
Kepergian keluarga kecil itu dilepas dengan berat hati oleh Junda, yang mengantarkan mereka sampai di bandara Soekarno Hatta Jakarta, ingin rasanya ikut terbang ke tempat Relina berasal. Akan tetapi, jarak dan waktu membuat sebuah hubungan menjadi tidak mudah. Ditambah kesibukan menanggung semua jawaban dari pekerjaan mereka, yang mengharuskan mereka saling merelakan untuk tinggal berjauhan.
Sikap hangat Junda dan ciumannya di pagi hari itu seolah menjadi kenangan indah yang membawa perjalanan semakin berat. Ya, Junda sudah membuatnya tidak bisa berkata apa-apa saat pria itu terbangun dan mendapati Relina tengah menatap wajahnya dalam jarak yang sangat dekat.
Dia memang bertanya, tapi detik berikutnya yang terjadi adalah Junda justru menciumnya dengan kuat namun sebentar karena disaat yang bersamaan kedua orang tua Relina sudah berdiri di depan pintu kamar dan melihat apa yang pria itu lakukan pada Relina.
Junda ingin agar Relina tinggal bersamanya, tapi kedua orang tuanya menentang keras. Alasan mereka karena kumpul dalam satu rumah tanpa adanya ikatan bukanlah tradisi dan kebiasaan masyarakat mereka.
Relina ingin agar kedua orang tuanya tinggal bersama di rumah pemberian Gunara, tapi sekali lagi kedua orang tuanya menolak karena tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka di kampung halamannya. Rosihan dan Renita sudah libur terlalu lama. Hampir dua pekan mereka tinggal di Kota Bogor dan mendiami rumah sewa. Itu bukan waktu yang sebentar untuk meninggalkan sebuah tanggung jawab dari pekerjaan mereka.
Sementara kesehatan Relina belum pulih benar, butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka dan trauma menjadi korban sebuah ledakan.
Renita ingin anak gadisnya di rawat di rumah, kesehatan paru-parunya yang terkena imbas, menjadi lebih parah. Membutuhkan udara bersih setiap hari, selama menjalani pengobatan. Oleh karena itu, Renita bersikukuh untuk membawa Relina pulang ke kampung halamannya.
Beberapa jam melakukan perjalanan akan sangat melelahkan bagi orang yang baru saja sembuh dari penyakitnya. Begitu juga dengan Relina, sesampainya di rumah, dia hanya terus berbaring dan berbaring. Tidak melakukan aktivitas berat selain konsentrasi pada kesembuhannya sendiri.
Setiap hari dia tidak pernah lupa untuk memberikan kabar kepada Junda tentang kesehatannya. Junda pun sering menelepon untuk berbincang di antara kesibukannya. Hubungan mereka berjalan dengan baik walaupun terpisah dengan jarak yang cukup jauh.
Mereka mempunyai keinginan untuk bertemu saat pernikahan sahabatnya Anne dan Dion dilangsungkan. Kesabaran untuk melepaskan rindu menjadi salah satu ujian cinta mereka. Akan tetapi, mereka sering melakukan panggilan video yang bisa menekan kerinduan walaupun sejenak.
“Jadi, tunggu aku akan datang besok dengan ayah,” kata Relina saat Junda menelepon hampir tengah malam karena dia baru saja pulang dari pekerjaannya. Ini akhir pekan di akhir tahun, semua kantor akan lebih sibuk dari biasanya.
“Tuan Atmaja? Apa beliau menyetujui aku jadi menantunya?’ tanya Relina hampir menitikkan air mata karena terharu. Dia pernah bertemu dengan pria itu dan kesan yang Relina dapatkan adalah bahwa pria itu tidak menyukainya.
“Tentu saja, bahkan Ayah sangat senang aku akan menikah. Kami akan datang dengan rombongan kecil saja. Tapi kamu tidak usah repot-repot menyiapkan apa pun, kami yang akan mempersiapkan semuanya.”
“Heh, mana bisa begitu. Kan kalian tamu.”
“Tidak masalah, tapi kamu sudah sehat benaran, kan?”
__ADS_1
“Ya,” jawaban Relina singkat tapi sudah meyakinkan Junda bahwa rencananya akan sempurna karena tidak lama lagi dia bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya.
Waktu berjalan sekian lamanya, hingga tanpa mereka sadari sudah hampir satu bulan dari perpisahan mereka.
Panggilan malam itu diakhiri dengan perasaan Relina yang gelisah. ‘Bagaimana mungkin besok. Bahkan pernikahan Anne masih dua hari lagi' batinnya.
Pikirkan Relina bercabang antara membiarkan semua tanpa persiapan atau mulai bersiap sekarang juga. Ini lamaran untuk dirinya secara resmi oleh pihak keluarga Junda, dia tidak bisa mengabaikannya. Siapa yang tahu bila kejadian ini hanya akan terjadi sekali dalam seumur hidupnya.
