Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Melamar


__ADS_3

Junda memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati jalanan yang ramai tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Dia khawatir terjadi hal buruk pada Atmaja—ayahnya, dia belum siap untuk kehilangan lagi tahun ini.


Memang untuk sebuah kehilangan, dalam bentuk apa pun, siapa pun, tidak akan pernah siap.


Saat mendengar suara ibu sambungnya dari balik telepon yang mengatakan tentang kesehatan ayahnya, Junda langsung pergi meninggalkan ruang tamu apartemennya dan Relina begitu saja.


Junda tidak berkata apa pun pada Relina yang terlihat khawatir padanya, tetapi dia mencium lembut kening wanita itu tanpa canggung walaupun dilihat oleh calon mertuanya.


Menempuh perjalanan panjang menuju Jakarta, adalah hal yang menuntut kesabaran dan menguras tenaga apalagi kalau bukan karena menghadapi kemacetan.


Sesampainya di rumah sakit swasta tempat Atmaja di rawat, Junda menghenyakkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempat tidur. Ayahnya itu tampak pulas, sedangkan Felia--ibu sambungnya, masih menikmati makan siang.


Antara dua orang berlawanan jenis itu saling diam, tidak ada yang mencoba memulai obrolan karena mereka memang tidak dekat satu sama lain. Junda memejamkan mata, sambil terus berharap bahwa ayahnya akan baik-baik saja.


“Ayahmu terlalu kuatir padamu, pikirannya bercabang antara pekerjaan dan rencanamu untuk menikah, darah tingginya kambuh,” kata Felia setelah dia selesai makan dan membuang kotak kemasan makan siangnya di tempat sampah.


Junda melirik sekilas, pada wanita yang  usianya lebih tua beberapa tahun saja dari dirinya. Dia tidak menyukai Felia, sejak Atmaja memperkenalkan wanita itu sebagai calon istri, kepada Shasi—neneknya ketika masih hidup.


Menurut Junda, wanita itu masih terlalu muda untuk bersanding dengan ayahnya. Oleh karena itu, dua menganggap Felia hanya wanita iseng yang memandang kekayaan saja.


Apalah arti restu Junda yang masih sangat muda, waktu itu dan tentu berbeda dengan Shasi, neneknya itu setuju saja. Dia hanyalah mantan mertua, sejak anak perempuan yang menjadi ibu Junda meninggal dunia, maka semua urusan Atmaja bukan lagi urusannya.


Junda menegakkan punggungnya dan menoleh, sambil menarik napas dia berkata. “Jadi, semua salahku, begitu menurut Tante?”


Felia tersenyum simpul dan menyahut, “Bukan, aku tidak menyalahkanmu, tapi aku hanya ... ah, sudahlah. Kamu pasti tidak bisa mengerti dan selalu menuduhku, kan?”


“Sudah jelas tadi Tante bilang ayah banyak memikirkan aku jadi darah tingginya kambuh!”


“Bukan begitu, Jun ....” Felia berkata dengan lembut dan perlahan tapi Junda masih menatap wanita itu dengan tatapan seribu pedang.


“Lalu?”

__ADS_1


“Aku bilang begini juga karena ada sebabnya, ayahmu sering bilang kuatir padamu, dia terus saja mengulang kata yang sama.”


“Ya, ya benar semua salahku!”


Felia memilih keluar kamar, dari pada ribut dengan Junda. Wanita yang lembut dan ramah itu juga tidak tahu bagaimana harus bicara pada Junda, yang sebenarnya disayanginya seperti dia menyayangi anaknya sendiri. Hanya saja Junda terlanjur membencinya.


Waktu berjalan terasa begitu lambat walaupun berlalu beberapa menit saja sejak kedatangan Junda. Atmaja terbangun setelah itu dan dia tersenyum begitu melihat Junda duduk di dekatnya.


“Kamu di sini?” kata Sanga ayah yang beberapa helai rambutnya sudah memutih.


“Ayah kenapa?”


“Aku baik, Cuma butuh istirahat saja. Ibumu saja yang terlalu kuatir padaku, jadi dia membawaku ke rumah sakit. Dia tidak ingin aku sakit. Kamu tahu, kan, dia selalu begitu.”


Atmaja seperti mempromosikan istrinya, padahal hal seperti itu yang tidak disukai oleh Junda. Baginya, ucapan ayahnya membandingkan ibunya yang sudah tiada. Akan tetapi maksud dari Atmaja adalah, agar Junda menyayangi ibu sambungnya.


