Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kebun Rayakan Cinta


__ADS_3

Setelah Relina masuk dan membayar tiket pandangannya langsung tertuju pada beberapa foto atau dan beberapa artikel di dinding. Semua tempat bersejarah, selalu ada informasi seperti ini. Artikel yang sengaja dibuat seperti majalah dinding telah di sekolah-sekolah.


Gadis itu membacanya dengan teliti. Selama yang ia tahu, kebun Raya Bogor ini dibuat dan diresmikan oleh seseorang di zaman Belanda. Ia masih ingat bila tempat itu dikembangkan oleh Thomas Stamford Raffles.


'Ahk, aku lupa ... apa dia orang yang sama yang disebut-sebut sudah menemukan bunga bangkai sehingga bunga itu diberi nama rafflesia sesuai dengan namanya?'


Sekarang dia baru tahu ternyata sebenarnya kebun raya ini tidak dibuat oleh Jenderal Gooder Alexander Gerald Philips pada tahun 1817. Salah satu Jendral Hindia Belanda itu, dibantu oleh James Hooper dan seorang temannya lagi dari W Kent dari kebun botani yang terkenal, di Richmond Inggris.


Pada kenyataannya kebun raya ini awalnya merupakan keputusan yang dilakukan dan diinisiasi oleh Sri Baduga Maharaja di zaman kerajaan Prabu Siliwangi, yang berjaya di tahun 1474 sampai 1813 dan semua ini tertulis di dalam prasasti batu tulis, yang dijaga kelestariannya sampai sekarang.


Raja Sri Baduga waktu itu membangun kebun Raya itu dengan tujuan untuk melindungi berbagai macam tanaman dan sebagai kebun pengembangan lingkungan hidup.


'Hmm ... mulia sekali tujuannya waktu itu. Sekarang justru jadi tempat wisata'


Hal luar biasa bagi Relina yang baru mengetahui sejarah dari kebun raya ini, ternyata di inisiatif oleh seorang raja di zaman kerajaan, sebelum Belanda berkuasa atas negeri. Mereka sudah berpikir positif jauh kedepan untuk melindungi lingkungan hidup dan mengembangkan berbagai macam tanaman.


"Ekhem!" terdengar suara orang berdehem cukup keras di samping Relina, membuat lamunannya terhenti seketika dan menoleh.


Relina melihat seorang perempuan yang hampir mirip lelaki dari gaya pakaian yang dikenakannya serta model rambut set, tanpa anting-anting pula.


'Eh, aku pikir dia laki-laki'


Kalau bukan karena cincin berlian serta tas slempang kecil warna merah, yang tergantung di bahunya, membuatnya nyaris legal dipanggil, Mas!


"Serius banget sih?" kata gadis itu sok akrab. Relina hanya tersenyum simpul mencoba saling menghargai antar pengunjung. Hanya ada mereka berdua di papan informasi itu, mengingat sekarang bukan hari libur, membuat suasana tidak terlalu ramai.


"Silahkan, Teh ... kalau mau baca."


"Ck! Teh, Teh, panggil aku Ica!" Kata gadis manis itu sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.


Ia mengajak Relina berkenalan karena siapa pun yang ingin berkeliling di sana memang butuh teman bicara, sepertinya mereka berdua cocok. Relina menyambut tangan gadis itu dan karena dia lebih tinggi dari Relina membuatnya sedikit mendongak saat bicara.


"Kamu sendiri?" Tanya Ica dan Relina mengangguk.


"Mau jalan-jalan bareng, gak? Aku juga sendiri."


"Kebetulan sekali, apa kamu lagi ada masalah?"


"Maksudnya?" Tanya Ica heran. Ia ragu sambil melihat sekilas ke penampilan dirinya yang mungkin terkesan seperti gadis bermasalah.


Saat mereka berbincang-bincang, langkah kaki mereka mulai melewati bangunan berbentuk bulat, dengan beberapa tiang penyangga yang kokoh bercat putih, sebuah aula yang menjadi maskot atau cirikhas tempat itu.


"Maaf, aku hanya menduga mungkin kita sama-sama ada masalah sampai dateng ke sini buat menenangkan diri."

__ADS_1


Ica tertawa, "Jadi kamu masih ada masalah?" Memang rasanya aneh apabila datang ke suatu tempat yang selayaknya dijadikan ajang untuk berkumpul bersama itu, hanya didatangi seorang diri.


"Iya, sedikit." Relina mengatakan tanpa beban. Karena buat apa kesedihan bila tidak akan merubah keadaan? Pikirnya.


"Boleh, aku tahu?" Ica menoleh pada Relina.


"Entah kenapa aku dikeluarkan daril pekerjaanku."


"Jadi kau habis dipecat?" Ica menunjukkan reaksi prihatin.


"Ya ... begitulah." Relina berkata sambil mengangkat bahu dan tangannya sedikit. Tanpa diminta, dia menceritakan kejadian yang dialami hari itu baik saat bersama dengan Junda ataupun saat ia menjalani rapat di hotel.


Mereka berbicara sambil terus menikmati pemandangan sekitar, berbagai jenis pepohonan, yang rimbun dan aneka tanaman lain di sepanjang jalan itu, memanjakan mata mereka. Suasana menjadi lebih hangat saat mereka saling menceritakan pengalaman dan juga alasan mereka bisa sampai di sana.


