
Setelah Junda selesai bicara, dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju tangga. Sementara mata Relina yang semula terpejam, secara perlahan-lahan terbuka. Ada kilau lembut yang terpancar saat matanya mengerjab.
Relina butuh waktu untuk mengetahui perasaan seperti apa yang dia miliki untuk Junda. Dia hanya perlu meyakinkan dirinya, sehingga bila suatu saat Junda mengatakan secara jujur tentang perasaannya, maka dia bisa memberi jawaban yang tepat.
Matanya kembali terpejam dengan telapak tangan yang terkepal, haruskah dia sekarang mengatakan ...
‘Tolong, jangan pergi. Tetaplah di sini ...’ batin Relina.
Ya, dia menyukainya! Dia menyukai kelembutan Junda, saat tangan besarnya terasa hangat menempel di kening dan membelai rambutnya. Relina masih merasakan hangat, saat Junda menggendongnya dan tubuh mereka berdekatan, bahkan dia tidak segan memeluk lehernya. Seketika dia merasakan bahwa tidak ada orang lain yang bisa diandalkan selain Junda.
Entah berapa lama Relina mencoba untuk terlelap, tetapi tetap tidak bisa. Seluruh tubuh dan kepalanya menjadi sangat sakit. Dia tidak mungkin berteriak dan mengeluhkan segalanya Rasa nyeri luar biasa baru terasa akibat tubuhnya terempas ke lantai, saat dibanting dengan kuat oleh pria mabuk tadi pagi. Meskipun wanita itu sudah merasakan tidak enak badan sebelumnya.
Mengeluh? Ahk ... tidak! Relina tidak biasa mengeluh, seab semua akan sia-sia, bila mengeluh ... sebab keluhan sama sekali tidak akan mengurangi beban masalah, tapi akan membuat persoalan terasa semakin berat. Justru dengan tidak mengeluh, maka seseorang telah mencoba untuk menjadi lebih kuat.
Hari sudah menjelang sore, saat Relina kembali ingin ke kamar mandi, dia tidak bisa mengandalkan Junda mulai sekarang. Mungkin saja pria itu sudah pergi. Ini saja dia tidak peduli lagi karena dirinya selalu menolaknya.
Benar semua yang dikatakan Junda bahwa sebaiknya dia tidak tinggal di sana karena kamar mandi ada di lantai satu, ini sangat menyulitkan bagi Relina. Akan tetapi dia mengabaikannya, dia biasa sendiri dan harus mencoba, namun yang terjadi adalah tubuhnya terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Semua orang segera melihat apa yang terjadi, Lia, Ali dan juga Junda! Pria itu terkejut melihat Relina yang tergolek di lantai sambil berusaha kembali untuk bangkit.
Junda segera mengangkat tubuhnya, “Apa yang kamu lakukan?”
“Kamu masih di sini?” Saat berkata, Relina sudah berada dalam pelukan Junda dan kembali melingkarkan kedua tangannya di lehernya.
Pria itu mengangguk dan bertanya, “Kamu mau ke kamar mandi, bukan?” Dia mengerti dengan keinginan Relina, lalu membawanya turun. Relina mengangguk, sekali lagi dia mengandalkan Junda. Tiba-tiba hatinya dipenuhi rasa syukur ada pria itu bersamanya. Lia dan Ali, dua anak buah Relina yang masih tercengang, memberikan jalan.
Setelah Relina selesai, Junda kembali hendak menggendongnya tetapi gadis itu menolak, dia mencoba untuk berjalan. Secara perlahan-lahan kedua orang itu melangkah beriringan. Relina melingkarkan tangannya di pinggang Junda sementara pria itu memegangi bahunya.
“Ayo! kita ke rumah sakit saja,” kata Junda sambil membawa Relina menuju pintu keluar kedai.
Gadis itu mendongak melihat ke arah Junda dengan wajah enggan. Dia menggeleng sambil berkata, “Ah, nggak usah, aku nggak punya uang untuk membayar biaya rumah sakitnya.”
