Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Dia Biasa Saja


__ADS_3

Junda mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang, dia mengatakan tentang kejadian yang baru saja dia alami dan kecurigaannya. Pria itu berbicara cukup lama dan menjauh dari Relina. Setelah selesai dan menutup telepon genggamnya, dia menggamit tangan Relina dan menariknya dengan lembut menuju tempat di mana mobilnya di parkir.


Sebelum Junda membuka pintu mobil, Relina bertanya, “apa kita akan pulang?”


Junda mengangguk, membuka pintu dan menutupnya kembali, setelah Relina duduk dengan nyaman.


Setelah Junda duduk dan menyalakan mesin, dia menoleh kepada wanita yang duduk di sampingnya.


“Kamu masih mau di sini?”


‘Eh, kenapa baru bertanya sekarang? Dasar!’


“Tidak, ayo pulang. Ini sudah malam. Paman pasti sudah tutup.”


“Iya, kamu benar. Maaf, ada yang harus aku selesaikan,” kata Junda sambil melajukan kendaraannya.


“Soal kejadian tadi, bukan?” Relina bertanya tanpa melihat ke arah Junda, melainkan ke arah jendela, baginya itu tidak penting, yang penting mereka tidak jadi meminum teh manis itu, seandainya mereka meminumnya, entah apa yang akan terjadi pada mereka.


Tiba-tiba Junda menghentikan laju mobilnya yang sudah berada di luar area Hall Center. Relina pun menoleh karena heran mengapa mobil terhenti begitu saja. Belum habis rasa herannya, dia lebih terkejut lagi saat Junda tiba-tiba memeluknya, dengan erat. Sesaat dia diam, tapi setelah kesadarannya pulih, dia pun mendorong tubuh Junda, namun pria itu mempertahankan posisinya.


“Terima kasih, bisiknya tepat di telinga Relina.”


“Untuk apa?” tanya Relina sambil terus memberontak. Beberapa saat kemudian, Junda melepaskan dan kembali menjalankan mobilnya, seolah-olah tidak habis melakukan apa-apa.


Relina meneruskan bicaranya. “Kenapa kamu selalu memaksa? Apa nggak bisa bilang baik-baik, atau berbuat lebih sopan?”


“Kalau itu ... aku sendiri tidak tahu, kenapa aku bisa spontan seperti ini sama kamu.”


“Aku kesal, tahu? Ingat sesuai janjimu ... mulai besok jangan ganggu aku dan utangku lunas, oke? Kalau bisa, jangan datang lagi ke kedai kopi dan kalau kita ketemu, anggap kita gak saling kenal!”


“CK! Mana bisa begitu. Aku gak bisa pura-pura gak kenal sama kamu, Relina Hayati! Kita, kan pernah berciuman?”


Mendengar Junda menyebutkan namanya seperti tadi, tiba-tiba bulu kuduk Relina meremang, rasa dingin menjalar dari ujung kaki sampai tengkuk. Dia gugup dan punggungnya kaku, seolah tidak bisa bergerak dan keringat keluar lebih banyak. Dia menoleh ke arah Junda yang masih sibuk mengemudi. Wajah itu tampak tenang seolah-olah tidak baru saja mengatakan sesuatu yang membuat orang menjadi takut.


‘Apa itu artinya dia tidak akan menepati janji? Sialan!’


“Kau ...?” Relina menggeram setelah berkata.


“Apa? Aku kenapa?”

__ADS_1


“Kalau Anda masih mengganggu dan memaksa saya, maka saya akan pergi lagi, seperti yang dulu pernah Anda minta!” Relina mengeluarkan ancaman, pergi ke kampung halaman, pasti Junda tidak akan bisa menemukannya, pikirnya.


Mobil kembali dihentikan secara mendadak, pria itu menoleh sambil berteriak, “jangan!”


“Kamu gila, ya? Berhenti mendadak seperti ini, bahaya, tahu? Apa kamu mau kita mati, ha?” Relina berkata sambil memukul Junda.


“Aku nggak bisa!” kata Junda sambil menarik tangan Relina agar tidak memukulnya. “Aku nggak bisa kalau harus pura-pura nggak kenal sama kamu. Aku janji nggak bakal ganggu kamu lagi setelah ini, tapi anggap kita teman, ya?”


Relina tertegun, lantas menepis tangan Junda dari lengannya. Lalu berkata, “aku kan wanita malam? Apa kamu nggak malu punya teman seperti itu?”


“Memang kamu wanita seperti itu?”


“Bukan!”


“Ayo kita berteman.” Junda berkata sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Relina. Gadis itu menyambut dengan berat hati, apalagi saat Junda membawa tangannya ke bibirnya dan menciumnya lembut.


‘Mana ada teman begini?’


“Eh!” Spontan Relina menarik tangannya. Rasa ciuman dari bibir Junda masih membekas. “Sudah cukup hari ini. Aku ngantuk!” ucapan Relina, memberi isyarat agar Junda segera mengantarkannya pulang.


Junda melajukan mobilnya kembali sambil tersenyum manis. Ingin sekali ia mengatakan hal yang sejujurnya tentang bagaimana hatinya, sehingga ia berbuat sesuatu yang kekanakan pada gadis itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa pada akhirnya dan membiarkan Relina tetap keheranan dengan perubahan sikapnya.


