
Relina menatap Junda lekat, meminta jawaban dengan kejujuran penuh melalui tatapan matanya. Berbagai perasaan antara ragu dan percaya, berbenturan dalam hatinya.
Selama ini dia memberikan perasaan dan cintanya tulus tanpa embel-embel mitos tanda lahir yang sama dan ia tahu bahwa Junda pun merasakannya. Dia mengira bahwa pria itu belum tahu bahwa dirinya memiliki tanda yang sama. Relina berniat memberitahunya saat nanti mereka sama-sama memadu kasih. Selain itu dia akan membiarkan suaminya melihatnya sendiri.
Maksud Reina tidak mengatakan bahwa dirinya mempunyai tanda yang sama pada Junda adalah, untuk memurnikan perasaannya. Dia mempunyai kepercayaan bahwa apa pun yang dikatakan oleh manusia, apabila Tuhan tidak menghendaki sesuatu terjadi padanya maka tidak akan terjadi. Inilah hai yang tertanam, dengan baik pada dirinya sendiri dan keluarganya, pengajaran bagus oleh ibunya selama ini.
Namun keraguan yang menyelinap dalam hatinya, mengatakan hal yang berbeda, apa yang akan ia lakukan apabila ternyata Junda memang mengetahui tanda yang ada pada tubuhnya, hingga akhirnya pria itu berani untuk menikahinya. Memang tidak masalah selama Junda tetap mencintainya, tetapi, hal ini akan merusak kemurnian cinta mereka.
Cinta yang murni adalah perasaan yang lahir begitu saja, dan tidak memiliki alasan apa pun untuk mencintai seseorang sebab, alasannya hanya satu yaitu mencintai, entah karena apa, dia hanya ingin memiliki.
Bila alasan seseorang mencintai adalah karena cantik dan pintar lalu, bagaimana bila kecantikan dan kepinatarannya memudar, apakah cinta itu akan hilang? Bila alasan Cinta adalah karena kaya dan tampan Lalu bagaimana apabila kekayaan dan ketampanan itu hilang, apakah cinta juga akan lenyap? Sungguh bila mencintai dengan tulus maka perasaan itu muncul dengan sendirinya, tidak membutuhkan apa pun sebagai alasan.
“Tidak, aku mencintaimu apa adanya, aku sudah mencintaimu walaupun aku tidak tahu apakah kau memiliki tanda yang sama atau tidak.” Junda mengatakan kejujuran memang dia jatuh cinta kepada Relina walaupun, dia tidak tahu apa-apa tentang Gadis itu. Akan tetapi dia memang baru berani menikahinya setelah mengetahui bahwa Relina memiliki tanda yang sama dengan dirinya. Namun, untuk hal ini dia tidak mengatakannya.
“Benarkah?” tanya Syalu sambil menyimpan jus jeruk pesanannya, dia baru saja hendak minum saat Junda mulai bicara.
“Ya,” jawab Junda tegas. Dia melihat ke arah Relina sambil menggenggam tangannya, untuk meyakinkan gadis itu bahwa dia mencintainya dengan tulus.
“Kau bohong!” Syalu menghentikan kakinya di lantai sambil mengepalkan tangan. “jangan munafik Aku tahu kamu berani nikah sama dia karena kamu ketahui dia punya tanda yang sama, ya kan?”
Mendengar ucapan Syalu, Relina tercengang. Dia merasa Junda sedikit mengelabuhinya. Akan tetapi, dia melihat ketulusan, ketika dia melihat sinar mata yang tertuju hanya pada wajahnya.
Saat itu pula laki-laki itu tersenyum simpul pada Relina yang menatap dengan alisnya yang berkerut cukup dalam. Fitur wajah manisnya menunjukkan ketidak sukaan atas apa yang baru saja diketahuinya.
__ADS_1
“Percayalah, Aku tidak seperti yang dia tuduhkan, aku sudah pernah bilang, kan kalau aku tidak peduli ada mitos itu atau tidak, aku tetap mencintaimu.” Junda membela diri dengan berkata demikian.
Bukankah sudah banyak fakta di dunia yang menunjukkan bahwa, manusia lebih banyak ingin terlihat dirinya benar daripada mengakui bahwa dirinya salah.. Hanya orang-orang yang berhati besar lah yang berani mengakui kesalahannya di depan orang lain dan mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan sungguh-sungguh.
