Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Alex


__ADS_3

"Ah, gak. Siapa tahu dia punya istri," jawab Ane, dengan senyum malu-malu melihat ke arah anak lelaki yang tertidur.


"Tapi kenapa anaknya kamu yang bawa?" Relina penasaran.


Ane telah menemukan anak kecil itu, saat makan siang. Gadis itu hampir saja menyelesaikan makan siangnya ketika seorang anakk berlari dan terjatuh, sementara di tangannya memegang es krim. Tentu saja ia secara tidak sengaja menumpahkan makanan itu ke arahnya. Anak kecil yang memakai stelan jas rapi itu terlihat takut dan hendak menangis, hingga membuat Ane memeluk dan menenangkannya agar ia tidak menangis karena ia tidak marah walaupun sepatunya kotor karena terkena es krim.


"Wah, es krimnya jatuh, ya?" Kata Ane sambil berjongkok dan mengangkat anak itu dalam pangkuannya lalu merapikan kembali pakaiannya.


Anak itu hampir menangis saat Anne memeluk dan berkata, "sayang ... nanti beli es krim lagi ya?" Anak itu pun mengangguk.


"Janji ya, beli lagi," kata Anak kecil itu dan hendak turun dari pangkuan Ane, tapi kemudian ia melihat makanan yang ada di piringnya.


"Kamu mau makan?" Tanya Ane dan anak itu mengangguk dan bertahan di atas pangkuan gadis itu.


Rupanya kelembutan Ane membuat anak itu menjadi tenang dan mau bersamanya. Ane waktu itu merasa aneh dengan anak yang memakai pakaian resmi ada di kantor, di mana tempat seperti itu sama sekali bukan tempat yang menyenangkan untuk anak-anak.


Walau rasanya canggung karena Ane tidak kenal dan tidak tahu siapa orang tuanya, ia tetap memangku sambil menyuapi makanan dari piringnya yang masih belum habis.


Awalnya anak itu terlihat ragu dan takut ia menoleh ke kiri dan ke kanan yang sepertinya mencari orang yang dia kenal. Ketika tidak menemukannya, ia kembali hampir menangis dan Ane kembali menenangkannya.


Kebetulan Ane tidak terlalu sibuk, sementara anak kecil itu masih bersamanya setelah mereka membeli es krim. Akhirnya ia bawa saja anak kecil itu ke rumah Relina yang memang sangat dekat jaraknya dengan kantor Junda kebetulan juga dia lelah, hampir saja ia pindah profesi jadi pengasuh.


Sementara itu di kantor perusahaan Junda. Keributan terjadi karena seorang anak kecil dari saudara CEO perusahaan itu hilang. Semua pihak keamanan di minta untuk mencari.


"Apa kalian sudah periksa CCTV kita?" Tanya Junda pada seorang lelaki yang berdiri di depannya. Pria itu berambut ikal, tubuhnya sedikit kurus dan matanya sipit, dia saudara sepupu Junda dari pihak ibunya yang telah tiada. Ia berkunjung ke perusahaan itu karena tengah menikmati cuti dari pekerjaannya.


Ditanya seperti itu, Dion menggeleng. Ia baru sebentar meninggalkannya saat ingin ke toilet.


"Lagian, kenapa gak pakai toilet di ruanganku?" Tanya Junda lagi.


"Aku udah gak tahan." Dion menjawa sambil terus berjalan menuju ruang pengawas, mereka hendak memeriksa CCTV.


Dion mereasa aman-aman saja meninggalkan anaknya di luar toilet karena ia pikir tidak akan lama, siapa yang tahu ketika ia di dalam, anak lelaki semata wayangnya itu melihat kucing yang kebetulan melintas, ia takut hingga ia lari tunggang langgang tak tentu arah. Lokasi kantin kantor tempat yang paling dekat dengannya hingga ia berlari ke arah sana.


Setelah memeriksa CCTV dan melihat bila Dero, nama anak kecil itu bersama salah satu pegawainya, akhirnya dua pria itu kembali tenang.


"Sudah, anakmu pasti sama perempuan itu di ruangannya. Nanti kita jemput di sana." Junda berkata sambil berjalan meninggalkan ruang pengawas, sambil menepuk bahu Dion.


Mereka melanjutkan obrolan sekaligus makan siang di ruangan Junda, hingga tak terasa sudah melewati makan siang.


"Jadi, kamu belum cari istri baru, Yon?" Tanya Junda, sambil mengusap tangan dengan tissue.


"Belum nemu yang cocok, nyantailah. Baru tiga bulan ini dia pergi."

__ADS_1


"Kenapa, laki-laki kan tidak punya masa tenggang? Masih kuat udah tiga bulan loh?"


"Kamu juga belum, gak takut jadi bujang lapuk?"


"Gak."


"Gak ngebet mau itu sama cewek gitu?" Dion diam sejenak setelah bicara, melihat reaksi Junda. "Gak usah percaya Nenek, percaya sama mitos itu. Bisa gila kita kalau ngikutin dia."


"Iya, memang cuma mitos, tapi gak tau kenapa aku jadi takut, Yon."


"Takut istrimu mati?" Dion bertanya, sambil tertawa. Mendengar pertanyaan Dion itu, Junda melihatnya dengan tatapan kesal.


"Soal mati hidup itu urusan Tuhan. Kalaupun memang istrimu meninggal, mungkin memang itu takdirnya. Bukan kamu yang mencabut nyawanya."


Junda mengalihkan pandangan, menghindarkan wajah keruh dari saudara terdekatnya ini. Ia bukannya tidak tahu dunia mitos, hanya saja Shasi selalu menanamkan faham ini sejak dia kecil.


