Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Rasa Nyaman


__ADS_3

Jalan menuju kedai kopi tampak lengang, sehingga mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi, bisa membelah jalanan tanpa hambatan yang berarti. Relina melempar pandangan keluar jendela saat Junda yang duduk di sampingnya terus menatapnya karena mengharapkan sebuah tanggapan dari ucapannya.


Gadis itu masih berpikir harus berkata apa pada Danu--pamannya, sementara kafe baru saja berjalan dan stok bahan baku masih banyak. Dia harus memikirkan semuanya dengan baik, sementara Ali dan Lia, pegawainya itu, belum bisa diandalkan untuk menjalankan kedai tanpa Relina.


Akan tetapi dia harus tetap mengatakannya agar tahu bagaimana solusi terbaik mengatasi masalah usahanya.


Akhirnya Relina mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Danu. Setelah telepon tersambung, dia mengatakan dengan jujur apa yang terjadi padanya, juga keinginannya untuk kembali ke Bogor, dengan alasan mewujudkan wasiat sahabatnya yang telah tiada. Tentu saja Danu masih ingat dengan teman yang dimaksud Relina, Dia adalah seorang pria yang mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu, saat gadis itu masih bekerja bersamanya di Jakarta.


“Kapan kamu mau pergi?” tanya Danu ketika Relina sudah selesai bercerita. “Sebaiknya kamu tunggu aku, nanti aku akan ke sana. Biar Bibimu yang mengurus kafe di Jakarta.”


“Iya, Paman.”


“Jadi, kamu sekarang sudah pulang?” tanya Danu masih dari balik telepon genggam Relina.


“Iya, sudah, Paman ... sudah baikkan.”


“Ya, sudah, jaga dirimu baik-baik.”


“Baik, Paman.” Relina mengakhiri panggilannya. Matanya masih menatap layar ponselnya yang secara perlahan menjadi gelap. Baginya Danu bisa mengatasi masalah dengan cepat.


“Apa kata Paman?” Junda bertanya sambil mengusap kepala Relina lembut, membuat Relina menoleh. Dia ingin mengatakan sesuatu, ketika mobil sudah berhenti di depan kedai.


“Sudah sampai, Tuan!” kata Raka yang sejak tadi hanya diam dan Fokus mengendarai mobilnya. Hanya sesekali saja dia melihat sekilas suasana di kursi belakang, di mana Junda dan Relina duduk saling berdekatan.


Setelah pintu mobil dibukakan oleh Raka, mereka turun dan masuk ke kafe secara beriringan. Sementara Raka membawakan tas yang berisi perlengkapan Relina dan menyimpan tas itu di dekat tangga.


Junda pun membawa tas besarnya di mobil. Saat berada di rumah sakit, Rakalah yang mengurus keperluan Junda, seperti membawakan pakaian ganti yang dia simpan di kamar penginapan yang disewanya.

__ADS_1


Kini Junda dan Relina duduk di salah satu meja kafe setelah di sambut oleh Lia Ali dengan suka cita. Kedua anak buah Relina itu, bercerita banyak tentang pengalaman mereka selama Relina di rumah sakit, termasuk menceritakan peristiwa yang bagi mereka cukup menegangkan.


“Jadi, kalian bercerita pada Paman seperti itu?” tanya Relina.


“Iya. Kami sudah cerita apa adanya,” jawab Lia.


Lia dan Ali sudah bekerja sangat keras saat Relina tidak ada, ketika mereka menemui kendala tentang pelayanan, mereka tidak menghubungi Relina karena tidak ingin mengganggu istirahatnya.. Oleh karena itu mereka menanyakan banyak hal pada Danu dan tentu saja mereka mengatakan peristiwa yang dialami mereka, membuat Danu waktu itu berpikir ulang untuk menjalankan sendiri usahanya.


Ketika Relina mengatakan keinginannya kembali ke Bogor untuk bekerja di perusahaan Gunara, Danu dengan cepat menyambut dengan baik. Akan tetapi dia butuh waktu untuk segera tiba di Martapura.


