Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Jauhi Dia


__ADS_3

Junda memang pria dewasa yang mandiri dan sudah memiliki segalanya, tapi dia juga manusia biasa yang masih menginginkan kasih sayang dari seorang wanita. Ibunya sudah lama tiada, sehingga tidak mungkin dia mendapatkan kasih sayangnya. Belum lama ini neneknya, satu-satunya orang yang memperhatikan dan menyayanginya, juga telah pergi meninggalkannya. Sekarang dia melihat Relina--kekasihnya sedang kesakitan lalu ibu Relina terlihat tidak menyukainya, membuat perasaannya semakin hancur.


“Tapi, Anda ibu Relina, dia sudah jadi kekasih saya. Jadi, Anda, ibu saya juga.” Junda menukas ucapan Renita setelah diam beberapa saat.


“Kamu bilang kekasih, kalian ada hubungan apa, memangnya? Jangan harap saya setuju, ya! Anak saya sakit gara-gara kamu, kan?”


“Ibu, kalau saya bisa menggantikan posisinya sekarang, maka saya akan menggantinya!” sahut Junda saat Renita berhenti bicara.


“Haish! Nyatanya tetap tidak bisa, kan?”


“Kalau saya tahu Ibu marah seperti ini, sepertinya lebih baik saya tidak memberitahukan soal Relina. Saya bisa mengurusnya sendiri.”


“Kamu?”


Rosihan yang sejak tadi hanya diam duduk di kursi ruang tunggu, berdiri dan menenangkan istrinya, mengajaknya untuk duduk.


“Sudah, sudah, Bu, yang Junda katakan itu benar. Kita harus bersyukur, Nak Junda memberitahu kita soal Relina, dari pada kita bingung nggak bisa menelepon dia dari kemarin, kan?”


Junda melihat Relina dari jendela kaca, melihat gadis itu terbaring di sana, seolah nyawanya terbelah dan separuhnya terperangkap dalam tubuh Relina.


Setelah beberapa saat kemudian, Rosihan berdiri di samping Junda, melihat ke arah yang sama. Junda menoleh, saat pria yang bertubuh gemuk itu bicara.


“Ceritakan bagaimana kejadiannya pada kami ....” Suara Rosihan terdengar parau, menahan beban dari rasa bersalah, di hatinya. Sebagai ayah, melihat anaknya terbaring lemah seperti ini, membuat hatinya meronta.


Junda pun bercerita, bagaimana dirinya dan Relina bisa berada di tempat kejadian, sesuai permintaan Rosihan padanya.


Pada saat itu, sungguh tidak ada satu orang pun yang tahu kejadian apa yang akan mereka alami berikutnya. Seandainya tahu, mungkin Junda tidak akan mengajak Relina ke tempat itu. Apa yang terjadi pada Relina, sama sekali bukan salahnya tetapi pria itu tetap saja merasa berdosa.


“Kamu, kan, tahu keluargamu yang percaya Kamu punya tanda sial? Coba lihat sekarang, anak saya akan selalu sial kalo dekat sama kamu!”


Mendengar perkataan dari Renita, Junda mengernyitkan alisnya, dia menduga mungkin Relina yang telah menceritakan kepada keluarganya, sehingga mereka tahu semuanya. Dia menyadari, biar bagaimanapun juga, baik soal mitos tanda lahir yang dipercaya ataupun tentang hubungan Relina dengannya, tetap harus diketahui oleh keluarga Relina.


Sedangkan kepercayaan yang ada, sama sekali bukan kesalahan Junda, sekeras apa pun dia menolaknya, tetap saja terkena imbasnya. Akan tetapi Junda menerimanya dengan lapang dada. Dia tetap harus menghadapinya walau enggan.


Junda mengangguk, sambil berkata, “Sebenarnya kepercayaan keluarga saya, tidak ada hubungannya dengan Relina dan kalau memang yang terjadi adalah kesialan dari tanda lahir yang saya miliki, saya benar-benar tidak tahu kenapa harus Relina. Maaf, saya tidak tahu, saya tidak ingin Relina mengalaminya.”


“Kamu itu mikir gak, si? Kesialan itu harusnya kamu sendiri yang nanggung, tapi lihat, justru anak saya kena akibatnya! Jadi, saya minta kamu menjauhi Relina, sekarang juga! Pergi kamu!”


