
Junda melangkah dengan membawa seribu rasa kesal yang memenuhi benaknya.
Begitu terkejutnya ia ketika mendekati kerumunan orang, yang melihat kekacauan di sana. Ia melihat gadis menyebalkan itu ada di antara mereka, hingga rasa kesalnya bertambah.
Meluapkan kemarahan adalah sebuah keharusan bagi Junda, namun ia tidak bisa melakukannya lebih jauh. Beberapa wanita membela Relina, dan menyalahkannya. Bahkan seorang ibu yang jelas-jelas salah, sudah membiarkan anak kecil menyeberang jalan sembarangan pun mereka bela.
"Akh, sial!" gumamnya sambil berbalik badan. Ia kembali menuju mobilnya karena disaat yang sama, Syalu menghubungi dan menanyakan keberadaannya, yang belum juga muncul di ruang rapat mereka.
Junda melirik Relina sebelum menjauh, tatapan mata mereka sempat bertemu, tapi ia berpaling untuk segera mengangkat telepon,menerima panggilan Syalu, sekertarisnya.
Saat sudah berada di dalam mobil.
"Halo, Syalu," katanya, menjepit ponsel di pundak, dengan dagunya, sambil memasang sabuk pengaman.
Diam sejenak lalu kembali berkata, dengan ketus, "Hmm ... jadi mereka membatalkannya? Kau lanjutkan bekerja. Buang semua proposal kita!"
Pria itu mematikan dan menyimpan kembali ponsel di kursi kosong sebelahnya, lalu memacu kembali mobilnya. Ia ingin memutar arah untuk pulang, sudah tidak semangat lagi dalam bekerja.
Kalau pun harus bekerja, maka ia akan lebih terlambat karena menuju kantor ia harus melewati jalan Kolonel Ahmad Syam. Di sepanjang jalan itu ada beberapa Cafe yang cukup besar, seperti Coffe and Kitchen Seanhorse, atau tempat seperti Contrive Coffe and Space.
Tempat-tempat itu, pasti sangat ramai di saat seperti ini. Dipagi hari banyak orang yang mencari sarapan atau kopi. Apalagi ia harus melewati perempatan jalan raya yang mengarah ke Terminal Baranangsiang, akan banyak angkutan kota yang ngetem bahkan kadang memenuhi hampir separuh jalan raya.
Keadaan itu sering sekali terjadi, bahkan macet sampai malam hari.
Junda mungkin salah satu tipe laki-laki, yang paling malas bersabar menghadapi kamacetan jalan raya. Kalau tidak kesiangan hari ini, ia tidak akan menemui hal yang paling ia benci.
Selama di perjalanan Junda terus membayangkan wajah Relina ketika ia menoleh sambil menyibakkan rambutnya, terlihat berbeda dari saat ia masih menjadi pegawainya. Walaupun rambut dan pakaian wanita itu sangat berantakan, tapi ia justru lebih manis.
'Ahk, bukan ... bukan dia, untuk apa kasihan padanya, dia pasti gak mau jadi pacarku atau dia mau seperti wanita-wanita yang sudah patah hati denganku, huh!'
*****
Sesampainya di kantor.
"Untuk apa kau ke kantor, buat makan siang bareng aku?" Syalu berkata sambil mensejajarkan langkahnya dengan Junda, memasuki ruangannya. Laki-laki itu datang saat jam makan siang hampir tiba.
Junda hanya menoleh sebentar, menarik napas dalam, bosan. Lalu duduk di kursinya dengan bersandar, kepalanya mendongak dengan mata yang terpejam.
Sementara Syalu duduk di hadapannya, hanya terpisah meja kerja.
"Dengan siapa Pak Leo tanda tangan kontrak?" Tanya Junda tanpa membuka matanya. Leo adalah orang yang semula akan bekerja sama dengan dirinya.
"Dengan PT. Gunara. Kenapa, sudah biasa, kan perusahaan itu jadi saingan kita."
Junda diam, mengusap wajah, lalu menegakkan badannya kembali, sambil membuka jas dan mengendurkan dasi.
__ADS_1
Syalu memperhatikan penampilannya yang kusut dan masam, tidak seperti biasanya. Pria itu tidak pernah kesal setiap kali gagal tender, ia tidak pernah mempermasalahkan karena ia yakin dan selalu optimis dengan masa depan, kecuali soal mitos itu.
