
Hari ini relina fokus mempelajari tentang berbagai macam cara meracik kopi dan varian rasa serta aroma yang dikembangkan oleh Danu. Bukan hanya itu, Danu juga mengajarkan kepada Relina mengatur keuangan serta mengolah bahan baku, pria tambun itu juga mengajarkan bagaimana menjaga suasana kedai kopi untuk menarik pelanggan dan merawat hubungan baik dengan mereka.
Tentang bahan baku kopi yang terlebih dahulu harus dikeluarkan adalah kopi yang disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan syarat tersimpan dengan kulit kopi yang sudah kering dan masih utuh. Sebab kopi lama justru akan lebih bagus aroma dan rasanya. Cangkang kopi yang sudah kering dan keras adalah tempat penyimpanan alami yang menjaga rasa dan aroma wangi, ciri khas kopi menjadi lebih spesial.
Semakin lama kopi disimpan akan semakin menimbulkan aroma yang lebih wangi apabila nanti diolah. Ada beberapa daerah yang mempertahankan pengolahan kopi dengan cara-cara seperti ini, hanya mengeluarkan kopi yang sudah disimpan lebih dari delapan tahun, karena kopi yang disimpan lebih lama akan mengeluarkan aroma khas tersendiri.
Selama beberapa hari terakhir ini, Relina sibuk belajar, hingga tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan tugas seperti biasanya. Da hanya membantu sekedarnya setelah itu dia akan membaca banyak buku tentang kopi mempelajari bisnis kedai kopi.
Akhirnya, tibalah hari di mana bibinya, harus segera pulang dan dia harus bertemu Relina untuk menjelaskan beberapa hal sekaligus menyerahkan kunci kedai kamanya. Selain itu, bibinya juga akan memberi pengarahan awal pada Relina. Wanita itu sudah tahu tentang kesanggupan Relina untuk mengelola kedai kopi lamanya di Martapura.
Martapura adalah salah satu kawasan penghasil kopi terbesar di Indonesia, kawasan ini sudah menjadi pusat kopi sejak berabad-abad yang lalu bahkan sebelum zaman pemerintah Belanda. Perkebunan kopi di daerah ini dipertahankan sedemikian rupa dan tidak banyak berubah, baik untuk pemukiman ataupun tempat wisata juga pengalihan fungsi lainnya karena pelestarian perkebunan kopi di tempat ini memang dijaga oleh pemerintah untuk mempertahankan budidaya kopi yang ada yang termasuk sebagai salah satu pendapatan daerah terbesar di sana.
Relina sudah bersiap dan mengemasi barangnya ke dalam koper, ketika ia berinisiatif, untuk memberitahukan berita kepulangannya kepada Ane sahabatnya. Ketika telepon sudah tersambung Relina pun bercerita bahwa dia akan pulang kampung hari ini juga.
Setelah baru saja Relina selesai bicara, terdengar pekikan keras, dari seberang telepon. Suara itu berasal dari Ane yang tidak rela kalau Relina akan pulang mendahuluinya, ke kampung halaman.
Saat mereka masih bekerja bersama di satu kantor, mereka berencana akan pulang ketika hari raya tiba. Hari ini, masih jauh dari hari raya dan Relina akan pulang menemui kedua orang tuanya.
“Hai! kita kan tidak sedang pacaran, mana ada dikhianati dan putus ! Aku cuman pulang kampung, jadi jangan berlebihan!” kata Relina sambil tertawa ketika Ane mengatakan tentang dirinya yang sudah menghianatinya.
“Kamu tidak tepat janji! Awas kamu ya, katanya kan mau hari raya nanti, kenapa sekarang pulangnya?”
“Ini kan di luar rencana kita! ini diluar keinginanku, aku tidak bisa apa-apa, aku tidak mungkin membiarkan kedai Pamanku begitu saja. Eh, kamu tahu enggak ... ini adalah jalan keluar yang terbaik melarikan diri dari Junda.
“Kenapa kamu harus melarikan diri, dari dia? Orang seperti Pak Junda mah, abaikan saja dia kalau dia datang ataupun menghubungimu.”
__ADS_1
Relina ingat pria itu selalu mengganggunya dan mengirimkan pesan mempertanyakan tawaran Nya, apakah air akan kembali ke kantornya atau tida
“Ane, kalau misalnya kamu bertemu dengan Junda, dan orang itu tanya soal aku, bilang saja aku sudah tidak mau memiliki hubungan apa pun dengannya, jadi Aku menolak tawarannya, aku tidak pernah menjawab bohongan.”
