
Relina hampir saja membanting ponselnya ketika dia mendengar suara Junda dari balik telepon. Dia baru saja mencoba kembali menghubungi Ane, ketika laki-laki itu justru mengganggunya. Hatinya butuh pelampiasan untuk menumpas semua sedih dan keraguan.
“Apa lagi yang kau inginkan?” Tanya Relina kesal. Nada bicaranya penuh dengan amarah.
“Jangan marah ... aku sudah minta maaf. Aku akui selama ini salah,” jawab Junda sambil menarik napas dalam, terdengar jelas suara napasnya dari dalam telepon.
“Nah, kalau kamu sudah tahu salah. Jangan diulangi lagi ya? Selamat malam!”
“Tunggu!”
Relina hampir saja menutup sambungan ponselnya, ketika Junda berteriak minta diberi kesempatan untuk bicara.
“Apa lagi?”
“Kita kan sudah sepakat mau berteman. Kenapa kamu begitu?”
“Aku capek.”
“Kalau aku ada di sana, pasti aku pijitin kamu biar gak capek lagi.”
‘Dasar gila!’ Relina membatin dengan bergidik ngeri membayangkan Junda memijit tubuhnya.
“Terima kasih. Tapi maaf, saya tidak berselera dengan tawaran Anda!”
“Hais, masa teman ngomong begitu.”
Junda berniat menggoda Relina.
“Hai, masa ada teman mengganggu begitu?” Relina semakin kesal. Enggan rasanya ladeni godaan Junda.
Hening.
“Mau nggak kamu kerja lagi di kantorku?”
“Nggak.” Relina menjawab tegas.
__ADS_1
“Aku gaji kamu dua kali lipat dari bayaran Syalu.”
Hening.
“Gimana, mau ya?!” Junda memaksa lagi, atau lebih tepatnya merayu.
“Gak. Saya mau pergi.”
“Apa? Pergi ke mana. Jangan, ya ... jangan pergi.”
“Kenapa? Bukannya kamu benci aku, kamu bilang aku sialan, aku wanita malam kamu bilang, aku ....”
Junda tidak dapat berkata jujur, bahwa dia sekarang justru selalu mengingatnya, ingin selalu dekat dengannya, ingin terus bersamanya, dan ingin sekali Relina bekerja kembali di kantornya.
Akhirnya, Junda bercerita tentang kejadian pemecahan Syalu dari jabatannya sebagai sekretaris. Relina tercengang mendengarkan semua cerita itu dari bibir Junda sendiri.
Junda merasa lega, sebab pada akhirnya Relina mau mendengarkan dirinya bicara hanya untuk menceritakan kisah Syalu, yang mencoba melukai diri mereka. Seandainya bukan karena cerita itu, mungkin Relina sudah menutup ponselnya sejak tadi.
Junda telah memanggil Syalu di hadapan kedua orang tuanya, yaitu paman dan bibi Dori, di ruangannya, untuk membuka kelakuan Syalu selama ini. Gadis itu tidak hanya sekali dua kali saja meremehkan Junda, dengan obat perangsang yang dia berikan kepada beberapa pasangan Junda.
Mereka saat itu duduk saling berhadapan di sofa yang tersusun rapi di depan meja kerja Junda di ruangan yang sengaja di kunci rapat.
“Apa semua itu benar, Sya?” tanya ayah Syalu dengan penuh tekanan pada anaknya. Pria berumur itu menatap tajam Syalu, ia tidak bisa membayangkan rasa malunya yang tidak terkira bila Ayah Junda, Atmaja, mengetahuinya.
“Benar Paman,” Junda berkata sambil menunjukkan beberapa bukti. Semua bukti yang dia dapatkan dari teman polisinya Sena. Ada beberapa foto, hasil tes laboratorium, yang menunjukkan jenis obat yang terkandung dalam minuman yang seharusnya di nikmati oleh Junda dan Relina. Juga beberapa bukti lainnya.
Melihat semua bukti itu ada di depan mata, Syalu tidak bisa membantah dan berkata apa pun lagi. Gadis itu tercengang dan tidak menduga bila Junda bisa menguak semuanya secara spontan.
Syalu geram dan kecewa pada dirinya sendiri, yang terlalu gegabah meremehkan Junda. Keinginannya sederhana, ingin melihat bagaimana kebenaran mitos yang Junda percayai.
Selama ini dia selalu menganggap bahwa Junda tidak mempan diberi obat perangsang, bahkan tidak ada efeknya. Padahal sebenarnya, Junda harus melakukan lari sekuat tenaga sejauh beberapa ratus kilo meter, hanya untuk menghilangkan efek obat yang diberikannya.
Untuk itulah ketika Junda terlihat dekat dengan Relina, Syalu memberikan obat perangsang pada Relina dan Junda, dengan dosis diluar kewajaran, agar membuat efek yang jelas dan cepat. Lalu dia akan tersenyum puas bila Relina harus meregang nyawa karena ini.
