Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Melamar


__ADS_3

Junda diam saat Relina mempertanyakan keputusannya, dia tahu keluarga mereka berseberangan tentang kepercayaan akan beberapa hal seperti mitos dan tanda yang dimilikinya. Itulah alasan sebenarnya, selain karena pria itu memang mencintai gadis yang ada di haadapannya. Dia mendesah sambil mengendurkan pelukan dan mengusap pipi Relina dengan lembut.


Sementara Relina masih menunggu jawaban dari orang yang kini berbaring di sampingnya. Mereka seperti sedang menerbangkan layangan yang ditarik dan diulur sampai batas ketinggian tertentu. Hubungan yang mereka lakukan seperti karet yang kadang kendur kadang merekat erat. Ada banyak retakan di hati gadis itu bila mengingat saat awal-awal mereka sering bertemu.


“Aku mencintaimu.” Hanya itu akhirnya kalimat yang keluar dari mulut Junda. Tatapan matanya penuh kasih sayang.


Relina tersenyum mendengar ucapan Junda, ingin rasanya membalas pelukan pria itu, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk melakukan apa yang dia inginkan.


Beberapa hari kemudian Relina sedikit membaik, perban di tubuhnya sudah dilepas dan dia kini mampu duduk dan ke kamar mandi seorang diri. Sebelumnya dia selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk menunaikan hajatnya perawat atau Renita. Akan tetapi, bila malam hari Junda pun sering membantunya, gadis itu sebenarnya malu, sehingga meminta Junda hanya menggendongnya sampai di pintu kamar mandi, setelah itu dia akan melakukan semuanya seorang diri.


Kedua orang tua Relina selama ini tidak tahu, bila setiap malam Junda akan mendatangi Relina dan menemaninya sampai menjelang pagi. Mereka hanya tahu bila ada seorang perawat yang menemani anak gadis mereka.


Akan tetapi, hari ini berbeda, Renita dan Rosihan tidak pulang ke apartemen sewa, mereka beniat untuk pulang keesokan hariya, mereka menginap di bangsal tempat Relina mendapatkan perawatan. Kedua orang separuh baya itu melihat perkembangan yang bagus pada kesehatan putrinya, hingga ingin membawa Relina pulang ke Lampung dan merewatnya di rumah sendiri. Mereka tidak akan mengizinkan Relina bekerja kembali, setelah melihat semua hal yang terjadi.


Tidak ada orang tua yang rela melihat anak kesayangannya hidup menderita, sudah cukup semua yang dialami Relina. Renita menasehati anak perempuan itu agar menyerahkan proyeknya pada Fuad dan Erwin. Dua pria itu kebetulan pernah bertemu orang tua Relina, beberapa hari yang lalu dan merekalah orang kepercayaan Gunara dan sudah sangat berpengalaman dibandingkan gadis bau kencur seperti anaknya,


Junda dan kedua orang tua Relina sama-sama terkejut ketika malam harinya, bertemu dengan Junda datang membawa sebuah buket bunga. Pria itu tahu hari kepulangan kekasihnya dan dia ingin merayu agar Relina mau tinggal bersamanya. Dia tidak suka bila perempuan yang dicintainya berada di rumah peninggalan Gunara yang jaraknya sangat jauh dari kediaman dan juga kantornya.


“Kamu di sini?” tanya Renita ketus.


Melihat keadaan yang canggung dan menegangkan, Relina mencoba mencairkan suasana dengan menenangkan ibunya dan berkata dengan tegas. Dia melihat Junda berdiri dengan canggung di pintu, tidak masuk juga tidak keluar.


“Ibu, aku yang mengundangnya datang,” seketika Junda menjadi tidak bersemangat, dia biasanya akan tidur di sisi Relina sambil memeluknya, itu rumah sakit, dia tidak akan melakukan apa pun. Meski pun demikian, dia sudah cukup senang. Akan tetapi sekarang dia tidak bisa melakukan itu karena ada kedua orang tua Relina dalam ruangan yang sama.


“Kamu mengundangnya?” tanya Renita dengan alis yang berkerut, lalu diangguki oleh Relina

__ADS_1


Junda kembali berpikir positif, pelajaran yang diberikan Relina membekas padanya, hingga dia kemudian menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Rosihan dan Renita,


“Ah, syukurlah, Ayah dan Ibu di sini, ada yang ingin saya sampaikan."


“Sudah kubilang, aku bukan Ibumu!” jawab Renita, masih saja ketus


“Mungkin tidak akan lama lagi Ibu akan jadi Ibuku juga,” kata Junda sambil berlutut. Melihat apa yang dilakukan Junda, Renita dan Rosihan tampak menjadi serba salah begitu pula dengan Relina, dia tidak mengerti mengapa Junda melakukan itu di hadapan orang tuanya.


“Apa yang kau lakukan? Ayo! Bangun, merusak pandangan saja.”


“Ibu, Ayah, saya melamar Relina, Saya mencintainya, izinkan saya menikah dengannya.”