Renita memikirkan beberapa hal selama sisa waktu dalam perjalanannya dari Lampung, hingga ke rumah sakit. Tentang Relina sebelum mengenal Junda, nasibnya selalu baik-baik saja, tidak mengalami hal yang aneh dan menyakitkan. Pasti semua itu ada hubungannya dengan kepercayaan yang Junda miliki.


“Ibu, sudahlah!” Rosihan menyela ucapan kedua orang ada di hadapannya, sepertinya pembicaraan mulai panas.


“Kenapa, Ayah jadi belain dia? seharusnya Ibuk yang Ayah bela ... benar, kan, anak kita celaka karena dia?” sahut Renita geram.


“Bukan ... bukan ... mungkin saja hanya kebetulan saja Nak Junda masih bareng sama Relina.” Rosihan masih berusaha menengahi.


“Ya, itu sama saja, Ayah!” kata Renita. Membuat edua laki-laki yang di sisi kiri dan kanannya itu berdecak kesal, saling mengalihkan pandangan.


Sepertinya perempuan itu sulit sekali di yakinkan, tetap saja merasa bahwa, apa yang terjadi pada anaknya, disebabkan kesialan Junda.


Renita menyimpulkan seperti itu, biasanya alam semesta akan merespon sesuai dengan apa yang seseorang percaya. Kehendak Tuhan terkadang sesuai pula dengan prasangka para hamba-Nya.

__ADS_1


Apabila seseorang selalu berpikir baik dan positif, maka kebaikanlah yang akan didapatkannya, bila selalu berpikir buruk, maka seperti itulah yang akan didapatkannya pula.


Bisa jadi karena kepercayaan keluarga yang mengatakan bahwa Junda akan selalu mendapat kesialan, oleh sebab itu nasibnya pun demikian dan salah satu yang dialami Relina adalah kesialan terbesar bagi Junda.


Jalan takdir setiap manusia seperti aliran arus listrik yang bercabang dan tak beraturan. Takdir yang terjadi pada seseorang akan berbenturan dengan orang lain, berkaitan dan berimbas pada orang lain. Semuanya saling berhubungan satu dan lainnya. Misalnya, kematian seorang ibu akan mengakibatkan seorang anak menjadi yatim, perpisahan antara suami istri akan mengakibatkan anak-anak mereka kehilangan kasih sayang dari keduanya.


Renita sangat menyesalkan, anaknya yang harus menjadi tameng bagi Junda. Dari kisah yang diceritakannya, menunjukkan bahwa Relina secara tidak langsung menjadi pelindung. Entah kebetulan atau bukan, nyatanya itulah yang terjadi.


Sebagai seorang ibu dia tidak ingin anaknya mempunyai nasib yang lebih buruk dari yang dideritanya saat ini. Renita ingin Relina lebih baik dari dirinya, tetapi yang dia lihat adalah cobaan yang bertubi-tubi menimpanya.


Junda pun berpikir sama dan kejadian terakhir ini adalah hal yang paling menyakitkan baginya. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Relina ketika mendekat kepadanya. Seingat Junda, dia meminta maaf dan Relina akan memaafkannya, asal ... kemudian ledakan itu terjadi dan sekarang, sudah hari yang kedua namun Relina belum juga sadar dari pingsannya.


Setelah menceritakan dan mengatakan apa yang seharusnya, Junda meninggalkan tempat itu bersamaan dengan bunyi telepon genggamnya yang berdering. Dia melihat layar ponsel dan panggilan itu dari Atmaja—ayahnya, seketika dahinya berkerut, pria itu jarang sekali menghubunginya, kecuali ada hal yang benar-benar penting.


“Aku dengar gadis itu mengalami kecelakaan, apa itu benar?” Suara berat pria separuh baya terdengar dari ujung telepon, begitu panggilan terhubung.


“Benar,” jawab Junda singkat.


“Jangan terlalu mengurusinya dan jangan menunggunya di rumah sakit, kau harus sadar, siapa dirimu dan siapa gadis itu!”


“Memang menurut Ayah, siapa diriku dan siapa dirinya?”


