
Relina menatap Junda lekat, dia merasa tidak harus menjawab pertanyaan Junda yang menurutnya, tidak perlu tahu soal penyakitnya.
Beberapa saat setelah dia terdiam, dia baru menyadari tangannya digenggam sedemikian rupa oleh Junda, tiba-tiba rasa hangat timbul di hatinya yang membawa kegembiraan lalu, mengalir ke pipinya, sehingga wajahnya pun memerah.
Alih-alih membiarkan tangannya yang masih saling bertaut, Relina menariknya dan membiarkan tangan Junda menjadi kosong.
Relina pun berkata, “Kamu nggak perlu tahu soal penyakitku.”
Pria itu menghela napas berat sambil melihat kedua tangannya, lalu menyahut, “Kenapa? Apa itu salah?”
Tatapan mata mereka kembali beradu dengan memancarkan perasaan masing-masing yang seolah-olah membuat banyak huruf beterbangan di udara.
Junda sudah mendengar penjelasan dari dokter ahli penyakit dalam yang menangani Relina bahwa ada gangguan pada paru-paru Relina yang membuat fisik gadis itu lemah. Kemungkinan dia menderita penyakit tuberkulosis, sebuah penyakit yang biasanya disebabkan oleh faktor sirkulasi udara yang buruk, bergaul terlalu lama dengan para perokok, atau bawaan dari lahir yang ibunya seorang perokok.
Dokter itu mengatakan bahwa harus melihat hasil tes laboratorium untuk lebih mengetahui kepastiannya.
Relina merubah posisi tidurnya sambil berkata, “Ya ... karena bukan urusanmu. Aku memang penyakitan sejak kecil. Makanya, nggak usah dekat-dekat sama aku, nanti kamu ketularan.”
Junda mengernyit ketika Relina berkata demikian, sebab dia tahu bagaimana penyakit itu bisa menular, penyakit yang bisa disembuhkan dengan cara pengobatan rutin selama beberapa bulan. Lagi pula tidak akan menulari semudah penyakit flu atau batuk.
Ingin sekali Junda tertawa, tapi dia hanya menjawab, “Kamu pikir aku takut ketularan? Penyakitmu bukan Aids atau Corona, kan?”
Relina menoleh dan menatap Junda heran, tidak menyangka pria ini begitu gigih. Dia pikir kata-katanya bisa membuatnya menjauh, tapi nyatanya dia bahkan mengatakan tidak takut tertular.
Penyakit itu, Relina dapatkan ketika masih kecil karena Rosihan—ayahnya, dulu adalah seorang perokok aktif. Akan tetapi setelah mengetahui anaknya menderita penyakit paru-paru, Rosihan berhenti merokok secara total, sampai sekarang.
Relina pernah dinyatakan sembuh, saat masih sekolah dan mendapatkan pengobatan secara rutin selama enam bulan, namun kembali kambuh setelah dia mulai bekerja di Bogor.
Ketika bekerja, Relina sering lupa atau terlambat membeli obat, atau memeriksakan dirinya, akibatnya dia harus mengulang pengobatan dari awal. Seperti itu ketentuan penyembuhannya tidak boleh terlambat, harus tepat waktu dan apa bila lalai, maka pengobatan akan diulang seolah baru berobat untuk pertama kalinya karena dosis obat akan diberikan secara bertahap dan berbeda setiap bulannya.
“Baiklah, aku mau tidur. Terima kasih sudah membawaku ke sini. Aku akan menyicil biayanya nanti.”
Junda kembali tersenyum kecil sambil memalingkan wajahnya, mengejek dirinya sendiri. Relina tidak perlu merasa berhutang budi karena membawa gadis itu ke rumah sakit, adalah kemauannya sendiri. Akan tetapi yang dia lihat sekarang adalah gadis yang keras kepala dan sama sekali tidak menghargai usahanya.
Junda beranjak dari duduknya, merapikan selimut Relina, lalu berjalan keluar kamar pasien dengan langkah tenang. Dia menutup pintunya agar Relina tidur dengan nyaman. Dia pergi ke tempat pelayanan umum untuk mengambil hasil tes laboratorium Relina yang sudah bisa dilihat hasilnya.
__ADS_1
Setelah itu Junda kembali menemui dokter sambil membawa hasil tes darah, rontgen baik pada paru-paru atau beberapa persendian yang di duga bermasalah karena imbas dari perkelahian melawan orang mabuk.
Cukup lama Junda berbincang dengan dokter hingga akhirnya dia keluar ruang konsultasi dengan wajah pucat. Dia kembali menuju kamar sambil mengusap wajahnya.
Junda kembali ke kamar perawatan dan melihat Relina masih tidur dengan pulas, hingga membuat Junda bebas membelai tangan, kepala dan pipi gadis itu dengan lembut. Dia tidak bisa mengelak lagi dengan perasaannya bahwa kini keinginan untuk melindungi dan membahagiakannya lebih besar lagi.