“Zaman sudah. Berubah. A


Dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap tersedia di atas meja yang memisahkan antara Relina dan Junda. Sementara Ali dan Lia kembali bekerja karena ada pelanggan lain yang datang untuk menikmati kopi cirikhas kafe Danu, yang lambat lain mulai di kenal banyak orang.


Relina menyeruput kopi secara perlahan, lalu menyimpannya kembali di atas meja. Gerakannya masih lemah dan dia masih butuh banyak istirahat. Dia berkata perlahan sambil menatap Junda yang ada di hadapannya.


Junda mengerti bahwa Relina mungkin tidak berniat sedikit pun untuk mengusirnya pergi. Ucapannya adalah bentuk perhatian dan mengertiannya. Akan tetapi, hatinya tetap saja sakit. Semua yang dikatakan Relina benar, bahwa dia harus segera kembali. Dia tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama.


“Lalu, kapan mau ke Bogor? Kamu bilang mau memilih perusahaan Gunara?”


“Ya,” jawab Relina singkat, saat di mobil mereka duduk bersebelahan tentu saja Junda mendengar apa yang menjadi keputusan Relina. Walaupun, dia tidak suka, tapi tetap saja tidak bisa melarang Relina begitu saja. Dia sudah cukup bersyukur Relina mau kembali dan mereka bisa bekerja sama, dengan begitu, mereka masih bisa sering berjumpa.


Junda tersenyum dan bertanya, “Kapan kamu mau ke sana, biar aku jemput.”


Relina melebar kan matanya saat mendengar kata jemput yang diucapkan Junda. Buru-buru dia menggoyangkan tangannya mengisyaratkan kata tidak.


“Tidak perlu.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Aku sudah banyak merepotkanmu. Aku akan mengabarimu, nanti.”


Junda tidak menyanggah ucapan Relina meskipun, dia sangat ingin memaksakan kehendaknya seperti biasanya. Akan tetapi kali ini dia mencoba mengalah dan meluluskan permintaan gadis itu. Selama ini dia sudah cukup membuat Relina tertekan dengan sikapnya.


Tidak berselang terlalu lama, akhirnya Junda berpamitan, setelah menitipkan banyak sekali pesan pada Relina agar gadis itu senantiasa menjaga diri baik-baik, jangan lupa minum obat, jangan begadang, dan yang terakhir adalah jangan lupa untuk menelepon dirinya.


Relina mengangguk, lalu melambaikan tangan saat melepaskan kepergian Junda, setelah mengucapkan terima kasih berkali-kali.


Baru saja kendaraan yang membawa Junda menghilang dari pandangan Relina, ponselnya berdering. Dia mengangkatnya, saat itu juga telinganya tiba-tiba menjadi sakit. Terdengar suaraa keras Renita dari ujung telepon. Wanita itu terkesan marah. Dia merasa Relina tidak jujur mengakui semua hal yang dialaminya.


“Apa kamu lebih percaya dengan orang lain, dari pada ibumu sendiri, Reli?” tanya Renita dengan suara keras. Wanita itu mendapatkan kabar tentang kejadian yang sebenarnya di alami Relina dari Danu, ketika dia menghubungi adiknya itu.


“Ibuk, aku nggak bermaksud begitu. Aku Cuma nggak mau menambah beban Ibuk.”


“Tapi kamu nggak malu dan nggak bersalah menambah beban orang lain, yang bukan siapa-siapa, begitu?” Sebagai orang tua, Renita sangat khawatir apabila ada sesuatu terjadi dengan anak gadinya. Pikirkan buruk tiba-tiba saja merasuki wanita itu, sehingga dia langsung menghubungi anaknya.


“Ibuk ... Bukan begitu maksudku ....”


“Terus maksudmu apa?" ucapan Renita menunjukkan bila dia begitu kecewa, "Relina ... Kamu justru senang ditemani laki-laki itu, ya?”


“Ibuk, bukan seperti itu maksudku ....” Relina berusaha merayu ibunya agar tidak marah. Dia ingin ibunya mengerti bila perasaanya nyaman dengan adanya pria itu disisinya. Lagi pula secara kebetulan Junda ada di sana dan siap membantu tanpa meminta apa pun dari Relina, kecuali perasaannya.


“Sekarang, ngomong terus terang sama Ibuk, apa kamu suka sama si Junda itu?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2