Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Seorang Pria Mabuk


__ADS_3

Sebelum Junda sempat melanjutkan kata-katanya, Relina menukas dengan suara tegasnya. “Pak, menurut saya ... sejak awal kita sudah memulai sebuah hubungan yang salah. Jadi, apa pun alasan Anda datang ke rumah dan juga ke sini, lalu tiba-tiba memeluk saya tanpa permisi, itu tidak akan pernah berhasil.”


Relina diam sejenak, lalu kembali berkata, “Oh, iya. Tentang tawaran Anda ... maaf, saya tidak bisa menerimanya. Sekali lagi maaf dan terima kasih.”


Setelah itu ponsel di tutup secara sepihak oleh Relina. Sementara Junda masih terdiam sambil memandang layar ponsel yang menjadi gelap. Dia masih memikirkan apa maksud dari ucapan Relina dengan memulai sebuah hubungan yang salah?


‘Tapi, salahnya di mana? Apa karena aku yang dulu kasar padanya lalu soal aku bilang dia perempuan malam? Sial ...!’


Junda kembali menyalakan layar ponselnya dan mengetik beberapa kata melalui pesan wechatnya. Dia meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan, menarik kembali ucapannya yang menuduh Relina wanita malam. Lalu melalui pesan itu pula, Junda meminta untuk memulai semua dari awal, tanpa sebuah kesalahan.


Setelah menulis semuanya panjang lebar, Junda menghempaskan tubuhnya ke pembaringan, mencoba memejamkan matanya. Mengusir lelah dan penatnya, yang sempat hilang ketika dia memeluk Relina.


Saat Junda memeluk gadis berambut sebahu itu, dia merasakan beban di tubuhnya seolah menguap entah ke mana. Dia hanya ingin terus berdekatan seperti itu selamanya. Ya selamanya!


Tidak pernah ada keinginan untuk mencintai sebesar perasaannya sekarang pada Relina. Meski berulang kali gadis itu menjauh dengan berbagai alasan, tapi sekuat itu pula keinginannya terus mendesak secara emosional.


Mungkin bisa jadi semua timbul karena penolakannya yang berbalik mengejar dirinya sendiri. Dia baru menyadari kekeliruannya setelah Relina memintanya untuk berpikir positif dari kejadian buruk yang menimpa mereka.


Tidak ada yang salah kalau soal perasaan, lagi pula dia sudah meminta maaf dengan tulus. Junda berharap Relina mau mengerti dan menerimanya dengan baik, setidak-tidaknya sebagai seorang teman.


Junda mencoba memejamkan matanya sambil mencoba meredam perasaan yang terasa sakit, seperti kesemutan di dadanya. Dia tidak pernah ditolak, baru Relina, gadis yang sudah berkata untuk mengakhiri semuanya, bahkan sebelum sempat memulai.


Lampu di kamar hotel yang disewanya tetap dia biarkan menyala ketika dia mulai tertidur, mungkin fobianya tidak akan bisa sembuh. Kepasrahan sangat jelas terpancar dari wajahnya yang masih menyisakan lelah.


Seandainya bisa, Junda juga mungkin akan menulis puisi untuk Relina, melalui ponselnya.


Tuhan, terimakasih telah Engkau berikan padaku kesempatan untuk memeluk ciptaan terindah-Mu. Setidaknya sekarang aku bahagia.


Langit redup redam janganlah hujan, biarkan aku berdamai dengan hatiku sendiri.


Terkadang inginnya aku berlari, sesaat, namun lukanya membuat aku ingin pergi.


Kerinduan selalu mebuat aku bersedia menderita demi dirinya.


Tahukah kau betapa aku mencintaimu?


Merpati telah ke tempatmu untuk menyampaikan isi hati ini betapa semesta menyayangimu dalam diam.

__ADS_1


 


*****


 


Relina membuka kedai lebih pagi dari saat dirinya masih bekerja dengan Danu di Jakarta. Gadis itu sudah memulai aktivitas kafe sejak jam tujuh pagi, sementara di Jakarta, pamannya baru membuka kedai setelah jam sembilan.


Sengaja hal itu Relina lakukan karena kebiasaan orang di sekitarnya bila hendak memulai aktivitas, maka mereka akan menikmati secangkir kopi terlebih dahulu.


Beberapa pelanggan sudah berdatangan untuk menikmati kopi dan beberapa makanan kecil. Relina sengaja menyediakan beberapa makanan pelengkap untuk menemani para pelanggan dalam menikmati secangkir kopi.


Dia bekerja sama dengan beberapa toko makanan yang ada di sekitar kedai, untuk menitipkan makanan buatan mereka, terutama yang mengenyangkan, seperti roti, kue tradisional, aneka bolu juga gorengan.


Hal ini juga yang dilakukan Pamannya di kedai kopinya, hanya saja Danu dan istrinya membuat sendiri makanan kecil yang mereka jadikan menu tambahan sebagai pendamping kopi. Akan tetapi Relina belum sanggup, mengingat pegawainya hanya sedikit dan dia mengantisipasi bila pelanggan membludak mereka tidak akan sempat membuat makanan seperti itu, kecuali dengan menambahkan karyawan.


“Apa ada anggur di sini?!” Teriak seseorang dari pintu masuk kafe, suara itu keluar dari mulut seorang pria yang berkepala gundul dengan banyak tato di tangannya. Tubuhnya tinggi besar dan memakai pakaian serba hitam.


