
Jangan lupa Like, komen dan dukungan lainnya ya...
Seketika Junda dan Relina menghentikan langkah kaki mereka. Seorang polisi yang meneriaki mereka, mendekat dengan langkah lebar dengan tatapan waspada dan ketegasan di wajahnya.
“Siapa kalian mau masuk ke area ini terlarang untuk sementara waktu bagi masyarakat umum,” kata itu.
“Kami tadi dihubungi pihak keluarga, untuk datang ke sini. Apa benar ada orang yang akan bunuh diri?” tanya Junda.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Junda bahwa dirinya adalah telah dipercaya untuk menggagalkan rencana wanita Malang yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas gedung, polisi itu pun akhirnya mengizinkan mereka naik ke atas atap.
Sementara di atas, tampak seorang wanita cantik tengah berdiri di sisi pembatas gedung dengan satu kakinya yang sudah menggantung. Dia terus saja menangis dan memanggil nama Junda dengan berteriak keras. Ibunya menangis dengan berlutut di tengah-tengah area sementara ayahnya memegangi bahunya.
Wanita yang putus asa itu adalah Syalu, pria yang berdiri dan menenangkan istrinya adalah Adipura dan istrinya yang menangis adalah Sarini. Ketiga orang itu tengah berbicara menenangkan emosi masing-masing secara bersahutan karena sepertinya, tidak mungkin untuk berbicara dengan perlahan dan lemah lembut.
“Untuk apa aku hidup, di dunia ini? Harapanku sudah hancur, Bu! Ayah! Aku tidak akan Sudi hidup tanpa Junda!” kata Syalu sambil menangis. Raut wajahnya merah karena marah dan cuaca yang cukup dingin.
“Tapi, kami juga mencintaimu, Nak!” ucap Sarini sambil menangisi tekad anaknya. Dia menerima telepon dari Syalu saat tengah makan malam dengan suaminya, yang membuat wanita setengah baya itu segera pergi ke tempat itu, dengan tergesa-gesa. Dua orang suami istri itu meninggalkan makan malam begitu saja.
“Untuk apa Ibu ke sini, aku Cuma berpamitan saja!” jawab Syalu sambil terus menangis.
Hawa dingin seakan menjadi lebih dingin dengan semua percakapan antara ibu dan anak itu.
Adipura dengan cekatan menghubungi beberapa pihak, yang mungkin bisa mengatasi masalah anaknya, tapi semua pesan dan panggilannya tidak ada satu pun yang terjawab. Hanya Junda yang mendatangi mereka.
Selain Syalu, orang lain akan merasakan kedinginan, sedangkan dia tidak demikian karena suhu di hatinya lebih membekukan. Hatinya panas karena terbakar api cemburu. Tekatnya bulat sejak dulu bahwa tidak ada orang yang akan menjadi pendamping Junda selain dirinya.
__ADS_1
Wanita itu tahu kabar pernikahan Junda melalui orang yang dia suruh untuk mengikuti setiap gerak geriknya. Bahkan saat dirinya sudah diberhentikan dari pekerjaannya pun Syalu tetap melakukannya. Dia pernah memberikan obat yang merusak syaraf buat Relina, tapi berhasil digagalkan tanpa sengaja.
Beberapa kali sudah Syalu melakukan hal ganjil itu, saat Junda tengah bersama pacar-pacarnya dahulu. Memberikan obat perangsang, agar mereka melakukan perbuatan terlarang serta, ingin membuktikan kebenaran mitos.
Dia berharap kekasih pria itu tiada lalu, dia yang menggantikan posisinya. Akan tetapi, berulang kali pula Junda berhasil menghindar karena kekuatan pria itu, lebih dari cukup untuk menahan.agar hal buruk tidak terjadi.
Suara Isak tangis masih berlangsung ketika Junda tiba di tempat itu dan melihat Syalu berdiri dengan posisi yang sangat mengkhawatirkan seakan semua hati bisa terguncang karena pemandangan menyedihkan di depannya. Akan tetapi Junda tetap tenang, bahkan tidak mengatakan kedatangannya.
“Ayah, Ibu! Pergi kalian dari sini, biarkan aku mati!” kata Syalu lagi saat dia melihat kedatangan Junda lewat sudut matanya. Ada seringai kecil hampir tak terlihat di sudut bibirnya.
“Syalu ..., jangan, Nak!” teriak Sarini dengan suara bergetar dan parau akibat menangis.
Mendengar kata-kata itu, Junda yang sejak turun dari mobil tidak melepaskan tangan Relina, semakin mempererat genggamannya. Relina melihat ke arah Junda dengan heran, mengapa pria itu tidak berbuat sesuatu dan justru terkesan membiarkan sikap Syalu dan menunggu apa yang akan terjadi?
