Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Jangan Asal Menyimpulkan


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa lama, Relina yang hampir tertidur di karpet kamar kostnya, terkejut karena suara panggilan dari ponsel milik Anne. Gadis itu tengah melihat film kartun dari sebuah aplikasi film ternama.


"Iya. Baik, Pak. Saya keluar sekarang," ujar Ane bercakap ditelepon.


"Rel, aku balik dulu ya ke kantor," katanya lagi sambil merapikan pakaian Alex dan pakaiannya sendiri.


"Hmm ... lain kali jangan kabur dari kantor, bawa-bawa anak orang lagi."


Ane terkekeh mendengar ucapan temannya yang terlihat sangat manis saat matanya mengantuk seperti itu.


Baru saja Ane, Relina dan Alex berada di luar pintu, Junda dan Dion sudah terlihat oleh mereka berdiri di halaman rumah kost. Ane tersenyum malu dan menunduk hormat kepada bosnya setelah berada di hadapan mereka.


Begitu melihat Papanya, Alex berlari sambil berteriak dan menghambur ke pelukannya.


"Kamu kira kamu siapa, sembarangan bawa anak orang?" tanya Junda tegas, saat Anne sudah berada dihadapannya.


"Maafkan saya, Pak!" kata Ane gugup.


"Sudah, gak masalah, yang penting Alex baik-baik saja," Dion menyahut, sambil membawa Alex dalam gendongannya. Pria ini melihat Ane dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


'Dia manis juga'


Relina juga menatap Dion, ia mengira papa dari Alex ini akan berpakaian resmi seperti ucapan pria kecil itu padanya, bahwa pakaiannya meniru papanya. Akan tetapi sekarang, yang ia lihat adalah pria biasa yang hanya mengenakan kaos premium dan celana jeans denim warna hitam. Tidak ada yang istimewa, mirip dengan Junda, bosnya saja tidak.


'Katanya mereka saudara, kok gak mirip?'


"Ane!" Tiba-tiba Relina mendekat, sambil menunjukkan sesuatu pada sahabatnya itu. "Hp-mu ketinggalan!" Lalu memberikan ponsel itu pada Ane.


Melihat Relina di sana, Junda menyipitkan matanya, memastikan dia tidak salah lihat dengan perempuan pembawa sial, yang ada di hadapannya. Saat dia memutuskan untuk mengantar Dion menjemput anaknya, dia membelokkan mobil ke tempat kost sesuai arahan lokasi di aplikasi, ia merasa pernah mengenalinya. Sekarang ia melihat Relina, gadis yang ia anggap pembawa sial, membuatnya ingat jika ia pernah sekali mengantarkan Relina pulang ke tempat yang sama.


"Jadi, kamu teman perempuan murahan ini?" tanya Junda, kepada Ane. Terlihat sekali dia menyepelekan.


"Siapa yang kamu bilang murahan?!" tanya Relina kasar.


Dion bingung dan heran dengan ekspresi kedua orang itu, hingga ia menyimpulkan bila mereka sudah saling kenal sebelumnya. Sementara Ane dahinya berkerut, mencerna maksud ucapan Junda pada sahabatnya.


Seingatnya, Relina hanya bercerita bertemu Junda saat di Hotel Salak, sepulangnya dari jalan-jalan bersama seorang kenalan. Ia juga bercerita berkunjung ke istana negara dan berharap bila Icha, kenalannya akan bertemu pujaan hatinya.


Tapi bagaimana mungkin, seorang pimpinan yang dihormati ini bisa berkata sedemikian fulgar pada sahabatnya? Ane tidak mengerti, hingga ia pun bertanya. "Apa maksud Bapak bicara seperti itu?"


Dua wanita sahabat dekat ini menghadap Junda. Seolah-olah tidak takut dan mengabaikan Alex serta Dion. Junda bersikap mengabaikan dua wanita itu, ia melirik saudara sepupunya.

__ADS_1


"Dion! Wajar kamu sial hari ini, soalnya teman perempuan ini," katanya sambil tertawa kecil, sambil menunjuk Relina.


