
Junda menunggu di luar pintu kamar mandi dengan gelisah seperti tadi pagi. Setelah Relina membuka pintu, dia langsung mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Relina dan membawanya kembali ke lantai atas di mana kamarnya berada.
“Istirahat di hotel saja, biar kamu nggak harus capek naik turun tangga cuma mau ke kamar mandi,” kata Junda saat ia berjalan menaiki tangga sambil membopong Relina.
Gadis itu menatap dengan tajam pada bola mata Junda yang hitam legam. Sementara kedua tangannya melingkar dengan erat di leher laki-laki itu karena dia khawatir terjatuh.
Sama seperti yang ia lakukan tadi ketika Junda membawanya turun untuk mengantarkannya ke kamar kecil, gadis itu secara refleks memeluk Junda dan wajah mereka begitu dekat, hingga bila Junda menunduk sedikit saja, dia bisa mencium pipinya.
Dia tidak percaya setelah mereka sempat membicarakan banyak hal dan Junda masih saja memikirkan untuk membawa Relina ke hotel bersamanya.
“Jangan berpikir buruk, aku hanya memikirkan kebaikanmu, kamu lebih baik tinggal di hotel atau di rumah sakit atau di rumahmu, di mana saja yang jadi tempat istirahat, tapi nggak harus turun naik tangga, kalau mau pergi ke kamar mandi,” Junda berkata ketika sudah sampai di kamar Relina dan membaringkannya secara perlahan.
Relina malu dan rasa hangat menjalar dengan lembut ke seluruh wajah yang memerah, gadis itu tetap diam tidak menjawab pertanyaan Junda, tapi juga tidak membantahnya. Dalam dia membenarkan semua yang dikatakan Junda.
“Terima kasih. Aku nggak tahu kenapa lemas sekali rasanya,” ujar Relina sambil menarik napasnya.
“Ya, istirahat saja.”
Setelah Junda menyelimuti tubuh Relina, gadis itu menoleh, dan berkata, apa kmau masih mau di sini? Apa sekarang kamu nggak kerja?”
‘Hai, aku kan bos-nya’ batin Junda.
“Oh ya, itu pertanyaanmu yang tadi, ya?”
Sebenarnya untuk masalah penanganan pekerjaan, Junda sudah menyuruh anak buah dan beberapa orang kepercayaan untuk mengatasinya, selama dia di Martapura. Dia tetap bisa mengontrol dan membicarakan semua masalah perusahaan ataupun rapat secara online.
Akan tetapi Relina tetap kuatir, dia tidak ingin menjadi orang yang merasa berhutang Budi dengan Junda, hingga membuatnya mengabaikan pekerjaan demi dirinya.
“Lalu untuk apa kamu di sini menungguku? Sampai kapan kamu mau tinggal di sini?”
Jantung Relina berdegup kencang ketika dia mengatakan itu, sebenarnya dia merasa malu untuk mempertanyakannya. Sebab pertanyaan itu, seolah-olah dia mengharapkan Junda, mau melakukan sesuatu hanya untuk dirinya. Memang itu benar, Junda mengunjunginya dengan bertujuan untuk membawa Relina bersamanya.
__ADS_1
“Sebenarnya aku mau mengajakmu kembali ke Bogor, tapi sekarang tidak bisa karena kamu sakit.”
“Bukannya aku nggak menghargai kamu, terima kasih sudah berbuat banyak untukku, tetapi aku tidak bisa mengingkari janjiku pada Paman.” Relina memikirkan tentang semua maksud Junda yang mengunjungi rumah ayah dan ibu, hanya untuk menemuinya. Sungguh di luar dugaannya, bahwa pria itu begitu nekat.
“Kalau aku ikut ke sana, gimana dengan bisnis ini, aku nggak mungkin meninggalkannya, kan?” Biar bagaimanapun juga Relina sudah berjanji untuk menjalankan kedai kopi.
Junda menatap Relina lekat dari arahnya sekarang, dia bisa dengan jelas melihat wajah Relina yang berubah. Relina berbaring sedangkan dia duduk tepat di samping kepalanya.
“Oh soal itu ... kurasa kamu bisa membicarakannya dengan pamanmu.”
Relina menggeleng, “Tidak ...,” katanya lirih sambil membenarkan letak selimut, dia canggung. Antara dia dan Junda tidak terlalu akrab dan tidak dekat, hanya beberapa insiden yang membuat mereka mempunyai banyak kesempatan untuk mengobrol.
Mendengar ucapan Relina, Junda tampak mengerutkan keningnya, dia menarik sebuah kesimpulan bahwa membujuk Relina tidak akan mudah.
Junda kemudian menceritakan semua yang dia dengar dari Fuad, ketika mereka berada di kafe pamannya dan mengatakan apa yang Gunara diberikan kepadanya, sebagai ahli waris yang ditunjuk melalui wasiat. Itu adalah keberuntungan yang besar.
