
Relina melihat Icha yang tengah berjalan ke arahnya, sambil menggendong anak kecil yang berumur sekitar tiga atau empat tahunan. Saat itu juga Relina merasa bahwa dunia begitu kecil baginya. Dia tidak menyangka, bisa bertemu kembali dengan Icha dan ini adalah Jakarta, di sinilah tempat tinggalnya.
Mereka saling berpelukan dan menanyakan kabar. Walau mereka hanya berteman secara singkat waktu itu, namun pertemuan mereka sangat berkesan. Oleh karena itu ketika mereka melihat satu sama lain, bisa dengan mudah untuk saling mengenali.
“Kamu di sini? Siapa yang sakit?” tanya Icha ketika mereka sudah melepaskan pelukannya.
“Aku menemani sahabatku, tapi dia ada di ruang ICU, jadi aku gak bisa masuk sembarangan.”
“Oh. Sahabat? Laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki, tapi benaran, kita Cuma teman.”
“Ahk, calon suami juga gak masalah kok!” Icha berkata sambil tertawa kecil.
Relina memutar bola matanya malas lalu ia mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. “Kamu sendiri kenapa ada di sini?”
“Anakku demam, aku khawatir ada masalah, tapi tidak ada apa-apa. Cuma demam biasa.” Ica berkata sambil mengusap lembut kepala anaknya yang tertidur dalam pangkuannya.
“Cepat sembuh ya sayang ...” Relina berkata sambil mengusap lembut pipi anak perempuan itu. “Siapa namanya?”
“Fina Saliya.”
“Nama yang bagus. Dia mirip sekali sama pak Fuad.” Relina berkata sambil mengerutkan alisnya mengamati wajah anak yang tertidur.
“Siapa, Fuad?”
Pertemuan ini membuat Relina merasa terbantu dalam menyelesaikan masalah, dengan Fuad. Dia ingat pertemuannya dengan pria itu beberapa hari yang lalu, dan berhubungan dengan Icha.
Relina menyimpulkan bahwa Icha dan Fuad, adalah orang yang sama-sama saling mencari. Ketika hari ini dia dipertemukan dengan Icha kembali, dia merasa bahwa jalan keluar bagi masalah yang mereka hadapi, akan segera menemukan titik terang.
__ADS_1
Suasana di koridor masih diliputi keharuan antara dua orang, yang menjadi teman karena sebuah ketidaksengajaan. Relina menceritakan kepada Icha bagaimana pertemuannya dengan Fuad.
Semua berawal dari sebuah gantungan kunci yang diberikan kepada Relina. Ternyata, gantungan kunci itu adalah benda spesial yang memiliki ciri khusus dan hanya diketahui oleh Fuad, laki-laki itu membuatnya sendiri.
Waktu itu, Fuad memang sengaja meninggalkanya di meja hotel tempat mereka menginap, sebagai kenang-kenangan saja. Dia tidak menyangka, jika setelah kepergiannya dan berusaha melupakan Icha justru ia semakin mengingatnya bahkan semakin penasaran dibuatnya.
“Jadi, gantungan kunci itu ada sama dia?” tanya Icha dan Relina mengangguk. Relina sudah menceritakan semuanya, lalu membenarkan pertanyaan Icha karena waktu itu, dia memang memberikan gantungan kunci itu kepada Fuad.
Relina bukannya tidak mau menyimpan ataupun tidak menghargai pemberian Ica, tapi dia hanya tidak ingin mendapatkan masalah saja. Dia juga tidak tahu apakah Fuad berusaha mencari Icha lagi atau tidak. Dia mengaku pada Fuad bahwa ia tidak memiliki nomor ponsel ataupun alamat Icha berada.
“Aku yakin kalau Pak Fuad sepertinya nyari kamu, soalnya dia tanya di mana alamatmu. Aneh juga ya, kita ketemu tapi kita nggak tukeran nomor telepon waktu itu.”
“Mungkin memang harus seperti ini jalan ceritanya, kamu memberikan gantungan kunci itu kepadaku, mungkin menjadi jalan dari Tuhan untuk di diperlihatkan kepada Pak Fuad.”
“Bisa jadi.”
Relina segera menghubungi Fuad, dia memang membutuhkan laki-laki itu untuk menemani Gunara saat ini. Jadi, bertemu dengan Icha di rumah sakit, adalah suatu rencananya yang lain.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya telepon pun tersambung dan terdengar suara Fuad yang menyapa Relina. Setelah itu Relina pun bercerita tentang kejadian kecelakaan yang menimpa Gunara
“Apa kamu bilang? Gunara di ICU?” tanya Fuad dari ujung telepon.