Baik Relina maupun Ane, sama-sama merasa kesal dengan ucapan Junda. Sebagai bawahan, Ane tidak bisa membalas apa pun dengan ucapan itu untuk pelampiasan atau membalasnya. Ia merasa Relina sangat baik, bagaimana bisa dikatakan sebagai wanita murahan.


Sementara Relina sangat marah, tidak terima dikatakan demikian karena ia memang tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan Junda kepadanya. Akan tapi ia merasa tidak perlu membela harga dirinya karena akan segera pergi. Apalagi mereka memang pada dasarnya bukan siapa-siapa dan mungkin akan tetap seperti itu selamanya.


"Kamu ini bicara apa. Jun?" Tiba-tiba Dion bicara. "Oh, iya. Kenapa tadi kamu bawa Alex keluar dari kantor?" Dion berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana yang mendadak tegang.


Ane menoleh pada Dion dan menceritakan bagaimana anak itu bisa ikut bersamanya. Kalau anak itu tidak tidur dan dia tidak kelelahan memangkunya, ia tidak akan membawa Alex ke rumah kost Relina karena memang sangat dekat dari perusahaan Junda. Saat berbicara, mereka tidak melepaskan pandangan, bahkan seolah Dion menikmati wajah Anne saat bibirnya terus bergerak.


"Oh, terima kasih atas perhatian kamu. Maaf sudah merepotkan. Gimana kalau kita makan malam?" Dion berkata setelah Ane selesai bicara, membuat Ane mengernyit. "Bukan apa-apa, hanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu Saya." Dion tersenyum lembut.


Relina dan Ane saling berpandangan, merasa permintaan Dion terlalu berlebihan. Mengajak seseorang yang bahkan belum kenal, untuk makan malam, hanya untuk mengucapkan terima kasih. Buru-buru Ane menolaknya.


"Oh. tidak perlu, Pak! Tidak usah berterima kasih, tidak merepotkan sama sekali." Anne berkata sambil menggoyangkan kedua tangannya sebagai isyarat penolakan.


'Memangnya siapa yang mau makan malam hanya karena seorang anak? Berlebihan!'


"Oh iya, kenalkan. Nama saya Dion dan ini anak saya Alex." Dion berkata sambil mengulurkan tangannya pada Anne.


'Ahk. Saya sudah tahu nama anak itu'


"Hai," sapa Relina saat mereka berjabat tangan, mereka saling melempar senyum. Namun bukan Dion yang hatinya berdesir dibuatnya, melainkan Junda yang sedari tadi tidak melepaskan pandangan matanya dari Relina.


Setelah acara berkenalan selesai, Dion mengajak Ane untuk ikut bersama mereka ke kantor. Ane pun mengikuti mereka karena masih ada jam kerja yang masih tersisa.


Sebelum pergi, Ane sempat membisikkan sesuatu, agar sahabatnya itu berhati-hati dalam perjalanannya, ke Jakarta ke rumah pamannya. Relina mengangguk. Saat ia hendak melangkah, ia heran melihat Junda yang berjalan mendekat.


Laki-laki itu kemudian berkata, "Urusan kita belum selesai." Setelah berkata demikian, ia pergi begitu saja. Sementara Relina makasih berdiri, sambil berpikir dengan kata 'urusan' yang dimaksud Junda karena ia tidak memiliki satu pun urusan dengannya.


*****


Rencana Junda kali ini adalah ingin membuat Relina mau berkencan dengannya. Ia menganggap gadis murahan itu pasti mau disewanya. Saat Dion pergi menjemput Ane untuk makan malam, Junda pun pergi untuk menemui Relina. Ia tidak memikirkan akibat dari tanda kutukan yang ia miliki, ia hanya ingin membuktikan kebenaran tentang tanda mitos di tubuhnya pada gadis ini.


Dia keluar rumah dengan menggunakan pakaian biasa yang dipakai sehari-hari di rumah. Ia merasa tidak perlu menarik hati Relina karena ia akan menggunakan cara yang berbeda dalam mendekati wanitanya kali ini.


