Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Situasi Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Junda tidak tahu apa yang harus dilakukan, hatinya mendadak miris melihat Relina yang menangisi Gunara, sambil berlutut. Pria itu mendekat menyibakkan kerumunan. Lalu menjulurkan tangan menyentuh bagian lehernya.


“Hei. Tenanglah, dia masih hidup!” kata Junda, sambil mengguncang bahu Relina, bermaksud menyadarkannya, agar berhenti menangisi Gunara.


Saat kecelakaan terjadi, Relina baru saja selesai mengantarkan pesanan kopi, di toko elektronik yang terletak tak jauh dari kedai kopi Danu. Dia tidak tahu bagaimana kejadian sebelumnya, yang ia tahu, beberapa orang berusaha mengeluarkan seorang pengemudi yang terluka di bagian kepala, tangan dan kakinya.


Relina mendongak, seketika dia menghentikan tangisannya saat menatap Junda. Banyak emosi terkumpul menjadi satu terpancar dari raut wajah sembabnya.


Hatinya baru saja melayang karena senang menerima kabar kedatangan Gunara, tapi kemudian dihempaskan dalam kesedihan lagi, setelah melihat kecelakaan ini. Kini matanya disungguhi pemandangan orang, yang menyebalkan ada dihadapannya.


Saat menatap Junda, Relina masih membayangkan bagaiman dia mendapatkan kesedihannya. Yaitu ketika dia mlihat ke arah seorang pria, dikeluarkan dari mobilnya yang ringasek, akibat kecelakaan. Betapa terkejutnya dia saat menyadari orang itu adalah Gunara! Pria yang dia harapkan kedatangannya. Tanpa sadar dia pun menangis.


Mobil itu di tabrak dari sebelah kanan tepat di mana Gunara duduk mengemudi. Tentu saja tidak ada pengaman seperti air bag di bagian samping badan mobil.


Peristiwa kecelakaan itu berawal dari sebuah motor besar yang menghindari seorang pejalan kaki. Orang itu menyeberang jalan sembarangan, sementara motor melaju dengan kecepatan tinggi. Tabrakan pun tidak dapat dihindarkan.


Setelah melihat Relina diam, Junda membungkuk untuk meraih tubuh Gunara dan membawanya ke mobil. Sementara seseorang menghubungi Ambulans dan polisi, karena masih ada seorang lagi yang mengalami kecelakaan.


“Jun, apa kamu mau menambah masalah, dengan ini?” Syalu bertanya sambil mengikuti Junda yang memasukkan Gunara di jok bagian belakang mobilnya. “Kita pasti terlambat!”


Junda tidak dapat menjawab, dia sendiri tidak tahu, yang dia rasakan adalah hatinya yang tergerak oleh karena apa ketika melihat Relina yang menangis. Dia tidak tega. Ada sisi hatinya yang seolah ikut teriris melihat air mata yang membanjiri pipinya.


Junda berbalik dan menatap Syalu dengan tatapan mata tanpa ekspresi. Lalu berkata, “aku Cuma mau nolong dia saja. Kamu kenal dia kan?”


Syalu mengangguk, “iya, kira-kira kenapa Pak Gunara di sini, ya?”


Tiba-tiba Relina mendekat, dan berteriak, “Pak! Tunggu!” dia sudah meminta izin untuk pergi ke rumah sakit. Dia mengatakan dengan jujur tentang orang yang sudah mengalami kecelakaan, pada Danu, sehingga pamannya itu pun mengizinkannya.


Melihat wanita yang berjalan dengan cepat ke arah mereka, Syalu pun melotot ke arah Relina.

__ADS_1


‘Ahk, kebetulan macam apalagi ini?’ batinnya.


“Bapak mau ke rumah sakit, kan? Saya ikut ya, Pak?” kata Relina dengan wajah memelas. Junda menatapnya sekilas dengan kerutan di keningnya, lalu mengangguk.


“Ayo!” kata Junda sambil berjalan mengitari mobil dan masuk sambil mengusap wajahnya dengan pangkal lengannya. Dia berkeringat, tubuh Gunara tidak gemuk, bahkan tergolong kurus, tapi tetap saja berat.


Saat mobil berjalan, Relina yang duduk di sisi Gunara, menyimpan kepalanya di atas pahanya. Junda melihat semua yang dilakukan Relina dari kaca spion di depannya.


Tak lama setelah kepergian Junda, Ambulans dan polisi pun datang. Menyelesaikan masalah yang terjadi di jalan raya dan kerumunan masa pun akhirnya bubar setelah hampir satu jam membuat kemacetan.


Sesampainya di rumah sakit, Junda memanggil petugas, untuk membawa Gunara menggunakan ranjang pasien yang bisa didorong, atau sering disebut emergency stretched.


Setelah menjelaskan keadaan sebelumnya, mereka bertiga menunggu di luar pintu ruang gawat darurat.


“Jun, ayo kita berangkat sekarang!” ajak Syalu sambil menggamit tangan Junda, sambil melirik Relina yang terlihat cemas dan mengabaikannya.


