
Junda terkejut melihat ayahnya berdiri di depan pintu dan bertanya demikian padanya. Jelas sekali Atmaja itu melihat tingkah lakunya, membawa seorang wanita yang tertidur ke kamar tamu tanpa seizinnya.
Junda tersenyum tipis, sambil mengusap tengkuk dan memutar pandangannya lalu menjawab, “dia pacarku.”Nada bicaranya penuh keraguan.
Mendengar ucapan Junda, Atmaja mengerutkan kening, menurut pengetahuannya, selama ini Junda tidak pernah membawa pulang seorang wanita, walaupun mereka berpacaran. Dia tahu anaknya ini tidak pernah serius pada setiap wanita yang dekat dengannya karena dia begitu mempercayai neneknya.
Atmaja lalu bertanya, “kenapa kamu tadi tidak membawanya masuk. Kamu biarkan dia di mobil dari tadi?”
“Iya, dia marah. Kami sedang ada masalah. Aku tidak tahu kalau dia tertidur, kukira dia pergi.”
“Kamu pikir bisa semaumu membawa pulang perempuan tidak jelas ke rumahku?” Nada suara Atmaja meninggi, dia tidak terima bila anaknya akan berbuat amoral, membawa wanita tidak dikenal, ke rumahnya.
Junda diam sejenak, dia tidak mungkin mengatakan pada ayahnya bila Relina, yang dia tahu, adalah wanita malam. Sebutan wanita tidak jelas seperti yang dikatakan Atmaja, adalah benar adanya dan dia merasa perlu untuk menyelamatkan harga dirinya.
“Dia wanita baik-baik, ayah. Aku sudah mengenalnya setahun yang lalu dan aku menyukainya.”
“Hmm ... itu artinya kamu serius, dan karena itu kamu berani membawanya ke rumah?”
“Ya, begitulah ... dia tidak mau, aku masih merayunya, justru dia marah,” elak Junda.
Sepertinya kebohongan Junda berhasil membuat Atmaja percaya, pria yang beberapa helai rambutnya mulai memutih itu, mengangguk tanda mengerti.
“Ya sudah, istirahat saja. Kita bicara lagi besok.”
Baru saja Junda hendak pergi, saat Atmaja kembali bersuara. “Siapa namanya?”
“Relina Hayati.”
*****
Relina membuka matanya secara perlahan, dia tidur dengan nyenyak malam ini. Dia menggeliat sambil melihat sekeliling ruangan yang terasa asing. Lalu mencoba mengingat kembali kejadian sebelumnya hingga dia berada di kamar yang sekarang dia tempati. Kamar yang nyaman dan bagus, seperti tidur di hotel saja.
Saat ingatannya mulai pulih, Relina bergegas turun, dengan menyibakkan selimut begitu saja. Begitu terkejutnya dia ketika menyadari ada seorang wanita tua yang berdiri di dekat pintu dan menunduk hormat padanya.
Wanita itu pelayan yang ditugaskan oleh Atmadja untuk menjaga Relina dan mengingatkan Atmaja apabila wanita itu sudah terbangun dari tidurnya.
“Anda sudah bangun nona?” kata perempuan itu membuat Relina mengerutkan alisnya.
“Nona, siapa Nona, aku?” Relina bertanya, sambil menunjuk dirinya sendiri dan perempuan tua itu pun mengangguk.
Erlina tidak begitu menanggapi aksi perempuan itu karena dia ingin segera pergi ke kamar mandi untuk menyelesaikan keperluannya. Dia melihat sebuah pintu yang ada di sudut ruangan.
Lalu dia berdiri, sambil berkata, “apakah itu kamar mandinya?” menunjuk pintu di sudut, wanita tua itu pun kembali mengangguk.
“Iya, silakan, Nona.” katanya
__ADS_1
‘Aku harus menyelesaikan hajatku dulu, setelah itu mari kita selesaikan semua ini, sampai selesai hari ini juga. ayku tidak akan terlibat lagi dengan dia ...’ gumam Relina pada dirinya sendiri.
Relina merasa sangat sial, ia memastikan bahwa tidak ada yang terjadi antar dirinya dan Junda. eontah bagaimana laki-laki itu, membawa dan menidurkannya di kamar itu.
