
Atmaja berdiri di samping Relina yang masih menunggu kedatangan taksi online yang akan menjemputnya. Pria yang beberapa helai rambutnya sudah memutih itu menatap Relina penuh selidik. Dia ingat bahwa Gadis itu sudah satu tahun bekerja bersama Junda, anaknya.
Mereka berada di halaman rumah yang cukup luas dan ditata menjadi tiga bagian. Sebagian untuk lahan parkir, sebagian untuk taman dan sisanya merupakan gazebo, aula kecil yang dilengkapi dengan air mancur di sampingnya.
Atmaja berkata dengan suara rendahnya. “Apa kamu mendengar sebuah rumor di kantor, tentang Junda selama ini?”
“Rumor seperti apa maksud Bapak, saya hanya pegawai rendahan, jadi saya tidak mengetahui rumor apa pun tentang, Pak Junda,” jelas Relina.
“Ya, seperti mitos yang dipercayai dan tanda yang dimiliki anak itu, apa kau pernah tahu?” Mendengar ucapan Atmadja, Relina menggelengkan kepalanya.
“Neneknya percaya kalau dia tidak bisa menikah dengan sembarang orang, kecuali dengan wanita yang memiliki tanda yang sama seperti dirinya.” Atmadja melanjutkan ucapannya sambil mendesah keras.
Sepertinya ia sangat kecewa dengan hal yang dipercayai oleh Shasi, ibu mertuanya, hingga mempengaruhi anaknya sedemikian rupa.
Relina sedikit tergelak mendengar ucapan Atmaja ia menoleh dan menatap pria itu sambil berkata, “Apa menurut Bapak hal seperti itu nyata? Mitos itu tahayul, iya kan, Pak?”
“Iya,” sahut Atmaja sambil mengangguk, lalu tersenyum. “Terima kasih, kau sudah menganggap kejadian ini tidak pernah ada, jangan sampai ada orang yang tahu karena ini sangat memalukan bagiku.”
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
‘Ahk, aku nggak percaya, kalau pak Junda masih percaya hal seperti ini. Mungkin bagi orang yang sangat mempercayai mitos, kita tinggal di belahan bumi yang berbeda misalnya saja di Yunani. Di sana sebuah mitos masih dianggap suci’
Taxi pun datang dan Relina meninggalkan rumah besar itu dengan perasaan geli, mengetahui sebuah kenyataan bahwa seorang pimpinan perusahaan modern seperti Junda, ternyata masih mempercayai pendapat kalangan tua yang tidak masuk akal baginya.
‘Memangnya tanda lahir seperti apa yang dimiliki Juanda, sampai dia tidak bisa menikah dengan sembarang wanita. Kenapa Aku jadi kasihan sama dia si?’
*****
Junda menatap ayahnya dengan tatapan membara, dia kesal dan kecewa karena Atmaja sudah ikut campur dalam urusan pribadinya dengan Relina, mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkannya.
Mereka kini tengah berdiri berhadap-hadapan di ruangan, tepatnya di depan pintu kamar tamu, di mana Relina semalam mengistirahatkan dirinya.
Ketika bangun tidur tadi, Junda segera membersihkan diri. Setelah itu dia hendak keluar dan menyadari pintu kamarnya terkunci. Dia berteriak beberapa kali, barulah pelayan membukakan pintu. Dia segera pergi ke kamar tamu di mana Rina berada, namun dia kecewa karena gadis itu sudah tidak ada. Dia sudah pergi meninggalkan rumah, sebelum Junda sempat menjelaskan kan semuanya dan mengetahui di mana tujuannya.
“Seharusnya Ayah tahu, kalau aku tidak mau salah paham antara aku dengan dia semakin lama.”
__ADS_1
“Kau bohong, kan? Kau pikir Ayah tidak tahu kalau dia bukan pacarmu?” akta Atmaja sambil memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil.
“Aku yang menganggapnya pacar. Memangnya apa yang Ayah katakan padanya? Kenapa dia pergi tanpa bicara apa pun padaku?!” Suara Junda meninggi membuat Vela dan anaknya yang masih kecil mendekat, namun tidak mengatakan apa-apa karena urusan Junda, sama sekali bukan urusannya.
“Ayah hanya memintanya menjelaskan siapa dirinya dan apa hubungan kalian berdua. Dia bilang kamu bukan siapa-siapanya, dan Cuma mantan bosnya! Benar, kan?”
“Ayah seharusnya tidak perlu ikut campur, aku sudah susah payah mengejarnya.” Junda memutar bola matanya malas, ia hendak pergi meninggalkan Atmaja, saat ayahnya itu kembali berkata.
“Tapi dia tidak mau denganmu. Dia bilang begitu. Apalagi belum tentu dia juga punya tanda yang sama seperti milikmu!”
Junda menghentikan langkahnya dan menoleh pada ayahnya.
“Aku tidak peduli, Ayah tahu sekarang, aku tidak percaya lagi dengan hal itu, aku benar-benar ingin memilikinya!”
“Jadi kau tidak bohong dengan perasaanmu, kalau kau menyukainya?”
“Iya aku tidak bohong.” Junda berkata sambil mengangkat bahu dan kedua tangannya.
“Apa kau juga tidak peduli kalau nanti dia mati?”
