Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Buku Harian


__ADS_3

Relina melihat buku agenda milik Gunara yang ada ditangannya, dengan saksama. Buku yang ditemukan oleh Erwin itu, berisi tentang kegiatan harian, sekaligus ungkapan perasaan seorang Gunara. Hampir seperti buku harian.


Sesekali pandangan dia alihkan ke luar jendela mobil, yang memperlihatkan semua benda di sisi jalan seperti berlarian.


Fuad menoleh ke belakang di mana Relina duduk, dia bertanya, “Apa? Apa isi buku itu?”


“Ini ....” Relina tidak menjawab pertanyaan Fuad. Dia hanya menatap buku dengan takjub, tidak ada yang bisa dia katakan untuk mengungkapkan perasaan dan hatinya justru menjadi sesak dan sakit saat membacanya. Semua itu adalah ungkapan perasaan Gunara dalam menghadapi penyakitnya.


Sementara Fuad kembali melihat ke depan karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dia berpikir bila suatu saat Relina pasti akan mengatakan pada dirinya.


“Erwin, apa kamu sudah membacanya?” tanya Relina tiba-tiba. Erwin pun mengangguk dan melirik Relina dari kaca spion di depannya.


“Sudah, Bu,” katanya kemudian.


Buku itu sepertinya catatan lama Gunara saat masih kuliah. Ada banyak sekali kata-kata motivasi dan juga kisah antara dirinya dan Relina sering melakukan kegiatan bersama, rencana mereka untuk membuat sebuah taman wisata dan hiburan, tempat bersantai yang diperuntukkan bagi masyarakat luas, serta bisa dinikmati secara gratis.


Dalam rencana itu, mereka akan menjual berbagai produk kepada pengunjung, dan sebagian keuntungan akan mereka gunakan untuk biaya perawatannya.


Di tempat itu pulalah mereka akan membuat sebuah rumah peristirahatan, yang menghadap ke barat, untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam, di dekat danau buatan. Itu adalah sebuah cita-cita bersama, membangun tempat yang didedikasikan untuk persahabatan mereka.


Relina masih ingat dengan jelas bagaimana dia merancang dan menggambar di bukunya, namun dia heran mengapa gambaran itu bisa ada di buku Gunara?


‘Ah, mungkin saja Gunara mempunyai ingatan yang bagus sehingga apa yang aku tuangkan dalam buku, teringat jelas dalam otaknya dan dia tuliskan kembali dalam bukunya sendiri'


“Aku akan mewujudkannya, dengan semua uang yang aku miliki, aku ingin dia melihat rencananya terwujud ...” Itulah kata-kata Gunara yang tertulis di bawah sketsa, membuat Relina tercengang.


Dia merasa bahwa Gunara benar-benar mencintainya, tapi semua perasaan itu dia sembunyikan dari dirinya, seorang wanita yang seharusnya paling berhak mengetahuinya.


Akan tetapi Relina menyadari, setelah Fuad menjelaskan bahwa sebenarnya Gunara meninggal bukan karena kecelakaan yang dialaminya, melainkan karena tumor otak yang dia derita sekian lama.

__ADS_1


Sekitar tiga tahun yang lalu, Gunara pernah melakukan operasi. Kejadiannya saat itu Relina masih kuliah dan menjadi jawaban atas pertanyaan Relina atas menghilangnya Gunara dari kampus, bahkan saat wisudanya pun dia tidak datang. Kekecewaan menghampirinya, sehingga gadis itu bertekad untuk melupakannya.


Setahun terakhir penyakit itu muncul lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya karena, diketahui setelah berada di stadium akhir.


Sementara mobil terus melaju dan berhenti di lampu merah, saat itu, Erwin menoleh ke belakang, dan berkata pada Relina, “Bu, kami sudah merancang proyek itu dengan baik. Seandainya Ibu Relina merasa kurang puas dengan rancangan yang sudah kami buat, Anda bisa memperbaikinya, kita bicarakan lagi dengan semua staf desainer.”


Setelah Erwin selesai bicara, Fuad pun menyahut, “Nanti kita bicarakan kalau sudah kembali beraktivitas di kantor seperti biasa. Besok istirahat saja dulu di rumahmu. Kamu bisa memulainya kapan saja, tidak ada yang berani marah sama kamu, kecuali Junda!”


“Apa hubungan semua ini dengan Junda?” tukas Relina.


“Dia yang bilang, kamu baru sembuh dari sakit. Jadi kamu harus istirahat dulu.” Fuad berkata dengan bersungut-sungut.


Tiba-tiba Relina merindukan Junda. Hei! Ada apa dengan dirinya yang justru membayangkan wajah Junda di hatinya.


“Iya, baiklah,” jawab Relina dengan tenang, menyembunyikan debaran di hatinya.


Mobil kembali melaju, sedangkan suasana hening menyelimuti perjalanan mereka.


Gunara tidak mempunyai saudara, keturunan ataupun pasangan, sehingga dia memberikan semua hasil jerih payahnya selama ini kepada orang-orang yang membutuhkan. Biar bagaimanapun perusahaan itu milik ayahnya dan dialah pewaris satu-satunya. Dia melibatkan beberapa saudara sepupunya juga Pamannya karena kasih sayang yang dimilikinya.