Semua tentang kondisi perusahaan Gunara, sejauh yang Junda tahu, sudah dia ceritakan pada Relina, hingga apa pun yang terjadi kelak, dia sudah mengetahuinya bahkan pernah mendapatkan gambarannya.
Relina teringat keadaan Gunara saat dia mengunjungi rumah sakit, hatinya tiba-tiba menjadi sedih, jiwanya diliputi awan mendung yang menutupi cakrawala. Pria itu sudah tiada, ketika dia tiba di sana.
Dia tahu Gunara hidup sebatang kara, namun, tidak menyangka apabila kakak kelasnya itu memberinya warisan. Jumlah lima persen saham perusahaannya, itu sangat banyak. Bahkan mempercayakan pimpinan perusahaan pada dirinya, dia tidak kompeten dalam hal ini.
“Kamu tenang saja, aku bisa mengajarimu cara jadi CEO.” Kata Junda sambil tertawa kecil.
Sepertinya Junda putus asa karena dia tidak mempunyai banyak cara untuk membujuk Relina agar mau tinggal di Bogor dan mengurus perusahaan bersamanya.
Dia berpikir, apabila Relina berada di Bogor dan dia mau memimpin perusahaan Gunara, setidak-tidaknya dia bisa kapan saja bertemu dengannya. Bisa menjalin kerja sama dengan nilai-nilai adab dan tidak menutup kemungkinan ia akan bisa menarik hati Relina sehingga gadis itu bisa jatuh cinta kepadanya.
Junda mendesah keras dia mengusap wajahnya, tidak percaya bahwa dia menggunakan cara membujuk Relina, dengan memanfaatkan kan wasiat Gunara.
__ADS_1
Pada kenyataannya, secara tidak langsung dia justru menolong Fuad menemukan Relina dan membuat pelaksanaan wasiat orang meninggal, bisa segera terealisasi sesuai harapan.
Setelah mendengar penjelasan Junda, Relina diam dan berpikir dia harus bisa mengambil keputusan dengan bijak. Apabila dia mengikuti Junda ke Bogor, bukan karena dirinya ingin saham perusahaan atau ingin memimpin perusahaan, melainkan karena amanah dan wasiat dari Gunara.
Wasiat dari orang yang sudah meninggal harus dilaksanakan dengan sesebaik-baiknya. Dia sama sekali tidak mengharapkan harta ataupun menjadi pewaris perusahaan, yang dia pikirkan adalah menjalankan amanah dari Gunara, sebagai wujud cinta dan membalas kebaikannya. Tiba-tiba Relina ingin melihat makam Gunara, berziarah di mana dia dikuburkan.
“Jadi pikiran dulu kesembuhanmu, baru kamu bisa memikirkan apa keputusanmu, mana yang lebih baik bagimu menjalankan amanah Gunara atau pergi denganku dan menjadi asisten pribadiku.” Junda berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding dan memanjangkan kakinya. Dia duduk di karpet kecil yang digelar di sisi tempat tidur Relina.
Relina menatap Junda dengan tatapan mata penuh rasa bersalah, dia sedikit mendongak untuk melihat ekspresi wajah Junda saat mengatakan hal itu. Dia merasa dalam dilema, apabila sekarang mau menuruti Junda pergi ke Bogor, bukan berarti dia ingin bersamanha, tetapi karena ingin menjalankan wasiat Gunara.
Pada kenyataannya apabila dia pergi mengikuti keinginan mendiang Gunara, maka yang sakit bukan hanya Junda tetapi dirinya juga sakit!
Sejak mereka masih sama-sama di Bogor dan Junda menciumnya, mulai saat itu Relina menyelami perasaannya sendiri, yang tidak menentu. Jantungnya berdegup setiap kali dia memikirkan Junda, akan tetapi berulang kali pula dia berusaha menolak untuk jatuh cinta.
‘Ya, Tuhan ...’ batin Relina.
Apakah dia benar-benar menyukai laki-laki yang sekarang ada di depannya? Biar bagaimanapun juga, akhir-akhir ini Junda sudah banyak membantunya. Itu adalah suara dari dalam benaknya.
“Baiklah, aku pikirkan dulu bagaimana baiknya, nanti. Sekarang aku mau tidur,” Kata Relina sambil membalikkan badannya dan membelakangi Junda.
Pria itu membelai kepala Relina lembut, “Tidurlah. Semoga kamu baik-baik saja.”
Hati Relina menjadi hangat mendengar ucapan Junda yang terdengar tulus. Lalu dia tersenyum samar, namun Junda tidak bisa melihatnya.
Setelah beberapa saat lamanya Junda masih duduk di tempat yang sama, sedangkan Relina sudah memejamkan matanya.
“Kamu pasti nggak akan percaya kalau aku bilang aku menyukaimu ... pasti kamu tanya, sejak kapan?” Dia berhenti sejenak dan melanjutkan.
“Sejak kamu memintaku untuk berpikir positif. Kamu tahu, aku menyelidiki kamera keamanan hotel dan semua yang kamu katakan ternyata benar. Maafkan aku.”
Bersambung
__ADS_1