Junda mencebik, lalu berkata dengan tegas. “Tapi dia bilang ayah sakit gara-gara aku!”


“Ya, aku tahu maksudmu. Biarkan saja Junda bilang begitu. Aku memang mikirin anak ini.”


Atmaja mencoba untuk duduk dan Junda membantunya. Kedua pria itu pun melanjutkan obrolan mereka tentang rencana Junda dan wanita yang bernama Relina. Sementara Felia hanya duduk diam di sofa tanpa ingin terlibat sama sekali dengan urusan Junda. Dia yakin apa pun pendapatnya, maka anak suaminya itu tidak akan mendengarkannya.


Junda merasa bahwa jodohnya sudah dekat, dia yakin Tuhan sengaja mempertemukan dirinya dengan Relina. Pertemuan mereka memang selalu diwarnai dengan kejadian Dami kejadian yang menguras energi dan emosi, tapi sepertinya itulah tujuannya.


Sejak awal kisah kedekatan mereka dan semua kejadian itu, akhirnya membuat Junda menyimpulkan bahwa antara dirinya dan Relina saling membutuhkan dan bila mereka bersatu maka mereka akan mengalami nasib yang berbeda. Apalagi setelah mengetahui persamaan yang ada, pria itu merasa tidak sendirian hidup di dunia dengan tanda aneh semacam itu.


Atmaja tertawa keras mendengar akhir dari obrolan mereka, padahal dia tengah sakit. Pria itu terlihat berseri-seri.


“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Ahk ... jadi begitu rupanya. Cepatlah lamar dia.” Atmaja berkata penuh antusias setelah berhenti tertawa. Dalam hati pria itu menyesal, seandainya dia tahu banyak tentang Relina, maka dia tidak akan bersikap begitu katus pada gadis itu.


“Ayah, dia masih sakit. Ayah juga harus sembuh dulu.”

__ADS_1


“Ahk, jangan pikirkan Ayah. Kapan kita akan ke rumahnya? Jangan lama-lama, aku tidak suka kamu tinggal perusahaanmu lagi!”


“Ya. Asal ayah cepat sembuh. Rumahnya jauh,” kata Junda.


“Di mana?”


“Lampung!’


“Hmm ....”


Junda tidak menginap malam itu, walaupun, Atmaja memintanya. Alasannya adalah, dia ingin memastikan kepulangan Relina keesokan harinya, tidak mengalami kendala. Dia sudah mempersiapkan semuanya, termasuk menyediakan kendaraan yang akan mengantarkan mereka sampai di rumah.


Sesampainya Junda di rumah sewa, hari sudah larut malam. Dia tidak membangunkan siapa pun karena saat memasuki rumah dengan menggunakan kunci cadangan, dia mendapati semua orang sudah tertidur.


Junda merebahkan dirinya di sofa panjang, walaupun cukup besar, tapi tetap saja tidak cukup untuk tubuhnya yang tinggi melebihi panjang kursi. Kelelahan menderanya, dalam sehari melakukan perjalanan, mengendarai mobil sendiri, pulang pergi antara Kota Bogor dan Jakarta.


Meskipun, rasa lapar seperti memeras perutnya, tidak dia peduli karena rasa kantuk dan lelah lebih mendominasi, sehingga membuatnya cepat tertidur.


Saat Relina terbangun keesokan harinya, dia melihat Junda yang tertidur dengan lelap di sofa. Rasa kasihan mengikuti pandangan matanya karena pria itu tampak tidak nyaman dengan posisi meringkuk menyesuaikan tempat yang sempit dan tidak sesuai ukuran tubuhnya.


Gadis itu membelai pipinya dengan lembut karena kuatir membangunkannya. Dia menatap wajah yang tampak polos tanpa dosa saat terpejam, menikmati pemandangan indah dan tampan yang sudah membuatnya jatuh cinta dalam ingatan.


Tanpa Relina sadari, Junda membuka matanya secara perlahan dan ia tersenyum melihat Relina yang tengah berlutut menatapnya dalam jarak yang sangat dekat.


"Aku tahu kamu mencintaiku," ucapan Junda yang tiba-tiba, membuat Relina terkejut.


 


 


 

__ADS_1


 Bersambung


__ADS_2