Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Dion Untuk Ane


__ADS_3

Relina merebahkan dirinya di tempat tidur, setelah selesai mandi dan mengganti pakaian. Dia yang tinggal sendirian, merasakan malam itu lebih sepi dari biasanya, entah karena dipicu suasana hatinya yang baru saja terluka, atau karena gerimis yang turun secara tiba-tiba.


Pandangan matanya membuncah sampai di langit kamar yang putih, sedangkan pikiran yang menerawang jauh. Dia masih ingat ucapan Junda, untuk melupakan hubungan dan segalanya tentang mereka, bahkan menolak ajakannya untuk segera menikah. Harapan dan keyakinan bahwa mereka bisa hidup bersama, tanpa risau memikirkan kesialan akibat mitos sebuah tanda, seakan tak berguna.


Air mata jatuh perlahan tanpa diminta, saat Relina mencoba memejamkan mata, mengusir bayangan Junda saat pergi meninggalkannya, ia seperti langit yang tak terjangkau, seperti udara yang tak bisa disentuh.


Terdengar suara dering ponsel Relina, membuyarkan lamunan, membuatnya bangun dan meraih telepon genggam yang ada di atas meja kecil. Dia melihat pada layar yang menyala, Ane—sahabat Relina, tiba-tiba melakukan panggilan video.


Wajah Relina terlihat sedikit bersemangat dan bibirnya tersenyum karena merasa terhibur dan suara Ane sukses membuat kesepian dia kamar itu sirna.


Setelah saling menanyakan kabar tiba-tiba Ane bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Junda?”


Relina balik bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan Dion?”


Dari seberang telepon, Ane merasa bahwa, mungkin, Relina enggan untuk menceritakan tentang hubungannya. Tentu saja sebagai sahabat, dia mengerti dan memilih untuk menceritakan bagaimana pengalamannya, setelah ia memutuskan untuk menerima tawaran Dion dan bekerja menjadi sekretarisnya.


Ane pernah meminta pertimbangan dari Relina waktu itu dan sebagai sahabat, dia pun menyarankan untuk menerima tawaran yang menurutnya sangat bagus. Belum tentu orang lain akan mendapatkan tawaran yang sama. Tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir, akhirnya Ane meninggalkan pekerjaan lamanya dan bekerja di kantor Dion sampai sekarang.


Sahabat Relina itu tidak menyangka bahwa dia akan merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Ane bisa bertemu Alex setiap hari. Anak laki-laki Dion itu semakin dekat dan manja padanya. Dia lebih banyak bekerja menjadi pengasuh Alex daripada bekerja di kantornya.


Walaupun demikian, tidak menjadi masalah bagi Dion, asalkan Ane tidak merasa keberatan mengasuh anaknya. Hampir setiap hari anak kecil itu datang ke kantor setelah pulang sekolah dan tidak mau berada di rumah, hanya karena ingin bermain dengan Ane yang sudah dia anggap sebagai ibunya.


“Jadi, kamu sekarang sudah dipanggil, mama?” Tanya Relina sambil tertawa kecil. “Kenapa tidak jadi istri papanya sekalian?”


“Haiss. Belum tentu Pak Dion menyukaiku,” kata Ane menunjukkan wajah cemberut di layar ponsel Relina.


“Aku kira dia suka, bahkan cinta!”


Ane tampak merenung, dia saat ini masih mencoba meyakinkan perasaannya pada Dion. Berulang kali pria itu memberinya hadiah tanpa sebab, mengajarkan mengemudi mobil agar bisa mengantar dan jemput Alex ke sekolah. Anak kecil itu selalu menolak bila Dion mengutus seorang sopir pribadi karena sibuk, anaknya itu, selalu takut dan berpikir akan di culik.

__ADS_1


Selain itu, akhir-akhir ini Dion selalu membicarakan tentang pasangan, atau mengajak Ane ke pesta pernikahan teman, relasi, atau saudara. Dia selalu memperkenalkannya sebagai teman tapi setelah itu dia akan meminta pada para pengantin dan beberapa orang yang dia temui di pesta untuk mendo’akannya agar segera menyusul.


Ane tidak mengerti maksud Dion, setiap kali dia meminta orang lain untuk mendoakan agar dirinya cepat mendapatkan jodoh, Pria itu selalu meliriknya.


“Baiklah kalau begitu, pikirkan lagi soal Dion, siapa tahu kamu jodohnya ... jadi ibu sambung Alex. Dion sudah baik padamu, mempercayakan anak kesayangannya, bahkan kamu bebas pakai mobilnya kapan saja. Iya, kan?”


Relina tetap saja mengingatkan dengan semua kebaikan Dion yang bersifat materi pada sahabatnya, meskipun, dia tahu bahwa kebaikan bukan hanya soal harta. Perasaan yang diberikan Dion untuk Ane, merupakan anugrah yang besar, menurutnya.