“Apa kau tidak perduli juga jika suatu saat nanti kau dan keluarga kita dicap menjadi keluarga pembunuh?”
Mendengar ucapan ayahnya, Junda memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya
“Ayah, aku tidak pernah berniat membunuh dia atau membunuh siapa pun! Bukankah kalau dia mati atau tidak, itu berarti sudah takdirnya?” setelah berkata demikian, Junda pun pergi meninggalkan Atmaja. Dia berjalan menuju mobil dan melajukannya meninggalkan rumah Atmaja dengan perasaan kesal dan kecewa.
*****
Pada akhirnya Gunara berhasil menghubungi Relina dan mengetahui tempat tinggal relina di Jakarta. Ketika mereka saling bercerita ditelepon hari sudah menjelang malam, Relina sudah tidak lagi sibuk dengan pekerjaannya.
Gunara terlihat sangat bahagia karena ia merasa tidak lama lagi bisa menyelesaikan masalah perusahaannya. Dia akan segera mengunjungi Relina. Kerjasamanya dengan Junda benar-benar batal, laki-laki itu tidak ingin memperpanjang kontrak mereka. Membuat Gunara harus mencari mitra baru yang mau bekerjasama dan menutupi semua kerugian produksi perusahaannya.
Pagi itu Fuad masuk ke ruangan Gunara, laki-laki itu meminta izin untuk pergi ke Jakarta. Dia ingin mencari dan menemukan gadis yang ia cari selama ini, berbekal sebuah informasi dari Relina terakhir kali.
Fuad yakin bila kali ini ia akan menemukan Icha, gadis yang sudah melahirkan anaknya. Selama ini dia mencari di daerah sekitar Bogor saja, namun nyatanya wanita itu berada di Jakarta Selatan dan memimpin sebuah perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang, karoseri kendaraan bermotor.
__ADS_1
Tidak terlalu banyak perusahaan seperti itu di Jakarta, sehingga akan mudah melacaknya. Setidaknya seperti itulah yang terlintas di benak Fuad saat ini.
“Baiklah, kapan kamu mau pergi, kenapa nggak bareng aku saja?” Kata Junda. Dia telah mengizinkan Fuad untuk mengambil cuti dan melakukan apa yang diinginkannya.
Walaupun mereka saudara, Gunara adalah atasannya dan Fuad harus melakukan semua peraturan perusahaan yang sudah menjadi kebiasaan serta berlaku sejak perusahaan itu berdiri. Semua pegawai harus menaatinya, termasuk dirinya.
“Besok.” Fuad menjawa sambil membereskan beberapa berkas yang berserakan di meja Gunara.
“Baiklah, besok. Apa kau yakin perempuan itu ada di sana?”
“Tentu saja, aku harus menemukannya kali ini. Aku punya anak, Gun! Apa kau percaya itu?”
Gunara menggangguk, Kalau bukan karena Relina yang bercerita bahwa ia sudah bertemu dengan Icha, yang ternyata memiliki seorang anak, maka ia pun tidak akan percaya. Bagaimana mungkin hubungan yang hanya satu malam dan dilakukan sekali saja itu bisa membuahkan hasil? Kedua laki-laki itu sama-sama menggelengkan kepala.
“Apa kau yakin, kalau anak itu anak kalian berdua?” Kembali Gunara bertanya, dia hanya tidak ingin saudara terdekatnya itu kecewa karena ternyata hal yang diyakininya tidak terbukti.
Fuad seketika termenung, ia kembali mengingat penuturan Relina, yang bercerita bahwa anak Icha berumur tiga tahun dan dilahirkan di bulan Juli. Kalau memang itu benar, maka perhitungannya tepat bahwa kemungkinan besar adalah anaknya.
“Bagaimana kalau ternyata dia masih mencintai mantan kekasihnya, yang pergi meninggalkannya dan kau hanya dijadikan pelarian saja?” Gunara berkata demikian, hanya untuk meyakinkan Fuad saja. Namun pria itu bergeming karena berfikir.
Lalu Fuad berkata, “Kalau aku hanya dijadikan pelariannya, kenapa dia selalu mencariku hampir setiap bulan dia pergi ke tempat itu, ini aneh, kan?”
Fuad mengatakan tentang pemikiran logis yang bisa ia sampaikan. Begitu mendengar kabar dari Relina kemarin, dia selalu gelisah.
“Baiklah ... ayo! Kita bereskan kekacauan yang dibuat Junda, besok kita pergi ke Jakarta.”
Gunara merasakan panas di hati yang menjalar ke tangan yang terkepal. Membuat kepala dan otaknya serasa mendidih.
Apalagi saat dia mengingat kejadian siang itu dimana Junda dan dirinya memperebutkan Relina. Pria itu memaksakan kehendaknya dan berusaha menghentikan Gunara.
Saat itu mereka akan mengejar Relina, tapi Junda berani melayangkan tinju kepada Gunara. Dia yang tidak siap mendapatkan bogem mentah itu pun terhuyung dan di bantu oleh Fuad.
Gunara memang sedang tidak baik-baik saja, dia mengusap rahangnya yang merah dan sakit. Saat itulah Junda pergi mengikuti arah laju bis yang Relina tumpangi ke Jakarta.
‘Kuharap mereka tidak pernah bertemu di sana!’ batin Gunara.
__ADS_1
Bersambung