
Setelah Dokter selesai melakukan pemeriksaan dan menyatakan secara resmi, bahwa Relina sudah tiada Junda semakin tak berdaya seolah-olah tubuhnya tak bertulang, lemas tanpa tenaga. Dia pun kembali berlutut di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan wanita yang sudah menjadi mayat itu, lalu menciumnya.
Pria itu masih belum rela meninggalkan jasadnya, hingga dia memberikan diri di sampingnya sambil memeluknya hangat, berharap bahwa ketika dalam pelukan itu istrinya akan terbangun.
Kenangan indah yang pernah mereka lalui semalam adalah kenyataan yang sekaligus pahit. Bagaimana tidak pahit bila mereka melakukan hubungan itu untuk pertama dan terakhir kali?
Ini menyakitkan! Walaupun menyadari bahwa semua sudah takdir Tuhan yang tidak membedakan bahwa dia memiliki tanda yang sama atau tidak, toh tetap saja bila takdir menghendaki kematian terjadi maka itu akan terjadi.
Benarlah sebuah kutipan bijak yang mengatakan bila seandainya, semua mitos tentang kejadian alam yang mengakibatkan kesialan, kematian, kecelakaan itu, benar-benar terjadi, maka tentu manusia sudah punah di muka bumi ini.
Dengan memeluk Relina yang terbujur kaku, Junda berkata lirih tepat di telinganya seolah-olah mayat itu bisa mendengar.
“Aku tahu, kenapa kamu nggak bilang Soal tanda yang sama denganku, padahal kamu tahu aku mempercayai hal itu .... ya, kamu pasti gak percaya, kan? Heh!” Junda berkata sambil menertawakan dirinya sendiri.
“Ternyata memang tidak perlu di percaya, karena tidak ada yang bisa menghindari takdir Tuhan. Aku belum sempat bilang terima kasih. Jadi, terima kasih ... sudah mau menerimaku apa adanya, padahal aku tidak memberimu apa-apa.” Setelah berkata demikian, Junda pun kembali menangis.
Semua hadiah dan janji yang dia ucapkan untuk membahagiakan wanita itu belum sempat dilaksanakan dan itu membuatnya menyesal. Kenapa tidak dari dulu, dia memberikan seperti yang Gunara berikan padanya, saat mereka memperebutkan Relina? Sesal adalah sesuatu yang paling tidak berguna.
Hari sudah menjelang siang ketika Junda bangkit dari rebahannya, melepaskan pelukannya dengan enggan. Dia beranjak bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengganti pakaian.
Saat dia keluar kamar, dilihatnya semua asisten rumah tangga yang selama ini bekerja dengan dirinya, menunduk hormat menyampaikan belasungkawa kepada majikannya itu dengan wajah yang sudah berlinang air mata. Kesedihan itu memenuhi seisi rumah tanpa memilih, aroma air mata tercium meski dari jarak sekian dan sekian karena begitu banyaknya mata yang meneteskannya di saat yang bersamaan.
Kematian Relina seolah memberikan sinyal pada siapa pun bahwa percaya pada sesuatu adalah hak setiap manusia, akan tetapi tidak ada yang boleh melebihi kepercayaan terhadap takdir Tuhan dan kekuasaan-Nya.
Junda memejamkan mata dan mendongak ke atas, setelah melewati semua pelayan yang menampilkan kesedihan sebagai tanda turut berdukacita. Dia mengambil ponsel dan mulai menghubungi beberapa pihak yang bersangkutan dengan Relina diantaranya, Fuad, Erwin, Anne, dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Suara teriakan keras dari Renita memekakkan telinga Junda saat pria itu menghubunginya dan mengatakan tentang keadaan anak gadisnya yang kini sudah tak bernyawa. Wanita itu meraung bagai kesakitan yang tiada Tara.
“Kamu, membunuh anakku! Kamu pembunuh! Aku sudah melarangnya untuk tidak menikah sama kamu, dan ini akibatnya! Hah!” kata Renita di ujung telepon dengan suara melengking tapi gemetar.
Tentu saja Renita—ibu Relina itu, tidak rela kehilangan anak gadis satu-satunya dan sangat disayanginya. Dia bahkan menganggap kesialan Junda sebagai biang keladinya. Mana ada ibu yang rela anaknya meninggal dunia lebih dahulu dari dirinya.
“Bu, sudah!” teriak Rosihan mencoba menenangkan hati istrinya yang menangis keras begitu Junda mengatakan kabar kematian anaknya.
“Nak Junda, coba ceritakan apa yang terjadi?” tanya Rosihan, menggantikan istrinya untuk bicara melalui telepon karena Renita tidak juga berhenti menangisi.
Junda menceritakan semuanya dari awal sejak kepulangannya. Mereka baru saja berpisah dua hari yang lalu dan sekarang kabar yang diterima hanyalah tentang kematiannya.
