Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Takut Kehilangan


__ADS_3

Junda melepaskan pelukannya, mengambil payung dari tangan Relina lalu dipegangnya, sementara tangan yang lain saling menggenggam. Sepasang mata mereka bertatapan dengan lembut. Dia mengajak gadis itu meninggalkan makam. Berjalan sambil berbincang.


Mereka merasa tidak perlu basa-basi dalam menjalani hubungan, misalnya pertemanan menjadi pacar atau dengan istilah lain disebut pengenalan lebih dalam.


Bukankah banyak pasangan yang langgeng sampai tua, walaupun hanya saling mengenal beberapa bulan saja. Banyak juga yang menikah karena perjodohan, atau ketidak sengajaan, tapi pernikahan mereka tetap baik-baik saja.


Relina mempunyai tekad untuk segera menikah dengan Junda, selain karena pria itu sudah mapan, tapi juga karena rasa ingin membuktikan satu hal tentang tanda mitos di tubuhnya. Dia benar-benar siap tiada kalau memang itu benar.


Ya, tekad itu muncul begitu saja bahkan jauh sebelum dia tahu kebenaran tentang tanda yang dimiliki Junda. Akan tetapi Relina tetap diam, tentang dirinya yang sebenarnya memiliki tanda yang sama.


Relina bukan ingin mempermainkan Junda, bukan pula bermaksud menyimpan sebuah rahasia, dia hanya ingin orang tahu bahwa setiap manusia hanya bisa mempercayai apa yang memang harus mereka percaya! Tidak ada yang memaksa.


Relina telah membaca banyak cerita dan kisah tentang berbagai mitos di dunia, dan semua orang bebas untuk percaya atau tidak. Jangan kan mitos, agama saja membebaskan semua orang untuk menentukan apa yang ingin mereka percayai.


Terkecuali, bila seseorang sudah memasuki sebuah agama, maka mau tidak mau mereka harus mempercayai setiap ajaran agama yang mereka anut. Termasuk berbagai kisah yang terkesan seperti mitos di dalamnya.


“Apa kamu juga merindukanku?” tanya Junda tiba-tiba, membuat Relina menoleh dan menatap matanya lurus


Relina mendengar ucapan Junda yang terasa sumbang, dia pun berpikir, ‘juga? Dia bilang, juga? Apa itu artinya dia yang merindukan aku?’ batinnya. Kemudian tersenyum kecil.


Dia bohong kalau mengatakan tidak ... karena sejak mereka mulai dekat, setiap hari atau mereka berjauhan, Relina merindukannya. Rasa yang membuatnya ingin selalu bertemu dan bersamanya.


Sejak pertama kali melihat senyum Junda, pada sebuah pertemuan perusahaan yang mereka hadiri, diam-diam nama dan wajah itu tersimpan dalam hatinya yang paling dalam. Namun perasaan itu hanya sebatas rasa kagum dan saling menghormati baik antara bawahan dan atasan saja.


Terkadang membutuhkan banyak tenaga untuk terlihat baik-baik saja, butuh keyakinan besar untuk perasaan cinta yang sebenarnya, dan perlu kesabaran tinggi untuk meredam kerinduan.


“Iya.” Akhirnya Relina menjawab dengan singkat, namun membuat Junda tersenyum lebar. Dia pun melangkah dengan memegang tangan Relina.


“Ayo! Kamu tadi mengajakku makan siang, kan?”


“Hmm ... pasti kamu belum makan ....”


“Iya. Aku punya rekomendasi restoran yang enak, ayo, kita ke sana!”


Mereka sudah berada dia luar pemakaman dan berdiri di tempat parkir ketika bicara. Relina menggeleng.


“Tunggu dulu, kalau soal itu ... sepertinya Erwin sudah memesan makanan untukku.”

__ADS_1


“Oh,” Junda tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya mengangguk. Dia sepertinya tidak dibutuhkan Relina lagi, tidak seperti saat di Martapura, Relina begitu membutuhkan dirinya, hingga dia merasa begitu berharga.


Junda sadar betul bahwa naluri laki-laki selalu ingin melindungi wanita yang dicintai, tapi bila dirinya tidak dibutuhkan, maka harga dirinya seolah terluka. Terkecuali bila laki-laki itu sudah tidak peduli.


Seperti saat ini, Junda sangat cemburu, tidak suka bila ada pria lain yang diandalkan Relina.


Erwin menurut pada keinginan Relina untuk datang ke pemakaman, lalu dia mengusulkan rencana memesan makan siang dan menyantapnya di proyek saja. Dengan begitu mereka bisa menghemat waktu. Pekerjaan mereka lebih banyak karena harus menangani tugas-tugas Fuad, sebagai manajer yang sedang cuti.


“Baiklah, kalau begitu lain waktu saja.” Junda berkata dengan malas, tanpa melihat wajah Relina karena sebenarnya, dia tengah menenangkan hatinya yang gelisah tidak menentu.


Junda melangkah lebih cepat menuju mobilnya dengan tangan yang masih saling menggenggam, seperti tidak rela melepaskan Relina. Justru sekarang dia terkesan begitu takut kehilangan.


Relina melepaskan pegangan tangannya, sambil berkata, “Kita beda tujuan, kenapa kamu membawaku?”


“Aku akan mengantarmu, apa itu salah?”


Relina mengernyit, “Tidak, hanya saja ...”


“Ya, sudah kalau begitu, masuklah!” kata Junda sudah membukakan pintu mobil untuk wanitanya.


