
*Jangan lupa like dan komennya. Kalau bisa give dan Rate lima ya. Tolong dukungannya. Sebentar lagi mau tamat nih*
Fuad dan Icha berbincang-bincang sejenak dengan Relina dan kedua orang tuanya, setelah itu mereka berpamitan untuk pulang karena hari sudah menjelang sore.
Kini hanya tiga orang yang berada di ruangan itu, saling berbincang, sementara hari semakin sore bahkan menjelang gelap.
“Pak, sekarang kita mau mandi dan ganti baju, gimana. Siapa yang nunggu Relina di sini?” tanya Renita kemudian.
“Ya, sudah, kita gantian saja. Ibu pulang duluan sana. Nanti ke sini bawa baju ganti Ayah, sama makanan sekalian.”
“Enak saja Ayah ini. Ibuk nggak mau sendiri ke sana, takut.”
“Tapi aku malas, Buk, mau pulang. Naik taksi tanggung, soalnya dekat. Jalan kaki kejauhan.” Rosihan membaringkan diri di sofa.
“Ayah!” hardik Renita geram.
“Ya, sudah. Relina sendiri gak apa-apa. Ibu sama Ayah pulang saja, nggak usah ke sini lagi, besok saja nengoknya.”
“Ya, kalau gitu kita pulang, Buk. Titipin saja Relina ke perawat atau suster yang jaga.”
Seharian berada di rumah sakit, membuat kedua orang tua itu kelelahan, walaupun tidak ada pekerjaan yang harus mereka lakukan. Biasanya kejenuhan dan bosan yang memicu kelelahan lebih besar daripada pekerjaan biasa.
Kedua orang tua itu akhirnya sepakat untuk pergi meninggalkan Relina dan menitipkannya pada seorang perawat yang kebetulan sedang duduk sambil memegang ponselnya di kursi dekat ruangan di mana Relina berada.
Setelah berbasa-basi dan bicara sebentar dengan perawat, Rosihan dan Renita saling berpandangan. Ternyata perempuan itu adalah orang yang dipercaya oleh junda untuk menjaga Relina dan mengabari dirinya apabila terjadi sesuatu pada kekasihnya.
Setelah mendengar penjelasan dari perawat itu akhirnya Rosihan dan Renita pun menjadi tenang. Mereka melangkah keluar meninggalkan rumah sakit menuju rumah apartemen sewa yang disediakan oleh Juanda.
__ADS_1
Sudah beberapa malam ini Junda tidak melihat Relina dan hanya menerima kabar tentang perkembangan kesehatannya, dari perawat yang dia dipercaya.
Malam itu seperti biasanya kedua orang tua Relina tidak menemani anaknya, karena lelah dan beristirahat di apartemen sewa.
Entah sudah berapa lama Relina tertidur dan ketika bangun, dia merasakan tangan kirinya ada yang menggenggam dengan erat.
Beberapa perban di tubuhnya sudah dilepas sehingga dia bisa sedikit bergerak dan menoleh, saat itulah dia melihat Junda yang tertidur dengan menyimpan kepala di sisi pembaringan.
Junda terbangun karena merasakan gerakan, dia pun mengangkat kepalanya dan melihat Relina yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
“Kau sudah bangun? Ayo! Tidur lagi, ini masih tengah malam,” kata Junda.
“Sejak kapan kamu di sini?”
Junda menoleh melihat jam yang ada di dinding, kemudian dia berkata, “Ada sekitar satu jam yang lalu.”
Relina melepaskan tangan yang digenggam oleh Junda lalu menepuk sisi sebelahnya sambil bergeser, “Jun, tidurlah di sini...” Katanya. Sepertinya Relina kasihan melihat Junda yang tampak kelelahan.
Relina menggeleng, “Tidak ....” jawabnya perlahan.
Junda pun berdiri dan menurut untuk tidur bersebelahan, walau hati berdebar-debar sangat keras. Dia menggeser sedikit tangan kiri Reliina yang terdapat selang infus, saat itulah pakaian khas rumah sakit yang dipakainya tersingkap, hingga terlihat sesuatu yang membuat matanya melebar sempurna.
“Apa ini?” kata Junda dengan raut wajah heran.
“Bukan apa-apa ....” Jawab Relina sambil menutup kembali lengan bajunya.
“Apa itu juga lukamu?” Junda berkata dan kembali menyingkapkan lengan baju Relina.
__ADS_1
“Bukan, itu tanda , memalukan ya, punya tanda lahir seperti itu?” kata Relina sambil tersenyum seolah mengejek dirinya sendiri.
“Mendengar ucapan Relina, Junda tersenyum lebar dan mengusap sikunya dengan lembut. Tanda itu sedikit bersisik mirip sisik ular, orang tuanya dulu bilang itu tanda yang membawa sial. Mereka memiliki tanda yang sama, bahkan bentuknya pun mirip.
“Apa kamu memiliki dua tanda seperti ini di tangan kananmu juga?” tanya Junda.
“Iya, tapi di tangan kananku tidak begitu besar.”
Relina teringat ketika dulu masih kecil dia sering sekali dihina karena tanda aneh di siku tangannya, yang di sebelah kiri sangat jelas dan cukup besar sedangkan di sebelah kanan tidak terlalu terlihat.
Junda naik ke tempat tidur dengan perlahan dan memiringkan tubuhnya, hingga berhadapan, dengan Relina, lalu memeluknya erat. Tiba-tiba saja matanya memerah dan terasa hangat, pandangannya menjadi kabur karena air yang menghalanginya hendak keluar.
“Biarkan aku memelukmu seperti ini, sebentar saja ... kalau sakit katakan saja.”
Tak lama kemudian, Junda menciumnya perlahan dan Relina merasakan basah pipinya basah.
“Apa kamu menangis? Kenapa?” tanya Relina melihat Junda yang berurai air mata.
“Apa boleh kalau aku menentang ibumu? Dan aku tetap menikahimu. Apa kamu membenciku kalau aku bersikap seperti itu?”
Relina masih menatap heran, tapi tangannya terulur untuk menghapus air mata di pipi Junda. Dengan cepat pria itu memegang tangan Relina dan menghentikan gerakannya, lalu mencium tangannya lembut.
“Mau kan, kamu menikah denganku suatu hari nanti? Kalau kamu sudah sembuh ....” pinta Junda penuh permohonan, tapi dengan nada memaksa seperti biasanya.
Relina adalah harapan Junda, seolah hidup dan matinya tergantung keputusannya mau menikah atau tidak dengan dirinya. Akan tetapi Junda bersikap rasional mulai dari sekarang, walaupun ada atau tidak adanya kepercayaan dari keluarganya soal tanda sialnya, dia tetap akan menikahinya.
Relina ingat beberapa hari yang lalu saat sebelum kejadian di restoran, dia pernah meminta Junda untuk segera menikahinya, tapi laki-laki itu terlihat masih ragu. Keyakinan penuh yang dimilikinya, begitu kuat untuk melawan segala keraguan yang ada.
__ADS_1
“Kenapa, tiba-tiba ... kemarin-kemarin kamu meragukanku?”
Bersambung