Sontak saja teriakan itu menarik perhatian para pelanggan dan juga Relina yang duduk di belakang meja kasir. Gadis itu merasakan keringat dingin memenuhi telapak tangan dan punggungnya, gemetar rasa kakinya saat dia berdiri. Suara jantungnya berdegup seolah terdengar seperti genderang yang ditabuh dengan keras dalam sebuah peperangan yang sedang berkecamuk.


Dia berjalan mendekat sementara dua pegawainya yang masih remaja, Ali dan Lia, seperti ketakutan juga. Mereka memilih untuk bersembunyi di dapur dan hanya mengintip dari sana. Mereka dua anak remaja yang putus sekolah dan direkrut oleh Bibinya untuk menjadi pegawai Relina.


Sementara beberapa pelanggan memilih pergi, setelah membayar pesanan. Sangat jelas orang-orang itu tidak ingin membuat masalah dengan kehadiran orang yang memang senang mencari masalah.


Sungguh, manusia tidak perlu repot-repot mencari masalah, sebab masalah akan datang sendiri tanpa harus dicari.


“Apa? Jadi tempat apa ini, kalau nggak ada anggur?!” teriak laki-laki itu lagi.


“Maaf, sebaiknya Anda cari tempat lain lagi,” jawab Relina masih dengan sopan dan sabar, padahal dengan sekuat tenaga dia menahan rasa sesak di dadanya. Sedang keringat dingin masih mengaliri punggungnya. Dia sama sekali tidak terpikir akan mendapatkan masalah seperti ini, padahal hari masih pagi.


Dia tidak mungkin mengandalkan Ali, pegawainya itu bertubuh kurus dan sepertinya dia lebih takut dari dirinya. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan berpikir bahwa pada akhirnya memang setiap insan hanya akan mengandalkan dirinya sendiri.


Saat Relina merasa tidak ada gunanya mengatakan panjang lebar tentang tempat usahanya pada orang yang sepertinya tidak akan mengerti. Dia mencoba berbalik dan mengabaikan orang itu, di saat yang sama ada seseorang masuk memesan kopi dan Ali melayani orang itu dengan baik.


“Hai!” orang itu berkata sambil menarik tangan Relina dan Relina menepis tangan besar pria itu sekuat tenaga, hingga terlepas.


Sepertinya pria besar itu mabuk dan tubuhnya terhuyung sebentar. Dia bisa segera mengatasi tubuhnya, lalu bergerak dengan cepat meraih tangan Relina kembali dan menariknya, sambil berkata, “Kau menantangku, hah!” dan membanting Relina ke samping, hingga tubuh kurus itu membentur dinding.

__ADS_1


“Aahk ...!” pekik Relina sambil memegangi kepalanya yang terkena imbas cukup parah. Rasanya seperti kepalanya terkena ribuan duri, menusuk dan panas!


“Sebaiknya orang itu jangan dilawan.” Kata pelanggan yang baru saja masuk.


“Dia nggak bisa ditolak dan kamu tadi mengusirnya!” kata orang itu lagi. Kebetulan tubuh Relina terbentur dekat dengan kursi di mana pria itu duduk. Dia tidak ada niat untuk membantu Relina sama sekali.


“Tapi kami tidak punya minuman itu di sini.” Relina masih mencoba membela diri.


“Kamu punya apa, hah?!” kata si Pria mabuk.


“Ada, kopi. Saya akan memberi gratis untuk Anda, Pak,” kata Relina sudah berhasil mengatasi rasa sakit di kepala dan tubuh bagian sampingnya yang terasa ngilu.


Sementara pesanan orang yang baru datang itu di bawa oleh Ali ke arah mejanya. Akan tetapi orang mabuk itu meraih gelas kopi panas itu dan ...


Byur!


Dia menyiramkan minuman itu ke tubuh Relina, lalu membanting gelas ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Gerakan pria itu agak lambat, hingga gadis itu sempat menghindar, meskipun begitu, sebagian tubuhnya terutama pundak dan lengannya masih terkena siraman.


“Itu, minuman gratis!” teriak orang gundul itu sambil tertawa keras.


Kesal sekali Relina di buatnya, dia merasakan kemarahan memuncak di ubun-ubun, rasa takutnya mendadak hilang. Dia harus melindungi dirinya dan tempat usahanya. Tidak bisa hanya pasrah dianiaya tanpa melakukan perlawanan apa pun, pada orang yang jelas-jelas salah.


Gadis itu mengabaikan rasa sakitnya, bajunya yang terkena kopi menjadi lengket dan semakin memperparah rasa terbakar dikulitnya, akibat terkena kopi panas.


Plak! Suara tamparan keras dari tangan Relina mengenai pipi orang mabuk, dia sudah berjuang keras untuk bisa melakukan itu.


Bersama dengan itu, tiba-tiba terdengar  suara tawa keras dari pelanggan yang pesanan kopinya tumpah dan dari tadi hanya diam. Dia lalu bertepuk tangan. Sementara orang mabuk melotot, pada Relina sambil mengusap pipinya, tingkah orang itu seperti tidak sepenuhnya mabuk, karena dia masih sadar dan dia kini bergerak hendak memukul Relina.


Gadis itu memiringkan badannya sambil memicingkan mata untuk menghindari serangan pria bertato itu namun dia tidak merasakan apa-apa. Setelah itu, yang terdengar hanyalah suara seperti suara tulang yang dipatahkan.


Relina segera membuka mata dan betapa terkejutnya dia melihat orang yang tengah memegang tangan orang mabuk hanya dengan satu tangannya.


“Apa kamu baik-baik saja?”


 


Bersambung

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih atas dukungannya* special thanks for Kakak Taufik Qurohman, yang sudah nyumbang puisinya*


__ADS_2