Di perusahaan Junda Aswara?"
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?"
Bersambung