Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Temani Aku Malam Ini


__ADS_3

Junda dan Relina saling bertatapan dengan meluncurkan arti yang berbeda dari hati masing-masing. Pandangan Relina dengan segala pertanyaan dan banyak dugaan yang dari hatinya, sedangkan Junda melemparkan pandangan seolah ingin menghisap seluruh wajah Relina ke dalam hatinya.


“Dari mana Bapak bisa tahu saya di sini?” tanya Relina datar. Dia seperti sudah menebak kalau Junda akan mengetahuinya, mengingat ketika mereka bertemu saat kejadian kecelakaan itu Relina tengah memakai pakaian seragam Cafe, yang sangat jelas menunjukkan di mana dia bekerja.


“Itu tidak penting,” jawab Junda tanpa ekspresi.


“Apa urusan Bapak mencari saya?”


“Aku akan menagih hutangmu!” itulah kalimat yang keluar dari bibir indah Junda dan sukses membuat Relina tercengang.


Relina merubah pandangan, dengan tatapan tak percaya. Apabila melihat wajah Junda dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung, alis dan bulu mata yang tebal, serta kulit yang bersih itu, akan membuat orang mudah jatuh cinta serta takut secara bersamaan.


Wajah seperti itulah yang membuat orang tertipu bila bertatapan langsung dengannya, seolah di lihat seorang selebritas kota yang terkenal tampan dan memiliki akting yang bagus. Akting Junda sangat bagus!


Akan tetapi Relina mengabaikan semua ketampanan itu karena yang terlihat di hadapannya, adalah wajah yang menuntut sesuatu dan itu sangat menyebalkan!


‘Perasaan aku gak punya utang deh sama dia'


“Maaf, utang apa ya, Pak?” Relina menatapnya dengan tatapan kesal.


‘Saya tahu bahwa Anda berniat mengerjai saya, kan?’ batin Relina.


Relina sangat yakin tidak memiliki hutang apapun pada Junda, tapi ia tahu dan juga sadar, jika pria itu sering sekali memaksa dan dia selalu punya alasan untuk melakukannya.


“Kau pikir aku bawa Gunara ke rumah sakit itu gratis?”


‘Iya ... mana mungkin orang sepertimu mau memberi pertolongan secara gratis, ah ... bodoh sekali aku'


“Jadi berapa yang harus saya bayar?” Relina bergerak mengambil dompet dari saku celana panjangnya.


Junda melihat gerakan tangan Relina, yang sedang mengambil dompet. Dia juga memperhatikan gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kakinya, lalu menyunggingkan sedikit senyum di salah satu sudut bibir, sambil memutar bola matanya.


‘Penampilannya masih saja sama seperti dulu, baju, celana panjang, atau pakai rok panjang, apa dia tidak punya baju yang lain, atau ada sesuatu dari tubuhnya, hingga dia selalu berpakaian seperti ini'


“Ck! Aku tidak membutuhkan uangmu.”


Ucapan Junda terdengar sombong di telinga Relina, membuatnya memalingkan pandangan sambil mengangguk. Wanita itu mencibir dirinya sendiri, lalu berkata sambil tertawa kecil.


“Oh iya, saya hampir saja lupa, siapa Anda! Tentu saja Anda tidak membutuhkan uang kecil dari saya, lalu harus dengan apa saya membayarnya?”

__ADS_1


“Oh Tuhan aku salah bicara!’ batin Relina.


“Dengan tubuhmu malam ini, oke?”


“Jadi, Bapak masih berpikir saya wanita seperti itu?” Relina diam sebentar dan tidak ada komentar dari Junda, hingga dia kembali berkata. “lupakan saja!” Relina pun pergi meninggalkan Junda dan tidak peduli lagi dengan laki-laki itu akan marah atau tidak.


Juanda bergeming, dia masih berdiri di tempatnya semula tanpa berubah satu jengkal pun. Dia yakin, Relina akan kembali menemuinya.


Sementara di dalam kedai, paman Relina yang melihat dari jauh antara keponakannya dan laki-laki itu, menyimpulkan bahwa kedua orang itu sedang ada masalah. Apalagi sekarang dia melihat Junda masih berdiri ditempat yang sama dengan posisi yang sama, pria bertubuh tambun itu pun menggelengkan kepalkepalanya.


Dia memanggil Relina, dari kursi kebesarannya. “Relina ...!”


Relina yang masih membersihkan meja itu pun menoleh kepada pamannya dan menghampiri dengan segera.


“Iya, Paman.”


“Selesaikan dulu masalahmu dengan orang itu, sepertinya dia tidak akan pergi, sebelum kamu memberinya jawaban yang benar. Aku tidak ingin ada orang berpikir sesuatu yang tidak baik dengan kedai ini, lihat saja wajahnya mengerikan, tapi aku lihat dia orang baik.”


‘Ah Paman tidak tahu siapa dia makanya Paman bisa bilang dia orang baik'


Relina pun mengikuti arahan pamannya dan dia kembali keluar untuk menemui Junda.


