Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kenapa Dia Ada Di Sini


__ADS_3

“Junda ...!” Relina berkata sambil melangkah meninggalkan area penjemputan, sambil menarik kopernya. Ada beberapa orang yang sedang menunggu seperti dirinya di lokasi itu.


Gadis itu sudah berjanji akan menjemput di bandara sore harinya, sesuai jam kedatangan yang tertera dalam jadwal penerbangan. Waktu yang ditempuh Junda dari Bogor ke Jakarta, mempunyai rentang waktu yang sama dengan keberangkatan Relina dari keberangkatan Relina naik pesawat, hingga sampai di Jakarta.


Sementara di lokasi yang tidak jauh dengan tempat Relina dan Junda saling menatap, terjadi kepanikan, di mana ada seorang wanita yang tersungkur jatuh dan dia pingsan.


Dua manusia berlawanan jenis itu tidak memperhatikan keadaan sekitar, karena sekarang mereka saling menatap dan saling melempar senyum, mereka melangkah cepat, seolah-olah tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua.


Ingin sekali Relina mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Junda, tapi yang terjadi justru Junda dengan cepat menarik tubuhnya jatuh dalam pelukannya.


Tiba-tiba seseorang berteriak keras, “Cepat panggil ambulans!”


Relina dan Junda melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah kerumunan orang, mereka melihat seorang wanita tua yang tergeletak di lantai. Junda tergerak mendekat, diikuti oleh Relina. Mereka menyibakkan keramaian beberapa orang dan spontan Junda pun terkejut.


“Nenek!” pekiknya panik. Seketika keningnya mengerut, gerahamnya saling beradu dan keringat dingin tiba-tiba membanjiri tubuh dan tangannya.


‘Kenapa Nenek bisa ada di sini?’ batin Junda sambil mengangkat tubuh Shasi yang tergeletak di halaman bandara.


“Minggir! Dia Nenekku!” katanya lagi sambil berjalan membawa tubuh Shasi menuju mobil, tanpa menunggu ambulans ataupun simpati orang-orang.


Hatinya bergemuruh, kecemasan yang tinggi memenuhi benaknya. Jantung berdegup, keringat membasahi telapak tangan dan keningnya. Berbagai pertanyaan melintas berseliweran di otaknya. Tidak bisa mengambil satu pun kesimpulan bagaimana Shasi bisa ada di Bandara.


“Dia nenekmu?!” tanya Relina tidak kalah paniknya. Wanita itu baru saja bertemu dengannya dan sempat bertegur sapa, bahkan mereka berkenalan. Dia tidak menyangka bahwa wanita itu adalah Nenek Junda!


“Ya,” jawab Junda. Dia berjalan dengan cepat menuju mobil dengan Shasi berada dalam gendongannya.


Junda menunjukkan kunci mobil yang tergantung di saku celana, pada Relina agar gadis itu mengambilnya. Dia tiba-tiba menjadi gugup, dia harus menyentuh saku celana Junda dan menyalakan kunci otomatis, sehingga pintu mobil bisa terbuka.


Setelah berhasil membaringkan tubuh Shasi di jok bagian belakang, Junda mengambil koper Relina dan dengan cepat memasukkannya ke bagasi mobil.


“Ayo,” ajak pria itu sambil membukakan pintu mobil untuk Relina.


Kini mereka duduk saling bersebelahan di kursi bagian depan.


“Namanya Shasi, kan?” tanya Relina ketika sudah berada di dalam mobil. Dia melirik Shasi yang tergolek lemah.


Junda menoleh sekilas pada Relina sambil mengerutkan alisnya lalu matanya kembali fokus ke jalanan.


“Iya. Kok kamu tahu?”


“Kami sempat berkenalan tadi, karena angsa Nenekmu lepas!”

__ADS_1


Mendengar kata angsa, Junda menghentikan mobilnya secara mendadak. Suara berdecit dari hasutan roda mobil pada aspal terdengar keras dan beberapa kendaraan yang berjalan di belakang mobil Junda membunyikan klakson saling bersahutan. Untung saja tidak terjadi apa pun pada mereka.


“Ahk, iya. Angsa itu! Sial ..!” Junda berteriak sambil memukul setir mobil, dia menepikan mobilnya secara perlahan setelahnya.


Pria itu tahu betapa pentingnya angsa kecil itu bagi Shasi. Binatang yang dipelihara sejak dari telur hingga menetas. Ada induknya yang lebih besar di rumah, tapi sudah tidak enak untuk digendong dan dibawa ke mana-mana.


“Tapi tadi aku tidak melihat angsa itu di sana! Bisa jadi Kimiko lepas lagi!” Relina menduga bahwa angsa itu sangat berarti, perhiasan yang dikenakan pada leher dan kakinya bisa bernilai puluhan juta.


Relina tahu dari warna perhiasan yang melingkar secara spiral di kedua kaki angsa, itu mutiara asli. Sedangkan kalung emas 24 karat itu mungkin beratnya mencapai sepuluh atau lima belas gram. Itu nilai yang tidak kecil.


“Ya, aku juga berpikir begitu.”


“Apa kita harus mencarinya?”


Junda terdiam, menampakkan keraguan.


“Kalau begitu, biar aku yang mencarinya. Perhiasan yang di pakai Kimiko pasti mahal!” kata Relina.


“Apa kamu bilang, hah? itu hanya perhiasan. Aku bisa membelinya lagi.”


“Kalau begitu, angsa itu juga bisa kita beli lagi.”


Akan tetapi Junda menggeleng, nilai binatang itu lebih berharga bagi Shasi dari pada perhiasannya.