Relina menganggap mungkin hari ini adalah saat terakhirnya di kota, yang terkenal dengan talas dan asinannya itu. Ia merasa belum sempat mengunjungi beberapa tempat wisata, walaupun sudah setahun lebih menjalani aktivitas sebagai penduduk kota.


"Lalu, apa yang terjadi padamu, pastinya bukan karena menenangkan diri dan menganggap tempat ini sebagai perpisahan seperti aku, kan?" Tanya Relina.


"Hmm ... tidak," jawab Icha dengan wajah berubah sedih. "Aku sengaja berkunjung ke sini untuk mengenang seseorang," katanya lagi.


'Oh ya? Apa kau juga sering ke sini setiap tahun?"


Icha mengangguk diselingi tawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, padahal tidak ada yang lucu saat mereka berbicara tadi. Ia merasa dirinya naif karena setiap kali pergi ke tempat itu berharap orang yang ia cintai berada di sana, tengah mencarinya juga.


'Kesalahan seperti apa, misalnya? Ahk ... bukan urusanku'


"Lalu mana suamimu sekarang, kenapa kau sendiri?"


"Hahaha ... pernikahanku dibatalkan secara sepihak."


"Jadi kau tidak jadi menikah dan kekasihmu sudah terlanjur pergi?"


'Ya Tuhan, nasibnya lebih tragis dariku, dia mungkin mengalami cinta dari kesalahan one night stand , lalu ditinggal saat hari pernikahan'


"Ya begitulah, seperti cerita dalam dongeng, ya?"


Relina mengangguk sambil melihat cincin berlian di tangan Ica. "Jadi kau berharap dia mencarimu karena merindukanmu di sini?"


"Ahk, sudah ... jangan mengejekku. Dia tidak mungkin mengingatku, kan?"


"Kenapa, ya selalu seperti itu cinta perempuan, hanya menyukai satu pria dalam hidupnya, kecuali bila pria itu benar-benar menyakitinya, barulah dia akan meninggalkannya, iya kan?"


Ica mengangguk, "kamu benar."

__ADS_1


"Kalau dia memang mencintaimu, dia pasti akan mengingatmu." Sahut Relina sambil tersenyum.


"Ya, mudah-mudahan saja,"


'Ahk, aku sudah seperti orang gila saja datang ke tempat ini hampir setiap bulan'


"Oh maaf, aku berbicara cara seperti ini. Padahal kita baru saling mengenal."


"Justru karena kita tidak saling mengenal maka kita tidak akan membicarakan rahasia kita masing-masing pada orang lain, kan?" Relina mecoba berpikir positif. "Berbeda kalau kita punya banyak teman yang saling kenal, aku bisa membicarakanmu di belakangku."


Mereka tergelak kecil bersama.


Tak terasa mereka sudah melewati satu lokasi, dan sekarang mereka berdiri di depan pagar Bungan bangkai yang terkenal itu, bunga yang akan mekar dalam setahun, sekali atau dua kali.


"Ya baiklah, terima kasih kau sudah mau mendengarkan keluh kesahku," kata Ica.


"Sama-sama, semoga kita sama-sama beruntung, ya? Kou bisa menemukan kembali kekasihmu."


Mendengar ucapan Relina, Ica tersenyum. Sebenarnya laki-laki itu bukan kekasih yang sesungguhnya. Dia adalah pria yang sudah mengambil hatinya sejak mereka melakukan hubungan terlarang, hubungan yang sama sekali tidak mereka inginkan. Oleh sebab itu Ica mengatakan semua adalah sebuah kesalahan. Hanya saja dia tidak bisa melupakan laki-laki yang baginya sangat keren.


'Dia bukan kekasih, tapi jejaknya membekas sangat jelas, mungkin aku tidak bisa melupakannya, seumur hidupku'


"Ya, kau juga bisa menemukan kembali pekerjaanku yang bagus dan bisa kau jalani sepanjang tahun." Ica pun mendo'akan kebaikan untuk Relina.


Mereka mengakhiri obrolan, saat menyadari ternyata hari sudah menjelang sore. Mereka tidak terasa sudah melalui beberapa bagian, di lokasi kebun Raya Bogor yang terkenal itu.


Untuk merayakan pertemuan mereka, Icha mengajak Relina makan di sebuah restoran yang tidak jauh dari sana. Di saat mereka melintas keluar dari tempat itulah sekelebat bayangan seorang laki-laki yang belum lama ia kenal. Sosok pria itu tertangkap oleh ujung mata Relina yang menumpang di mobil milik Icha, sedangkan Icha fokus mengemudikan kendaraannya.


'Eh, itu tadi Pak Fuad, aku tidak salah lihat, kan?'


Relina menoleh ke belakang, hingga dia melihat dengan jelas laki-laki dewasa, yang sedang berjalan memasuki kebun Raya Bogor itu adalah Fuad, mantan manajernya.


"Apa yang kau lihat," tanya Ica karena melihat Relina membalikkan tubuhnya.


"Aku pikir salah lihat tadi, ternyata tidak."


"Siapa?" Tanya Relina tanpa menoleh.


"Mantan managerku Kenapa dia di sini sekarang sudah hampir sore dan sebentar lagi kebun ditutup."


"Oh, mungkin dia hanya memastikan sesuatu yang penting saja."


"Bisa jadi."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2