Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Jadi Asisten?


__ADS_3

Tiba-tiba suasana canggung pun tercipta, Gunara melihat benda yang ada di tangan Fuad. Sementara punggung Relina menjadi kaku dan menatap kedua pria di hadapannya dengan bingung. Mana pertanyaan yang harus ia jawab, terlebih dahulu karena keduanya bertanya secara bersamaan.


“Maaf, Pak Fuad. Apa maksud Bapak, bertanya seperti itu?” Relina bertanya, ia merasa menjadi orang yang disalahkan dan mencuri benda berharga milik Fuad.


Fuad tidak menjawab, ia hanya menoleh pada Gunara dan kembali menatap Relina, dengan tatapan membara.


“Fuad, jujur padaku, bukan dia, kan orang nya?” Gunara justru menanyai Fuad.


Relina semakin heran, mengapa Gunara dan Fuad seperti orang yang akrab bahkan seperti saudara. Lalu mereka membicarakan sesuatu, yang berhubungan dengan dirinya.


‘Sebenarnya orang-orang ini, kenapa?’


Fuad beralih kembali menatap Gunara dan melambaikan tangan memberi isyarat bahwa Relina bukan orang yang dimaksudkan. Ia pun menggelang dan berkata, “bukan.”


Gantungan kunci yang di bawa oleh Relina adalah benda yang Fuad ukir sendiri dengan segenap hatinya. Dulu, ia ingin berikan benda itu untuk orang yang dicintainya dan hanya membuat satu macam saja, tidak ada yang lainnya.


Fuad pandai dalam kerajinan dan ia membuat benda itu dengan detil khusus, yang menjadi cirikhas dirinya. Ia sengaja memilih bentuk gitar sebagai hadiah hari jadi hubungannya, dengan sang kekasih yang menyukai alat musik gutar. Akan tetapi siapa yang menduga bila kemudian ia menerima kabar bahwa orang yang dicintai itu, meninggal dunia dihari yang sama, dengan hari jadi mereka karena sakit yang dideritanya.


“Lalu, apa ini?” Gunara berkata sambil menunjuk gantungan kunci. “Gimana kamu bisa dapet gantungan ini?”


Relina termenung, merasa ada sesuatu pada gantungan kunci itu. Ia pun melepaskannya dari resleting tasnya dan memberikannya pada Fuad. Namun Laki-laki itu mengabaikannya.


“Katakan dimana kau mendapatkannya?” Fuad bertanya untuk yang kedua kali.


“Apa kau yakin hanya mengukir satu benda seperti ini?” Gunara pun bertanya


Sebagai saudara, Gunara mengetahui semua kisah cinta Fuad. Dia adalah sahabat dan saudara yang paling dekat dengannya sejak ayah dan ibu tercinta meninggal dunia. Mereka merasa senasib karena sama-sama tidak memiliki orang tua.


Fuad pernah menceritakan pada Gunara tentang penyesalannya telah melakukan kesalahan. Ia begitu syok hari itu, hingga ia membiarkan dirinya berjalan tanpa tujuan. Ia mirip orang yang frustrasi dan tidak memiliki gairah hidup lagi. Sampai suatu ketika, ia bertemu dengan Icha yang juga dalam keadaan yang sama.


“Kenapa kamu menangis? Penampilanmu tidak pantas untuk menangis!” kata Fuad saat melihat Icha menangis di tepi sebuah kolam buatan yang indah.


“Kamu sendiri, kenapa mukulin air kayak orang gila?” sahut Icha.


Fuad tidak menanggapi pertanyaan Icha waktu itu, karena ia tiba-tiba berteriak, memanggil nama kekasihnya, sambil memukul batang pohon di sampingnya.


“Kau ternyata lelaki lemah, yang sedih hanya karena wanitamu pergi?” kata Icha waktu itu.


Fuad dan Icha saling melempar pertanyaan dan ejekan, ketika mereka bertemu di sebuah lokasi yang ada di kebun raya Bogor. Mereka pergi ke tempat itu, untuk mendinginkan hati. Akan tetapi kesejukan suasana yang ada, tidak mampu mendinginkan hati mereka. Bahkan berakhir dengan hubungan cinta satu malam, sebagai pelampiasan.


Kedua insan itu tidak menyadari bagaimana awalnya, hingga bisa bersama. Icha yang sedih karena putus dengan pasangannya dan Fuad yang ditinggal pergi untuk selamanya oleh kekasihnya, kemudian bisa berakhir di ranjang yang sama.


Fuad kembali tersadar dari lamunannya saat Gunara mengulangi pertanyaannya, “Fuad. Jawab aku!”


