Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Rindu


__ADS_3

Junda duduk dengan tenang di kursi kebesarannya dalam ruangan, yang tidak ada orang lain selain dirinya dan Ane. Sudah dua hari ini Ane kembali bekerja, setelah ia mengambil cuti, untuk merawat Alex keponakan dari Junda. Laki-laki itu memang mengizinkan Ane untuk mengurus keponakannya, karena memang ia menyukai Alex dan juga sayang dengan keluarga Dion.


 


Dia pun memiliki sedikit harapan bahwa Ane akan bertahan dengan Dion ketika ia cuti dan tidak kembali ke kantornya. Mengingat laki-laki itu sudah menduda cukup lama. Seandainya hal itu terjadi Junda menyukainya dan dia yakin pasti Dion  akan memberikan posisi yang baik untuknya, bila Ane ingin bekerja di perusahaan Dion.


 


Ketika mengetahui bahwa Ane kembali ke kantornya, saat itu pula Junda memanggilnya untuk mencari informasinya tentang keberadaan Relina. Dia kini melihat Ane dengan tatapan mata tajam, tak berkedip menyelidiki gadis itu, apakah dia akan bersikap seperti Danu, dengan menyembunyikan keberadaan Reina atau dia akan bersikap jujur padanya.


 


“Jadi kamu memutuskan untuk kembali bekerja di sini?” kata Junda memulai percakapan. Dia tidak dekat dengan perempuan ini karena memang pekerjaannya tidak berhubungan langsung dengan dirinya, tetapi dia menginterogasi Ane untuk hatinya, memperjuangkan Relina, hingga hilang rasa penasarannya.


 


Selama beberapa hari ini dia mengurus keperluannya sendiri tanpa seorang asisten, hingga ia kewalahan. Setelah itu dia bertekad untuk membawa Relina secepatnya. Dia sudah berusaha membujuk gadis itu, namun tidak berhasil dan ia semakin frustasi saat ponsel Relina benar-benar tidak bisa dihubungi.


 


“Maksud Bapak?” tanya Ane heran.


 


“Aku pikir kamu menerima tawaran Dion. Dia punya tawaran yang bagus, tapi kamu kembali kesini, kenapa?”


 


Ane berpikir sebelumnya, bahwa dia belum meminta izin kepada Junda sebagai bosnya. Ada rasa khawatir apabila ia akan mendapatkan perlakuan seperti Relina, dipecat dengan cara tidak hormat.


 


“Maaf Pak, sebelumnya ... karena saya ingin mencoba memulai karir dari bawah.”


 


“Apa salahnya mendapatkan posisi yang bagus, kalau ada yang memberimu peluang? Bukankah itu kesempatan? Tidak semua orang bisa mendapatkannya, kan?”


 


“Apa Bapak tidak marah, kalau saya menerima tawaran dari Pak Dion?”


 


“Kenapa harus marah? Dia kan saudaraku,  kalau kamu bekerja dengannya dia akan lebih senang karena bisa sering bertemu denganmu!”


 


Mendengar ucapan Junda, Ane tertegun sambil mengernyitkan keningnya, lalu  menipiskan bibirnya menjadi garis lurus. Dia berpikir apakah benar yang dikatakan Junda, bahwa Dion akan lebih senang bekerja sama dengannya?


 


Di lain sisi, Ane menduga bila dirinya hanya akan dimanfaatkan, untuk menjadi pengasuh Alex anaknya. Semakin Ane berpikir, dia semakin merasa bahwa tidak masalah kalaupun dia dimanfaatkan menjadi pengasuh Alex, asalkan dia tetap dibayar dan bisa tetap berkarir di sana, kenapa tidak?


 


‘’Ah ... semua akan baik-baik saja, kan?’


 


“Baik Pak, saya akan memikirkannya lagi.”


 


“Kamu tahu di mana Relina?” tanya Junda setelah Ane selesai bicara.

__ADS_1


 


‘Nah, Relina ... Oh jadi semua ini karena dia? Reli ... Lihatlah, Pak Junda mencarimu!’


 


“Dia bekerja di Jakarta Pak.”


 


Junda akhirnya bercerita pada Ane apa yang sudah diusahakannya untuk mencari Relina akhir-akhir ini, dia juga mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menghubungi nomor ponselnya, sementara Ane juga tidak memiliki nomor barunya karena Relina memang berniat menghindari semuanya.


 


‘Sekarang aku baru tahu kenapa Relina tidak menyukai laki-laki ini ternyata seperti ini orangnya senang cari gara-gara’ batin Ane.


 


Ane tahu semua yang dialami antara Junda dan Relina sebelum ponselnya mati. Sudah sering Relina bercerita padanya, hanya saja Ane tidak tahu, apa yang menyebabkannya Junda sekarang lebih memperhatikan Relina dan mencarinya.


 


“Maaf, Pak ... selama beberapa hari ini saya juga tidak bisa menghubungi Relina, terakhir kali dia bilang, dia mau pulang ke kampung halamannya.”


 


“Apa? pulang ke kampungnya, di mana? Kalian satu kampung, kan?” Junda mencecar Ane dengan semua rasa ingin tahunya.


 


Ane menjawab seadanya tentang kampung halamannya dan Relina. Dia menduga bila Junda tidak akan mencarinya sampai ke sana. Masih banyak wanita yang lain yang lebih cantik dan lebih seksi dari Relina dan bisa dimiliki pria seperti Junda.


 


‘Atau, jangan-jangan ... Ya Tuhan ... tanda lahir itu ... Mungkinkah Pak Junda tahu?’