‘Dia ini kenapa, sih?’ batin Relina dengan kekhawatiran melihat posisi Syalu, wanita yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya.
“Biarkan saja, dia!” tiba-tiba Junda berkata, sambil berjalan mendekati Sarini dan Adipura tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Relina, seolah-olah meyakinkan dan meminta gadis itu mempercayainya. Bahwa semua akan baik-baik saja.
“Junda, kamu di sini?” tanya Sarini sambil bangkit dari posisinya, lalu melangkah ke hadapan Junda, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Wanita itu terus bicara sementara Junda masih terpaku di tempatnya berdiri.
“Junda, kamu tahu kan Syalu sangat mencintaimu ... Kenapa kamu tega seperti ini?” Sarini berkata sambil melirik Relina sekilas. “Apa kamu tega melihat dia tiada dengan sia-sia? Dia sudah melakukan banyak hal untukmu ....” Lalu menangis bersimbah air mata di pipinya.
Mendengar dan melihat seorang ibu yang menangis seperti itu demi anaknya, hati Relina tersentuh dan dia menarik tangannya dari genggaman Junda. Akan tetapi, pria itu justru lebih erat memegang tangannya. Gadis itu memalingkan pandangannya dan menghela napas, merasa bersalah dengan keadaan yang ada.
__ADS_1
Dia tahu perasaan seperti apa yang ada di hati Syalu saat ini, melihat orang yang dicintainya tengah memegang erat tangan wanita lain. Alangkah menyakitkan, dia sendiri tidak ingin mengalaminya.
Sekarang dia berada dalam dilema antara dirinya sendiri dan keadaan yang miris membuatnya sedikit goyah dan ingin menyerah begitu saja.
“Kalau bisa kamu jujur, Sya!” kata Junda, sambil berjalan ke belakang Syalu tanpa menghiraukan Sarini yang masih berdiri di posisinya semula. “Kenapa kamu seperti ini, kamu serius mau bunuh diri?”
Baik Sarini dan juga Adipura melotot ke arah Junda yang sama sekali tidak terprovokasi. Sementara Syalu menoleh ke belakang, membuat Junda tertawa kecil seperti menertawakan keadaan mereka.
Relina yang mengikuti langkah Junda menoleh pada pria yang tetap menggenggam tangannya. Dia pikir Junda keterlaluan karena menganggap kelakuan Syalu itu hanya bercanda.
Alih-alih menerjunkan diri ke dasar gedung, seperti niatnya semula, Syalu justru berbalik dan melangkah ke arah Junda dengan menatap Relina dengan tatapan membara.
“Apa maksud kamu, Junda? Apa kamu senang melihatku mati hanya karena gadis kampung ini? Hah!” kata Syalu sambil menunjuk muka Relina.
Wajah Syalu memucat sekaligus bengkak di bagian matanya karena sudah terlalu banyak menangis. Dia begitu sedih dengan pernikahan Junda, kecewa dan juga cemburu membuncah dalam hatinya yang sakit. Sudah berulang kali dia terluka karena cintanya bertepuk sebelah tangan dan rasa sakit itu kini berada di ambang batas kesanggupan untuk menahannya. Akan tetapi, dia lupa beberapa hal yang pernah dia lakukan pada Junda, sehingga membuat pria itu tidak lagi mempercayai aktingnya.
“Kamu pikir aku akan percaya kamu sungguh-sunguh akan menghancurkan dirimu sendiri?” tanya Junda lagi ketus.
Melihat kesungguhan dan tatapan acuh tak acuh dari Junda dan juga kedua tangan yang saling bertaut antar Relina dan pria yang dicintainya, Syalu merendahkan suaranya dan berlutut sambil memegang kain celana Junda.
Wajahnya kembali berurai air mata, sambil berkata, “Aku lebih dulu mencintaimu dan ini baljugamu ...? Apa kamu senang bila aku benar-benar tiada, apa yang harus aku lakukan pada cintaku ini, Junda! Kalau kau memang senang melihat aku mati maka bunuh aku sekarang juga!”
Junda menoleh pada Relina, begitu pula dengan Relina, alisnya berkerut saat tatapan mereka bertemu, ketika Syalu berkata demikian.
Tiba-tiba kedua orang tua Syalu mendekat dan Sarini berkata, “Kamu bilang tidak percaya sepenuhnya pada mitos itu, kan, Junda? Kalau kamu bisa menikahi gadis ini, kenapa kamu tidak bisa menikahi anakku juga?”
__ADS_1
"Apa?"
Bersambung