“Iya,” jawab Fuad, membuat Gunara tersenyum simpul, dia hampir saja marah dan juga khawatir, bila Relina adalah orang yang telah memiliki kenangan satu malam dengan saudaranya.


“Pak. Sebenarnya ini pemberian teman saya.”


“Teman?” ucapa Fuad dan Gunara secara bersamaan, sementara mereka masih berdiri di sisi jalan.

__ADS_1


Akhirnya Relina mengatakan semua perihal yang ia alami bersama Icha, dari mana ia mendapatkan benda itu dan pesan terakhir dari Icha. Satu yang ia sesali yaitu ia lupa untuk meminta nomor ponselnya.


“Jadi, di mana perempuan itu sekarang, uhm ... maksudku, Icha?” Tanya Fuad.


“Saya tidak tahu, Pak. Saya juga tidak punya nomor ponselnya.”


Fuad mengusap rambut dengan jari-jari tangan dan mendesah keras. Ia merasa sudah menemukan sesuatu yang berharga, tapi kemudian terlepas begitu saja. Relina tertegun lalu mencoba mengumpulkan potongan-potongan kisah yang ia simpulkan sendiri. Kemungkinan Fuad adalah orang yang Icha cari selama ini.


“Pak, jangan bilang kalau Pak Fuad –“


Fuad menatapnya dengan canggung dan malu-malu. Ia mengangguk lalu memalingkan wajahnya. Secara tidak langsung ia mengakui bahwa dialah orangnya yang sudah menjalin hubungan singkat dengan Icha.


Relina tercengang saat menyadari semuanya dan kesimpulannya benar. Secara tidak sengaja dirinya sudah menjadi jalan dan sebuah titik terang dari kegundahan dua orang yang telah melakukan kesalahan.


Setelah perbuatan yang memalukan itu terjadi, Fuad dan Icha sepakat untuk melupakan segalanya, menganggap bahwa pertemuan mereka tidak pernah ada. Akan tetapi siapa yang menduga jika dikemudian hari ternyata hadir seorang anak di antara mereka?


Namun, setelah mereka menyepakati tidak akan bertemu dan saling melupakan, justru mereka selalu mengenangkan peristiwa yang mereka alami. Tanpa mereka sadari sebenarnya menjadi jalan untuk membuang kesedihan dan kegalauan.


Relina tertegun, kemudian segera tersadar apa tujuan awalnya b erada di sana, sementara bis yang akan ia tumpangi justru terlewat begitu saja.


“Tapi, Pak. Icha justru menganggap Anda sebagai kekasihnya, dia tidak bisa melupakan Bapak. Soalnya, kekasihnya pergi begitu tahu dia dijodohkan.” Relina berkata sambil melihat ke arah bus yang berjalan mendekatinya.


Sementara Fuad hanya diam karena berfikir, bagaimana cara untuk menemukan Icha. Dia bertekad menemukannya karena ia merasa harus bertanggung jawab dengan kehadiran anak dari hubungan mereka.


“Tunggu!” Gunara mendekati Relina dan memegang pergelangan tangannya. “Kamu mau ke mana?”


“Ke Jakarta, Kak. Aku dapat pekerjaan di sana.”


‘Saya gak mau ketemu sama Junda, orang gila itu lagi!’


“Maaf, Pak. Saya—“ ucapan Relina terhenti ketika ada mobil BMW hitam yang tiba-tiba menepi di dekat mereka. Relina membulatkan matanya menyadari siapa yang ada di dalam mobil itu.


Benar dugaan Relina bahwa mobil yang berhenti di depannya itu adalah milik Junda. Pria itu keluar mobil dan langsung mendekati Relina. Ia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan wanita itu. Dia memalingkan wajahnya sambil tersenyum kecil, ketika melihat tangan Relina dan Gunara saling bertaut.


“Ada hubungan apa Anda dengan dia?” tanya Junda setelah berdiri tepat di hadapan Relina dan Gunara.


Fuad yang berdiri tak jauh dari Gunara, terlihat tidak suka melihat kedatangan kedatangan Junda dan bersikap tidak seperti biasanya. Mereka hanya bertemu bila rapat atau menyelesaikdan urusan yang berkaitan dengan bisnis, sehingga ia tidak tahu bagaimana tingkah Junda bila di luar acara perusahaan seperti ini.


“Apa urusan Anda bertanya seperti itu pada saya?” Gunara balik bertanya.


“Ya, saya Cuma bertanya, tidak tahu kalau ternyata Anda mengenal perempuan ini juga.” Junda berkata sambil menyelipkan tangannya di saku celana.


‘Jangan-jangan dia salah satu pelanggannya’


“Sebenarnya dia teman kuliah saya dulu,” sahut Gunara.


