
Junda dan Relina mendongak ke arah asal suara yang meneriaki mereka dengan kasar, seketika jantung keduanya bergemuruh. Mungkin bila siang hari akan tampak wajah mereka yang berubah dari merah menjadi pucat pasi.
Rasa sesak naik ke dada dan tenggorokan Relina mendapatkan tatapan tajam dari Rosihan, yang memergoki dirinya dan Junda dalam posisi saling berpelukan. Panas di wajah dan perutnya menahan ketegangan, tapi telapak tangan dan udara sekitar seolah menjadi sedingin es.
Relina dan Junda kemudian bangun dari posisi rebah mereka di tanah karena jatuh secara bersamaan. Setelah itu Junda kembali menggenggam tangan Relina dengan erat mencoba memberi kekuatan. Hingga kulit mereka yang bersentuhan terasa hangat.
Mereka tertangkap oleh Rosihan dan Kamaman Jio--paman Relina, dalam keadaan yang tabu di desa itu.
Kini keempat orang itu saling berhadapan setelah Relina dan Junda selesai membersihkan dan merapikan pakaian mereka kembali.
“Kami tadi jatuh, Ayah!” Relina membela diri sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
“Apa kalian mau berbuat mesum di sini? Ini malam hari, dan kalian ... ahk! Ayah... kecewa sama kamu, Relina!”
“Ayah, apa yang Ayah lihat tidak seperti kelihatannya.” Relina kembali menyanggah ucapan ayahnya.
“Memangnya kelihatannya seperti apa?” tanya Jio, orang yang di panggil Kamaman atau paman itu, menyahut dengan alis yang berkerut. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bila Relina dan Junda saling berpelukan sebelum akhirnya terjatuh.
“Bang, kita nggak salah lihat, kan? Mereka pelukan, ciuman, apa mereka sudah biasa seperti ini? Baru saja lamaran, sudah tidak sabar!” Jio berseloroh dengan nada menyindir. Akan tetapi pria yang di sindir itu hanya diam. Jio dan istrinya, Minan Lei, memang sama-sama cerewet.
Junda masih melihat apa yang akan terjadi selanjutnya sebab merasa percuma untuk membela diri, ketika semua jelas terlihat kalau mereka memang berpelukan. Dia melakukan itu karena tidak bisa mengendalikan diri dan dia pikir tidak ada orang lain yang ada di sana.
Ini sebuah desa yang mayoritas penduduknya masih menjunjung tinggi sopan santun dan tata kerama, tidak seperti di kota yang notabene penduduknya sudah sangat individual sekali.
Rosihan mencerna ucapan adiknya, hingga pria tambun itu mengingat bahwa Junda sudah beberapa kali terperangkap oleh dirinya dan juga istrinya, melakukan ciuman di bibir Relina. Akal sehatnya menolak bila kelak Relina kembali bekerja, sedangkan kedua orang itu akan sering berjumpa. Mereka bisa melakukan apa pun dengan bebas!
‘Bagaimana kalau mereka tinggal kembali di Bogor, sebelum mereka menikah?’ batin Rosihan. Kemudian pria setengah baya itu melangkah ke dalam rumah sambil menarik tangan anak perempuannya.
__ADS_1
“Jio, panggil Pak RT dan Pak Nuru, kita nikahkan saja mereka sekarang!” Rosihan berkata dengan tegas, lirikan matanya tajam ke arah Junda. Orang yang disebut Rosihan adalah dua tokoh masyarakat kampung mereka.
Ucapan Rosihan yang akan menikahkan Relina dan Junda tentu membuat gadis itu dan juga pria yang masih mematung pun terkejut. Mereka tidak berbuat sesuatu yang senonoh atau melecehkan dan hanya karena ketahuan berpelukan, harus menikah. Ini keterlaluan!
Lalu, sambil mendengus Rosihan berkata, “siapkan dirimu sekarang. Beri anakku mas kawin!”
“Ayah! Kami enggak berbuat kesalahan!” Relina membala dirinya sendiri, seraya melihat Junda, tatapan wanita itu memohon persetujuan.
Junda masih diam seribu bahasa karena syok dengan keputusan Rosihan yang tiba-tiba. Keputusan yang diambil calon mertuanya itu menyangkut kehidupan pribadinya. Akan tetapi dia tidak bisa menolak. Sebaliknya, ada senyum samar di ujung bibirnya.
