Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Meninggalkan Kota


__ADS_3

“Sebaiknya kamu memilih jadi wakil direktur saja.” Junda bicara, menyela ucapan Gunara yang baru saja diam.


“Tidak, jadilah asisitenku, kamu akan baik-baik saja,” kata Gunara.


Kedua lelaki itu menunjukkan keteguhannya masing-masing tanpa memedulikan satu sama lain.


Relina melihat pada Junda dan Gunara secara bergantian, kedua orang itu bisa tidak saling menghormati karena dirinya. Dia juga heran dengan Junda yang menginginkannya kembali bekerja.


‘Apa ini maksud semua ini? Apalagi Pak Junda, bukankah dia membenciku, bahkan menganggapku wanita malam, apa dia hanya akan memanfaatkan tubuhku? CK!’


Sebelum sempat Relina menjawab, Junda kembali menyela, dia berkata sambil memegang tangan Relina. “Kamu benar nggak mau jadi wakil direktur?”


Relina menepis kembali tangan Junda sambil menggeleng. Dia tidak mau membuat keributan dengan dua pria yang berdiri saling berhadapan, di depannya.


Melihat gelagat tidak mau menyerah, yang di tunjukkan Junda, Gunara maju selangkah lebih dekat. Dia berkata dengan tegas. “Apa maksud Anda, Pak Junda? Bukankah Anda pernah memecatnya? Saya pikir Anda tidak perlu memaksa.”


Junda beralih menatap Gunara dengan tatapan membara, meringsek maju ke ke hadapannya sambil berkata, “Anda pikir punya hak untuk melarang saya, biarkan dia yang menjawab!”


“Anda yang dari tadi memaksa tidak memberinya kesempatan!”


Tiba-tiba percakapan hanya menjadi antara dua orang pria yang saling memaksakan kehendak, antara Junda dan Gunara. Mereka seperti orang, yang sudah memiliki hubungan resmi dengan Relina, lalu salah satunya adalah pasangan selingkuh. Sementara Fuad dan Relina terlihat tidak berdaya, menunggu apa akan terjadi selanjutnya, antara dua mitra bisnis yang seharusnya saling menjaga nama baik.


“Jadi Anda pikir saya yang salah?” kata Junda menunjukkan emosinya,


“Seharusnya Anda bisa berpikir, kan?” Gunara menjawab tenang.


“Anda pikir saya bodoh ...?” suara Junda tiba-tiba merendah tapi penuh tekanan. “Lalu untuk apa selama ini Anda mau terus bekerja sama dengan saya, kalau Anda pikir saya bodoh?”


“Ah, Pak Junda. Anda yang mengatakan sendiri hal seperti itu, padahal saya tidak bilang kalau Anda bodoh, kan?”


Junda mengepalkan tangannya dan dadanya terlihat naik turun menunjukkan ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya berulang-ulang.


“Tapi menurut saya, tidak masalah kalau Anda ingin mengaji ulang poin dari kerja sama kita.” Gunara berkata sebelum Junda sempat meneruskan ucapannya.

__ADS_1


“Tidak, lebih baik kita batalkan saja!”


“Baik, tidak masalah.” Gunara berkata sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya.


‘Apa. Membatalkannya? Apa mereka gila? Hei itu proyek ratusan milyar dan kalian akan membatalkan begitu saja?’ batin Relina, dia tahu nominal yang tertera dalam kerjasama karena ia pernah mempelajari materinya.


Gadis itu mendekat untuk memisahkan kedua pria yang berdiri berhimpitan saling mengintimidasi, dengan kedua tangannya.


“Cukup! Hentikan kalian seperti anak kecil saja!” Dia berkata sambil melihat wajah Gunara dan Junda yang memerah karena menahan amarah. Relina merasa ngeri melihatnya.


Proyek yang gagal tidak boleh terjadi dan dia tidak akan berada di antara kedua pria ini lagi, itu lebih baik. Dia ingin menjalani hidup secara biasa, menikah dan bahagia dengan orang yang biasa pula.


“Dengar, saya sudah menerima pekerjaan di Jakarta, bekerja di sana adalah impian saya. Jadi, Kak Gun, tidak perlu membatalkan proyek. Saya tidak akan menerima tawaran dari kalian berdua.”


Keputusan yang cukup adil bagi Relina, tapi tidak memuaskan bagi Junda dan Gunara.


Setelah berkata seperti itu, Relina melangkah menjauh sambil menarik koper besarnya dan melihat di kejauhan ada bus yang sebentar lagi melintas dan Relina akan menaikinya. Namun, Junda meraih kopernya dan berjalan di sampingnya.


“Biar aku saja. Ayo! Aku antar kalau kamu memang mau ke Jakarta. Ayahku di sana, aku bisa mencarikanmu pekerjaan di kantor Ayah.”


“Bisakah Anda berhenti, Pak Junda yang terhormat! Anda tidak perlu repot-repot mengantar wanita seperti saya.” Relina berkata sambil melambaikan tangan pada bia yang lewat.


“Relina! Tunggu!”