“Oh, memang iya, kamu dulu kuliah sama dia?” Junda berkata sambil menoleh pada Relina.


Gadis itu mengangguk.

__ADS_1


“Gimana, Rel. Mau kan kerja lagi ya, jadi asistenku!” Kata Gunara, Relina menatapnya dengan tatapan ragu, lalu tatapan mereka saling bertemu. Menganggap Junda dan Fuad tidak ada di antara mereka.


‘Asisiten?’ batin Junda.


“Asisiten?” Kata Relina. Gunara tersenyum dan mengangguk.


“Maaf, Pak Gun ... Mungkin Anda belum tahu ... salah satu poin penting agenda kerjasama antara perusahaan kita, adalah tidak memperkerjakan perempuan ini dan seterusnya.” Junda menjelaskan sesuatu pada Gunara.


‘Apa, jadi perusahaan Gunara benar-benar punya Kak Gun?’


“Apa salahnya kalau saya mengangkatnya jadi pegawai saya?” tanya Gunara mengalihkan tatapannya dari Relina.


“Kemungkinan kerjasama kita harus ditinjau ulang,” sahut Junda


“Tidak masalah.” Gunara berusaha tenang dan bijak, walau rahangnya terlihat mengeras.


“Ayo! Ikut aku sekarang. Aku mau bicara denganmu,” kata Junda sambil memegang tangan Relina dan mengabaikan Gunara.


Fuad maju mendekat, melihat ke arah tangan Junda dan berkata, “apa ini Pak Junda. Bukankah Anda tidak menyukai Relina, hingga Anda meminta kami untuk memecatnya saat itu juga?”


Gunara bergerak melepaskan pegangan tangan Junda dari tangan Relina. Dia tahu bagaimana kejadian pada saat rapat, dengan Junda beberapa hari yang lalu, dari Fuad. Dia menyesal mengapa tidak menghadiri rapat itu, sebab bila dirinya hadir, dia akan membela Relina dan tentunya, gadis itu masih bekerja di perusahaannya.


“Bukan urusan Anda!” Junda mendelik ke arah Fuad dan Gunara. Dia kembali berkonsentrasi pada Relina, menyapu wajah yang sejak semalam menghiasi pikirannya, dengan lembut. Walaupun, mati-matian dia berusaha melupakannya, tetap saja wajah biasa namun manis itu seperti menempel di mana-mana.


Berawal dari rasa kesal Junda dan keanehannya pada Relina, dengan kemunculannya yang selalu membuat masalah. Lalu keinginannya untuk melampiaskan gejolak kotornya, namun sekarang justru seolah ia tidak bisa melepaskan diri dari jerat kepribadian gadis ini. Apalagi semalam, setelah Relina menghamburkan uang sambil tertawa, membuat Junda semakin penasaran saja.


“Tapi, itu urusanku!” Relina menyahut sambil melepaskan tangan Junda, kasar.


Melihat sikap Relina, Gunara tersenyum. “Gimana, tawaranku tadi, Reli? Kamu mau, kan jadi asisitenku?” Gunara bertanya.


“Ma—“ ucapan Relina disela oleh Junda yang memegang bahunya agar menghadapnya.


“Kamu mau bekerja jadi asisitennya? Aku bisa memberi kamu jabatan yang lebih baik dari itu, gimana kalau jadi manajerku?!” Ujar Junda dengan semangat.


Relina mengernyit, entah ia harus tertawa atau menangis saat ini, tawaran Junda terdengar sangat lucu. Dulu dia pernah memecat Relina dari pekerjaan di kantornya dan sekarang ingin mengangkatnya menjadi manager. Apa komentar pegawai lain nantinya? Pikir Relina.


Setahu Relina, perusahaan itu bukanlah milik Junda melainkan milik ayahnya. Itu artinya Junda tidak bisa semaunya mengangkat pegawai setingkat manager. Tawaran Junda sekali lagi tidak masuk akal, sama tidak masuk akalnya saat dia memecatnya dulu.


“Manajer?” Tanya Relina sambil mencebik.


“Iya, atau wakil direktur!” Sahut Junda.


‘Wakil direktur? Ahk, yang benar saja' batin Relina geli.


“Tidak. Aku gak mau. Nanti aku dipecat lagi sama kamu.”


Jawaban Relina itu sontak saja membuat Gunara dan Fuad mengernyitkan dahi dan saling berpandangan. Mereka baru ingat kalau Relina pernah bekerja menjadi bawahan Junda. Lalu, apa ini artinya telah terjadi sesuatu yang membuat Junda ingin kembali bersama Relina? Pikir kedua laki-laki itu.


“Jadi, gimana, Relina?” Gunara kembali bertanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2