Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Aku Ikut


__ADS_3

Kedua orang tua Relina tidak menyangka bila anak mereka sudah memiliki rencana sejauh itu dalam pernikahannya, yang terbilang mendadak. Bahkan punya niat untuk bulan madu bersama sahabatnya, Anne.


Renita mengernyitkan dahinya lalu, berkata, “Memangnya kamu mau bulan madu ke mana bareng Anne?” Ada nada frustrasi dalam bicaranya.


“Ya, ke mana, kek. Ke luar negeri, kek. Kan aku belum pernah pergi ke tempat yang jauh-jauh, Buk.” Relina menjawab sambil bergelayut mesra dipangkal lengan Junda, yang duduk di sebelahnya, dalam ruang tamu rumah mereka.


Royan yang sedari tadi hanya di kamar, setelah resepsi selesai, tiba-tiba datang mendekat dan berkata dengan suara keras.


“Aku ikut!”


“Kamu, ini!” Rosihan menimpali permintaan Royanu sambil memukul bahu remaja pria itu, dan sukses membuat Royan meringis.


Junda menundukkan pandangan dan menatap Relina sambil tersenyum girang. Suaranya lembut memecah kesunyian yang datang seperti angin musim hujan yang membawa kesejukan.


Dia berkata, “Kamu mau pilih tempat di luar negeri yang kamu sukai.”


Relina tersenyum pula sambil mengeratkan pelukannya, “Benar ya, aku boleh pilih pergi ke mana saja?” kata-kata dan suara yang meluncur dari mulut Relina terasa aneh dan berbeda, terkesan manis tapi memaksa.


Renita sebagai ibunya melihat gelagat yang tidak biasa dari anak gadisnya karena selama ini Relina tidak pernah meminta sesuatu yang sifatnya memberatkan dan menyulitkan orang lain.


Akan tetapi Renita—ibu Relina itu menepis perasaan ganjil yang mengetuk-ngetuk hatinya. Sebab hal yang wajar bila seorang istri dan pengantin baru bermanja-manja dengan suaminya. Akhirnya wanita itu hanya bisa tersenyum masam dan merelakan keinginan anak gadisnya untuk pergi mengikuti suaminya yang akan pulang ke rumah di Bogor hari ini.


Setelah berpamitan pada Kedua mertuanya, Junda tidak lupa memberikan selembar cek yang dia hadiahkan kepada ayah dan ibu istrinya, dengan tulus.


“Apa ini, Nak? Tidak perlu memberi kami yang sebesar ini.” Kata Rosihan mencoba menolak secara halus. Akan tetapi Relina Segera mendorong tangan Ayahnya, yang akan mengembalikan cek itu pada Junda.


“Itu bukan apa-apa, Ayah. Hanya pemberian kecil, buat tambahan ongkos kalau nanti Ayah, Ibu dan Royan mau datang di resepsi pernikahan kami.” Junda menjawab sambil tersenyum dan menarik koper Relina keluar rumah.


“Baiklah, terima kasih. Hati-hati di jalan,” kata Renita dan Rosihan secara bersamaan.


*****

__ADS_1


Sesampainya di Bogor, hari sudah larut malam. Relina segera memasuki rumah kediaman keluarga Junda yang tidak bertingkat tapi sangat besar. Dia mengistirahatkan diri, dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, itu adalah kamar seorang pria, hingga semua perlengkapan dan hiasan di dalamnya pun terkesan manly. meskipun demikian, tetap saja terasa nyaman.


Setelah Junda menunjukkan kamar mereka, pria itu tampak begitu menahan dirinya dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sesuatu.


Kini Relina berada di rumah di mana dia menjadi nyonya. Pernah sekali dia mendatangi tempat ini saat Shasi—nenek Junda meninggal dan dia datang untuk berbela sungkawa atas duka dan memberi penghormatan terakhir kalinya.


Saat dia masuk tadi, ada seorang pelayan menyambutnya dengan ramah, sama seperti saat dia masuk ke rumah Gunara untuk pertama kalinya. Dia tersenyum penuh dengan kegembiraan tidak terkira bila akan menjadi seperti sekarang ini kehidupannya.


Selama perjalanan bersama keluarga mertuanya, Relina selalu tersenyum karena semua saudara sepupu Junda, paman dan bibinya, memperlakukan wanita itu dengan baik dan ramah. Mereka semua sangat menghargai Relina sebagai wanita yang di anggap penyelamat bagi Junda.


Relina hanya diam mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, sambil menunggu Junda yang tidak muncul sejak dia memasuki kamarnya. Pria itu hanya menemaninya masuk dan menyimpan koper lalu, meminta istinya itu istirahat.


“Apa kamu sudah tidur?” tanya Junda yang tiba-tiba datang, bahkan membuka pintu kamar nyaris tanpa suara.


