Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kenapa Kamu Perduli


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun mendung bagi Relina yang tengah berdiri, dengan berurai air mata. Dia menggenggam ponsel di tangannya seperti hendak meremasnya sekuat tenaga. Rasanya tak percaya menerima kabar tentang kepergian Gunara untuk selamanya.


Dunia seolah menjadi gelap seketika, dengan kesunyian yang melingkupi dirinya. Bahkan semua yang dia rasakan seolah beku dikulitnya. Berita itu bukannya tidak dia percayai, karena Fuad sendiri yang mengatakannya, tapi dia tidak percaya mengapa Gunara tidak mau bertahan demi dirinya. Ya, laki-laki itu telah meninggalkan Relina lagi dan lagi. Namun kali ini, kepergiannya tidak akan pernah kembali.


Hatinya terhempas dari rasa suka cita dan semangatnya, berubah menjadi derita. Dia ingin segera membereskan pekerjaan, lalu pergi menengoknya di rumah sakit, tapi sebelum pekerjaannya selesai, Fuad sudah menghubungi dan mengabarkan kepergiannya.


“Kak Gun ... kenapa? Kenapa Kak?” gumam Relina disela-sela tangisannya. “Aku pikir Kakak akan bertahan dan kita bisa kembali bersama ...”


Masih dengan berurai air mata, Relina pergi ke rumah sakit di mana Gunara dirawat sebelumnya. Gadis itu berlari tergopoh-gopoh menyusuri koridor, agar segera sampai di sana tepat waktu, sebelum jenazah di bawa oleh keluarganya.


Benar sejak ketika ia tiba di sana, kamar itu sudah kosong, dia mencari ke tempat perawatan jenazah dan ternyata jenazah sudah dimasukkan ke dalam peti. Relina pun memohon kepada pihak keluarga dan juga beberapa orang-orang yang menangani jenazahnya untuk menahan.


“Tolong, izinkan saya melihat wajah Kak Gun, untuk terakhir kali ...” Relina memohon.


Relina memohon untuk membuka peti jenazah dan ingin sekali melihat wajah Gunara, dengan berat hati akhirnya pihak keluarga mengizinkannya. Saat itu dia melihat wajah Gunara yang matanya terpejam dan bibir yang tertutup rapat.


Wajah itu sangat pucat namun menampakkan ketenangan yang luar biasa seolah-olah Ia memang sudah siap untuk menghadapi semuanya, untuk meninggalkan dunia dan dirinya, untuk selamanya.


Setelah melihat wajah Gunara yang dingin dan kaku, Relina pun terduduk dilantai karena rasa lemah dari kakinya, tak berdaya menopang pemilik tubuh yang hatinya terluka. Dia berharap banyak pada laki-laki itu, tetapi harapannya seolah-olah hanya menjadi debu yang beterbangan saja.


“Apa kamu yang bernama Relina?” Tiba-tiba seseorang bertanya. Ia seorang wanita setengah baya yang memakai pakaian sopan dan sederhana, namun elegan. Ia menata rambutnya dengan disanggul ke atas, sehingga tampak bagus dan rapi. Ia juga memakai kerudung hitam yang melengkapi penampilannya, tanda berkabung dan dalam suasana duka.


Relina mendongak, melihat pada perempuan yang tengah berdiri di sampingnya itu, sambil mengangguk. Fuad pun mendekatinya dan meraih tangannya agar segera bangkit dari duduknya di lantai.


Pria itu berkata, “sudahlah, ayo berdiri.” Lalu menoleh pada wanita yang dia panggil Ibu, sambil berkata kembali. “Ibu kumohon jangan sekarang, ini bukan waktu yang tepat.


Wanita itu menyahut. “Aku aku hanya menanyakan namanya, benarkah dia yang bernama Relina. Apa itu salah?”


Sementara Relina sudah berdiri dan mengusap air mata sampai bersih dari pipinya. Lalu menunduk hormat.