Junda seolah-olah tidak mendengar ucapan Relina dengan cueknya dia menoleh ke arah Raka yang masih duduk disalah satu kursi kafe. Laki-laki itu sibuk melihat layar laptopnya entah apa yang dikerjakan pengawal Junda itu.
“Ayo! siapkan mobilnya, kita pergi ke rumah sakit sekarang.
Raka segera menutup laptopnya dan berdiri, sambil berkata, “Ke rumah sakit mana Tuan?”
__ADS_1
“Menurutmu, rumah sakit mana yang bagus?”
Raka terdiam sambil berpikir, sementara tangannya sudah membuka pintu mobil. Sebagai asisten, dia harus siap dengan pertanyaan mendadak dan dia harus tahu berbagai referensi tempat seperti hotel, restoran, termasuk rumah sakit yang dibutuhkan Junda saat ini.
Dia tidak tahu apa urusan majikan barunya, yang dia tahu semua berhubungan dengan wanita yang kini mendapatkan kemalangan. Dia harus menjaga rahasia dan privasi siapa pun orang yang menggunakan jasanya, semua tertera dalam perjanjian. Kalau dia tidak konsisten, maka dia harus menanggung akibatnya yaitu tidak di bayar!
“Kalau yang paling bagus ada di kota Palembang, Tuan. Di rumah sakit daerah, itu semua perlengkapan medisnya bagus, tapi agak jauh dari sini.”
“Ayo kita ke sana!”
Mendengar pembicaraan dua pria yang kini sudah duduk dalam mobil, Relina menegakkan badannya yang sakit, lalu bersiap membuka pintu mobil.
Junda yang melihatnya, langsung menahan tangan Relina dari pintu. Lalu dia berkata, “Apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku tidak mau ke rumah sakit itu!” hardik Relina, dia ingin keluar dari mobil.
Junda menuruti kemauan Relina, yang menginginkan pemeriksaan di rumah sakit terdekat saja, atau di puskesmas. Namun yang terjadi adalah Relina kini berada di rumah sakit swasta yang cukup terkenal di Martapura. Sebenarnya rumah sakit itu justru lebih mahal.
Setelah melalui berbagai tahapan observasi, akhirnya Relina di minta untuk menjalani rawat inap sampai kondisinya pulih, atau setidaknya setelah menunggu hasil dari beberapa tes yang telah dilakukan.
Relina baru saja selesai minum obat dan tangannya yang diinfus, memegang telepon genggam, saat terdengar suara deringannya.
Gadis itu mengabarkan keadaannya dengan jujur, bahwa dirinya sakit. Namun, seperti biasa dia tidak ingin ibunya merasa khawatir, sehingga dia tidak menceritakan seluruh kejadiannya.
“Kok kamu bisa jatuh, sih? Makanya hati-hati, Ibuk bilang saja sama pamanmu biar kedainya tutup saja kalau kamu sakit. Nggak ada yang jaga,” kata Renita suaranya terdengar kesal karena anaknya sakit dan tidak ada yang mengurusnya.
“Jangan, Bu. Besok juga sembuh, enggak usah bilang apa-apa sama Paman.”
Selain suara ibunya terdengar juga suara Royan yang bertanya dengan agak berteriak. “Kak! Apa Kak Juanda masih ada di sana, kan enak, Kakak ada yang jagain!”
“Hus! kamu ini!” Kata Relina sambil melirik Junda yang ada di sampingnya, sedang duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Kamu kan tahu, Kakak nggak suka ngerepotin orang, jadi enggak perlu minta buat jagain Kakak. Walaupun, dia ada di sini,” sahut Relina. Setelah itu Junda berdehem keras, dia tahu jika Relina membicarakannya.
“Kakak, kalau ada orang yang mau bantu, kenapa harus menolak? Tidak baik Kak menolak kebaikan dari orang lain.”
“Hais, sok bijaksana, kamu ini a
__ADS_1
nak kecil!”
“Yang dikatakan adikmu itu benar ... “ tiba-tiba suara Rosihan terdengar di antara suara ibu dan Royan. “Kamu bisa meniru kekuatan Bisma saat perang Bharatayuda.”