Rumah besar itu pasti milik dari orangtua Junda, begitu pikir Relina. Namun dia tidak tahu apa yang dikatakan Junda tentang dirinya, pada kedua orang tuanya. Demi mengurangi rasa pusing dan kepenatannya, Relina membasuh wajahnya.
Setelah selesai mencuci wajahnya, dia melihat semua perlengkapan mandi dan juga handuk yang tampak bersih, hingga ia berniat untuk membersihkan diri sekaligus menyegarkan pikirannya.
Relina mengguyur tubuhnya dengan air mengalir dan berharap masalahnya kali ini pun ikut mengalir bersama aliran air dan pergi.
Setelah selesai mandi, dia tetap memakai baju yang sejak kemarin dipakainya karena pakaiannya ada di dalam koper di mobil Junda.
‘’Ah, terserahlah inikan terpaksa pakai baju yang kemarin saja'
Relina keluar dalam keadaan yang segar meskipun memakai baju yang sama. Dia melihat ponselnya di atas meja kecil dekat tempat tidur, sedang tesambung dengan alat mengisi daya. Tiba-tiba ia merasa bersyukur ada orang yang peduli padanya,
Akan tetapi pikiran positifnya mendadak berubah setelah berpikir bahqa orang itu sudah menggeledah isi tasnya. Dia menganggap orang yang melakukannya sangat tidak sopan.
‘Ahk ... Kalau memang dia pelakunya, lancang sekali dia!’ batin Relina.
Belum juga pulih kekesalannya dari memikirkan tas yang digeledah oleh seseorang, matanya kembali dikejutkan oleh seorang laki-laki paruh baya yang duduk di sofa kecil dekat tempat tidur.
Relina sedikit merinding dengan tatapannya yang menghujam ke arah matanya, seolah-olah dirinya sedang dikuliti saat itu juga.
“Kemari, dan duduklah!” kata Atmaja mempersilahkan Relina untuk duduk, dengan menggerakkan dagunya.
Relina menurut dan kini mereka duduk saling berhadapan. Relina terlihat sangat tegang.
Atmaja memulai percakapan dengan bertanya, “namamu Relina?”
Relina mengangguk tanpa bersuara, ekspresinya menunjukkan rasa takut karena dia, memang tidak pernah menghadapi situasi menegangkan seperti ini sebelumnya.
Saat itu juga Relina berpikir dalam diamnya mempertanyakan di mana geranga laki-laki yang sudah membawanya sampai ke tempat itu.
Tak lama masuk Vela, wanita berwajah lembut dan berambut panjang, berkulit putih bersih dan bermata lentik itu tersenyum pada Reina. Dia memperkenalkan dirinya dan mengakui bahwa dia ibu sambung bagi Junda.
Vela adalah wanita yang lembut dan baik, dia sudah memberi Junda seorang adik laki-laki, setelah menikah dengan Atmaja, setahun dari kematian ibunya. Meskipun adiknya itu sama-sama lelaki, mereka tidak akrab. Selain dipisahkan oleh jarak dan waktu, usia mereka juga terpaut terlalu jauh.
Saat itu Relina tahu bahwa ternyata, Junda tidak memiliki ibu kandung. Dia tidak tahu apakah ibunya meninggal ataupun bercerai dengan ayahnya, yang ia tahu bahwa perempuan yang ada di hadapannya ini adalah ibu tirinya.
Kedua orang itu, Atmaja dan Lavela, telah mengunci pintu kamar Junda, agar tidak keluar dari sana. Atmaja bermaksud memastikan kebenaran, antara ucapan Junda dengan ucapan Relina.
Selandainya apa yang dikatakan Relina tidak sesuai dengan apa yang diucapkan Junda, menunjukkan bahwa salah satu di antara mereka sudah berbohong dan ia harus mengambil tindakan yang berbeda pada anaknya.
Atmaja menekankan bahwa kejujuran sangat penting dalam ilmu berbisnis bila tidak ingin mendapatkan kerugian, baik dalam hitungan jumlah atau pun dalam penyelesaian masalah.
__ADS_1
“Benarkah kamu pacar Junda?” kata Felia memulai percakapan yang lebih serius.