Tiba-tiba wanita itu kesal dengan perasaannya sendiri, kembali terpesona dengan ketampanan bosnya. Ia sudah dibuat jatuh cinta pada Junda berulangkali, tapi setiap kali itu pula ia ingat pesan Shasi, wanita tua yang selalu merawat Junda itu berkata, 'bila masih sayang nyawa maka jangan mendekatinya'
Ucapan Shasi seperti sebuah isyarat bagi Syalu, agar tidak terlalu berharap banyak pada Junda. Entah karena Shasi menyayangi Syalu atau sebaliknya, sebab perempuan bertubuh sintal dan berkulit putih bersih itu, dengan sangat jelas mempertontonkan rasa sukanya.
Ia sering bertandang ke rumah nenek itu, hingga Shasi bisa menilai semuanya, melalui sorot mata gadis itu, bila menatap cucunya.
"Ya sudah, lanjutkan bekerja."
Mendengar perintah itu, Syalu mengerutkan alisnya. Ia heran, Junda tiba-tiba bersikap formil pada dirinya, kembali sikap tidak biasa Junda menggelitik hatinya, sebab sahabatnya itu, hanya bersikap demikian, bila di hadapan banyak orang.
"Kau ini, kenapa?" Syalu bertanya sambil menopang dagunya dengan tangan di atas meja.
"Kenapa, apanya? Aku gak kenapa-napa."
"Ku kira kau mau pulang tadi."
Junda tadi memang berniat hendak pulang, tapi sudah lebih dari separuh jalan ia meninggalkan rumah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk ke kantor. Ia ingin melihat file tentang Relina.
"Tadinya begitu, tapi aku mau cari tahu sesuatu."
"Oh, apa itu?"
"Bukan apa-apa, panggilkan Pak Danu."
Junda mengaangguk dan Syalu menuruti perintahnya.
Tanpa sepengetahuan Syalu, Junda meminta bagian personalia untuk mencari CV yang berkaitan dengan Relina. Cukup lama akhirnya ia mendapatkan apa yang ia minta.
Walaupun Junda tidak mengatakan apa pun tentang data pribadi Relina, Syalu akhirnya mengetahuinya, membuat gadis itu curiga.
Setelah sore harinya saat bertemu dengan Junda di tempat parkir, ia memberanikan diri untuk bertanya, memuaskan rasa penasarannya.
"Kamu cari informasi soal perempuan yang kamu pecat? Aneh sekali. Kamu penasaran padahal dia bukan pegawaimu lagi."
"Bukan, urusanmu ... sudah, pulang sana, sudah sore." Junda berkata dengan datar, sambil memasuki mobilnya.
Pria itu menjaga perasaan Syalu padanya, selama ini ia bersikap biasa saja. Ia baik, begitu juga dengan Syalu, ia tidak ingin melukai gadis itu. Hubungan pertemanan mereka terjalin sudah cukup lama, sejak mereka masih sekolah di SMA Taruna. Ia ingin hubungan itu tetap baik-baik saja, tanpa adanya rasa sakit hati karena dikhianati oleh yang namanya cinta.
Syalu melihat mobil sport Junda yang berjalan menjauh, dengan hampa, mencintai Junda seperti memeluk tanaman berduri, semakin dipeluk, akan semakin melukai. Ia memilih untuk menerima hanya sebagai teman saja, dari pada berakhir seperti wanita lain yang menjadi pacarnya.
Kedua orang tua Junda dan Syalu bersahabat, bahkan kedua perusahaan mereka menjalin kerjasam di Jakarta. Kedua sahabat itu ikut mendukung hubungan baik keluarga. Oleh karena itu baik Syalu maupun Junda menjaga perasaan masing-masing agar tidak saling jatuh cinta. Apa itu mungkin?
Tanpa diketahui Junda, Syalu sudah mencintainya.
*****
__ADS_1
Relina tengah berada di sebuah mobil, ia menumpang angkutan umum khas teminal untuk pergi ke pasar. Hari itu sekolah libur akhir pekan, membuatnya tidak harus berjualan.
Bila masih menjadi karyawan, ia akan menggunakannya untuk berolahraga atau sekedar berjalan-jalan di taman kota, tetapi sekarang ia hanyalah seorang wirausaha kecil paling bawah, hingga ia harus memanfaatkan waktu libur seperti ini untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhannya.
Kebiasaannya pergi berjalan-jalan ataupun berolahraga, sudah ia tinggalkan selama dua pekan ini. Ia berharap besok sudah ada jawaban dari surat lamaran kerja yang ia kirimkan.
