
Renita mempersilakan Junda untuk duduk ketika mereka sudah ada di ruang tamu. Pria itu mengedarkan pandangannya sekilas melihat pemandangan di dalam yang tampak rapi dan dipenuhi dengan buku. Dia menyimpulkan dalam hati bahwa keluarga Relina mungkin terdiri dari orang yang religius atau berpendidikan. Dia sudah melihat penampilan Renita yang mengesankan bahwa dia seorang guru.
Junda tidak tahu apa pun tentang Relina mereka tidak pernah membicarakan mengenai hal pribadi, seperti hobi, warna kesukaan atau yang semacamnya. Tiba-tiba dia sangat menyesalinya.
“Saya Renita, saya ibunya Relina,” kata Renita sambil membawa segelas kopi setelah beberapa lama dia membiarkan Junda duduk sendiri di ruangan itu, wanita itu baru saja menelepon suaminya agar segera kembali.
Renita duduk dengan anggun di depan Junda, memosisikan diri dengan baik sebagai guru dan juga seorang ibu. Dia sudah mendengar dari Relina bahwa Junda adalah anak broken home dan hanya tinggal dengan neneknya, sedangkan ayahnya sudah memiliki wanita lain. Semua tentang Junda yang di ceritakan oleh Relina memenuhi isi kepalanya.
Wanita itu merasa harus memperlakukan dengan cara sebaliknya sebagai mana dia memperlakukan Relina semaunya.
Suara Renita terdengar cukup tegas saat dia bertanya. “Ada keperluan apa Anda datang kemari, jarak antara Bogor dan Lampung bukan jarak yang dekat. Apa anak saya sudah melakukan kesalahan pada Anda?”
Junda diam sejenak mendengar pertanyaan dan sikap tegas yang tidak dia duga sebelumnya. Sebab dia pikir bila Relina tidak mengatakan apa-apa tentang mereka selama ini, pastilah keluarga akan menyambut kedatangan Junda dengan ramah.
Relina memang sangat salah, dia salah memberi Junda racun yang membuatnya tidak bisa tidur dan terus memikirkannya. Itu adalah kesalahan Relina padanya. Dia menyangka gadis itu bisa membuatnya gila seperti saat ini. Dia tidak tahu apa yang sudah dia lakukan jauh-jauh datang hanya untuk menemui gadis yang sudah memporak-porandakan hatinya. Ahk ... belum tentu gadis itu mau menerimanya.
Junda menyandarkan tubuhnya agar lebih rileks. Sementara Renita merasa harus memberi pelajaran, bila memang pria ini adalah orang yang telah diceritakan Relina. Saat mendengar ceritanya, dan melihat perhiasan mewah yang di titipkan Relina kadanya, wanita itu menduga bila Junda menyukai anak pertamanya.
“Sebaiknya saya bicara langsung padanya, dia pasti mengerti.”
“Jadi Anda anggap saya tidak mengerti, begitu?” Renita melotot, dia merasa Junda meremehkannya.
“Bukan seperti itu, Bu ... Saya hanya ingin membicarakan penawaran saya untuk bekerja sama dengan dia. Saya akan mengatakan langsung tapi ponselnya tidak bisa saya hubungi.”
“Kerja sama seperti apa? Apa Anda pantas memberi tawaran seperti itu bila seperti yang Anda bilang, cuma teman kantor?”
__ADS_1
Junda di buat tak berkutik dengan ucapan Renita, dia pikir Relina ada di rumah sehingga dia mengatakan demikian. Namun sekarang, sepertinya dia harus mengatakan sejujurnya siapa dirinya pada orang tua Relina itu.
“Jadi saya sebenarnya—“ ucapan Junda terputus ketika ada seorang pria bertubuh montok yang masuk sambil mengucapkan salam. Dua orang yang duduk saling berhadapan itu menoleh. Renita langsung berdiri menyambut kedatangan Rosihan suaminya.
Kini mereka saling memperkenalkan diri setelah itu kembali mereka duduk saling berhadapan.
“Silakan di minum dulu kopinya. Itu kopi hasil kebun sendiri, kami juga mengolah sendiri kopinya dari mulai panen sampai jadi seperti ini.” Rosihan tampak lebih rileks dalam menghadapi tamunya, dia merasa Junda orang baik. Walau dia tidak terpikir sama sekali bahwa orang yang duduk di hadapannya adalah orang yang diceritakan oleh Relina.
