Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kamu Amnesia


__ADS_3

Relina berjalan cepat begitu pula Junda dan mereka berpelukan erat, melepaskan rindu, seketika aroma dari tubuh mereka bersatu seolah mendatangkan banyak sekali kupu-kupu yang beterbangan di antara mereka sehingga suasana panas pun menjadi sejuk dari kipasan sayap kupu-kupu yang menaungi mereka.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Junda masih dalam pelukan Relina dan gadis itu mengangguk. Matanya terpejam menikmati pelukan Junda.


“Hmm ....” Gumamnya.


Setelah beberapa saat lamanya Junda dan Relina saling melepaskan pelukannya, dengan perlahan. Mereka saling menatap dengan senyuman termanisnya.


“Ayo!” ajak Junda sambil menggenggam tangan Relina dan melangkah keluar dari area pembangunan.


Junda dan Relina pergi makan siang ke sebuah rumah makan sederhana yang tidak jauh dari tempat proyek didirikan. sebelum ia melewati tempat itu dia melihat rumah makan yang cukup nyaman.


Relina menurut saja ketika Junda membukakan pintu mobil untuk dirinya dan mengabaikan Erwin begitu saja. Pria itu menatap kosong pada bos wanitanya yang pergi menjauh bersama kekasihnya. Padahal dia sudah membawa makanan yang Relina minta.


Restoran tempat Junda dan Relina menikmati makan siang, tidak begitu jauh dari proyek danau buatan yang ditangani oleh Relina. Akan tetapi sepertinya tempat itu luput dari perhatian Relina selama ini. Terbukti dia tercengang saat memasuki restoran dan duduk di salah satu kursi, berbaur dengan pengunjung lainnya.


Junda duduk di hadapan Relina sambil menunggu pesanan yang sudah mereka buat. Dia menggulung kemeja putihnya sampai siku, sementara jas serta dasi sudah dia lepaskan saat berada di dalam mobil.


“Kamu sudah pernah ke makam Gunara?” tanya Junda memulai obrolan. Dia ingin tahu sejauh apa perasaan Relina pada orang yang sudah memberinya jabatan serta deviden saham dari perusahaannya, padahal Relina bukalah siapa-siapa di dalam perusahaan itu.


Satu hal yang Junda dan Relina tidak tahu adalah bahwa saat Gunara bertemu dengan Relina waktu itu, dia sudah bertekad untuk menjadikan Relina sebagai istrinya. Akan tetapi saat dia memeriksakan diri dan mengetahui penyakitnya, dia meninggalkan tekadnya  karena dia tidak ingin Relina menjadi janda, apalagi dalam keadaan hamil, dalam usia yang masih sangat muda.


“Ya, tentu saja,” sahut Relina cepat. Setelah dia tiba kembali di Bogor dengan semua amanah yang diembannya, Relina langsung pergi untuk berziarah ke makam Gunara. Sebagai manusia biasa, Relina memang tidak bisa bertemu atau melihat jasad dalam tanah, tapi setidaknya, berbicara dengan batu nisan sudah cukup mewakili dalam mencairkan gumpalan perasaan di dadanya.


“Apa yang kamu katakan padanya?” tanya Junda dan di saat yang bersamaan, makanan yang mereka pesan sudah tersedia.


“Aku hanya bilang soal semuanya, ya semua yang aku rasa. Kenapa dia kasih saham itu dan proyek itu juga. Dia berusaha mewujudkan mimpiku.”


“Kamu senang?”


Relina mengangguk. Gadis itu berkata dengan jujur. Setelah itu mereka menikmati makan siang dalam diam. Hanya Junda yang memperhatikan Relina yang makan dengan menunduk. Dia melihat Relina seperti ini saat mereka makan di perjamuan gala dinner beberapa bulan yang lalu.


“Lalu sekarang, apa kamu senang makan siang di sini, bersamaku?” tanya Junda secara tiba-tiba, sementara makanan di piringnya sudah hampir habis.

__ADS_1


Relina menegakkan tubuhnya, mengelap bibirnya dengan tisu, lalu tersenyum dan mengangguk.


“Aku senang. Terima kasih.” Relina berkata sambil mengusap punggung tangan Junda di atas meja. Junda segera menangkap tangan Relina dan menciumnya. Tingkah Junda itu membuatnya tersenyum malu-malu dan pipinya memerah.


“Aku harap kamu lebih senang saat bersamaku dari pada saat kamu mengurus pekerjaanmu atau mendapatkan bayaranmu.”


“Kamu ini. Tentu tidak sama. Aku lebih senang bersamamu!”


“Benarkah?”


