Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kami Marahan


__ADS_3

Relina tidak takut menjadi pusat pehatian orang, ia justru ingin semua orang melihat perbuatan Junda yang memaksanya. Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, sehingga Junda tidak punya hak melakukan semua itu terhadap Relina, sekehendak hatinya.


Rasa marah begitu memenuhi benak Relina hingga terasa panas di dadanya. Dia menurunkan kaca jendela dan menjulurkan kepalanya hendak berteriak, saat itu pula Junda langsung menjalankan mobilnya dengan cepat. Kesempatan Relina untuk membebaskan diri pun pupus sudah dibuatnya.


Sebenarnya Relina tidak keberatan untuk diantar, ke tempat tujuannya. Akan tetapi tidak dengan cara memaksa. Kalaupun Relina menolak, itu wajar karena merupakan haknya. Namun yang terlihat sekarang, justru mereka seperti sepasang kekasih, yang sedang dalam masalah.


Ingin sekali Relina menangis. Selain takut, dia juga benci. Perasaan alami yang muncul pada semua wanita yang mendapatkan pemaksaan, tapi ia tidak ingin terlihat lemah, hingga dia menahan air matanya lalu memukulkan tas nya berulang kali ke arah Junda.


Anehnya pria itu diam tidak melawan dan hanya menangkis serangan dari Relina sebisanya. Dia bahkan membiarkan Relina, hingga ia puas melakukannya. Setelah wanita itu berhenti memukul. Junda memelankan laju mobil dan memarkirkan kendaraannya di sisi jalan.


“Kamu sudah selesai memukulku?” tanyanya.


Relina mendengus dan mengusap hidungnya yang terasa gatal, dengan punggung tangannya. Wanita itu marah sekali dengan pria yang memaksa, tanpa tahu apa yang menyebabkannya.


Relina diam sambil memejamkan mata, menarik nafas dalam lalu membuka matanya secara perlahan, menoleh pada Junda dan menatapnya tajam. Pria itu sebenarnya berwajah manis, rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya lurus dan tebal, matanya hitam legam dan lancip,


“Bisa kan, Pak. Kita bicara baik-baik sekarang?”


Mereka saling menatap.


“Soal apa?”


“Semuanya.” Berhenti sejenak, menarik napas lagi. “Jadi ... Sebaiknya Anda dengarkan saya dulu bicara. Oke?”


“Oke,” Janda mengangguk, melepas sabuk pengaman, lalu menghadapkan badan sepenuhnya ke arah Relina, yang justru membuat Relina mengerutkan alisnya.


“Saya hanya tegaskan, bahwa diantara kita tidak ada hubungan apa-apa, saya bukan lagi pegawai Bapak. Kita juga bukan teman, saudara, tetangga, apalagi sebagai pasangan kekasih ... ha!” Relina tertawa kecil di akhir ucapannya.


“Lalu?”


“Anda tidak seharusnya memaksa saya, mengikuti, atau mengatakan saya wanita malam. Anda tidak punya hak menilai saya seperti itu. Kita belum mengenal terlalu lama.”


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai dari awal? Ayo! Kita kenalan, nama saya Junda Aswara.” Junda mengulurkan tangannya, untuk menjabat tangan Relina, tanpa sadar dia kembali memaksa.


“Saya tidak mau!” Relina segera menarik tangannya. “Bukankah dulu Anda pernah meminta saya pergi dari hadapan Anda, lalu mengatakan saya wanita sial, dan terakhir Anda mengatakan saya ini wanita malam. Lalu untuk apa Anda bersikap seperti ini dan berkenalan dengan perempuan seperti saya?!”


Relina mengatakan dengan jujur kebingungannya. Ia berharap, Junda mengerti dan membiarkannya pergi.


“Aku juga nggak tahu! Aku nggak tahu ... kalau kamu tanya kenapa, aku gak tahu apa jawabannya!” Junda menggenggam stir mobil dan menunduk, menempelkan kepala di atasnya.

__ADS_1


Relina melihat Junda dengan tatapan heran, karena ia baru tahu ada orang yang tidak tahu mengenai perasaannya sendiri. Aneh rasanya, apa memang seperti ini para lelaki?


“Hais, menyebalkan sekali.” Relina bergumam lirih.


“Jadi, kalau tidak tahu, cari tahu dulu deh, perasaan Anda sendiri. Saya lebih baik pergi, biar Bapak tenang. Gak usah repot-repot nganter saya.”


Relina hendak membuka pintu mobil, saat Junda menoleh.


“Tunggu. Lalu kamu menganggap saya apa?”


“Saya Cuma anggap Bapak orang lain. Kita gak usah ikut campur deh Pak!”


Sebelum Relina sempat membuka pintu mobilnya, Junda sudah menancapkan kaki pada gas dan mobil kembali melaju kencang.


“Pak, Junda! Apa seperti ini caranya memulai dari awal? Menjadi teman tidak seperti ini juga caranya!” Relina mengoceh ketika ia menyadari mobil melaju begitu kencang meninggalkan tempat semula begitu jauh jaraknya.


Junda hanya melirik Relina sekilas lalu kembali fokus mengemudi, sementara Relina merasa tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ia pasrah karena ia melawan pun percuma. Asalkan ia baik-baik saja dan Junda tidak membawanya pergi ke hotel atau semacamnya.


Relina belum mengenal Jakata, hingga ia tidak tahu, Junda membawanya ke mana. Hingga sampailah mereka di sebuah rumah besar yang berpagar tinggi dan sepertinya berada di kompleks perumahan elit.