“Iya, Pak. Tidak ada siapa pun yang menunggu di sini, saya tidak bisa menghubungi saudara ataupun temannya. Sekarang keadaannya masih kritis dan tidak bisa ditemui, saya tidak bisa lama-lama di sini, Pak. Saya masih pegawai baru.”
“Baiklah, tunggu saya di sana,” kata Fuad dan telepon pun ditutup setelah Relina memberikan alamat rumah sakit tempat dimana Gunara dirawat.
Sebenarnya Fuad dan Gunara pergi bersama ke Jakarta, tetapi karena tujuan mereka berbeda, akhirnya mereka berpisah di terminal. Gunara pergi ke kedai kopi, dan Fuad menuju ke perusahaan yang yang ia duga sebagai tempat di mana Icha menjadi pimpinannya.
Fuad mencari alamat perusahaan Ica itu melalui berbagai jaringan media sosial dan internet. Fuad mendatangi tempat itu dengan penuh percaya diri, namun ketika Dia tiba di sana, dia pun kecewa karena sang pimpinan tidak berada di tempatnya.
__ADS_1
Setelah orang yang dicarinya tidak ada, dengan perasaan kecewa akhirnya Fuad meninggalkan perusahaan itu. Dia berusaha menghubungi Gunara untuk menanyakan di mana dia berada dan memilih untuk menemaninya bertemu dengan Relina.
Ingin sekali Fuad menceritakan tentang kekecewaannya, namun dia justru heran ketika melihat di layar ponselnya, yang dipenuhi oleh begitu banyaknya panggilan dari Relina. Dia pun berinisiatif untuk melakukan panggilan kembali, tapi sedetik kemudian justru Relinalah yang menghubunginya.
Fuad segera pergi dengan mengendarai taksi yang sudah ia pesan menuju ke rumah sakit yang sudah diinformasikan oleh Relina.
Setelah sampai di rumah sakit Fuad langsung menuju ruang ICU, sesuai informasi dari Relina. Ketika dia berada di depan ruangan itu, dia melihat Relina, bersama seorang wanita yang membuatnya terpanah untuk kedua kalinya.
Wanita itu membuat langkahnya terhenti dan kenangan antara mereka bagai sebuah film yang diputar kembali. Kejadian di mana dia pernah bertemu dengan Icha untuk pertama kalinya. Wanita itu terlihat berbeda dari tiga tahun yang lalu dan membuatnya kembali terpesona, dia lebih anggun dan lebih cantik dari sebelumnya. Hal lebih membuatnya tercengang, adalah seorang anak perempuan yang ada dalam gendongan Icha, sehingga ia bertanya berulangkali dalam hatinya, benarkah itu anaknya?
‘Benarkah itu dia' batin Fuad.
‘Dia ... Oh, Tuhan ... benar-benar itu adalah dia?’ batin Icha.
‘Berarti aku tidak salahkan kalau dugaanku bawa cerita antara Pak Fuad dan Icha saling berhubungan’ batin Relina.
“Hei, mau sampai kapan kalian terus berpandangan?” kata Relina sambil menepuk bahu Icha. Sejenak dia bisa melupakan kegalauannya memikirkan Gunara. Setidaknya masalah Gunara sudah bisa diselesaikan Karena sekarang Fuad bisa menggantikan dirinya.
Fuad mendekat dan mengulurkan tangannya pada Ica sambil tersenyum malu-malu. Relina melihat semuanya, dia tak percaya bahwa Fuad, mantan manajernya yang dulu terlihat tenang dan pendiam, bisa tersenyum seperti itu. Pria itu terlihat lucu.
“Apa kabar?” tanya pada Icha.
Wanita itu pun terlihat sama, melemparkan senyum malu-malunya kepada Fuad. Mungkin saja kedua orang itu rindu.
Namun, tingkah mereka membuat Relina gerah, hampir frustasi. Dia tidak mempunyai kekasih ataupun orang yang dia cintai.
Ingin sekali dia menyudahi acara melepas rindu antara Fuad dan Icha saat itu juga, tapi dia memilih pergi. Dia membiarkan kedua manusia yang jatuh cinta, saling melepaskan kerinduan mereka. Relina melangkah, melihat Gunara dari balik kaca ...
Bersambung
__ADS_1