Kedua pria itu pun terlibat obrolan tentang banyak hal, hingga akhirnya Junda mengakui siapa dirinya. Lalu bercerita tentang beberapa pertemuannya dengan Relina. Lalu dengan jujur dia mengakui bahwa sejak Relina memintanya untuk berpikir positif dan tidak menyalahkannya atas kejadian mereka, dia jadi merasa bersalah.
“Jadi, salah satu keinginan saya datang kesini adalah untuk mengajak kembali Relina bekerja menjadi sekretaris saya, dan saya akan memperlakukan Relina dengan baik, saya janji.”
“Tapi, sepertinya Relina tidak mau bertemu dengan Anda atau pun kembali bekerja. Maaf, Nak Junda. Relina berpesan agar keberadaannya tidak diketahui oleh siapa pun,” kata Rosihan dengan penuh penyesalan.
Junda diam dalam keterkejutannya. Dia tidak percaya bila Relina benar-benar tidak ingin terlibat lagi dengan dirinya. Tiba-tiba dia merasa hancur, sakit sekali rasnya hati seperti ditusuk ribuan belati. Wajahnya menjadi pias, kedatangannya seakan sia-sia.
Sebelum Junda melangkah, Renita memanggilnya dan memberikan kotak hadiah berisi perhiasan yang di titipkan Relina padanya.
“Saya rasa, Relina tidak berhak menerima semua ini. Karena kalian tidak mempunyai hubungan apa pun lagi.”
Junda melihat nanar ke arah kotak itu, hatinya semakin sakit dan dia hanya bisa tersenyum kecut, dia telah di tolak. Tapi tunggu ...
“Jadi, kalau saya dan Relina memiliki hubungan, maka Ibu merasa pantas menerimanya?” kata Junda sambil tersenyum lebih manis, dia tidak rela bila perhiasan dan pakaian yang sudah dia berikan pada Relina itu dikembalikan lagi.
“Bagaimana kalau sekarang kita jadi saudara?”
__ADS_1
“Apa?” Rosihan dan Renita saling berpandangan. Siapa orang yang menolak sebuah persaudaraan?
Junda keluar rumah dengan perasaan puas, senang rasanya tidak serta merta melepaskan Relina begitu saja. Dia merasa harus bisa mengambil hatinya termasuk orang tuanya, entah bagaimana kelanjutannya, Junda pasrah saja.
Fadil, baru saja memutar mobilnya menuju ke jalanan saat Royan berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Otomatis Junda dan sopir sewaan itu terkejut dan menghentikan mobilnya sambil berdecak. Mereka turun dan disambut dengan senyuman manis dari anak remaja yang masih memakai baju seragam sekolahnya.
“Kakak-kakak ini, siapa? Rugi dong, Royan pulang kalian sudah mau pergi. Wah ... mobilnya boleh juga,” kata anak itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Junda tersenyum, dia melihat wajah Royan yang mirip sekali dengan Relina membuatnya menebak bila Royan adalah saudara.
“Jadi ... nama kamu, Royan? Adik Relina?” tanya Junda sambil mengulurkan tangannya. “Kenalkan, nama saya Junda, teman Relina waktu di Bogor.”
Mereka saling berjabat tangan, begitu juga Fadil yang ikut memperkenalkan diri.
“Kakak, dari Bogor? Jauh, ya. Kenapa nggak nginep saja kak. Sekarang sudah sore loh.”
Junda kembali tersenyum menanggapi. “Nggak perlu, lain kali saja. Lagian Relina. juga nggak ada.”
“Iya, Kak Reli, kan di Martapura! Dia jadi bos kedai kopi Paman Danu, ada cabang baru.” Kata Royan memberi tahu keberadaan Relina tanpa diminta, membuat Junda tersenyum lebar dan jadi bersemangat.
“Iya, aku tahu. Kakakmu itu keren!”
“Nah, kita telepon Kak Reli, yuk. Biar dia tahu ada Kak Junda di sini,” kata Royan sambil mengeluarkan ponselnya. “Kak, sini!” sambil melambai agar Junda mendekat.
Junda tidak menyangka Royan melakukan panggilan video!
__ADS_1
Bersambung