Relina berpikir berbeda ia kemudian berkata dengan tegas, “Junda, turunkan aku di sini!” Dia merasa mencari angsa itu sama pentingnya, sehingga mereka perlu membagi tugas. Tidak masalah baginya kembali ke bandara tanpa Junda.


Ya, angsa itu sangat berarti untuk Shasi, benar bahwa perhiasan bisa dibeli kembali tetapi angsa yang sama tentu tidak ada lagi.


Hal seperti inilah yang biasa terjadi pada manusia, ia bisa memberikan hal-hal yang lainnya tetapi untuk diri pribadi ataupun orang yang dicintai tidak akan pernah terganti sampai kapan pun juga.


Relina bersikeras sehingga, Junda pun menurunkan gadis itu di pinggir jalan, sementara dia harus segera membawa Shasi—neneknya, ke rumah sakit dengan segera.


“Bawa nenek ke rumah sakit, dia harus cepat diobati, serahkan angsa itu padaku percayalah, aku akan mencarinya sampai ketemu!” kata Relina.


Gadis itu segera memanggil taksi yang kebetulan lewat dan ia kembali ke bandara.


Junda memandang kepergian Relina dengan kesal namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, semua yang dikatakan Relina benar. Bila nanti Shasi terbangun, dan sadar dari pingsannya, dia akan menanyakan angsanya.


Itulah kebiasaan Shasi, sepertinya dia tidak bisa lepas dari angsanya, dulu dia selalu membawa induk angsa, setelah besar, kini anaknya yang dia beri nama kimiko.


Saat Shasi bangun tidur ataupun dia pulang dari suatu tempat, atau arisan, di mana dia tidak membawa angsanya, maka wanita itu akan segera menanyakan ataupun mengurus angsa peliharaannya.

__ADS_1


Sementara Relina sudah tiba di Bandara, dia menanyakan keberadaan binatang yang dicarinya kepada pihak keamanan dan penjaga yang bertugas di sekitar Bandara.


Bayangkan saja, di tempat seperti itu ada unggas yang berlarian, tentu akan menghebohkan dan pasti semua pihak mengetahuinya karena mereka akan menanyakan siapa yang bertanggung jawab atas si angsa?


Pihak keamanan segera menunjukkan di mana binatang itu disimpan, Angsa kecil berada di gudang tempat barang-barang yang tidak dikenal, dikurung dalam sebuah keranjang besi yang rapat, sedangkan suaranya terdengar sangat berisik.


Gudang itu berada jauh di belakang bandara dan Relina harus berjalan kaki untuk tiba di sana. Dua orang petugas penjaga yang mengurus binatang itu terus membicarakan hal-hal yang aneh-aneh tentang kimiko dengan Relina.


Salah satu pertanyaan mereka adalah, mengapa dia bisa membawa binatang seperti itu di bandara? Tentu saja Relina membuat sebuah alasan yang hanya terpikir di otaknya, bahwa dia datang hanya untuk menjemput saudaranya, tetapi penerbangannya dibatalkan, namun saat dia hendak kembali, angsa itu terlepas. Dia tidak berniat untuk melakukan penerbangan, Relina berbohong, setiap orang punya alasan untuk berbohong bukan?


Seperti itulah yang dilakukan Relina sekarang karena dia memang benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan tidak mengerti mengapa Shasi membawanya. Sebab biasanya seorang yang membawa binatang harus mendapatkan izin khusus, dengan beberapa syarat tertentu.


Sesampai di sana, Relina harus mengisi formulir pernyataan untuk mengambil sebuah barang yang sudah termasuk dalam sebuah daftar penyimpanan, hingga ketika dia hendak mengambilnya pun harus mengisi data secara detil tentang identitas barang.


Setelah melalui proses itu, akhirnya dia bisa membawa angsa itu kembali. Semua perhiasannya masih lengkap, sehingga gadis itu tersenyum simpul. Dia terlihat lega.


Relina kembali menghentikan taxi untuk pergi ke rumah sakit di mana Junda berada. Dia menghubungi pria itu setelah kendaraan yang membawanya berjalan membelah jalanan.


“Kamu ada di rumah sakit mana?”


Tanya Relina ketika telepon genggamnya tersambung. Setelah itu diam mendengarkan suara dari balik ponselnya.


“Iya, aku menemukannya.”


Kata Relina setelah diam beberapa saat, lalu menjawab, “Ya,” dan menutup ponselnya.


Relina mengatakan alamat rumah sakit tempat Junda membawa Shasi—neneknya untuk berobat. Mobil pun melaju dengan cepat tanpa menemui banyak hambatan. Relina pun tiba di sana lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.


Junda terus mengiriminya petunjuk arah di mana ruang ICU berada, di sanalah Junda sedang menunggu kepastian dari dokter yang melakukan pemeriksaan dan beberapa tes pada Shasi.


Sementara hari mulai gelap. Relina berjalan dengan cepat mendekat Junda yang masih duduk termangu di kursi ruang tunggu. Dia sudah menitipkan angsa di pos penjaga keamanan rumah sakit.


“Bagaimana keadaan Nenek?” Tanya Relina, dengan rasa penasaran sambil duduk di sisi Junda. Pria itu menoleh sebentar lalu menyandarkan tubuhnya, sambil menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya.


Di saat yang bersamaan, pintu ruang observasi terbuka dan beberapa dokter keluar sambil membuka masker mereka.


“Bagaimana Nenek saya, Dokter?” Tanya Junda sambil berdiri dan beranjak mendekati salah satu dokter yang menangani neneknya.


“Anda harus bersabar. Bu Shasi terkena stroke dan harus mendapatkan perawatan selama beberapa hari sampai kondisinya kuat bila di bawa pulang.”


“Apa?”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2