Mobil memasuki rumah setelah pintu gerbang di buka oleh penjaga dari dalam. Lalu berhenti di halamannya yang luas.


“Ayahku. Ayo turun!”


“Tidak, mau. Sudah saya bilang Anda tidak punya hak untuk memaksa saya!”


“Ya sudah.” Junda turun, memasuki rumah yang sudah dibukakan pintunya oleh pelayan. Setelah itu pintu tertutup secara perlahan.


Relina yang melihat dari mobil, hanya mampu mengelus dada. “Ya, Tuhan ... Beri aku kesabaran.”


Relina menyandarkan tubuh dan kepalanya sambil menitikkan air mata. Sebenarnya apa kesalahannya pada Junda sampai laki-laki itu bersikap begitu kasar padanya. Sementara perutnya terus berbunyi, dia lapar.


Waktu terus berjalan, sementara Relina tidak tahu harus berbuat apa, ia mencoba mencari taxi online, tapi HP-nya tidak bisa menyala, karena habis daya.


Junda berada dalam posisi yang sangat salah di mata Relina, sehingga ia tidak akan menurutinya. Dia merasa tidak berhak masuk dan berada di dalam keluarga Junda. Dia bukan lah teman apalagi kekasihnya. Bukan pula istrinya!


Relina pun akhirnya tertidur, ia sangat mengantuk dan lapar, juga lelah. Junda tetap membiarkan mesin mobil dan AC di dalamnya tetap menyala, sehingga Relina tetap nyaman berada di dalamnya.


Pegawai keamanan rumah berkeliling dan melihat hal yang mencurigakan pada mobil Junda yang masih menyala, hingga ia pergi dan menemui majikan mudanya.

__ADS_1


Junda berada di ruang kerja ayahnya, berbincang dengan Atmaja yang terlihat segar dan bersemangat dengan kedatangan putarnya. Ini hal yang tidak biasa karena Junda hanya akan datang bila diminta, seperti pada waktu dirinya sakit, sekitar dua bulan yang lalu.


Junda akan mengunjungi ayahnya saat perusahaan membutuhkan campur tangannya atau mengadukan beberapa masalah, sedangkan dia enggan menanganinya, itupun saat akhir pekan tiba. Mereka bertemu hanya untuk bicarakan bisnis. Namun malam ini Junda mengunjunginya atas kemauannya sendiri, pria paruh baya itu sangat senang.


Saat ini mereka tengah membicarakan Shasi dan kesehatannya, yang terlihat menuru akhir-akhir ini. Atmaja sangat menghormati ibu dari mendiang istrinya yang telah merawat anaknya selama ini.


Namun, obrolan mereka terhenti, saat pelayan mengetuk pintu dan dia masuk setelah Atmaja mempersilahkannya. Pelayan itu membungkuk sambil berkata, “Den, Junda ... apa Anda lupa? Kata pak Jono, mobilnya masih menyala?”


Seketika Atmaja menoleh dan menanyakan kebenaran, sebab baru kali ini Junda menjadi ceroboh.


“Apa kau sudah mulai pikun?”


“Tidak” jawab Junda sambil melangkah keluar dari ruangan ayahnya.


Junda pergi ke halaman di mana mobilnya terparkir di sana. Dia terkejut sekaligus heran melihat Jono, penjaga rumah itu, tengah mengarahkan senter kecilnya ke mobil.


Begitu melihat Junda, dia berlari tergopoh-gopoh menghampiri majikannya dan berkata, “Den, ada bidadari sedang tidur di mobil, dia pacar Den Junda? Kok gak diajak masuk?”


Junda mengira, Relina nekat pergi setelah ditinggal masuk, ia pikir gadis keras kepala itu akan memesan taxi online dan semacamnya, karena tadi, Relina menolak.


Mendengar kelakar Joni, Junda membuka pintu mobil sambil menyahut asal. “Dia tadi gak mau masuk, biasa ... lagi marahan.”


Begitu melihat Relina yang tertidur pulas, Junda kembali bergumam, “Dasar keras kepala.”


Saat berkata demikian, hati Junda seakan digelitiki, geli. Dia ingin tertawa karena berakhir menjadikan dirinya sebagai pemenang. Gadis itu akan merasa sangat sial karena Junda, seperti itulah menurut penilaiannya.


Sekali lagi pria itu tertawa. Setelah itu dia membawa Relina dalam gendongannya dan berjalan dengan cepat masuk ke rumah menidurkannya secara perlahan di ranjang kamar tamu yang terdapat di lantai satu dekat ruang tamu. Lalu menyelimutinya.


Sebelum pergi, ia melihat wajah Relina yang tertidur dengan pulas, hingga timbul rasa bersalah karena melihat ada sisa air mata di ujung pelupuknya, sedangkan wajahnya terlihat agak sembab karena menangis terlalu lama.


“Apa dia menangis karena aku? Lalu kenapa dia tidak pergi, kalau tidak mau masuk?” Junda berkata dengan diri sendiri sambil mondar-mandir di kamar itu.


Junda membuka tas yang masih tergantung di leher Relina tanpa melepaskannya, lalu mendapati ponsel yang tidak menyala, hingga ia menduga bila gadis itu tidak bisa memesan taxi karena ponselnya mati. Tanpa pikir panjang, Junda langsung menyambungkan alat untuk mengisi daya oada ponsel Relina.


“Tidurlah. Mungkin saja aku besok akan mengatakan semua perasaanku padamu,” kata Junda lirih, sambil menutup pintu.


Junda hendak pergi ke kamarnya sendiri, tapi Atmaja menahannya lalu bertanya, “siapa dia?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2