Relina menoleh sebentar pada Gunara yang memanggilnya, tapi Relina tetap melangkah masuk ke bis jurusan Bogor Jakarta, yang akan mengantarnya. Dia tidak memedulikan semua pria yang ada di sana karena tidak ingin ada masalah lagi dengan mereka.


Sudah cukup banyak masalah yang terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Itu sudah cukup melelahkan. Masalah, atau yang sering disebut dengan cobaan hidup tidak akan bisa berhenti kecuali seorang manusia itu pergi menghadap Tuhan, maka ia dianggap sudah selesai menjalankan tugas dan rezekinya di dunia.


Entah kapan ujian yang akan ia hadapi berhenti, Relina termenung saat bis mulai melaju. Ia sibuk dengan rencana dan pikirannya sendiri. Mengulang kembali hari-hari yang sudah dia lewati selama berada di kota ini.


Dia sangat bersyukur punya kesempatan untuk tinggal, walau hanya satu tahun lebih menjadi penduduk kota yang awalnya hanyalah sebuah gagasan membangun irigasi. Dimasa Bupati Demang Warta Wangsa, dilakukan penggalian tanah berbasis pertanian, sekitar tahun 1745, dari Ciliwung ke Cihampar, dari Nagewer ke Kalibaru, atau sering di sebut Kali Mulya. Kini kota Bogor, yang namanya diambil dari tunggul pohon enau itu, sudah menjadi salah satu kota besar di republik ini.


Relina sendiri baru membaca sebuah fakta sejarah, kalau ternyata di Bogor ini pula pernah menjadi tempat berdirinya beberapa kerajaan, seperti Kerajaan Sri Baduga Maharaja, kerajaan Pajajaran, kerajaan Taruna Negara dan kerajaan Galuh.

__ADS_1


Relina masih membaca beberapa informasi dari ponselnya, ketika bis yang dia tumpangi berhenti di lampu lalu lintas. Tak terasa sudah sampai di perempatan Ciawi.


Pandangan matanya tertuju pada sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di sisi bis yang ditumpanginya. Ia tercengang ketika melihat kaca jendelanya terbuka secara perlahan dan muncul sebuah wajah yang tersenyum ke arahnya. Junda!


‘Apa dia mengikutiku? Tidak ... abaikan dia, mungkin Cuma kebetulan saja dia mau pergi keluar kota’


Belum selesai hatinya bicara, Relina membulatkan matanya, tak percaya jika pria itu memberinya sebuah kerlingan. Gadis itu celingukan kebelakang dan ke depan menduga mungkin ada wanita lain yang diberinya kerlingan dan kedipan genit seperti itu. Dia risih.


Bis kembali melaju dan Relina pun kembali menyandarkan kepala mencoba untuk tidur, menganggap apa yang dilihatnya hanyalah ilusi yang menjengkelkan.


Sepanjang sisa perjalanan, Relina tertidur, ia terbangun saat kondektur bis berteriak-teriak bila sudah sampai batas akhir perjalanan,di mana semua penumpang harus turun.


Begitu turun dari bis, Relina menghubungi pamannya, Danu. Ia berdiri di sjsi jalan terminal Rambutan, salah satu terminal bus terbesar di Jakarta, sambil berbicara di telepon. Dia memberitahu kedatangannya dan menanyakan alamat Danu berada.


Relina hendak memesan taxi online, saat sebuah mobil BMW hitam berhenti di depannya. Pintu mobil terbuka dari dalam dan terdengar suara memanggil-manggil nama Relina.


Enggan Relina membungkuk melihat ke dalam, guna memastikan dugaan tentang siapa pengemudinya. Relina mendengus dan menarik nafas dalam-dalam, saat melihat dengan jelas, bahwa orang yang ada di mobil itu adalah Junda.


“Masuklah!”


‘Apa dia mengikutiku?’


“Terima kkasih ...” Relina menolak halus ajakan Junda. Dia terus berjalan sambil menarik koper besarnya. Mobil Junda mengikutinya dengan berjalan perlahan di sisinya berulang kali Junda memintanya masuk, berulangkali pula Relina menolaknya.


Sudah beberapa lama berlangsung seperti itu, Junda habis kesabaran dan turun dari kendaraannya. Dia berjalan dan mencegat langkah Relina lalu berkacak pinggang.


“Apa kau takut aku akan memperkosamu! Tidak ... kecuali kau sudah tidak datang bulan.” Katanya sambil tertawa keras.


“Minggir!” Relina berkata sambil mendorong Junda agar menyingkir. Kesal, merasa dunia terlalu sempit dan jarak Bogor Jakarta seperti jarak antara kursi dan meja makan, membuat seseorang begitu mudah mengikuti walau jarak sejauh itu.


Junda tidak memedulikan Relina, ia mengambil alih paksa koper dan memasukkannya ke mobil dengan cepat, lalu membopong tubuh Relina, mendudukkannya di kursi depan dan menutup pintunya.


“Lepaskan, aku!” Relina berteriak ingin melepaskan diri.

__ADS_1


“Kau akan menarik perhatian orang, tahu?!”


Beraambung


__ADS_2