Betapa menyesalnya dirinya mengetahui bahwa Junda tidak akan bersikap seperti kebanyakan tokoh dan cerita dalam novel, yang mencoba menenangkan diri dan menghilangkan efek obat, hanya dengan merendam tubuh di bawah guyuran air dingin. Tidak akan berhasil!
__ADS_1
“Maafkan kami. Tidak menyadari betapa memalukannya Syalu. Aku berterima kasih karena kamu tidak berminat untuk mengadukan hal ini ke polisi dan mengatakan pada ayahmu.” Kata Dori sambil mengusap wajahnya kala itu.
Junda sangat kecewa, pertama kali mengetahui sikap Syalu, dia pikir hanya sekali itu saja gadis itu mengerjainya. Namun dia tidak menyangka akan terjadi lagi dan lagi. Dia menghargai Syalu, biar bagaimanapun gadis itu mencintainya dan mereka berteman akrab bahkan saling bekerjasama.
Terkadang, cinta bisa membuat seseorang menjadi lemah karena tidak tega melakukan sesuatu yang menyakiti orang yang dicintainya.
Namun yang keluar dari mulut Junda adalah, “Tidak masalah, Paman ... Untuk itu saya ingin paman memaklumi bila saya tidak akan bekerja sama lagi dengan Sya. Tapi bukan berarti kerja sama perusahaan Paman dan Bibi berhenti menjadi mitra Ayah di Jakarta.” Junda berkata dengan tegas dan sungguh-sungguh, sambil menatap Syalu, Paman dan bibi Dori secara bergantian.
“Tentu, tentu. Aku akan menjaga kepercayaan kalian sampai kapan pun juga. Asal jangan bawa masalah Sya, ke permukaan.” Kini bibi Dori yang meminta.
Kehidupan bisnis keluarga mereka bukan berada dikalangan bisnis kelas atas kota. Tingkatan perusahaan mereka mungkin hanya berada di kisaran dunia bisnis tingkat tiga atau lebih rendah lagi, sehingga reputasi, kepercayaan dan kemampuan dan kemitraan, sangat diandalkan.
Bisnis pada level ini akan lebih banyak saingan dan tantangan yang lebih berat dari dunia bisnis tingkat atas. Modal perbankan dan juga mitra kerja akan sangat mempengaruhi keuntungan dan jalannya perusahaan. Oleh karena itu, bila Junda tidak menguaknya dan tetap menjadikan semua yang terjadi menjadi sebuah rahasia, maka keluarga akan sangat berterima kasih padanya.
“Apakah, gadis kekasihmu itu tahu apa yang Syalu, lakukan padanya?” Tanya paman dan bibi secara bersamaan.
“Sejauh ini, tidak. Tapi entah suatu saat ini. Kecuali Syalu tidak bisa menahan diri. Maka saya tidak bisa menjamin untuk selanjutnya,” jawab Junda sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
Melalui semua yang sudah diceritakan pada Relina, Junda berharap bisa meluluhkan hatinya dan gadis itu akan dengan senang hati mau menjadi sekertaris serta asisten pribadi, dengan demikian mereka bisa selalu bersama.
Akan tetapi, Relina tidak menyanggupi, dia menolak secara halus dengan alasan akan memikirkannya terlebih dahulu. Dia dulu pernah di pecat dengan cara tidak hormat, bila dia kemudian bekerja kembali, tentu akan memalukan sekali. Entah apa yang akan digunjingkan para pegawai lain tentang dirinya nanti.
*****
Setelah Junda selesai berbicara di telepon, Relina akhirnya bisa menghubungi Ane. Dia sudah mencoba menelepon sahabatnya itu berulang kali hari ini dan sekarang, teleponnya tersambung. Gadis itu langsung berteriak girang, membuat Ane yang berada di luar sana menjauhkan telepon genggam dari telinganya. Teriakan Relina sangat berlebihan dan memekakkan telinga.
Ane menempelkan kembali telepon genggam yang baru saja dia terima dari Dion. Dia baru saja tiba di rumah sakit. Sepulang dari tempat kos Ane tadi, pria itu langsung pergi ke kantor. Dibutuhkan waktu lebih dari dua jam untuk sampai ke kantornya kembali. Lalu dia baru memberikan ponsel Ane setelah dia kembali ke kamar perawatan putranya, untuk bergantian menjaga Alex, yang masih harus menjalani rawat inap karena penyakitnya.
“Ane! Kemana saja, kamu? Aku mau kita ketemu. Bisa gak?” suara Relina mengagetkan Ane, karena gadis itu menangis.
“Rel? Kamu kenapa? Capek ya kerja di sana? Hai ....! Kenapa nangis?”
Dion yang mendengar perkataan Ane dengen Relina itu hanya mengerutkan keningnya. Pria itu tahu kalau Relina adalah teman Ane yang ketika bertemu dengan Junda, sempat bersitegang. Junda pernah menceritakan padanya bahwa Relina adalah gadis, yang sering kali membuat dirinya ditimpa kesialan.
Bersambung
__ADS_1