Relina terkejut, bahkan dia belum sempat membersihkan dirinya. “Belum,” jawanya enggan. Dia heran karena Junda justru tampak segar, wangi, dan sudah mengganti pakaian.


“Ayo! Kita makan malam dulu,” kata Junda lagi sambil menggamit tangan Relina dan mengajaknya keluar kamar menuju ruang makan.


“Apa kamu senang?” tanya Junda sambil menuangkan beberapa makanan di piring Relina juga piringnya.


Relina mengangguk, dia merasa tidak percaya dengan keromantisan yang Junda tunjukkan padanya. Mengambil makanan dan melayaninya bagaikan ratu di istana raja.


“Ya, tentu saja,” jawabannya gugup.


Mereka menikmati dalam diam, hanya melempar tatapan serta senyuman.


Disela-sela acara makan malam itu, telepon genggam milik Junda, tiba-tiba saja berdering. Suaranya mengacaukan suasana, membuat Junda menghentikan aktivitas dan segera mengangkat ponselnya.


“Halo,” sapa Junda begitu benda pipih itu menempel di telinganya. Lalu hening sejenak, tampak Junda mendengarkan orang yang berbicara di seberang telepon dengan alis yang berkerut.


“Apa?” katanya kemudian dengan suara keras karena terkejut. Setelah itu dia segera menutup ponselnya dan menenggak habis air putih dalam gelasnya.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” tanya Relina dengan gusar. “Hei, ada apa?”


“Kamu tunggu di sini, ada sesuatu yang terjadi dengan Syalu, dia mencoba bunuh diri. Ayahnya menghubungiku dan ingin aku ke sana karena sekarang dia berada di atas gedung dan berteriak seperti orang gila!” Junda berkata dengan napas yang tersengal. Rasa bersalah menghantuinya.


Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada gadis itu bila dia tidak datang. Syalu memanggilnya berulang kali sambil berdiri di sisi atas, gedung tertinggi di Bogor! Setidaknya seperti itulah yang diberitakan oleh ayah Syalu padanya. Biar bagaimanapun juga, perempuan itu adalah sahabat dan juga pernah menjadi rekan kerja yang baik dan berjasa pada perusahaannya.


“Apa? Ahk, yang benar saja?” gumam Relina. Perasaannya tidak enak mendengar kabar yang baru saja diucapkan Junda. Makan malam romantisnya belum selesai, harus terganggu karena perempuan itu.


“Aku ikut!” kata Relina kemudian. Dia beranjak dari tempat duduk, berlari ke kamar untuk mengambil tas kecilnya dan setelah itu segera menghampiri Junda yang masih membeku, diam berpikir apakah akan mengizinkan Relina ikut atau tidak.


Demi melihat kegigihan Relina yang sudah bersiap untuk mengikutinya, akhirnya Junda pun menyerah dan membawa wanita itu ikut bersamanya.


“Ini, sudah malam. Seharusnya kamu di rumah saja menungguku pulang.”


“Aku nggak mau. Masa, sih, pengantin baru di tinggal sendirian. Sedih amat. Mending ikut, aku mau lihat apa Bu Sya, baik-baik saja.”


Mereka berbincang-bincang setelah berada di kendaraan dan Junda melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Relina pernah membaca beberapa novel tentang pengantin yang ditinggal di malam pertama atau pengantin yang gagal menikah atau perempuan yang menjadi pengganti karena pengantin wanitanya kabur. Akh, semua cerita itu menyedihkan dalam kehidupan seorang perempuan. Dia tidak ingin mengalaminya dan lebih baik mengikuti pria yang baru saja menjadi suaminya, dari pada menunggunya sendiri di rumah.


Sesampainya di tempat yang ditunjukkan oleh ayah Syalu, yang merupakan sahabat Atmaja—ayahnya, Junda segera turun dengan tergesa-gesa. Dia tidak ingin menjadi orang yang disalahkan atas kejadian bunuh diri, atau hilangnya nyawa seorang gadis karena tidak dicintainya. Terlebih lagi dia adalah Syalu, seorang wanita yang dulu pernah dekat dengannya.


“Siapa Anda?” tanya seorang polisi penjaga. Suasana di tempat itu terasa mencekam.


Keberadaan seorang petugas keamanan itu karena Adipura—ayah Syalu menghubungi dan memintanya datang untuk berjaga-jaga bila sesuatu terjadi pada anak semata wayangnya. Dari posisi lelaki itu berada sekarang, seseorang bisa melihat ke arah atap gedung dengan leluasa.


Junda dan Relina terus berjalan, dengan tergesa-gesa karena panik, bahkan tanpa menghiraukan teguran dari polisi itu.


“Hai, kalian. Berhenti!”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2