Junda menjelaskan semuanya secara detail, kecuali kecurigaannya tentang kemungkinan bila Syalu meracuninya
Hati kedua orang tuanya itu karam hingga ke Palung yang dalam, begitu dingin seolah membeku tanpa kehangatan senyuman dan keceriaan Relina lagi.
Junda membeku sejenak mendengar permintaan Rosihan, sebagai permintaan terakhir orang tua Relina. Dia setengah tidak Rela, sebab dalam benaknya dia masih akan sering mengunjungi makam istrinya bila kerinduan datang padanya, tapi ini ... memakamkannya jauh di kampung halaman akan sangat memberatkan hati.
Setelah menarik napas dalam-dalam, akhirnya hanya kepasrahan yang keluar dari mulutnya saat dia berkata, “Baiklah, Ayah, saya akan mengurus jenazahnya dan setelah itu saya akan mengantarkannya ke sana.
Junda tidak melakukan aktivitas apa pun dan tidak pergi ke mana pun, hampir seharian dia hanya berada di sekitar jenazah Relina, sebentar-sebentar dia mengecup kening yang sudah semakin dingin. Dia beranjak dari kamar, setelah beberapa rekan kerja dan orang yang dia telepon, mendatangi rumahnya.
Ada di antara mereka, Fuad, Erwin, Dion dan Anne yang datang dalam keadaan berurai air mata. Pasangan pengantin baru itu belum sempat berangkat melakukan bulan madunya karena menunggu keputusan Relina, tapi yang mereka dapatkan hanyalah kabar kepergiannya untuk selamanya.
“Apa yang terjadi, Pak. Bukankah kalian memiliki tanda tubuh yang sama?” hanya itu yang diucapkan Anne berulang kali seolah menolak semua yang terjadi pada sahabatnya. Kesedihan yang nyata di matanya itu bukanlah basa-basi saja. Dia benar-benar kehilangan sahabatnya untuk selamanya.
__ADS_1
“Semua bukan karena tanda lahir, tapi karena sudah takdir.” Demikian Dion menenangkan istrinya. Dia juga pernah mengalami kehilangan seperti yang di alami Junda, hingga dia tahu rasanya. Waktu dia kehilangan istrinya, seolah tidak berarti apa-apa.
Sementara Fuad dan Erwin meminta kesiapan Junda bila ingin meneruskan proyek Relina dan Gunara. Akan tetapi, bila dia tidak siap, maka dia hanya dibutuh tanda tangannya sebagai bukti kematian dari pihak pimpinan proyek, agar bisa diteruskan oleh siapa saja yang ditunjuk perusahaan nantinya.
Setelah menyepakati beberapa hal, akhirnya Junda meminta agar pihak perusahaan saja yang meneruskan pembangunan proyek itu dikarenakan dia tidak ingin terus menerus bersedih dan menyesal setiap kali melihat proyek istrinya.
“Saya hanya minta, undang saya saat peresmian proyek itu tiba. Saya pasti akan datang.”
Kenapa, Anda tidak ingin meneruskannya?” tanya Erwin dengan hati-hati.
“Itu adalah kisah antara Gunara dan istri saya, sebaiknya saya tidak campur tangan di sana. Biarlah proyek itu tetap murni untuk dijalankan oleh orang yang berada di lingkungan Gunara saja,” kilah Junda dengan tenang.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Erwin.
“Saya akan meneruskan proyek itu dengan baik, sesuai keinginan Bu Relina.” Fuad menjawab dengan tegas. “Biar bagaimana pun juga, Relina pernah berjasa pada saya.”
“Oh, ya?” kata Junda.
“Ya, kalau bukan karena Relina, saya tidak akan bertemu dengan istri saya yang sekarang.” Fuad berkata dengan penuh binar di matanya. Hubungan dirinya dengan Icha dan keluarganya, sekarang jauh lebih baik. Bahkan mereka berniat meresmikan hubungan pernikahan mereka yang dahulu beri dilaksanakan secara siri.
Junda mendesah keras, memikirkan hubungannya dengan Relina yang belum diketahui oleh publik, bahkan dia pun belum mengumumkan pada semua orang tentang pernikahannya. Hanya orang-orang yang saat ini ada di hadapannya yang mengetahui tentang pernikahannya yang mendadak.
Pentas saja, tidak ada ucapan belasungkawa dari tetangga dan kolega bisnis, apalagi karangan bunga, semua tidak ada. Junda pun tidak ingin mengumumkannya karena jasad Relina akan di bawa ke kampung halamannya setelah peti jenazah yang dia pesan, datang.
“Kamu, sudah menghubungi dokter? Apa penyebab kematian istrimu, Jun?”
__ADS_1
Bersambung