 


 


Atau mungkin dia akan melihat sejauh mana kebenaran kata, ‘bila jodoh tidak akan kemana’ seperti yang sering dikatakan kebanyakan orang.


 


Junda tidak mengerti kalau ternyata Relina mempunyai kampung halaman yang cukup jauh, sehingga dalam kebimbangan. Dia berpikir sambil menyandarkan tubuh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


 


‘Apakah aku harus menyusulnya ke sana?’ batin Junda sambil mengusap wajah dengan telapak tangannya.


 


“Baiklah kembalilah ke ruanganmu dan pikirkan lagi tentang tawaran Dion, sayang kalau kamu melewatkannya, dia bisa membawamu berada di posisi yang lebih baik.”


 


Ane mengangguk hormat sebelum pergi dan dia mencoba menghubungi Renita, untuk meminta nomor baru ponsel Relina, sekaligus menelepon ibunya.


 


Junda mulai mengatur strategi dan rencananya untuk mencari Relina ke kampung halamannya. Dia bersyukur Ane mau memberinya penjelasan, tidak seperti pamannya Danu, yang tidak  memberikan alamat Relina, serta informasi lainnya bahwa Relina akan menjalankan usaha kedai kopi juga.


 


*****

__ADS_1


 


Relina tengah bersantai di dalam kedai kopinya yang baru. Tempat itu ditata dengan ornamen sederhana namun menarik. Dia bekerja sama dengan dua anak buahnya, yang dipilih oleh bibinya dengan sangat baik.


 


Relina sengaja mengecat kedai dengan warna oranye sehingga mencolok perhatian orang-orang yang lewat, serta membuat sebuah spanduk, menunjukkan nama kedai kopi dan dengan tulisan yang sangat mencolok.


 


Sudah beberapa orang yang menjadi pelanggan di pagi hari dan malam hari di kedai mereka. Hanya saja belum begitu ramai, mereka lebih banyak menganggur karena belum terlalu sibuk melayani pembeli. Inj adalah sebuah perjalanan bisnis yang pasti akan dialami oleh semua orang yang memulai usaha barunya.


 


Sambil menunggu pelanggan yang datang, Relina melihat-lihat isi ponsel dan membuka galerinya. Dia sudah memakai nomor baru dan tentu saja tidak ada orang yang menghubunginya kecuali ibu, Royan ataupun ayahnya. Dia belum mengirimkan kabar apa pun juga pada Pamannya, sebab dia khawatir apabila Junda mencarinya dan Danu memberikan nomor ponsel barunya itu kepadanya.


 


Secara tidak sengaja dia melihat foto diri di galeri fotonya. Itu foto saat dia menyempatkan diri untuk berswa foto  dalam acara perhelatan gala dinner bersama dengan Junda. Dia mendapatkan pengalaman yang sangat langka, di mana dia memakai pakaian rancangan yang elegan serta glamor, perhiasan mahal, berada di tengah-tengah orang-orang penting dan berada dalam ruangan yang sangat mewah.


 


Dia menitipkan perhiasan itu kepada ibunya, ketika hendak berangkat ke Martapura. Begitu Renita melihat perhiasannya, wanita itu berkata, dan ucapan ibunya itu selalu saja terngiang-ngiang di telinganya.


 


“Reli .. kenapa kamu tetap menyimpan perhiasannya, padahal kamu menolak orangnya? Ini sesuatu yang nggak pantas.”


 


“Aku mengambilnya karena dia bilang mau membuangnya. Sayang, kan, Bu?”


 


“Kalau kamu memang menolaknya, seharusnya kamu biarkan saja dengan apa yang akan dia lakukan, mau membuangnya atau tidak itu terserah dia, kecuali kalau kamu menerima perasaannya, maka kamu pantas menyimpan perhiasannya.”


 


“Perasaan apa maksud Ibu? Dia tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku, dia malah membuatku kesal setiap hari.”


 


“Bisa jadi, dia orang yang tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan dan tidak tahu cara mencintai seseorang. Kamu rasa dia selalu memaksakan kehendaknya padahal sebenarnya dia takut kehilangan kamu. Kenapa dia memberikan perhiasan ini? Mungkin dia ingin kamu memakainya!”


 


Ketika dia menutup kembali ponselnya, tiba-tiba saja hatinya merasakan sakit. Rasa ini lebih sakti dari sebelumnya saat tiba-tiba dia ingat Junda. Ulu hatinya panas dan sesak, naik ke dada, kepala, lalu tangan dan kakinya menjadi lemas karena sakit yang secara bertahap menjalar keseluruhan persendiannya. Ngilu rasanya setiap kali terbayang wajah Junda. Dia merasa sangat bersalah. Walaupun pria itu sudah menyakitinya, dia tidak seharusnya bersikap demikian.


 


Apakah ini rindu? (Othor yang rindu)


 


Rindu seperti sebuah pohon di ruang hampa yang luas, dia bisa tumbuh tapi tidak ada apa pun di sekelilingnya selain kekosongan dan kesunyian. Rindu itu seperti tangisan di tengah malam dari seseorang yang hanya bisa mengatakan ‘aku membutuhkanmu’


 


Rindu itu seperti musafir yang berjalan dan kembali hanya untuk kembali karena yang ada dalam ingatannya hanyalah rumah. Rindu itu seperti dedaunan yang layu dan gugur menyentuh tanah lalu berkata, ‘aku lelah’


 


Sementara di belahan bumi yang lain, ada seseorang yang sedang menempelkan telepon genggam di telinga, sambil menyiapkan mobil dan memasukkan sebuah tas besar ke dalamnya.


 

__ADS_1


Bersambung


 


__ADS_2