“Dia bukan siapa-siapa, tidak seharusnya kamu berbuat seperti itu padanya, Junda! Sudah cukup kau membawanya ke rumah sakit. Lebih baik kau mengurus yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu!”


Bagi Atmaja, akan lebih baik bila Junda mengurus perusahaannya sebab ada yang melaporkan bahwa sudah dua hari laki-laki itu tidak pergi ke kantor hanya karena mengurus seorang wanita. Dia sudah memberikan segalanya pada Junda dan tidak ingin anaknya menjadi lemah karena cinta yang belum tentu menjadi jodohnya.


“Ah .. Ayah tidak akan berpikir seperti itu kalau saja Ayah tahu, wanita itu sudah memberi kehidupan padaku.”


“Bagaimana kalau aku benar-benar menikahinya? Apa Ayah masih terus berpikir aku akan menjadi seorang pembunuh? Hanya karena kepercayaan nenek?”


“Itu terserah! Kau akan memberi cap apa pada dirimu nanti? Menjadi seorang pengusaha yang sukses, atau menjadi seorang pembunuh, hanya karena menikahi wanita?”


Sebenarnya Junda sudah tidak peduli dengan mitos itu lagi. Seandainya memang benar salah satu di antara mereka tiada, maka kematian itu bukanlah karena tanda, melainkan memang waktunya hidup di dunia sudah selesai.


Atmaja pun tidak terlalu percaya dengan pemahaman Shasi—mantan ibu mertuanya, tetapi dia memang tidak menyukai Relina bila menjadi pendamping Junda.


“Aku lihat perempuan itu tidak cocok , sepertinya dia penyakitan ... kalau kau menikahinya maka kau akan seperti pengurus bayi seumur hidupmu. Apa kau mau?” kata Atmaja kemudian dengan suara penuh tekanan melalui telepon itu.


“Apa salahnya? Kan, aku mencintainya?” sahut Junda membuat Ayahnya tertawa.


“Kau bilang cinta, apakah cinta itu bisa membuatmu membangun perusahaan, sebesar yang aku berikan padamu? Kau bodoh sekali!”


“Terserah aku, Ayah! Kalau memang Ayah tidak mau membantuku, Jangan membuatku kesal!” Junda berkata dengan nada keras, setelah itu dia mengakhiri panggilan secara sepihak.


Junda pergi menuju tempat parkir, setelah mengakhiri panggilannya. Kemudian berkeliling di sekitar area rumah sakit, dengan menggunakan mobil untuk mencari apartemen yang bisa ditempati oleh kedua orang tua Relina. Dia merasa kasihan pada mereka karena tidak ada tempat tinggal, selama menunggu. Kemungkinan mereka akan tetap berada di sana sampai Relina siuman.


Setelah beberapa lama mencari, akhirnya Junda menemukan tempat yang nyaman dan tidak begitu jauh dari rumah sakit terbaik di kota Bogor itu. Dia menyewanya, sebagai tempat tinggal sementara selama satu bulan. Setelah itu dia memerintahkan satu asisten di rumahnya, untuk mengurus semua perlengkapan dan kebutuhan Rosihan dan Renita di apartemen.


Juanda membantu membeli beberapa perlengkapan dan bahan makanan, agar semua cepat selesai sebelum malam tiba. Setelah semuanya siap dia kembali ke rumah sakit menemui orang tua Relina.


Pria itu berkata dengan sopan setelah mendekat. “Ayah, Ibu ....” Dia mendapati kedua orang itu tengah duduk bersandar di bangku ruang tunggu, dengan keadaan lewu.

__ADS_1


“Sudah aku bilang, aku bukan ibumu!” kata Renita ketus.


Junda tersenyum miring mendengarnya, walaupun wanita itu bukan ibunya tapi dia tetaplah seorang wanita yang layak dipanggil sebagai ibu.


“Bapak dan ibu belum istirahat sejak kemarin, saya sudah menyiapkan apartemen yang bisa digunakan untuk istirahat, Bapak dan Ibu bisa tinggal di sana, selama menunggu Relina.” Junda bersikukuh tetap memanggil Renita dengan sebutan Ibu.


“Pak, Bu, sekarang lebih baik istirahat dulu di sana saya akan menunggu di sini dan saya akan mengabari, kalau Relina sudah siuman.”


