
Relina tampak cantik dibalut kebaya batik panjang warna gading keemasan yang sangat pas di badannya. Dia tersenyum malu-malu ke arah Junda dan semua orang yang ada di ruang tamu.
Hadir di antara mereka, tokoh adat dan agama, Minan Lei, Bude Rasmi—kakak ipar Rosihan, sedangkan suami Rasmi kini sudah tiada. Bu RT juga ada. Mereka semua tersenyum ke arah Relina dan Renita, yang kemudian duduk di samping Junda.
Prosesi pernikahan secara agama dan adat pun di gelar secara sederhana. Walaupun, hanya dihadiri beberapa orang, tidak mengurangi kebahagiaan mereka. Semua tahapan berjalan dengan baik dan lancar, bahkan Junda mengucap janji terkuat sepanjang hidup itu, tanpa terbata.
Junda menayangkan acara pernikahan mendadaknya, secara life video kepada keluarga, yang masih menginap di hotel. Mereka semua tercengang dengan apa yang mereka saksikan, termasuk Dion. Pria itu tertawa girang setelah berhenti dari rasa terkejutnya. Dia akan menikah keesokan harinya, tapi justru didahului oleh Junda. Siapa yang menyangka bahwa takdir mempermainkan manusia begitu rupa.
Dion tertawa keras, terdengar seperti ejekan di telinga Junda, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia hanya memiliki uang lima ratus ribu di dompetnya, semua itu pantas mengundang tawa!
Seandainya dia memakai mobilnya sendiri saat itu, akan ada cek yang selalu tersedia di dalamnya dan dia bisa menulis angka yang besar untuk diberikan pada Relina.
Akan tetapi, tidak pernah ada seandainya di dunia ini. Kata seandainya, hanyalah hiburan bagi seseorang untuk menghilangkan kekecewaan. Namun, kedua kata kecewa dan seandainya, adalah dua kata yang selalu berkaitan sebab sesuatu yang paling tidak berguna di dunia selanjutnya adalah, rasa kecewa.
Junda menyerahkan lembaran uang itu kepada Relina, setelah semua prosesi selesai, ada air bening yang menggenang di pelupuk matanya. Betapa dia sebenarnya ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihnya dah memberikan uang sebesar itu bukanlah keinginannya.
“Maaf, aku hanya bisa memberikan ini untukmu,” bisiknya lirih sesaat setelah mencium kening Relina dan gadis itu mencium punggung tangan Junda. Gadis itu mengangguk dengan air mata yang sudah berlinang pula.
“Sudah, jangan menangis. Maafkan aku.” Junda berkata lagi, sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Relina, dengan jari-jari tangannya.
'Tidak apa, ini air mata haru tahu?' batin Relina.
Gemuruh suara beberapa orang menyemangati pasangan suami istri yang sudah sah itu, saat mereka saling berbisik. Seketika wajah Relina semakin bersemu merah. Wanita itu tidak memakai riasan wajah yang berarti, hanya bedak dan polesan lipstik tipis, tapi cahaya dari pancaran keceriaan membuatnya bersinar cerah, secerah lampu neon yang menerangi ruang tamu di mana mereka melakukan pernikahan.
Acara terakhir adalah doa syukur kepada Tuhan yang telah membuat takdir menjadi lebih mudah, bagi pasangan kekasih itu. Kini mereka sudah berada dalam sebuah hubungan baik demi masa depan yang cemerlang, itulah harapan terbesar semua orang.
__ADS_1
Setelah selesai dan pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang sudah memberi restu dan doa kebaikan untuk kedua mempelai, para tamu pun akhirnya pulang. Tidak ada hidangan apa pun yang tersedia selain kopi.
Tanpa di duga, Anne muncul dengan tergesa-gesa di hadapan Relina dan Junda masih duduk di teras rumah, sesudah melepas semua tamu. Wajah wanita itu terlihat berkerut karena tidak percaya dengan berita yang baru saja dia dengar.
“Apa-apaan ini, Reli? Kalian menikah dan aku tidak tahu? Padahal besok pernikahanku, kenapa kita tidak bareng saja?” tanya Anne dengan nada tinggi, terkesan kesal karena Relina tidak mengabarinya. Dia tahu pernikahan sahabatnya dari video life streaming, yang dikirim Minan Lei di akun media sosialnya.
Dalam Video itu terlihat Relina dan Junda yang memakai pakaian seadanya tengah mengucapkan janji dalam ikatan terkuat, walau sederhana namun khidmat. Tidak banyak yang hadir dan yang menjadi sorotan Minan Lei adalah hadiah pernikahan yang diberikan Junda! Ini sungguh menggelikan.