“Pak, apa ada lagi yang perlu dibicarakan, kalau tidak ada, bisakah Anda pergi dari sini, atau masuk saja, Pak! Cicipi kopi hasil kreasi kami.”


Junda tidak menanggapi ucapan Relina, hingga gadis itu kembali berbicara, “soal permintaan untuk menemani Anda tidur malam ini, saya tidak Sudi, walaupun, Anda mengatakan bahwa seluruh hidup saya adalah hutang.”


Mendengar kalimat yang terakhir dari Relina, Junda memiringkan dagunya lalu tersenyum kecil. Dia sedikit membungkuk menatap langsung ke wajah gadis itu sehingga mereka berdua begitu dekat. Namun Relina memundurkan lehernya. Tiba-tiba punggungnya menjadi kaku karena bulu mata Junda yang mengerjab seolah menarik dirinya untuk tertarik lebih dalam.


“Benarkah, apa jaminannya?” kata Junda kemudian.


Relina kembali tersadar setelah terpesona untuk beberapa saat. “Tidak ... tidak ada jaminan untuk hal seperti itu. Saya pikir Anda cukup pintar, untuk menyimpulkan bahwa tidak mungkin orang berutang nyawa seumur hidupnya, hanya dengan menolong orang lain. Saya tidak pernah meminta Bapak untuk nolong Kak Gun, kan?” katanya.


Junda sudah memikirkan semuanya, dia menduga akan mendapatkan perlawanan seperti ini dari Relina. Akan tetapi dia menikmati pertengkaran atau perselisihan kecil dengan wanita yang berdiri di hadapannya.


Junda sendiri sangat aneh dengan keinginannya tapi tetap saja dia melakukannya, walaupun kesan yang muncul adalah, dia begitu menyebalkan bagi Relina.


“Baiklah, aku masuk .. asal kau yang menaktirku dan kau juga harus menemaniku sampai aku selesai minum, oke?”


“Ksnapa saya harus menemani Bapak? peraturan di sini tidak boleh. Bila pelayan menemani pelanggannya."

__ADS_1


“Kalau begitu, kamu tetap harus membayar utangmu, dengan menemaniku tidur malam ini.”


‘Oh. Jadi itu gantinya? Kalau begitu tidak masalah'


“Baiklah, baiklah silahkan! Saya akan membelikan kopi dan menemani Anda." Relina mempersilahkan Junda dan mereka berjalan memasuki kedai secara beriringan, lalu Junda duduk disalah satu kursi.


“Bapak, mau pesan kopi apa?”


“Terserah kamu.”


Relina berjalan ke dapur dan dia sendiri yang meracik kopi unggulan kedai untuk Junda.


Setelah menghidangkan kopi di atas meja Junda, Relina pun duduk di hadapannya. Dia menyimpan baki di lantai dekat tempat duduknya, sambil berkata, “silahkan.”


“Ck! Ini masih panas, kan?”


Relina menatapnya kesal. Dia hanya mempersilahkan sebagai bentuk sopan santun, dari pelayan kepada pelanggannya, bukan berarti memintanya untuk minum saat itu juga.


“Kalau saja saya tahu Anda akan menjadikan pertolongan itu sebagai utang, maka saya tidak akan pernah mengizinkan Anda untuk membawa Kak Gun ke rumah sakit saat itu juga.” Relina memulai pembicaraan, agar masalahnya segera selesai. Dia tidak ingin berlama-lama meladeni laki-laki yang pastinya akan menyebalkan.


Tiba-tiba Junda tertawa sangat keras, membuat orang-orang yang ada di samping kanan kirinya menoleh ke arahnya.


'Hais, orang ini memalukan sekali, kenapa ketawa, si? Nggak ada yang lucu!'


“Kamu pikir aku orang seperti itu?”


“Lalu memangnya orang seperti apa Anda? Bukankah Anda memang orang yang keterlaluan? Mencium orang sembarangan, mengatakan saya wanita malam tanpa bukti. Tega memaksa orang, untuk datang ke rumah orang tuanya tanpa alasan. Lalu meninggalkannya begitu saja, membiarkan seorang wanita sendirian di mobil.”


Relina diam sejenak dan kembali berkata, “seenaknya saja Anda bilang saya adalah kekasih Anda, sekarang menolong orang lain dan menganggapnya sebagai utang ... Anda memang orang seperti itu kan?”


Junda terdiam, semua yang dikatakan Relina benar, dia memang ketelaluan.


“Lalu, apa masalahnya dengan semua itu, kamu sekarang baik-baik saja, kan?” kalimat yang keluar dari mulut Junda menunjukkan bahwa dia tidak perduli dengan segala sesuatu yang dia anggap tidak penting.


“CK! Anda ini memang nggak punya perasaan, apa?”


Junda kembali terdiam, dia masih belum yakin dengan perasaannya sendiri, walaupun dia sebenarnya punya satu perasaann yang berbeda pada Relina. Dia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaannya.


“Aku minta kamu mau pergi ke pesta malam ini. Aku jemput jam tujuh malam.”

__ADS_1


“Jadi, hanya itu tujuan Anda kemari, untuk memaksa saya lagi?”


Bersambung


__ADS_2