“Apa? selama ini dia selalu mengirim chat lalu mengganggumu dengan bertanya, tentang dirimu dan bahwa dia mau kamu bekerja lagi dengannya? Lalu dia memberimu tawaran bagus?"
"Iya."
“Aku pikir dia menyukaimu. Apa kamu mau, Rel, kalau dia menyukaimu?”
Mendengar perkataan Ane, Relina tertawa terbahak-bahak dan dia tidak mungkin mencintai laki-laki seperti itu.
Relina ingat saat dia menatap wajah Junda dari jarak yang sangat dia tidak memungkiri, bahwa laki-laki itu tampan dan juga sangat sulit untuk menolak jatuh cinta. Junda memiliki wajah yang begitu teduh dan gampang membuat orang lain terpanah. Hanya saja sikapnya selama ini yang dibenci oleh Relina, membuat dia menutup rapat hatinya dari menyukainya.
Relina sudah berniat akan mengganti nomor ponselnya, agar Junda tidak bisa lagi mengganggunya lewat telepon. Lalu dia berpesan pada Ane, seandainya nanti sewaktu waktu Junda bertanya padanya tentang tujuan dan alamat Relina, dia ingin agar Ane merahasiakannya.
“Baiklah, Tuan ratu,” jawab Ane sebelum panggilan diakhiri, sambil melirik pada Dion yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka. Dia kembali menyimpan ponsel dalam tasnya.
Saat itu Ane tengah dalam perjalanan pulang ke tempat kost dan Dion mengantarkannya pulang. Kini Alex sudah sembuh dan anak kecil itu tertidur di jok belakang. Ane menolak untuk tetap menjadi teman sekaligus pengasuh bagi Alex. Akan tetapi dia berjanji akan sering mengunjungi anak kecil itu.
Cita-citanya adalah memiliki karir yang bagus dan bekerja di perkantoran. Walaupun Dion sudah menawarkan gaji tinggi padanya, dia tetap tidak mau menerimanya.
Dion menghentikan mobilnya di tepi jalan, dia menggamit tangan Ane, menggenggam dan menciumnya, membuat Ane salah tingkah. Tatapan kedua mata mereka saling bertemu.
“Apa kamu mau pulang juga, seperti sahabatmu, Relina?” tanya pria itu dan Ane tidak bisa menjawab, dia justru bingung dengan sikap Dion yang memperlakukan dirinya dengan hangat seperti itu.
__ADS_1
“Kalau kamu mau, aku akan mengantarmu ke sana. Kapan saja, kamu tinggal bilang! Aku akan memberikan apa yang kamu inginkan selama aku bisa.”
“Tidak, Pak. Terima kasih,” jawab Ane gugup. Dia segera menarik kembali tangannya dari genggaman tangan Dion.
Selama beberapa hari ini mereka sangat dekat dan saling membutuhkan satu sama lain, bekerja sama merawat Alex, membuat Dion memiliki penilaian dan perasaan berbeda dengan Ane. Kelembutan gadis itu sudah berhasil meluluhkan hatinya. Kini dia ingin agar Ane selalu berada di dekatnya.
“Kamu mau karir dan kedudukan seperti apa, di bagian apa, aku bisa memberimu posisi bagus di perusahaanku. Jadi kamu masih bisa berkarir, kan?”
“Tapi itu intinya tidak murni, berarti saya mendapatkan semua itu dari Anda, Pak.”
“Apa salahnya? Kalau perlu, ajak juga Relina. Kalian bisa bekerja sama dalam satu divisi. Kalian tinggal membuktikan kalau kalian memiliki kemampuan. Itu saja.”
“Tidak, Relina mau pulang dan akan bekerja di kampung halamannya.”
“Oh, ya? Bukankah dia pernah bertengkar dengan Junda?”
Mendengar pertanyaan Dion, tanpa diminta pun Ane menceritakan semuanya tentang sahabatnya, bagaimana awal mula hubungan Junda dan Relina yang tidak baik, namun justru berakhir dengan Junda yang mendekati Relina bahkan terkesan ingin memilikinya!
Bila soal perasaan Junda pada Relina seperti apa, Dion tidak bisa menebaknya, akan tetapi ada benarnya juga dugaan Ane, sebab terakhir kali Junda memberi kabar padanya, saudara sepupunya itu tampak lebih bersemangat saat menyebut nama Relina.
“Oh, iya, Pak. Kalau boleh tahu, sebenarnya kepercayaan seperti apa sih yang dimiliki Pak Junda dan keluarganya? Kok aneh ya?”
“Oh, kalau itu ....” Dion menjawab sambil melajukan mobilnya kembali.
Bersambung
__ADS_1