Walaupun demikian, Junda tidak pernah menduga jika harus menyiapkan mas kawin malam ini juga. Dia memang mencintai Relina dan sudah melamar sebagai istri suatu hari nanti, tapi tidak malam ini. Dia tidak membawa apa-apa selain dompetnya. Mobil juga bukan miliknya, melainkan kendaraan yang dia sewa.
Mempersiapkan hadiah pernikahan untuk calon pengantin wanita dan pihak keluarga, atau yang sering di sebut mas kawin, sebaiknya dipersiapkan dengan istimewa. Mas kawin adalah cara seorang pria untuk memantaskan dirinya, selain itu juga untuk menghargai wanitanya. Akan tetapi yang terjadi pada Junda adalah sebaliknya, laki-laki itu tidak mempersiapkan apa-apa.
“Saya tidak bawa apa-apa, Ayah.” Junda berkata sambil mengikuti langkah kaki mereka ke dalam.
Rosihan menoleh, dan berkata, “Pakai saja apa yang kamu punya sekarang, seadanya saja, yang penting sah!”
Sementara Relina menghampiri ibunya di kamar, wanita itu masih mempersiapkan pakaian yang akan dia kenakan besok pada acara pernikahan Anne, anak dari tetangga sekaligus teman dekatnya.
Melihat Relina yang berdiri di depan pintu sambil berurai air mata, Renita menoleh heran, mengulurkan tangannya untuk memeluk anaknya.
“Kenapa?” tanyanya panik.
“Ayah, tuh, Buk!” jawab Relina kesal. Menjatuhkan diri dalam pelukan ibunya.
Pelukan Renita semakin erat ketika mendengar penuturan Relina tentang kejadian yang baru saja menimpanya bersama Junda.
__ADS_1
Renita menitikkan air mata haru, dia berniat hendak datang menghadiri pernikahan anak tetangga, tapi justru yang dia hadapi adalah pernikahan anaknya sendiri.
Keputusan Rosihan tidak bisa diprotes karena dia tahu bahwa, suaminya pasti berpikir tentang anak perempuannya, di masa depan. Bagaimana bila Relina harus tinggal seorang diri di Bogor untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sudah ditinggal selama dua bulan lebih. Lalu, antara Junda dan anaknya akan sering bertemu, tentu akan lebih baik jika mereka kembali ke kota itu setelah menjadi sepasang suami istri.
“Ya, sudah ... Ayahmu mungkin memikirkan kebaikanmu,” kata Renita sambil melepaskan pelukan dan mengusap kepala anaknya lembut, air mata masih menetes di pelupuk matanya.
“Tapi, Buk ....”
“Ambil sisi positifnya, kamu akan jadi istri Junda saat kalian ke Bogor nanti. Bukankah kamu mencintainya?”
Relina mengangguk, tapi cemberut, justru itu yang tidak dia inginkan sebab dia masih ingin bebas dari jeratan cinta Junda dan menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun, dia mencintainya, tapi kebebasannya akan sangat terbatas. Pria itu sangat protektif terhadap segala sesuatu tentang dirinya.
Akhirnya Renita meminta Relina memakai pakaian yang akan dia kenakan besok di acara pernikahan Anne. Tak lupa, wanita itu menghubungi Danu, adiknya yang berada di Martapura.
Tak lama setelah itu, Danu menghubungi Relina yang masih berdandan. Gadis itu mengangkat ponselnya dan, ketika terhubung, langsung terdengar suara tawa keras dari pamannya.
“Apa, sih, Paman ini, kok ketawa?” kata Relina.
“Akhirnya, ya ... Kamu nikah juga sama laki-laki itu,” kata Danu dari balik ponsel dan kembali tertawa. Dia tahu cerita pernikahan keponakannya yang mendadak, dari Renita—kakaknya. Tentu saja Danu menceritakan bagaimana kelakuan Junda selama ada di Jakarta dan di Martapura bersama Relina. Kedua orang adik kakak itu pun akhirnya membenarkan keputusan Rosihan yang hendak menikahkan mereka secapatnya.
“Tapi, Paman ... aku masih mau bekerja!’
“Di tempat Gunara itu?”
“Ya.”
“Sudah, nggak usah kesal. Nanti Paman kirim hadiah buat kamu, ya. Sekarang Paman nggak bisa datang, kapan-kapan saja kalau kamu mau ngadain resepsi pernikahan. Tapi ingat, jangan mendadak lagi.” Kembali Danu tertawa sebelum obrolan mereka berakhir.
__ADS_1
“Relina, apa kamu sudah selesai?”
Bersambung