Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Phobia Dan Lift


__ADS_3

Sementara itu mobil yang ditumpangi Relina berjalan secara perlahan melewati Jalan Djuanda, keluar dari area di mana kebun Raya Bogor, atau yang sering disebut dengan Kebun Botani itu, berada.


Di sekitarnya, ada banyak juga bangunan atau tempat yang mendukung adanya kebun Raya, seperti museum Zoologi Bogor, Herbarium Bogoriense dan PUSTAKA dan Relina sangat menikmati perjalanannya.


"Apa kau kenal baik dengan mantan manajer mu itu?" Ica memulai obrolan, memecah keheningan suasana. Mengingat kembali apa yang Relina lihat tadi.


"Akh, tidak aku baru dua hari mengenalnya sebelum aku dipecat. Bahkan aku tidak punya nomor ponselnya."


"Apa? Dua hari saja kau bekerja dan Kau dipecat oleh orang yang bukan bosmu?"


"Iy,a, sudahlah ... jangan mengejekku. Nasibmu tidak lebih tragis dari nasibku, kan?


Mereka kembali tergelak kecil. Setelah itu Icha memacu kendaraannya lebih cepat mengingat hari sudah semakin sore. Ia tidak ingin Relina pulang terlalu malam, hanya karena menemaninya. Ia tidak ingin sendiri sekarang, entah kenapa walaupun baru saling kenal, ia sudah merasa akrab.


Tidak memakan waktu lama, ketika mobil yang dikendarai, berhenti di halaman parkir gedung yang memiliki ciri khas kuat bangunan lama yang kokoh dan indah, yaitu Hotel Salak The Heritage Bogor. Tempat yang di bangun setelah Gunung Salak meletus ditahun 1834 itu, membuat Relina tercengang.


Letusan gunung yang terbesar di Bogor itu, menghancurkan beberapa bagian istana Bogor. Seorang Jendral Belanda yang tinggal di sana memutuskan untuk membangun kembali istana pada tahun 1856. Saat itulah Hotel Salak pun dibangun, sebagai tempat istirahat bagi tamu-tamu istana. Dahulu, tempat itu bernama Belleveu Hotel, setelah Indonesia merdeka, hotel itu diserahkan kepada pemerintah Indonesia, berganti nama menjadi Hotel Salak The Heritage Bogor.


Hotel Salak adalah tempat yang tidak bisa dipisahkan dengan Istana Bogor, salah satu dari enam istana kepresidenan Republik Indonesia.



"Apa kau menginap di sini?" Relina bertanya karena heran, ia yakin bila tidak sembarang orang bisa menginap di tempat itu. Mungkin saja Ica adalah kalangan tertentu itu, sehingga dia bisa menginap.


"Iya." Icha mengangguk.


"Wah, tidak sembarang orang bisa masuk ke sini."


"Siapa bilang, kamu bisa kok menginap di sini, hotel Salak ini kelola secara profesional kok, sama seperti Hotel lainnya. Jadi, kalau kamu mau, kenapa tidak? Gimana kalau kamu tidur saja malam ini bareng aku."


"Oh, benarkah, aku boleh tidur di kamarmu?"


"Iya, boleh."


Hotel Salak adalah salah satu tempat bersejarah yang ingin di kunjungi oleh Relina karenanya, gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika Ica menawarinya tidur di tempat itu secara gratis.


"Apa kita punya kesempatan untuk jalan-jalan di sekitar istana, ah, cuma numpang Foto saja buat kenangan."


"Tentu saja, tapi tetap harus izin dulu setelah itu, barulah kita bisa jalan-jalan ke sana Apa kau mau ke sana, besok?"

__ADS_1


"Mau. Apa itu tidak merepotkanmu?"


"Oh, tidak. Aku akan minta izin besok. Ayo makan dulu, kita pesan ya, makan saja di kamarku."


"Baiklah."


***


Relina membiarkan Icha yang tertidur lebih dahulu Entah apa yang dilakukan Gadis itu sebelum pergi berjalan-jalan tadi, hingga terlihat sangat lelah, sedangkan dirinya justru tidak bisa tidur. Suasana kamar yang sangat nyaman dan mewah, ternyata membuatnya justru susah untuk memejamkan mata. Mungkin karena ia tidak terbiasa saja.


Gadis itu memutuskan untuk berjalan-jalan keluar, melewati lobi dan beberapa bagian Hotel yang masih terlihat sedikit ramai. Ada beberapa orang yang memutuskan tidak tidur, mereka memilih untuk bersantai dan menikmati suasana malam yang terlihat cukup cerah.


Relina berkeliling dengan perasaan gembira, entah kapan lagi ia bisa berada di tempat yang membuatnya begitu bangga. Ini tempat bersejarah. Ia menikmatinya dengan mengambil beberapa foto dan dikirim pada laman momen media sosialnya.


Ketika sudah puas dengan aktivitas dan mulai mengantuk, Relina berjalan kembali menuju lift sambil melihat-lihat foto-foto yang sudah berhasil diabadikannya tadi. Ia masuk begitu saja di lift yang baru saja terbuka bersama dua orang pria.


Salah satu dari Pria itu melihat Relina dengan tatapan mata membara, tapi yang ditatap tidak perduli dan asyik melihat ponselnya. Sesaat lamanya ia merasa lift tidak naik hingga ia memencet tombol berulang kali tapi lift itu mati dan lampu pun padam. Seketika gelap!