Relina kembali mengangguk dan menarik tangannya untuk menghabiskan makan siangnya. Dia memsan soto Betawi, padahal mereka tengah berada di kota Bogor.


“Aku sebenarnya ingin tahu, berapa, lima persen sahammu?”


“Kamu, mau? Akan kubagi nanti. Tenang saja!”


“Apa?” Tiba-tiba Junda ingin sekali tertawa mendengar Relina ingin membagi saham itu untuk dirinya. Dia merasa lucu, tapi dia senang, Relina gadis yang jujur dan baik. Dia berkata lagi, “aku tidak menginginkan itu, aku Cuma mau tahu berapa bagianmu.”


“Hais, kamu gak perlu tahulah ... tapi kalau kamu mau, aku akan membaginya!”


“Bukan ..., aku nggak mau uangmu.”


“Kalau begitu kamu nggak perlu tahu.”


 Relina mendengus dan minum sampai air di gelasnya hampir habis. Dia tidak menunjukkan kesan anggun atau ingin terlihat manis serta elegan, yang dia tunjukkan adalah pribadi yang biasa saja. Dia ingin Junda mencintainya apa adanya dirinya. Dia memang gadis biasa!


Junda tidak menginginkan uang dari Relina, dia hanya senang saja menggodanya. Hatinya, untuk sejenak bisa melupakan masalah yang banyak setelah dia meninggalkan perusahaan dalam waktu yang cukup lama. Banyak berkas yang membutuhkan tanda tangan dan persetujuannya terabaikan karena masa berkabungnya.


Sementara Banu, orang kepercayaan Junda, sudah mengerjakan tugasnya dengan baik. Akan tetapi tetap saja dia tidak bisa memasuki ranah yang bersifat pengambilan keputusan yang menjadi hak penuh Junda sebagai pimpinan perusahaan.


Seorang pimpinan memang tidak perlu sibuk merevisi laporan, atau menghitung jumlah-jumlah semua alokasi keuangan dan produksi, dia cukup memastikan semuanya sesuai dengan yang seharusnya. Ada hal yang lebih penting sebagai pimpinan adalah memikirkan bagaimana sepuluh langkah berikutnya dari sebuah keputusan ataupun program yang sudah diambil dalam perusahaan.


Junda akan bahagia bila Relina bahagia.

__ADS_1


“Jadi, apa kamu senang berkerja di sini?”


Relina kembali menatap Junda lekat-lekat, mencoba mencerna ke mana arah pembicaraan Junda. Dia sempat menduga bila Junda cemburu saat dia bercerita tentang Gunar, perusahaannya dan juga cita-cita mereka.


Relina sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa pada Gunara, rasa cintanya sudah hilang sejak pria itu menghilang tanpa kabar. Walaupun sekarang dia sudah tahu tentang alasan kepergian Gunara karena sakit yang di deritanya, dia tetap tidak merasakan apa-apa. Apalagi sekarang, Gunara sudah tiada. Saat itu hatinya sudah dipenuhi oleh Junda.


“Ya. Aku suka. Junda ... ini mimpiku. Dan aku mewujudkannya sendiri.”


Proyek yang sedang Relina kerja kan adalah mimpinya bersama Gunara, dia adalah orang yang spesial bagi Relina. Begitu pula impian mereka.


Junda mengalihkan pandangan dan tersenyum seperti mengejek dirinya sendiri, tapi kembali menatap Relina saat gadis itu berkata.


“Tapi kamu lebih berarti bagiku. Aku mencintaimu, Junda ...  jadi jangan bertingkah seperti dirimu yang dulu. Oke?”


“Memang aku dulu gimana?”


Relina menghela napasnya kesal, dia menganggap Junda melupakan semua tingkah konyolnya yang selalu membuat Relina kesal. Dia selalu saja bersikap kasar. Gadis itu melototinya, tapi Junda justru tertawa karena Relina tampak lucu di matanya.


“Apa kamu amnesia?” tanya Relina.


“Tidak ... maaf atas sikapku yang dulu.” Junda heran, kenapa wanita selalu saja mengingat kejadian buruk di masa lalu dengan lebih baik? Dia kembali berkata, “aku ingat semuanya dan betapa menyesalnya aku saat mengingat semua itu? Maafkan aku?”


“Baik, aku maafkan, asal ....” Relina menutup mulutnya menyembunyikan senyum.


“Asal apa?” tanya Junda, saat itu Relina berdiri dan menghampirinya.


“Asal ... aaakkhh!” suara teriakan Relina begitu keras bersama dengan suara ledakan yang cukup keras dari arah dapur Restoran, seketika itu juga api berkobar di mana-mana.


 


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2