“Apa? Kamu jangan bercanda! Ayo, bangun!” Rupanya Renita tidak enak, lagi pula dia tidak pernah melihat orang betingkah seperti itu dihadapannya, tapi sikap rendah hati Junda, menjadikan dia berpikir berbeda dan melihat ketulusan dalam dirinya


“Lebih baik, kamu tanyakan saja pada Relina sendiri, apa yang menjadi jawabannya itulah jawaban kami,” kata Rosihan terdengar bijak akan tetapi, Renita tetap saja mengoceh, bila apa yang dilakukan Junda tidak pada tempatnya. Ya mereka ada di rumah sakit dalam keadaan kacau, justru melamar anaknya.


Mendengar ucapan Junda, Renita mengernyit, dia melihat keraguan menggantung seperti sarang laba-laba dalam otaknya. Dia sadar dan berpikir bahwa keluarga Junda bukan orang biasa, buktinya dia mampu menyewa sebuah partemen mewah hanya untuk dia dan suaminya, bahkan menyediakan pembantu serta seluruh keperluan sehari-hari, seolah semua sangat mudah dan menjadi hal biasa.


Wanita paruh baya itu hanya kuatir bila di kemudian hari, Relina—anaknya, mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga atau mertua karena tidak ketidakcocokan, perbedaan derajat, status sosial dan semua alasan atas dasar kemanusiaaan lainnya.


“Apa hanya ayahmu? Bukan dengan keluargamu? Aku tahu orang seperti kalian tidak akan merestui hubungan dengan orang seperti kami, kan?” tanya Renita seraya mencebik, “Aku tahu, orang seperti kalian pasti akan mencari jodoh yang derajatnya sepadan. Jadi, apa kamu yakin dengan apa yang akan kamu lakukan?”


Junda dengan keyakinan penuh sambil menoleh dan menatap Rosihan serta Renita sambil mengangguk.


“Aku tidak mau anakku tidak diterima keluargamu dan dikucilkan.” Renita masih mengoceh.

__ADS_1


“Itu tidak akan terjadi. Ibu tidak perlu khawatir.” Junda berkata sambil menggenggam erat tangan Relina yang terasa dingin. Akan tetapi Relina merasakan telapak tangan Junda, panas seolah ada bara api idpermukaan kulitnya.


Relina mengernyitkan dahi mencoba menebak kalau Junda sangat gugup saat melamar dan mengatakan cinta di hadapan orang tuanya, itulah sebabnya suhu tubuh pria itu meningkat, bukan karena sakit.


Junda sangat bersyukur Rosihan atau Renita tidak menanyakan alasan melamar, selain karena cinta. Akan tetapi alasan itulah yang paling kuat, mengalahkan alasan apapun di dunia saat seseorang ingin menikahi kekasihnya. Apalagi alasan karena tanda lahir yang dimiliki mereka sama, bila dia mengatakan alasan ini, maka justru akan menjadi alasan paling konyol yang di dengar orang tua Relina.


Sudah jelas mereka tidak memiliki pemahaman yang sama, selama ini Relina tidak pernah membicarakan apa pun tentang tanda di tubuhnya walaupun, mereka pernah membicarakannya. Bahkan gadis itu tidak pernah bertanya, tanda seperti apa yang menjadi mitos dikeluarganya!


‘Nnati saja aku akan mengatakan semuanya kalau sudah menikah’ batin Junda.


*****


Keesokan harinya, Junda bersama keluarga Rosihan berkemas untuk keluar dari rumah sakit, setelah Junda menyelesaikan seluruh administrasinya. Pria itu sendiri yang mengurus keluarga kecil itu sampai tiba di apartemen sewanya. Mereka setuju saja untuk sementara waktu tetap tinggal di sana sampai Relina benar-benar pulih. Sementara memulihkan kondisi, gadis itu bisa menyelesaikan administrasi perusahaan yang dikelolanya.


Relina tidak menyetujui keinginan Junda untuk meninggalkan perusaan dan proyek yang diberikan Gunara karena baginya, wasiat adalah amanah dan dia akan menyelesaikannya.


“Jadi, Ayah dan Ibuk tinggal di sini selama ini?” tanya Relina setelah mereka memasuki apartemen sewa. Dia dududk di sofa sambil mengedarkan pandangannya ke sekelinling ruangan. Seorang asisitant menyambut dan membantu membawakan beberapa barang yang mereka bawa dari rumah sakit. Semua itu adalah keperluan Relina yang diambil secara bertahap dari rumah Gunara, ada juga beberapa pakaian pemberian Junda.


“Ya. Kamu, Ayah dan Ibu bebas mau tinggal di sini kapan saja,” jawab Junda sambil menunjukkan kamar Relina pada asisitent untuk membereskannya, di sanalah Relina akan beristirahat.


Setelah Junda merasa puas dengan pekerjaan asisitant yang bekerja, Junda duduk dengan tenang di samping Relina, tapi disaat yang sama, ponselnya berdering. Dia segera mengambil ponsel itu dari saku kemejanya dan melihat nama yang tertera di layar, pria itu segera berjalan keluar ruanagan untuk menerima panggilan. Dengan alis berkerut dia menempelkan benda pipih itu ke telinga.


‘Untuk apa wanita itu meneleponku?’ tanyanya


dalam hati.

__ADS_1


Setelah mendengar beberapa kata, Junda menutup telepon genggamnya secara sepihak. Tampak kerutan di keningnya semakin dalam.


Bersambung


__ADS_2