Semalam, ketika Junda sudah pergi ke kamarnya, Atmadja dan istrinya itu menghubungi Shasi. Mereka menanyakan tentang kebiasaan Junda dan memastikan bahwa anak itu memiliki seorang kekasih atau tidak.
Pada saat itu sasi memberikan pernyataan yang bertolak belakang dengan Junda karena Shasi mengatakan bahwa Junda tidak pernah memiliki seorang teman wanita kecuali Syalu, sekertarisnya.
Wanita tua itu pun mengatakan bahwa Junda tidak pernah membawa perempuan ke rumah karena tidak serius dalam setiap hubungan, atau hanya mempermainkan saja.
‘Oh, jadi itu yang dia katakan, dia bilang aku adalah pacarnya untuk menyelamatkan muka dan harga dirinya lalu aku harus bagaimana?’
Relina tertegun karena berpikir, seandainya mengakui, mungkin dia akan baik-baik saja sekarang, tapi kedepannya dia akan kesulitan dalam menghadapi Junda. Lalu seandainya dia berkata terus terang, maka akan ada akibatnya bagi Junda, tapi dia akan selamat dan bebas darinya.
Setelah selesai berdialog dengan dirinya sendiri Relina pun memutuskan bahwa dia harus jujur karena ia tidak ingin ada masalah dikemudian hari, dengan Junda. Dia ingin segera menyelesaikan semua masalah, sebab jika tidak, maka laki-laki itu justru akan bertingkah lebih menyebalkan.
“Bukan.” jawab Relina tegas, membuat Felia dan Atmaja saling bertatapan. Kalau memang benar dia bukan pacarnya berarti yang benar adalah pernyataan dari Shasi, bahwa Junda, tidak sedang dekat dengan siapa pun juga.
“Kalau begitu jelaskan bagaimana kamu bisa ada di dalam mobil Junda sampai kamu tidur,” kata Atmaja.
“Maaf Apa saya boleh bertanya, Pak. Siapa yang memindahkan saya ke kamar ini?” Relina bertanya sambil memajukan badannya.
“Junda,” jawab Atmaja dan Vela secara bersamaan.
Relina mengangguk, dia menyadari bahwa semalam, setelah dia dibiarkan tertidur, laki-laki itu membawanya ke kamar, sungguh sikap yang sungguh membingungkan.
‘Ksnapa dia tidak membiarkannya begitu saja?’
Setelah Atmadja menjawab pertanyaannya Relina pun menceritakan bagaimana awal dirinya yang hendak pergi ke Jakarta dan kemudian bertemu dengan Junda. Dia mengatakan semuanya tanpa ia tutupi sedikitpun.
Setelah mendengar penjelasan dari Relina, Atmaja mendesah keras dia mengusap wajahnya dan kemudian bertanya dengan tegas.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, apa kamu mau melanjutkan perjalanan atau menunggu Junda?”
“Tidak, saya tidak mau bertemu dengan Pak Junda, saya mau pesan taksi online, ke tempat paman saya.” Relina berkata sambil meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil, sekarang daya baterai sudah terisi penuh.
“Baiklah kalau seperti itu, anggap saja kita tidak pernah bertemu,” ucapan Atmaja terdengar ambigu di telinga Relina, tapi masih jauh lebih baik dari pada bermasalah dengan Junda.
Atmaja tidak mengenal Relina, wajar bila pria itu memandangnya sebelah mata dan menganggapnha wanita tidak bermoral.
“Terima atas pengertian Bapak dan tolong sampaikan juga terima kasih saya pada Pak Junda.” Relina merasa harus berterima kasih, walaupun kesal pada Junda. Sebab karenanya Relina bisa beristirahat di kamar dengan nyaman malam itu.
‘Aku berharap tidak pernah bertemu lagi dengan orang seperti dia'
Atmaja kembali menghela napas, menurutnya perbuatan Junda sangat tidak pantas, jika benar semua yang dikatakan Relina. Oleh karena itu, dia membiarkan Relina pergi setelah membereskan tas dan kopernya, tanpa berpamitan pada Junda yang masih tidur nyenyak di kamarnya.
Bersambung
__ADS_1