Fuad tidak mengatakan terus terang kepada Relina, bahwa sebenarnya Gunara memberikan hampir seluruh saham miliknya, tapi kemudian ibunya menolak. Wanita itu beranggapan bahwa Relina bukan siapa-siapa bagi keluarga besarnya, jadi memberinya lima persen, sudah sangat pantas, sementara sebagiannya lagi akan digunakan untuk pembangunan proyek.


Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya mobil pun berhenti disebuah rumah yang cukup besar. Relina tercengang ketika mobil memasuki pintu gerbang yang dibukakan oleh penjaga dari dalam.


Relina masih membeku ketika Erwin membukakan pintu untuknya. Pria itu menyerahkan koper, serta memberikan sebuah kunci, ketika gadis itu sudah berdiri di depan teras rumahnya. Ya, rumah itu kini adalah miliknya.


Erwin berkata, sambil menunduk hormat, “Ibu silakan istirahat, ini kunci cadangan, ada pelayan yang menemani di dalam, kalau Ibu membutuhkan sesuatu, silahkan menghubungi Pak Fuad atau saya, ini nomor ponsel saya,” Erwin memberikan selembar kertas berisikan nomor teleponnya.


“Apa aku harus tinggal di sini? Ini rumah yang terlalu besar kalau aku tinggal sendiri.” Kata Relina sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

__ADS_1


“Iya, sekarang rumah ini atas nama Ibu, Pak Fuad sudah mengurusnya dengan baik, Anda tinggal menempatinya, bagian dalam sudah dibersihkan dan di ditata agar Ibu menyukainya, semua barang-barang Pak Gunara, sudah kami simpan di gudang, Ibu tidak akan merasa terganggu dengannya, kalau memang ada yang tidak memuaskan, silakan hubungi kami dan kami akan membereskannya.”


“Baiklah, saya rasa tidak ada, terima kasih. Oh, iya, Win. Bisa tidak jangan panggil saya ibu, atau bicara formal, saya belum menikah dan punya anak, rasanya nggak enak dipanggil seperti itu.”


“Maaf, saya tidak bisa. Anda adalah pimpinan saya di sini. Kalau begitu saya permisi.” Tanpa menunggu komentar Relina, Erwin berlalu memasuki mobilnya, di mana Fuad sudah menunggunya.


Relina melihat mobil yang berbalik arah dan meninggalkannya di rumah itu. Kemudian dia masuk ke rumahnya yang terasa asing. Seorang pelayan menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan Relina untuk beristirahat di kamar yang sudah dia siapkan.


Sementara percakapan di dalam mobil, antara Fuad dan Erwin pun terjadi.


“Kamu pikir dia betah tinggal di situ?” tanya Fuad.


“Ya ... mana saya tahu Pak, saya cuma membereskan seperti yang Bapak perintahkan pada saya.”


“Hmm ...”


“Bu Relina seperti dapet durian jatuh ya, Pak!”


“Sakit dong kalau kena durian jatuh! Mungkin dia tidak pernah menyangka kalau bakal punya rumah sebesar itu.”


“Oh iya, Pak, apa semua yang didapatkan Ibu Relina sekarang, tertulis secara resmi dan disaksikan oleh seorang advokat?”


Saat Fuad datang dihari ke tiga Gunara dirawat di rumah sakit bersama ibunya yang ingin menjenguknya, ada dua pengacara Gunara yang juga berada dalam ruangannya. Pengacara itu mengetik sesuatu di laptopnya lalu menjelaskan semuanya pada Fuad sebagai orang yang akan melaksanakan wasiat dari Gunara bila dia meninggal.


Fuad tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah disetujui. Dia sudah sangat bersyukur bahwa keuntungan perusahaan yang di bagi dua dengan dirinya, tidak berubah. Hanya saja dalam wasiat itu bahwa orang yang berhak menerima bagian milik Gunara adalah Relina.


Ibu Fuad, atau Tante Gunara itu pun protes, wanita itu menjelaskan banyak hal tentang pengorbanan Fuad dan keluarga untuk dirinya juga ayahnya, sehingga seharusnya Gunara hanya pantas memberi Relina lima persen saja, sedangkan sisa saham digunakan untuk biaya pembangunan dan sisanya lagi untuk saudara dan pamannya hingga mereka masing-masing mendapat tambahan keuntungan. Sebagai bentuk balas Budi.


Setelah Erwin mendengar semuanya, pria berkepala gundul itu bertanya dengan heran, “Dan Pak Gun menyetujuinya begitu saja?”

__ADS_1


“Iya,” sahut Fuad dengan rasa bersalah karena kecerewetan ibunya, saat itu dia melihat Gunara sempat sesak napas, lalu pingsan dan ketika sadar, dia langsung menandatangani semua kesepakatan baru dan menyerahkan pada Fuad untuk melaksanakan keinginannya. Setelah itu, Gunara benar-benar menutup mata untuk selamanya.


Bersambung


__ADS_2