Dia kesal menghadapi situasi yang tidak diduga. Bertemu kembali dengan mantan karyawan yang pernah membuatnya khawatir bila dekat dengan Junda. Waktu itu Syalu berusaha agar Junda sedikit mungkin bisa berinteraksi dengan Relina.


Relina berusaha menghubungi Fuad, namun panggilannya selalu diabaikan. Mungkin Fuad sedang sibuk, pikirnya. Hanya nomor Fuad yang bisa dia hubungi, untuk mengabarkan keadaan sahabatnya. Gadis itu tahu hubungan antara Fuad dan Gunara sebagai saudara, setelah dua hari ini sering berkirim pesan dengan Gunara.


“Kamu mau nunggu dia di sini sendiri. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Junda, yang membuat Relina kembali menatapnya penuh emosi seperti tadi. Akan tetapi Relina menyimpan rasa kesalnya kali ini.


Situasi yang ada, tidak memungkinkan baginya untuk membahas masalah saat dia dibawa ke rumah Atmaja. Lalu Junda membuat pengakuan konyol yang semena-mena, di hadapan keluarga Atmaja, bahkan tanpa persetujuan, mengatakan bahwa dirinya adalah kekasihnya.


Relina mengangguk, lalu berkata, “terima kasih, Pak. Sudah menolong kak Gun.”


“Kamu, apanya dia? Kenapa kamu nangisin dia, kamu pacarnya, ya? Sejak kapan, udah lama?” cecar Syalu tanpa malu-malu, dia berdiri diantara Junda dan Relina.


Sejak dari tadi dia merasa Relina mengabaikan dan tidak menghormatinya. Walaupun, dia bukan lagi atasannya, tetap saja dia merasa bahwa seharusnya Relina menghargainya.

__ADS_1


Sementara Relina merasa bahwa Syalu mempunyai sesuatu yang tersembunyi. Mengingat ketika dia dipecat dulu, raut wajah Syalu justru terlihat bahagia dan senang dia tersenyum lebar. Menurut Relina, seharusnya saat itu Syalu membelanya, karena kenyataan bahwa dirinya dipecat tanpa alasan oleh Junda.


Gadis itu merasa tidak perlu berbasa-basi dan menghormati Syalu saat ini karena baginya, mereka tidak terlibat apa pun, selain antara orang yang saling mengenal saja.


“Maaf Bu Sya, pertanyaan Anda sangat pribadi bagi saya .. dia sahabat saya saat kuliah dulu,” sahut Relina dengan tenang. Sementara hanya itu saja yang bisa dia katakan pada Syalu.


Relina menutupi kegalauan hatinya, tidak bisa menghubungi siapa pun dari pihak keluarga Gunara, sedangkan dia tidak mungkin menungguinya di rumah sakit seharian.


‘Saya juga tidak tahu kalau akan bertemu dengan dia, di kota ini, saya hampir saja bekerja dengan Kak Gun, kalau bukan karena seseorang’ batin Relina.


Sebenarnya ketika kecelakaan itu terjadi, Gunara hendak mengunjungi Relina di tempat kerjanya. Namun sepertinya takdir belum mengizinkan mereka bertemu kembali.


“Baiklah, kalau begitu, aku pergi,” Kata Junda sambil berjalan melewati dan melirik Relina, yang juga tengah melempar pandangan padanya, hingga tatapan mata mereka pun beradu.


“Baik. Terima kasih, Pak!”


Junda tidak menyahut, dia menyeret langkah kakinya yang terasa berat menjauhi Relina, padahal dalam hati ia masih kesal dengan kejadian dua hari yang lalu. Gadis itu pergi meninggalkannya begitu saja, tanpa meninggalkan pesan apa pun padanya.


Dia tidak tahu apa yang Relina katakan kepada ayahnya, sementara Atmaja tidak mengatakan apapun tentang Relina. Akan tapi setidaknya sekarang Junda tahu tempat Relina bekerja.


Setelah beberapa lama Relina menunggu, akhirnya Gunara selesai diberi perawatan. Seorang dokter keluar dan memberi penjelasan bahwa Gunara mengalami pendarahan pada otak dan beberapa luka di kepala, kaki dan tangannya yang mengalami patah tulang.


Membutuhkan waktu penyembuhan yang cukup lama, mengingat di kepalanya terdapat luka dari pecahan kaca yang cukup dalam. Butuh kesabaran untuk menunggu agar dia segera siuman. Itu artinya Gunara, koma. Dokter itu kembali memberikan penjelasan, bahwa sekarang dia belum melewati masa kritis.


Mendengar hal itu Relina semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Seorang yang dalam masa perawatan seperti ini, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara Fuad, tidak juga bisa di dihubungi.


Disaat Relina tengah bingung itulah, ada seseorang yang berteriak memanggil namanya, dari arah koridor.


“Hei! Reli! Kamu Relina, kan?”

__ADS_1


Relina menoleh dan tiba-tiba bibirnya tersenyum lebar.


Bersambung


__ADS_2