Mendengar ucapan ayahnya Relina pun memutar bola matanya malas, dia sudah hafal dengan kebiasaan ayahnya yang selalu menggunakan tokoh-tokoh wayang kegemarannya untuk mengambil pelajaran dari setiap kejadian dan peristiwa yang mereka alami.
Pernah suatu ketika ada dalang terkenal yang menggelar wayang kulit dan disiarkan secara langsung di televisi, semalaman. Ayah sampai berteriak-teriak memanggil dan membangunkan Renita, saat kisah Dewi Drupadi yang menjadi korban perjudian, mendapatkan pertolongan dari Sri Krishna.
Bukan hanya ibunya, Relina pun ikut terbangun dari tidur, membuatnya kesal pada ayahnya karena ia tidak bisa tidur lagi sesudahnya.
Rosihan sangat senang menonton wayang kulit walaupun harus begadang, apalagi jika dalang yang memainkannya adalah dalang kesukaannya yang terkesan lucu dan membawakan cerita wayangnya dengan cara yang unik
Seperti saat ini, Rosihan pun meminta Relina untuk memilih antara menerima pertolongan orang lain ataupun membiarkan dirinya dakam kepasrahan dan menunggu hingga takdir Tuhan yang menentukan.
Rosihan mencontohkan Bisma ketika ia menerima serangan anak panah yang bertubi-tubi, dengan kekuatan dan keperkasaannya ia menerima semua serangan. Namun ia tidak juga menemui ajalnya karena ia kemudian memilih untuk dihabisi oleh seorang wanita.
Laki-laki itu sering memberikan gambaran seperti ini kepada anak-anaknya, bahwa sekuat apa pun orang seperti Bisma yang mempunyai kekuatan dan keperkasaan luar biasa, justru memilih kematiannya ditangan seorang wanita. Artinya bahwa setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihannya.
“Jadi, kamu harus memikirkan dirimu sendiri saat seperti ini, coba belajar jadi orang bijak. Bukannya tidak ada yang menolong Bhisma, cucunya yang baik dan juga sakti pun datang, tapi dia menolak. Apalagi kita yang nggak punya kesaktian apa-apa.”
Relina memaklumi nasehat ayahnya yang bagaikan Punokawan, selalu mengajarkan para pecinta wayang, untuk mengambil pelajaran dari setiap kisah yang ditayangkan.
Akhirnya gadis itu mengambil sebuah kesimpulan, bahwa semua terserah dirinya, apakah akan menerima bantuan dari orang lain, atau pasrah dengan keadaan yang ada, sampai akhirnya Tuhanlah yang menentukan takdirnya.
“Ya, ya ... Ayah, terima kasih atas nasehatnya.” Akhirnya hanya itu yang diucapkan oleh Relina. “Doakan saja biar Reli cepat sembuh.” Relina berkata, dengan suara yang pelan. Tiba-tiba dari seberang telepon terdengar teriakan Royan.
Anak itu kemudian berkata, “Ya tapi sembuh juga tidak bisa simsalabim seperti candi Prambanan yang jadi dalam waktu semalam, atau iklan di televisi, langsung sembuh dalam sekejap. Iya, kan. Kak?”
“Kamu ini bicara apa Royan, nggak ada hubungannya sembuh dari sakit, dengan pembuatan candi Prambanan!”
Relina mendengus, mengusap hidungnya yang terasa gatal, Royan selalu bicara melenceng dari hal yang seharusnya. Mungkin dia belum tahu bahwa candi Prambanan itu, menurut para arkeolog, dibuat dengan cara tradisional yang menggunakan peralatan sesuai zaman itu, dalam waktu ratusan tahun. Hanya legenda dan kisahnya saja yang menceritakan bahwa candi itu tercipta dalam waktu semalam saja.
Junda mengambil ponsel Relina saat dia sudah selesai. Lalu memegang tangannya sambil berkata, “Apa kamu punya penyakit yang serius sebelum ini?”
Mendengar pertanyaan Junda, Relina tercengang.
__ADS_1
Bersambung