Malam ini adalah puncak dari rasa penasarannya pada Relina yang pernah mengatakan, bahwa Junda harus berpikir positif, bila bertemu dengan Relina dan mengalami sesuatu yang merugikan.


Lalu selama berhari-hari, laki-laki itu merenung dan berpikir tentang semua hal yang dia alami bersamanya. Akan tetapi, justru wajah biasa dan penampilan kuno yang dulu pernah dia abaikan, bahkan dia sepelekan itu menjadi ratu yang bertahta dengan manis di hatinya.


Ketika mobil sampai di depan kedai kopi Danu yang sudah tutup, Relina melepaskan semua perhiasan, yang dia kenakan karena semua itu pemberian dari Junda untuk dipakai di pesta.


Junda memperhatikan apa yang dilakukan Relina. Laki-laki itu tahu maksud gadis itu.


“Kamu ngga kembalikan perhiasan itu. Pakai saja, kalau kamu balikin, justru aku buang. Buat apa aku simpan perhiasan perempuan yang sudah pernah di pakai.”


Mendengar penuturan Junda, Relina menghentikan gerakannya dan menatap Junda tidak percaya. Semua perhiasan yang sepertinya mahal itu, hanya akan dibuang, bila dia mengembalikannya. Junda membalas tatapan Relina dengan senyum.


“Semua buat kamu. Anggap saja itu hadiah sebagai ucapan terima kasih, sudah menemani malam ini dan sudah menyelamatkan kita.”


Relina hanya bisa diam dengan berat hati, walau ingin sekali protes karena menurutnya laki-laki itu begitu sombong. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa, mau tidak mau dia terpaksa menerimanya.


Junda memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi setelah memastikan Relina masuk ruko dengan aman. Dia menuju tempat pesta yang tadi dia hadiri, untuk segera menyelesaikan urusan minuman yang mungkin saja mencelakainya. Dia tidak akan menyadarinya, kalau Relina tidak mengatakan tentang kecurigaannya. Pria itu kembali sesuai perjanjiannya dengan Sena, seorang rekan dari kepolisian yang sangat dekat dengannya.

__ADS_1


Ketika dia tiba di sana, Sena yang masih memakai seragam polisi wanitanya itu, sudah berada di lokasi kejadian sesuai yang Junda katakan.


Junda bertanya sambil mengerutkan alisnya, "apa kamu masih bertugas?" mendengar pertanyaan itu, Sena mengangguk sambil tersenyum masam. Malam ini, dialah satu-satunya polisi wanita yang bertugas.


“Benar, di sini kejadiannya?” tanya polisi wanita itu dengan mimik wajah serius. Junda mengangguk seraya memberikan tissue basah yang tadi dia amankan di saku jasnya.


Mereka melakukan olah kejadian sendiri dengan tenang dan tanpa mengundang kecurigaan. Seolah mereka sedang berbincang-bincang biasa.


“Kau bisa menyelidikinya nanti, soal isi kandungan minuman itu. Juga rekaman CCTV-nya. Kira-kira butuh waktu beberapa lama?" kata Junda sambil menyelipkan tangannya di saku celana.


"Kalau itu, biasanya satu atau dua hari. Aku baru bisa mengambilnya."


"Tidak bisa lebih cepat?" tanya Junda dan Sena menggeleng.


“Kenapa kamu butuh bukti, kali ini? Bukannya kamu bilang, hal seperti ini sudah beberapa kali terjadi?”


“Aku ingin memecatnya, ini sudah ketelaluan."


“Apa kamu tidak takut menghadapi ayah-ayah kalian nanti?”


“Karena itulah aku butuh bukti, biar aku tidak di salahkan.”


“Tidak ada sekertaris yang sebagus dia. Atau jangan-jangan kamu sudah menemukan penggantinya?”


“Kurasa begitu?”


“Apa dia cantik, atau dia spesial?"


“Tidak keduanya, dia biasa saja, tapi berkat dia aku selamat kali ini dan tidak harus berlari beratus-ratus meter hanya untuk menghilangkan efek obat sialan itu.”


Mendengar ucapan Junda, polisi itu tertawa. Sena punya koneksi, sehingga tidak sulit untuk meminta pihak pengelola gedung untuk bekerja sama dan mendapatkan beberapa rekaman CCTV yang bisa mendukung pembuktian kejahatan yang akan Jund lakukan pada seseorang.


“Kalau kamu mau memasukkannya ke dalam tahanan, aku siap membantu.”


“Tidak perlu. Dia masih punya masa depan. Lagipula ini hanya masalah antara aku dan dia saja. Aku pikir ini akan cukup membuatnya jera.”


Sena hanya mengangguk, malam itu dia bertugas menjadi pihak kepolisian yang bertanggung jawab pada keamanan dan kenyamanan para tamu perhelatan. Setelah membicarakan beberapa hal yang bersifat teknis, mereka pun berpisah. Junda pulang dan Sena kembali bertugas sampai acara benar-benar selesai.


Tentang masalah minuman dan obat perangsang itu, tidak bisa diselesaikan dalam waktu semalam!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2