Mau percaya atau tidak, memang urusannya, tapi menghargai seorang wanita yang sudah merawat dan membesarkannya, bahkan bersedia menjadi pelindungnya dalam segala hal, adalah sebuah kewajiban. Shasilah yang menjadi penyemangat serta pengganti kedua orang tuanya. Di saat ia membutuhkan, wanita itu selalu ada.


'Aku hanya menghormati kepercayaan Nenek, soal mitos aku tidak sepenuhnya percaya'


Sebenarnya mitos atau mite atau dalam bahasa Belanda disebut mythe hanyalah sudah kisah yang melatarbelakangi penafsiran tentang kejadian alam semesta, dewa-dewa, makhluk astral juga segala kisah manusia dan binatang, yang biasa dianggap benar oleh kalangan tertentu. Jadi, tidak semua orang, kelompok atau komunitas, yang memiliki kepercayaan akan mitos yang sama.


"Ada suara burung prenjak di atap rumah, wah ... pasti kita bakal kedatangan tamu istimewa." Itu salah satu mitos yang diucapkan Shasi pada Junda.


Mitos ada dalam kisah-kisah tradisonal dan kepercayaan orang di masa lampau yang berdasarkan kejadian-kejadian sejarah. Kemudian ditafsirkan secara acak, bahkan berlebihan, sebagai personifikasi dari fenomena alam tertentu. Akan tetapi kebanyakan dipercaya karena menurut mereka benar.


Biasanya mitos disebarkan untuk pengalaman dan penyampaian religius sebuah ajaran komunitas tertentu. Mitologi Yunani kuno, tentang dewa, pahlawan dan prosa rakyatnya, adalah salah satu mitos yang terkenal dan sampai sekarang masih dianggap suci.


Setelah Junda dan Dion selesa makan siang, mereka segera pergi menuju ruangan di mana Ane bekerja, tapi mereka tidak menemukan gadis itu di sana. Semua karyawan yang berada dalam satu ruangan dengan Anne menjadi sasaran kebingungan bos dan saudaranya itu karena anak kecil yang mereka kira di sana ternyata tidak ada.


"Kemana perempuan itu? Tadi juga ada di sini," kata rekannya, sambil berusaha menghubungi ponselnya.


*****


Relina masih makan semangkuk bakso saat ponsel Anne terus berbunyi, sedang pemilik ponsel masih sibuk menyuapi Alex, anak kecil berpipi tembem, berkulit putih yang manis.


Relina mengambil ponsel yang ada di atas kasur busa dan memberikannya pada Ane, sambil berkata, "nih, berisik!"


"Halo?" Anne bicara setelah menempelkan telepon ketelinganya. Kemudian ia diam mendengarkan seseorang bicara diujung ponsel seperti sedang mengomelinya.


"Oh, mati aku!" sahutnya. "Oke, bilang sama Pak Junda, aku ke kantor sekarang!" kata Anne sambil melangkah memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Ayo Alex, kita ke kantor lagi," kata Anne sambil membersihkan bibir anak kecil itu dengan tisu. Ia terlihat panik.

__ADS_1


Tapi anak itu menggeleng, ia mengabaikan Ane dan Relina, sepertinya dia ingin menghabiskan baksonya. Saat anak itu bangun, kebetulan ada tukang bakso yang lewat. Rupanya bakso dan soto merupakan makanan kesukaannya. Anne bisa menebaknya kerena saat ia makan siang tadi, anak itu pun mau menghabiskannya. Alex anak yang sudah terbiasa bertemu dengan banyak orang serta pengasuh yang sering berganti, hingga membuatnya cepat akrab dengan Ane dan Relina.


"Kenapa? Jadi dia anak Pak Junda?" tanya Relina.


"Bukan, anak saudaranya. Pak Jun, masih bujangan, kan?"


"Masa, sih?"


Sementara menunggu Alex, Ane bercerita tentang kejadian di kantor setelah kepergiannya. Ia memutuskan pergi setelah Alex tertidur dan ia terlalu lelah untuk memangku anak itu, hingga ia memutuskan untuk membawa Alex pergi. Apalagi tidak orang yang mencarinya, sehingga Ane nekad membawanya, ia tidak berpikir lebih jauh soal itu, tapi karena melihat penampilan Alex, ia berpikir bila ia bukan anak orang biasa.


Ia hanya sedikit bicara waktu diajaknya makan siang.


"Siapa namamu?"


"Alex."


"Kamu keren ya, pake dasi, pake jas. Mau kemana, si?"


"Papa juga, kan pake teyus," jawab Alex polos.


Sekarang anak lucu itu ada di hadapannya sedang makan bakso, dengan lahapnya. Tanpa berpikir kalau papanya tengah bingung mencarinya.


Tak lama tepon genggam Ane, kembali berdering dan gadis itu mengangkatnya, walaupun ia tahu panggilan itu dari orang yang tidak dikenal.


"Halo! Di mana posisi kamu sekarang!" Ternyata itu suara Junda yang berteriak ditelepon.


"Saya di rumah kost teman saya, Pak. Alex masih makan, tidak mau di ajak ke kantor. Maaf ... Pak!" Anne berkata dengan terbata-bata karena gugup dimarahi bosnya, walaupun dari balik ponsel, tetap saja menakutkan.


"Share lokasi kamu sekarang, saya jemput anak itu!"


"Baik, Pak."


Anne melakukan semua yang Junda minta, membagikan lokasi tempat ia berada.


"Kenapa lagi?"


"Pak Junda mau ke sini."


"Apa. Orang itu mau ke sini. Ngapain?" Raut wajah Relina terlihat keruh, ia membayangkan bila ia harus bertemu lagi dengan Junda, setelah ia mengatakan bahwa dirinya wanita malam.


"Mau jemput Alex."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2