“Aku tidak butuh, aku bisa tidur di sini!” Elak Renita masih saja terlihat kesal pada Junda. Dia tampak cuek membereskan beberapa barangnya di kursi.


Akan tetapi berbeda dengan Rosihan yang tersenyum kepada Junda. Laki-laki yang berusia hampir 60 tahun itu, berkata, “Ya, terima kasih Nak Junda. Saya memang butuh istirahat!”


Setelah selesai bicara, laki-laki itu menoleh pada Renita, “Bu, ayo! Kita istirahat di sana saja, kita perlu mandi, ganti baju dan makan.” Katanya sambil berdiri dan meraih tangan istrinya.


Ya, mereka memang butuh istirahat, apalagi saat ini belum ada perkembangan apa pun pada Relina.


Bujukan halus dari Rosihan, akhirnya meluluhkan hati Renita dan dia menurut, pergi ke apartemen yang sudah disiapkan oleh Junda.


Renita tercengang begitu sampai di sana karena semua sudah tersedia, bahkan makanan pun ada, sehingga dia dan suaminya, tinggal menikmatinya.


Junda kembali ke rumah sakit setelah memastikan kedua orang tua Relina merasa nyaman. Saat itu dia melihat beberapa dokter dan perawat tengah memeriksa keadaan Relina yang merupakan pengecekan rutin di sore hari.


“Apa ada perkembangan yang bagus?” tanya Junda.


“Iya,” sahut salah satu dokter yang bertugas. Baru saja terlihat beberapa gerakan halus dari salah satu bagian tubuh Relina, bahkan dia terlihat beberapa kali menarik napas dalam.


Junda bersyukur saat dokter menyatakan Relina akan dipindahkan ke ruang perawatan. Segera dia meminta pelayanan terbaik dan kelas VIP untuknya. Pria itu mengikuti dan melihat semua proses pemindahan dengan sabar, hatinya penuh harap dan doa.


Dia ingin bisa cepat berbicara dengan kekasihnya, berada di ruang rawat inap, maka semua orang bebas melihatnya sesuai jam besuk rumah sakit.


Akan tetapi untuk sementara waktu dia tidak akan memberikan kabar kepada Rosihan dan Renita karena khawatir bila orang tua itu belum sempat beristirahat.


“Apa kamu tidak ingin cepat bangun dan memakai gaun pengantin? Ah ... kamu pasti sangat cantik. Ayo ... bangunlah, kita bisa minum kopi bersama nanti.” Kata Junda, tapi kemudian hening, tak ada jawaban sesudahnya.


Junda dengan setia menunggu, duduk di sisi pembaringan dan terus saja menggenggam tangan sambil terus berbicara, walaupun Gadis itu tidak pernah merespon ucapannya. Sambil mengajaknya bicara, Junda membelai pipi Relina dengan lembut, bahkan menciumnya. Sampai tengah malam dia tertidur dengan menyimpan kepalanya di sisi tempat tidur.


Suara Junda seperti angin yang bermbus membelai pipinya hingga di alam bawah sadarnya, Relina sekuat tenaga berusaha untuk menepis rasa geli di pipinya.


Perlahan-lahan mata Relina pun terbuka, melihat ruangan secara samar-samar dan pandangannya berakhir pada Junda yang sedang tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di sisi tempat tidur.


Gadis itu masih sangat lemah, mencoba memulihkan ingatan secara perlahan-lahan, hingga dia bisa mengingat semuanya. Dia berusaha sekuat tenaga menggerakkan tangannya yang kaku untuk membelai kepala Junda. Namun dia tidak berhasil mengangkat kembali tangannya dari atas kepala Junda.


Pria itu merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, sehingga dia perlahan-lahan mendongak, matanya terbuka lebar saat melihat Relina sedang menyentuh kepalanya. Secepat mungkin dia meraih tangan yang terdapat jarum infus itu, lalu menciumnya


“Kau sudah sadar?” tanya Junda sambil tersenyum dan menatap Relina penuh Cinta. Tanpa menunggu jawaban Relin, dia terus menciumi wajahnya.


Relina mengangguk. Setelah Junda selesai menciumnya.


“Terima kasih .... sayang,” kata Junda.


“Untuk apa?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2