“Ibuk ...!” akhirnya Relina keluar kamar dan memanggil ibunya yang sudah terlelap.
Berulang kali Relina mengetuk pintu kamar Renita, hingga beberapa saat kemudian pintu terbuka dengan wajah Rosihan yang matanya merah serta sembab karena baru bangun dari tidur.
“Ada apa?” tanya pria bertubuh tambun itu dari pintu yang dia biarkan terbuka, sementara Renita duduk di atas tempat tidur, memandang keluar dengan mata yang mengantuk juga.
“Besok keluarga Junda mau melamar ke sini!” kata Relina dengan nada bicaranya yang gelisah.
“Apa?” Renita dan Rosihan bertanya dengan penuh tekanan disertai rasa tak percaya karena ucapan Relina yang tidak mereka duga.
“Ada apa, sih? Berisik!” kata Royan sambil mengucek matanya dan keluar kamar. Namun, dia melihat ketiga anggota keluarga lainnya yang tengah berdiri saling berhadapan dengan gelisah, di ruang tamu. Anak remaja itu menjadi heran dan kembali bertanya dengan rasa penasaran.
“Kenapa semua belum tidur, ini sudah jam berapa?”
Semua menoleh pada Royan dan jam dinding secara bergantian. Setelah itu, pertanyaannya diabaikan. Ketiga anggota keluarga kembali menyelesaikan urusan.
Relina baru saja mengatakan semua rencana yang dia dengar dari Junda, bahwa keluarga kecilnya akan datang untuk melamarnya keesokan harinya. Dia heran kenapa pria itu mengabarkan kedatangan secara mendadak.
“Bagaimana ini, Yah?” tanya Renita sambil meremas tangannya sendiri. Akan tetapi suaminya yang di tanya, tampak tenang sambil mengusap wajahnya.
“Kalau mereka bilang, kita tidak perlu repot-repot, ya sudah. Buat apa kita siap-siap.”
__ADS_1
“Tapi, Ayah, ini kan lamaran. Masa sih kita gak masak-masak?” Kata Renita yang di setujui oleh Relina dengan anggukan kepala.
“Ya, kita lihat seperti apa kesungguhan keluarga itu untuk menjadikan anak kita menantu. Undang saja Kamaman Jio, Minan Lei dan Bude Rahmi, Pak RT, dua atau tiga tetangga. Ayah rasa itu cukup.”
“Ah, jangan kasih tahu Minan. Dia cerewet.” Relina menimpali.
“Biar cerewet juga dia minanmu!” kata Renita menyahuti anaknya.
“Ya, ya sudah. Kita tidur saja sekarang, sudah malam. Kita bicara lagi besok.”
“Kita masak apa ya, Buk?”
“Gak usah masak. Beli saja kacang goreng di pasar!” jawab Renita asal, lalu melangkah ke kamar. Wanita itu terlihat kesal, meninggalkan Relina diam mematung dan berteman dengan otaknya sendiri yang juga kacau.
Sesampainya di kamar, Renita tidak bisa tidur karena pikirannya berkecamuk memikirkan penyambutan tamu yang akan datang besok. Ini adalah acara pertamanya dalam urusan lamaran.
Sebagai ibu, dia ingin memberikan yang terbaik untuk acara dan momen penting bagi anaknya, walaupun dia tahu bahwa segala sesuatu pasti ada kekurangan dan kelebihannya. Akan tetapi yang terjadi pada dirinya saat ini adalah berita mendadak kedatangan keluarga Junda.
Apalagi maksud mereka mengunjungi rumahnya untuk mempersunting Relina. Wanita itu tidak tahu apa yang bisa dilakukan dengan waktu yang sedemikian singkat.
Renita hanyalah orang kampung biasa yang merasa was-was apabila dalam penyambutan tamunya nanti, kekurangan mereka sangat banyak. Dia tidak ingin membuat malu anak gadisnya, dirinya sendiri dan juga keluarganya.
Rosihan juga berada pada posisi yang sama-sama gelisah dan kuatir, tetapi pria itu tetap tenang walau tidak bisa tidur. Dia menoleh pada istrinya yang belum juga terpejam.
“Sudah, Buk. Besok ya kita hadapi besok, sekarang tidur, jangan banyak pikiran!” kata Rosihan tenang, sambil membenarkan letak selimut lalu merubah posisi membelakangi istrinya.
*****
Keesokan harinya, ada aktivitas yang tidak biasa terjadi di rumah Relina, bersama kedua orang tuanya. Ada beberapa tetangga dan juga saudara yang tampak duduk-duduk di teras dan beranda ruang tamu rumahnya.
__ADS_1
Bersambung