Ia melihat pemandangan di luar jendela, selama angkutan umum yang ditumpanginya berjalan. Ia melihat dari kejauhan, kesibukan di taman kota, lalu melewati lokasi weekend eksis di belokan jalan Pajajaran Indah. Jalan ke arah beberapa tempat, ditutup di akhir pekan seperti hari ini, sehingga pertigaan jalan menuju ke sana tidak terlalu ramai. Ia harus mencari kendaraan, setelah berjalan cukup jauh dari tempat kosnya.
Saat itu ponselnya berdering dan begitu ia melihat pada layar ponselnya, ia tersenyum, orang yang menghubungi adalah ibunya. Relina menerima panggilan dan meletakkan telepon genggam itu di telinganya lalu berkata, dengan lembut, "halo, Bu. Apa kabar?"
Dari seberang telepon terdengar sebuah suara seorang wanita menjawab, dengan suara yang lembut dan kembali menanyakan kabar anaknya.
"Reli ... jangan lupa kau minum obatmu, ya. Kamu belum sembuh benar, kau harus menjalani pengobatan selama enam bulan penuh, tapi malah kerja."
"Ibu nggak usah kuatir, aku tidak lupa minum obat."
"Tapi selama pengobatan kok harus banyak beristirahat."
Relina tidak mungkin pulang, karena bekerja menjadi pegawai adalah impiannya. Ia pernah pulang dan mengambil cuti beberapa bulan yang lalu karena sakit di bagian dadanya, hingga orang tuanya di desa membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan. Ternyata, oleh dokter ia difonis menderita penyakit, yang bagi sebagian orang sangat memprihatikan.
Ia menderita penyakit paru-paru atau yang biasa disebut dengan tuberkulosis atau TBC, hingga ia harus melakukan pengobatan secara rutin, selama enam bulan penuh. Obat yang diminum tidak boleh terlambat satu hari pun, agar ia segera sembuh.
Apabila ia lalai meminum obat itu maka ia harus mengulang pengobatan dari awal karena setiap dosis yang diberikan itu berbeda di setiap bulannya sampai pengobatan berakhir. Setelah genap selama enam bulan, ia harus menjalani tes secara keseluruhan pada tubuhnya, hingga dinyatakan benar-benar sembuh.
Penyakit ini termasuk salah satu penyakit yang tertinggi, bisa menghilangkan nyawa, di Indonesia, pernah terjadi lonjakan penderitanya sekitar tahun 2000 dan beberapa tahun setelahnya, tetapi pengobatan yang rutin bisa mengurangi resikonya.
Relina sudah memiliki dokternya sendiri di tempat ia tinggal saat ini. Ia tidak mungkin pergi dan pulang ke rumahnya, yang menyeberangi selat Sunda.
Menjadi pegawai di kantor perusahaan besar yang berada jauh di pulau Jawa, adalah sebuah kebanggaan bagi keluarga di kampungnya. Ia dulu kuliah dengan beasiswa, sehingga membuat orang berpikir bahwa dia akan berhasil dalam kehidupan dan masa depannya.
Oleh karena itulah, Relina berusaha keras dan pantang menyerah, walaupun sekarang ujian berat tengah dijalaninya.
Ia sudah selesai menelpon ibunya, saat kendaraan umum yang ditumpanginya berhenti.
Di dalam kendaraan tadi, ia bersama dengan seorang wanita tua yang membawa banyak barang dan buah-buahan dalam kantong plastik transparan, secara kebetulan mereka turun bersamaan menuju ke pasar.
Baru saja kaki Relina dan ibu tua itu menginjak trotoar, kantong plastik yang dibawa oleh Ibu itu putus, mengakibatkan barang yang ada di dalamnya pun berhamburan. Ternyata barang yang dibawa ibu tua itu adalah buah tomat yang mungkin akan dijualnya ke pasar.
Ibu tua itu tentu sayang dengan barang dagangannya, hingga tanpa pikir panjang, ibu tua itu berlari mengambil barangnya yang berceceran sampai ke jalan.
Di saat yang bersamaan, Relina melihat sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi ke arah mereka, membuat gadis itu tanpa berpikir panjang, berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya.
'Tolong berhenti, atau kau akan membunuh orang tua yang tidak bersalah!'
Dia melakukan itu sambil memejamkan matanya, seolah pasrah apabila mobil itu menabraknya, daripada menabrak seorang ibu tua yang sedang mengambil barang dagangannya.
"Hai! Kau, dasar gila!" Seseorang yang ada di dalam mobil berteriak sambil menginjak rem mobilnya, lalu memukul stirnya dengan keras.
__ADS_1
Bersambung.