Ane tampak mengangguk-angguk dan tiba-tiba dia tersenyum lebar, lalu bertanya, “apa kamu tahu, Rel?”


“Tahu apa?”


“Tanda yang dimiliki Junda? Mantan bos kita itu?”


Ane baru ingat, tentang pembicaraannya dengan Dion beberapa waktu lalu, saat mereka tanpa sengaja membahas hubungan Junda dan Relina. Menurut Dion, hubungan mereka akan sulit karena terhalang oleh mitos yang dipercaya keluarganya. Dion mengatakan dengan jelas tanda seperti apa, yang menjadi momok menakutkan. Walau belum tentu kebenarannya.


“Eh, jangan diungkit lagi lah soal Junda, mantan bos itu. Geli tahu?” kata Relina sambil mengedikkan bahu. Bukan hanya geli tapi memilukan bagi Relina, Junda pernah mengatakan suka padanya, namun saat dia menjawab dan membalas perasaannya, pria itu justru meninggalkannya.


“Kamu mau tahu, nggak sih? Atau kamu memang sudah tahu?”


“Iya, ada apa?”


Relina tercengang mendengar Ane bercerita tentang tanda mitos yang dimiliki oleh Junda. Itu adalah tanda yang sama dengan dirinya. Tanda lahir itu ada di dekat siku tangan kirinya, sedangkan milik Junda, ada di atas lutut kaki kanannya.


Dia tidak menyangka bila sahabatnya, tahu lebih banyak dari dirinya. Ane mengetahuinya sejak lama, hanya saja dia lupa untuk mengatakan kepada Relina.


“Reli ... Aku pikir, Tuhan sengaja mempertemukan dirimu dengan Junda, mungkin saja kamu adalah jodohnya. Jadi, pertahankan dia.”


Relina termenung saat mendengar Ane memintanya untuk mempertahankan Junda. Akan tetapi, Junda telah menolak cinta yang hadir di antara mereka, hanya karena kecewa, saat membaca tulisan ‘save Junda’ dalam buku harian Relina dan menyinggung perasaannya.

__ADS_1


‘Bukan dia yang jahat, tapi aku yang terlalu berharap. Bukan dia yang tidak peka, tapi aku yang terlalu ingin membahagiakannya'


'Ya. Bukan salahnya sudah menyia -nyiakan orang yang mencintainya, tapi aku yang terlambat menyadari bahwa cintanya tidak sekuat yang aku kira’ batin Relina sambil tersenyum ke arah ponselnya di mana Ane tengah memandangnya.


Relina tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi antara dia dan Junda, dia kemudian berkata, “baiklah, terima kasih sudah meneleponku. Aku tidak kesepian lagi.”


Ane tertawa lebar mendengar ucapan Relina yang terdengar lucu sebab semua orang yang bahagia tidak akan merasa kesepian. Baginya Relina sudah beruntung dengan kehidupannya sekarang.


Sementara Relina merasa semua sahabatnya, Ane dan Icha sudah bahagia, kecuali dirinya. Gadis itu mencoba untuk tidur sementara layar ponsel mulai menggelap karena panggilan sudah berakhir.


Beberapa hari kemudian, ada kegaduhan terjadi di rumah Junda, saat pelayan serta suster yang merawat Shasi berteriak histeris.


Pagi itu baru saja Junda menyelesaikan sarapan dan tengah mengusap bibirnya dengan tisu, saat terdengar teriakkan. Seorang pelayan rumah berjalan dengan tergesa-gesa menghampirinya, wajahnya pucat dan kedua tangannya meremas bagian samping roknya.


Junda berdiri sambil bertanya, “ada apa?!” wajahnya terlihat panik.


“Nyonya jatuh lagi, Tuan. Setelah selesai dimandikan,” jawab Pelayan yang suaranya terdengar gemetar.


“Apa?” saat berkata demikian, Junda sudah berada di depan pintu. Betapa terkejutnya dia ketika sampai di kamar Shasi yang loka dekat dengan ruang tamu. Dia melihat Wanita tua itu berada di lantai dalam posisi berbaring hanya dengan menggunakan handuk kimononya.


Kedua pelayan dan perawat tidak tahu apa yang diinginkan oleh Shasi dan terus memberontak. Wanita itu ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak bisa, sehingga dia hanya mampu menangis atau menunjukkan penolakan.


Semua yang akan dilakukan oleh perawat yang akan mengurusnya, seolah-olah salah dimatanya. Sikap Shasi yang seperti ini terjadi sejak beberapa hari yang lalu saat dia melihat Junda pergi di malam hari tanpa seizinnya.


Ketika Junda pulang malam itu, Shasi melihatnya berbeda, dia ingin bertanya tapi tidak bisa. Wanita itu semakin memperlihatkan pemberontakan saat Junda berkata padanya.


“Baiklah Nenek, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk menikahi siapa pun!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2