“Tidak, memang dia Relina, Ibu tidak usah ikut campur dalam hal ini, biar aku saja yang menyelesaikan semuanya dan bukan sekarang waktunya!” tegas Fuad pada ibunya.


“Kenapa tidak mengatakannya sekarang saja, didepan semua orang, yang ada disini bahkan sekarang perempuan ini pun ada di sini?” sahut wanita itu dengan raut wajah masam.


‘Sebenarnya kalian bicara apa sih?’ batin Relina.


“Semua orang yang ada di sini, tidak ada hubungannya dengan semua itu, jadi biarkan aku saja, lihat dia sedang sedih ....” kata Fuad.

__ADS_1


“Sedang sedih, kau bilang? Bukankah kalau dia sedih, maka apa yang akan dia dengar nanti bisa menjadi hiburan baginya?” kata wanita itu lagi.


“Ibu ... sudahlah. Ayo! kita kurus jenazahnya saja,” kata Fuad sambil menggamit tangan ibunya dan pergi menuju mobil Jenazah.


Relina tidak mengerti apa yang dibicarakan antara Fuad dan ibunya. Dia masih diam dan tenggelam dalam kesedihannya. Setelah kepergian, Fuad, keluarga dan juga peti jenazah Gunara, dia kembali menangis.


Dia tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan karena dirinya memang tidak mempunyai urusan, dengan kedua orang itu selain hanya saling mengenal bahwa Fuad adalah saudara Gunara, itu saja.


Wajah Relina sembab dan kemerahan, ketika dia keluar rumah sakit. Dia berjalan perlahan, sambil memegang ponsel, mencoba menghubungi Ane dan mengabarkan semua hal yang dia alami. Ingin rasanya kembali menemui sahabatnya itu dan berkeluh-kesah padanya seperti biasa bila ada masalah. Namun Ane tidak menerima panggilannya.


‘’Mungkin dia sibuk’ batin Relina.


Akhirnya dia hanya mengirimkan pesan saja dan menceritakan secara singkat tentang kepergian Gunara.


Tiba-tiba sebuah mobil mendekat, berhenti tepat di samping Relina yang berjalan dengan perlahan. Gadis itu menoleh dan matanya disuguhi pemandangan Junda menyembul dari jendela mobil yang terbuka. Dia tengah tersenyum simpul dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya.


Sejenak Relina terpukau namun, dengan cepat dia memalingkan wajahnya dan kembali dalam kesedihannya. Dia kecewa dengan nasib dan menyesali kenapa dia tidak mendahulukan untuk melihat Gunara dari pada menuruti laki-laki, yang kini turun dari mobil dan berjalan mengikuti langkah kaki Relina. Mobilnya dia biarkan begitu saja.


Junda berjalan di samping Relina sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana. Dia sedikit menunduk dan berkata sambil melihat ke wajah Relina. “Apa kamu mencintainya?”


Relina berhenti, menatap Junda dan bertanya, “siapa, maksudmu?”


Relina tidak menjawab, kembali melangkah dan Junda mengikutinya.


“Bukan urusanmu ...”


“Apa kamu sedih sekali sekarang?”


“Bukan urusanmu ....”


“Apa kamu nanti mau lihat makamnya di Bogor?”


“Bukan urusanmu ....”


“Benarkah? Aku tahu pemakaman keluarga Gunara di Kampung Baru. Kalau kamu mau ziarah ke sana, bilang saja. Aku pasti nganterin kamu.”


“Tidak perlu ...”

__ADS_1


“Ck! Kamu ini keras kepala sekali.”


Mendengar ucapan Junda, Relina kembali menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh dan menatap wajah yang tertutup oleh kacamata hitamnya itu, nanar. Dia merasa Junda tidak berhak memberinya cap apa pun dan mengatakan bahwa dirinya keras kepala.