Saat lamaran dia memberikan cincin emas bertatahkan berlian, akan tetapi saat menikah hanya memberikan uang sebesar itu sebagai hadiah. Akh ... yang benar saja.
“Hai, ini dadakan, wajar kalau Minan mengatakan hal seperti itu.” kata Relina setelah berhasil menenangkan Anne dan kini mereka duduk bertiga saling berhadapan.
Sementara Junda memalingkan wajahnya ke arah lain, menutupi perasaannya. Dalam hati dia berjanji akan memberi Relina yang lebih banyak dari mas kawin tadi. Tidak ada yang mau menikah dengan cara mendadak seperti ini.
“Reli, aku tidak marah soal postingan Minan Lei, tapi aku heran kenapa kamu nggak telepon aku, sih?”
Anne mendengus lirih lalu melirik Junda, “Semua karena Anda, Pak Junda! Coba kalau Anda tidak ceroboh!”
Junda melihat Anne dan tersenyum tipis, pria itu terkesan hangat, sama seperti saat terakhir mereka bertemu. Waktu Anne mengajukan pengunduran diri dan Junda menerima dengan senang hati. Pengunduran diri Anne adalah peluang bisnis yang lebih baik bagi gadis itu juga Dion, sekarang mereka menjadi teman dekat dan akan kembali tinggal berdekatan di Bogor.
“Bukan salah Junda, aku nggak hati-hati sampai kami jatuh, tapi jangan kuatir, aku baik-baik saja. Ini yang pertama dan yang terakhir kali.” Kata Relina terkesan ambigu.
“Eh, jangan bilang kalian mulai tidur bersama malam ini?” tanya Anne tiba-tiba membuat Relina dan Junda saling menatap.
Lalu, Relina mengedikkan bahu sambil berkata, “Terserah, kamu mau tidur di mana. Kamarku masih berantakan dan sepreiku juga belum diganti!” jawaban Relina apa adanya, tidak ada yang dia tutupi karena dia berharap Junda tidak menginap malam ini.
__ADS_1
Junda masih tetap diam, sambil bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ada rasa sesak dari ulu hati yang naik ke tenggorokan, setelah mendengar jawaban Relina. Dia seperti memberinya isyarat untuk tidak menyentuhnya malam ini. Mungkin dia belum siap, pikir Junda karena pernikahan ini mendadak.
“Jangan malam ini ya, aku belum beli kado buat kalian,” kata Anne tersenyum malu-malu.
“Kenapa jadi kamu yang ngatur, sih?” Junda menimpali secepat kilat. Dia tidak suka ada orang lain mengatur kapan dia harus tidur dengan istrinya.
“Hais! Gitu saja marah.” Anne berkata diselingi tawa renyah. “Aku Cuma bercanda, Pak!” Tidak ada kecanggungan lagi antara mereka karena sekarang tidak ada batasan sebagai bos dan bawahan, melainkan hanya pertemanan.
“Ya sudah, nanti kita tukar kado saja ya?” kata Relina sambil menepuk bahu sahabatnya.
Setelah kepergian Anne, Junda berpamitan pada Kedua mertuanya untuk kembali ke hotel tempat semua saudara dan kerabat menginap. Dia harus bersiap untuk menghadiri pernikahan Dion, dan pakaian yang akan dia kenakan besok, ada di sana.
Junda menarik tangan Relina lembut menuju mobilnya sebelum pergi, menutup pintu dan menatap gadis itu lembut.
“Apa kamu bahagia dengan semua yang terjadi pada kita sekarang?” Itu pertanyaan yang ingin dia sampaikan sejak tadi sebab semua terjadi di luar rencana.
Relina tertegun, dia mencari jawaban yang tulus untuk Junda juga dirinya sendiri. Jujur pada perasaan sebelum memulai sebuah hubungan sangat di perlukan. Apalagi sejak awal mereka didekatkan oleh takdir dengan cara yang membuat miris.
Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Junda merangkul bahunya lembut membenamkan tubuh kurus itu dalam pelukannya seolah ingin meleburkan diri mereka menjadi satu.
“Aku mencintaimu, aku menginginkanmu.” Bisik Junda di dekat telinga Relina, membuat gadis itu merinding.
Relina membalas pelukan Junda dan berinisiatif untuk lebih dulu mencium pipi Junda dengan lembut, membebat Pria itu tersenyum dan melepaskan pelukan lalu, dia membalas ciuman Relina.
“Bagaimana denganmu, apa kamu bahagia menikahimu? Apa kamu tidak takut terjadi apa pun dengan kita?” tanya Relina setelah Junda selesai menciumi bibirnya.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Junda dengan alisnya yang berkerut.
Bersambung