Sesampainya di tempat kost Relina, Junda menunggu di ruang tamu yang disediakan oleh pihak rumah. Dia menggunakan cara lama menemui Relina karena ia tidak memiliki nomor ponselnya.


Seseorang memanggil Relina dari luar kamar, ada peraturan tidak boleh memasukkan tamu pria ke dalam kamar, kecuali pasangan suami istri.


"Ya, siapa ya?" tanya Relina dari dalam kamar ia hanya memakai celana pendek dan kaos tanktop yang ketat seperti biasanya.

__ADS_1


"Gak tau, tuh. Kamu di tunggu di ruang tamu," kata tetangga kamarnya.


Setelah mengganti pakaian, Relina menemui tamu yang di maksud. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Junda tengah duduk di kursi kayu, sambil menyilangkan kedua kaki dan tersenyum, dengan ekspresi cabul kepadanya.


Relina diam ditempat, ia tidak merespon apapun dengan kedatangan pria itu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


'Jadi, ini yang dia maksud tadi, kalau urusannya belum selesai?'


Relina segera berbalik, mengabaikan Junda dan menganggap bahwa laki-laki itu tidak ada. Ia malas menemuinya.


"Tunggu!" Junda memanggilnya, ada rasa kecewa karena gadis itu mengabaikannya. Semula ia menduga bila Relina akan memarahinya atau setidaknya menanyakan apa keperluannya.


"Apa?" kata Relina, ia hanya menoleh saja tanpa menghadapkan badannya ke arah Junda.


"Kamu tidak tahu kenapa aku ke sini?"


"Buat apa nanya? Kita gak punya urusan!" Relina berkata sambil melangkah. Malas sekali meladeninya.


"Kamu kosong ya malam ini? Gimana kalau aku yang booking kamu sekarang, oke?"


Mendengar ucapan Junda, hati Relina membara, panas, sakit, sesak sampai ke tenggorokan dan otaknya. Ia kembali berbalik dengan cepat lalu tangan kanannya terulur dan melayang di pipi Junda. Ia ingin sekali menamparnya. Namun gerakan tangannya terbaca, hingga belum sampai ke pipinya, Junda sudah berhasil mencegahnya.


"Beraninya, kau mencoba menamparku?" Junda berkata sambil melepaskan tangan Relina secara kasar. Lalu berkacak pinggang dengan pandangan nanar ke arah wanita, yang juga tengah menatapnya, dengan tatapan mata yang sama, bahkan jauh lebih membara.


"Kau memang pantas mendapatkannya!"


"Jangan sok suci. Semua orang di sini juga tahu, kan siapa kamu?"


"Dengar, ya. Jangan asal menyimpulkan hal yang belum tentu benar, cuma kamu gak perlu tahu!" jawab Relina bosan.


Ia bertemu dengan Junda untuk pertama kalinya saat acara ulang tahun perusahaan, di mana ia baru saja dua bulan bekerja. Mereka hanya saling melihat tanpa menyapa, lalu beberapa kali bertemu di kantor karena menyerahkan berkas. Tidak pernah ada acara bertemu secara khusus, kecuali saat kejadian di taman, dia di pecat dan kejadian-kejadian aneh lainnya. Lalu sekarang dengan mudahnya dia menuduh bahwa Relina gadis murahan hanya karena bertemu di hotel? Naif sekali.


"Ayo! Ikut denganku. Akan aku bayar tinggi kamu malam ini. Berapa pun yang kamu mau."


Relina melebarkan matanya demi mendengar ucapan Junda, karena malas berdebat, ia pun berkata, "kebetulan saya sedang datang bulan." Lalu pergi meninggalkan Junda begitu saja, sambil mengepalkan tangannya.


"Tunggu!" Junda kembali memanggil, kali ini dia yang menghampiri.


"Apa lagi?" Relina menyahut sambil menoleh. Saat itu juga ...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2