Relina mengangguk dia berusaha mempercayai suaminya. Siapa lagi yang akan mempercayai Junda kalau bukan dirinya sebagai istrinya?
Setelah itu, Relina berdiri tanpa melepaskan genggaman tangan Zonda dari pergelangan tangannya. Dia menatap ke semua orang yang duduk di hadapannya lalu memberi mereka senyuman yang termanis.
“Kalau kalau begitu, Semua sudah jelas bukan? Jadi, urusan kita sudah selesai sekarang ... saya mau pamit, ayo!” kata Relina, sambil menarik tangan Junda agar Pria itu pun ikut berdiri dengannya. Akan tetapi Junda terlihat enggan, dia bukannya menolak Relina, tapi dia ingin mengatakan sesuatu yang masih belum diucapkan kepada Syalu dan orang tuanya.
Melihat Relina melotot padanya, Junda pun berdiri, diam sejenak di sisi meja lalu berkata, “Om, Tante, sekarang saya sudah jelaskan dan saya tidak bisa menikahi Syalu, seperti permintaan Om dan Tante.”
“Dan, Saya berharap om dan tante tidak marah karena memang seharusnya begitu Syalu tahu saya tidak bisa menerimanya, dia bisa mencari orang lain yang lebih layak untuk dicintainya.” Junda melanjutkan ucapannya, lalu melangkah.
“Jadi, kamu menyalahkan aku yang sudah bertahun-tahun mencintaimu begitu? Apa kau pikir cintaku itu salah? Kamu yang salah Junda, sudah menikah dengan dia, Kau akan tahu akibatnya!”
Junda tidak menghiraukan ucapan Gadis itu dan dia memimpin jalan Relina, sambil tetap menggenggam tangannya.
Mereka duduk di kursi mobil, Junda sengaja belum menyala mesinnya, dia menghadapkan tubuhnya ke arah Relina yang duduk di sampingny, sambil memasangkan sabuk pengaman. Dalam kesempatan itu dia mencium kedua pipi Relina lalu, tersenyum manis.
“Maafkan aku sudah melibatkanmu dalam hal seperti ini, kamu nggak marah kan?”
“Apa yang bisa membuat aku marah, aku sendiri yang ingin ikut bersamamu kesini, apa karena niatmu menikahiku?”
__ADS_1
“Apa itu jadi masalah bagimu, kalau memang benar aku mantap menikahimu karena aku tidak lagi punya rasa khawatir, apabila kamu tiada karena diriku, apa aku salah?”
“Tidak, ayo! Kita pulang. Aku sudah ngantuk!”
“Baiklah .... Sayang!” Junda berkata setelah mengusap hidungnya dan mulai menyalakan mesin, lalu memacu mobilnya ke jalanan menuju rumah mereka.
Relina tersenyum tipis mendengar Junda mengucapkan kata sayang untuk dirinya, mereka tidak punya panggilan yang dianggap pantas disematkan untuk diri masing-masing, selama ini mereka hanya memanggil nama saja, sebab mereka memang tidak melalui proses pacaran. Tidak ada kesepakatan seperti itu dalam hubungan mereka.
“Apa kamu suka dipanggil Sayang?” tanya Juanda memecah kesunyian dalam mobil. Saat itu, seolah-olah suasana terbawa angin musim panas yang hangat berembus di antara bunga-bunga. Indah dan menghangatkan.
Relina boleh dalam melihat profil Junda dari samping, dia tidak melepaskan tatapan itu setelah beberapa lama, untuk menikmati pemandangan yang lebih indah dari hamparan bunga di taman. Bibirnya tersenyum manis menyadari sebuah kenyataan bahwa pria tampan itu adalah suaminya.
Di saat yang sama Relina merasa kegerahan. Dia mengipasi lehernya dengan telapak tangannya yang dikibaskan secara terus menerus. Junda melihatnya heran karena AC di mobilnya sudah cukup dingin.
“Apa ac-nya mati?” tanya Relina, sambil terus mengipasi wajahnya.
“Nggak. Masa sih kamu kepanasan? AC nya dingin kok,” sahut junda sambil memeriksa mobilnya.
“Iya, panas. Ayo cepatan!” Relina tampak tidak sabar ingin melepaskan pakaiannya.
‘Apa ada yang salah? Kenapa dia kepanasan?Tennang ... semua baik-baik saja' batin Junda, mengusir rasa curiganya jauh-jauh.
__ADS_1
Bersambung