“Kenapa anda sekarang mengganggu saya lagi? Saya ingin sendiri!” Relina berkata dengan penuh permohonan. “Bukankah anda sudah berjanji tidak akan mengganggu saya lagi? Pergi sana! Urus urusan anda sendiri!”


Di mata Relina, Junda yang terus menguntitnya berjalan, seperti pengangguran, orang yang tidak memiliki pekerjaan. Sebenarnya Junda akan kembali ke Bogor dan menjalani rutinitas seperti biasanya. akan tetapi dia menerima kabar dari Fuad tentang kepergian Gunara untuk selamanya.


Secara spontan, Junda mengingat Relina, hingga dia membatalkan keberangkatan dan memutuskan untuk menemuinya. Dia pikir, kemungkinan Relina sangat sedih dan terpukul. Dia tahu hubungan pertemanan Gunara dan gadis itu.


Ternyata dugaannya benar, saat dia menemukan Relina berjalan dengan gontai sendirian di sepanjang trotoar tak jauh dari rumah sakit. Dia melihat wajahnya yang sembab jelas menunjukkan bila dia baru saja selesai menangis.


“Apa aku salah kalau menemani kamu di sini? Atau kamu mau ke pemakaman keluarga Gunara di Kampung Baru, di Bogor. Kalau kamu mau, aku bisa nganterin ke sana.”


“Tidak perlu, tidak usah repot-repot,” sahut Relina sambil mendorong dada Junda dan dia kembali meneruskan langkahnya yang perlahan.


“Ayo! Aku anterin kamu pulang, daripada naik taksi online, sama saja, kan?” Junda berkata sambil berusaha meraih tangan Relina, tapi Relina menepiskannya.


Gadis itu diam tidak menjawab, menganggap Junda seperti udara, meskipun begitu, Junda tetap berjalan di sisi-nya dan kembali berceloteh.


“Kamu pasti menyukai Gunara, kan? Kalau kamu nggak suka, mana mungkin kamu bisa sampai sedih begini. Jangan-jangan kamu berharap sama dia atau jadi nyonya Gunara, tapi justru dia sekarang pergi untuk selamanya, pasti kamu kecewa ....”


“Apa pun yang saya rasakan itu bukan urusan Anda,” sahut Relina ketus.


“Itu urusanku!” tiba-tiba Junda menjawab dengan tegas membuat Relina kembali menoleh dan mencebik.


“Kenapa harus menjadi urusan Anda? Saya kecewa atau tidak, kenapa Anda perduli sekarang, ha?!” Relina berkata dengan nada tinggi, dia terlihat kesal.


“Saya tidak bisa menengok Kak Gun, karena Anda! Saya batal untuk pergi ke rumah sakit karena Anda! Saya tidak bisa bicara dengan Kak Gun untuk terakhir kalinya karena Anda! Lalu sekarang setelah dia pergi, Anda baru bilang kalau perasaan saya jadi urusan Anda?” Relina berkata sambil menunjuk dada Junda kasar.


“Tidak masalah kalau kamu nyalahin aku,” sahut Junda tenang.


Tanda sadar, Relina pun kembali menangis dia kembali menunjuk-nunjuk dada Junda, sambil bicara. “Iya, semua salah Anda!” katanya dengan terputus-putus namun cukup jelas.


Junda memegang tangan Relina, yang menunjuk dadanya, namun satu tangan yang lain memukulnya, dengan tas. Dengan sekuat tenaga Junda menahan dan tidak melawan Relina. Dia membiarkan Relina sampai puas menumpahkan kekesalan dan kesedihannya.


“Semua karena Anda, semua salah Anda!” kata Relina sambil menangis. Setelah lelah, Ia pun berjongkok sambil penumpukan wajahnya di atas lututnya.

__ADS_1


Setelah melihat kelakuan Relina, laki-laki itu justru tertegun, dia tidak tahu apa, yang harus dia lakukan dan dia sangat merasa bersalah.


Bersambung


__ADS_2