Tiba-tiba Relina merasa sebuah tangan yang besar mencengkram lengannya dengan sangat kuat. Ia lalu merasakan tubuhnya ditarik paksa dalam dekapan laki-laki itu. Relina sontak saja terkejut dan berusaha memukul dan memberontak dengan menggerakkan tubuhnya, tapi tangan dan tubuhnya tidak bisa bergerak, pria itu seolah mengunci dan mengikat dengan rantai besi.


Walaupun demikian, tubuh pria itu menggigil seperti ketakutan, dari mulutnya meracau tidak jelas seperti desis yang aneh. Bahkan tubuh Relina yang seolah menempel itu pun turut bergetar.


'Ahk, sial sekali aku. Siapa orang ini?'


Relina semakin kesal mana kala ia tiba-tiba ingat penah juga diperlukan kurang ajar oleh Junda. Laki-laki itu menciumnya begitu saja, walaupun, hanya dua detik tapi rasa malu dan kesalnya belum hilang sampai sekarang.


"Hei, apa dia temanmu?" tanya Relina pada satu pria lagi yang berdiri tak jauh dari mereka.


Pria itu diam saja, suasana gelap, hingga Relina tidak bisa melihat bahwa laki-laki itu menggeleng dan bergeser menjauh. Dia tidak mau terlibat masalah, orang yang bersamanya di lift, tidak dikenalnya.


"Hei, apa kau punya hp? Tolong nyalakan, bisa tidak?" Tanya Relina lagi dan laki-laki itu menurutiny, hingga ruangan itu lebih terang.


'Sepertinya orang ini phobia tempat sempit dan gelap. Tapi siapa dia? Sebenarnya kasihan, tapi ahk ... kurang ajar!'


"Hei, siapapun kamu, tenanglah." Relina yang semula hendak memberontak dan melawan pun akhirnya melunak karena ia merasakan tubuh laki-laki itu yang berkeringat dan gemetar semakin hebat. Lift macet. Ini hal yang tidak biasa.


"Ibu ...." Kata laki-laki itu lirih suaranya pun bergetar, menandakan ketakutan yang teramat dalam.


"Tenang ya, tenang, semua baik-baik saja. Jangan takut, ada aku di sini ... tenang ... sekarang sudah lebih terang." Relina berkata sambil mengusap-usap punggung pria itu, menepuknya perlahan dan berusaha memberi ketenangan.

__ADS_1


'Kasian sekali dia, laki-laki besar tapi penakut! Eh, tunggu ... kenapa suara ini sepertinya aku kenal, tapi siapa ya?'


Relina merasakan tubuh yang dipeluknya ini semakin berat, ia bergeser ke sisi dan menyandarkan tubuhnya agar bisa lebih kuat menopang, kepala pria itu kini bersandar pasrah di pundaknya.


'Apa dia pingsan, tapi tidak ... dia masih gemetar'


"Hei, apa kau baik-baik saja. Kau tidak mati kan? Hei! Jangan mati! Aku gak mau jadi tersangka!" Relina berkata setengah berteriak dan menggoyangkan badan yang masih gemetar serta bersimbah keringat dingin itu.


'Dia berkeringat, tapi parfumnya masih wangi. Pasti parfum mahal yang dia pakai. Ahk ... gimana kalau dia mati?'


Tiba-tiba lampu menyala dan lift pun bergerak. Betapa terkejutnya Relina melihat siapa yang tengah memeluk dan menyandarkan kepala di pundaknya.


"Kau?!" Gumam Relina penuh tekanan menyimpan geram. Napasnya yang tadi memburu karena waspada dan terkejut, kini semakin kuat, hingga dadanya turun naik mengimbangi udara yang keluar masuk.


"Lepas!" Relina berusaha melepaskan pelukannya dari Junda, yang seperti tidak sadar setelah lampu kembali menyala. Sementara lift berhenti dan pintunya sudah terbuka.


'Apa aku tinggalkan saja dia di sini, sial! Apa memang seperti ini akibat dari phobia? Tapi dia tidak berteriak-teriak seperti kebanyakan orang'


Junda memiliki phobia yang tidak bisa disembuhkan walaupun ia sudah berusaha mengobatinya dengan cara yang beraneka rupa, dari konsultasi psikologi, terapi hipnosis atau pengobatan biasa.


Laki-laki yang tadi bersama mereka, hendak keluar ketika Relina berkata, "Tolong. bantu saya memegangnya sebentar, berat sekali."


Pria muda itu mendekat dan membantu Relina menidurkan Junda di lantai.


Mereka tidak akan kuat membawa tubuhnya karena laki-laki itu masih remaja serta bertubuh kurus. Setelah berhasil membaringkan Junda, dua orang itu berjongkok di sebelahnya.


"Sepertinya dia phobia gelap. Oh iya, dimana kamarmu?" Tanya Relina.


"Ini," jawab laki-laki itu menunjuk satu pintu kamar yang tidak jauh dari lift.


"Maaf ... tolong tunggu di sini, sampai laki-laki ini siuman, jadi saksi saya, mau ya?"


"Saksi apa? Kakak sudah baik mau nolong dia, kan?"


"Iya, biar gak salah faham saja."


Laki-laki itu mengangguk.


"Euh ..." Junda terbangun dan menyadari dirinya tergolek di lantai, menoleh pada Relina dengan sorot mata yang masih membara. "Kau? Apa yang kau lakukan padaku, hah?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2