Erwin menatap heran tapi tetap menjawab dan menunduk dengan hormat, “Baik, Bu.”


Relina masuk ke mobil Junda dan memasang sabuk pengaman.


“Hiss! Kamu bukan ibu-ibu!” komentar Junda ketika sudah duduk di belakang kemudi, sambil menyalakan mesin. Dia tidak suka mendengar Erwin menyebut Relina ibu, panggilan yang menggelikan di telinga Junda. Namun, Relina justru tertawa.


Baru kali ini Junda melihat Gadis itu tertawa lebar seperti itu, membuatnya takjub. Dia tidak segera menjalankan mobilnya, tetapi mengulurkan tangannya untuk memegang dagu Relina dan mencium bibirnya.


Gerakan Junda yang tiba-tiba, tentu saja membuat Relina terkejut, sehingga tidak merespon ciuman Junda dan menerimanya secara pasif. Setelah ciuman selesai, Relina berkata dengan suara yang datar.


“Aku tidak suka caramu yang memaksa seperti itu, apa kamu nggak bisa bilang dulu, pelan-pelan ... atau kamu memang nggak bisa lembut memulainya? Bikin aku kaget saja!”


Junda mengusap bibir Relina dengan ibu jarinya, sebelum dia berkata, “Maaf ... aku tidak akan mengulanginya lagi.”senyum manis dan rasa bersalah terbit di wajahnya.


Mobil mulai melaju secara perlahan, menuju proyek. Selama di perjalanan, Relina mengatakan semuanya tentang proyek itu dan apa yang melandasi pembuatannya.


Junda agak kesal mendengar semuanya apalagi saat Relina menampakkan bahwa dirinya begitu mengagumi Gunara. Seandainya pria itu masih hidup, Junda akan sangat cemburu padanya. Namun sekarang, dia hanya bisa menekan perasaannya sebab tidak mungkin dia cemburu pada orang yang sudah tiada.

__ADS_1


*****


Relina tengah memeriksa jadwal agendanya selama beberapa hari ke depan dan tengah mencocokkan waktu kesibukan dan senggangnya dengan Junda. Mereka saling berkirim pesan melalui aplikasi chat malam itu.


Mereka membuat janji untuk bertemu sekitar satu pekan lagi. Setelah itu mereka menyepakati untuk pergi ke kampung halaman Relina, tiga bulan kemudian dan selama menunggu waktu, mereka akan sering bertemu dan meluangkan waktu dari kesibukannya masing-masing.


Di saat Relina tengah mengirimkan pesan-pesan itu kepada Junda, tiba-tiba ponselnya bergetar di tangannya dan suara nyaring pun terdengar. Ane temannya, melakukan panggilan video seperti biasanya. Kedua sahabat itu tidak puas menelepon bila tidak dengan panggilan Video dan itu bisa mereka lakukan selama berjam-jam.


Melihat sahabatnya yang melakukan panggilan video, segera Relina menerimanya. Namun, yang terdengar setelah layar ponsel memperlihatkan wajah mereka adalah, suara Ane yang berteriak keras. Menunjukkan bahwa dia sangat senang menunjukkan kegembiraannya.


Relina menunjukkan wajah heran kenapa Ane berteriak, sedangkan wajah sahabatnya Itu tampak bersemu merah. Semua terlihat jelas dari layar ponsel, mereka melanjutkan mengobrol dengan menanyakan kabar, menceritakan keadaan masing-masing. Ane menceritakan kembali perkembangan hubungannya dengan Dion, begitu pula Relina yang menceritakan perkembangan hubungannya dengan Junda.


“Kalau begitu, aku ikut senang mendengarnya,” kata Ane, dari balik telepon.


“Aku juga senang, mendengar perkembangan ceritamu dengan Dion, dia sudah melamarmu sekarang?” Relina bertanya sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya.


Ane tidak menjawab dan hanya menunjukkan tangannya yang terdapat sebuah cincin berlian.


Relina melebarkan mata, bahkan mulutnya terbuka karena terkejut, begitu melihat cincin yang sangat cantik itu, melingkar di jari manis sahabatnya. Dia kembali terduduk, sambil mengusap kasar matanya.


Gadis itu pun menanggapi, dengan antusias. “Ane! Kamu luar biasa, sudah berhasil mengambil hati Dion! Selamat, ya.”


“Kami punya rencana akan menikah tiga bulan lagi, aku harap kamu bisa pulang, datang kepesta pernikahanku, ya?”


Relina yang belum hilang rasa terkejutnya, kembali tercengang dan berkata, “Apa, apa kamu bilang tiga bulan lagi?”


“Iya!” Ane menjawab singkat.


Rina semakin terkejut karena dia mempunyai rencana yang sama untuk pulang ke kampung halamannya tiga bulan lagi.


Pada akhirnya, Relina hanya berharap bahwa semua yang telah dia dan Ane rencanakan, bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dia sudah membayangkan betapa bahagianya ketika pulang, bukan hanya akan mengunjungi keluarganya, tapi juga akan menghadiri pernikahan sahabatnya.


Selain itu Relina juga akan meminta restu pada kedua orang tuanya untuk menjalani hubungan yang baik dan Junda memiliki keinginan yang serius pada dirinya.


“Reli, apa kamu mengatakan dengan jujur pada Junda tentang tanda lahir yang kamu miliki?” Ane bertanya secara tiba-tiba. Membuat Relina diam termenung.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2