Setelah itu Junda pun tertidur di sisi ranjang karena rasa kantuk yang tiba-tiba datang menyerang.
Relina terbangun setelah beberapa jam kemudian, mungkin karena obat dan antibiotik yang dikonsumsinya, sehingga dia bisa tertidur dengan nyenyak. Dia mengedarkan penglihatannya sambil mengumpulkan nyawa dan pandangannya berhenti pada Junda. Pria itu tertidur di sisinya dengan posisi duduk dan kepala bertumpu pada dua lengannya, membuat punggungnya terlihat melengkung.
Relina dengan lembut membelai rambutnya, dia bersyukur bahwa Tuhan sudah menurunkan seorang malaikat. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan merepotkan Junda setelah ini.
Tiba-tiba Junda menegakkan kepalanya dan melihat apa yang dilakukan Relina. Begitu terkejutnya gadis itu dan buru-buru menarik tangannya, berbuat seolah-oleh tidak ada yang terjadi.
Junda tersenyum simpul dan berkata, “Ayo, lakukan lagi.” Pria itu berharap Relina membelainya. Dia rindu kelembutan dan kasih sayang dari orang, selain Shasi—neneknya, yang selama ini menggantikan kedua orang tua dan menyayanginya sepenuh hati. Dia tidak lagi banyak berharap dari wanita itu yang sudah semakin tua dan akhir-akhir ini sering sakit-sakitan.
Relina terlihat enggan, dia mengalihkan pembicaraan sambil berkata, “Apa aku sudah bisa pulang besok?”
Junda melotot menatap Relina tepat di bola matanya, lalu dengan tegasnya dia berkata, “Kamu, kalau sudah sembuh, sebaiknya istirahat di rumah dan tidak usah kembali bekerja!”
“Ya, memang tidak ada. Tapi semua itu untuk kebaikanmu.” Junda berkata sambil menunjukkan hasil tes dan Relina melihat dengan acuh tak acuh.
“Aku tahu apa artinya itu, aku bisa komplikasi kalau tidak hati-hati. Aku punya penyakit bawaan, asma dan alergi, di tambah dengan masalah di paru-paru. Lalu apa pedulimu?”
Junda meraih tangan Relina, mendekat punggung tangannya ke bibir dan menciumnya lembut. Dia berkata, “Aku menyayangimu, Relina ... aku menyukaimu,” diam sejenak, kembali menarik napas dalam, “aku ingin mengajakmu ke Bogor, kamu tidak perlu bekerja terlalu keras, dan kamu bisa berobat sampai sembuh total.”
Junda sudah bertekad untuk mengusahakan kesembuhan Relina, melakukan semua yang terbaik untuk gadis itu, bukan demi siapa pun melainkan demi dirinya sendiri. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan lagi.
Relina melihat tangannya yang masih berada dalam genggaman Junda, kali ini dia membiarkannya bahkan bekas ciuman Junda masih terasa.
Gadis itu pernah berpikir konyol ketika mengetahui tentang mitos yang dipercaya keluarga Junda, bahwa dia akan mengorbankan dirinya kalau memang berjodoh dengannya.
Pikiran itu muncul saat Relina pertama kali menatap wajah Junda dari dekat, yang membuatnya jatuh cinta dan rela melakukan segalanya walaupun, harus mengorbankan nyawa untuk melindunginya. Ya, bila Tuhan menghendaki Junda berjodoh dengannya. Bahkan dia menulis tekad ini dalam sebuah buku catatan pribadi yang berisi semua agenda serta kegiatannya.
Relina menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat hal ini, sebab kenyataannya sekarang dirinyalah yang sudah dilindungi oleh Junda.
__ADS_1
Junda menyadari perasaannya sudah cukup lama, namun baru kali ini dia berhasil mengatakannya secara langsung. Ya, hanya gadis itu berhasil melemahkan pertahanan dirinya, hingga dia berbuat sesuatu yang, belum pernah dia lakukan sebelumnya, seperti memaksakan ciuman kepada Relina tanpa permisi.
*****
Dua hari kemudian Relina sudah diperbolehkan untuk pulang, Junda masih setia menemaninya, dengan senang hati. Kesempatan selama itu mereka gunakan untuk saling menyelami dan lebih mengenal lebih dekat.
Sewaktu Junda mengatakan perasaannya, Relina tidak serta merta menjawab karena Junda tidak meminta jawaban saat itu juga. Meskipun begitu, Relina tampak membuka hatinya, mengingat jasa Junda sudah cukup banyak padanya. Gadis itu tidak memiliki apa-apa untuk membalas kebaikan Junda, selain dengan perasaannya, hanya itu yang dia miliki.
“Sebaiknya, kamu bilang sama pamanmu soal yang sudah kita bicarakan kemari. Lebih cepat lebih baik,” kata Junda saat berada di dalam mobil yang membawa mereka kembali ke Kafe Kopi.
Bersambung
__ADS_1